Henry, seorang pria yang berumur 45 tahun dengan status duda beranak satu. Suatu ketika takdir mempertemukan dirinya dengan seorang gadis.
Kejadian ini berawal dari dia menolong tragedi kecelakaan pada seorang wanita muda nan cantik yang bernama Renata.
Seiring berjalan nya waktu Renata tinggal dirumah Henry, sehingga membuat Henry jatuh cinta kepadanya kemudian dia mengajak untuk segera menikah dengan nya.
Suatu ketika kejadian miris menimpa Renata kembali, hingga ia ditolong oleh seorang pemuda yang bernama Kellan.
Singkat cerita, sejak awal bertemu dengan Renata Kellan sudah jatuh cinta terhadap nya. Namun sayangnya, wanita yang dicintainya itu terpaksa harus menjadi ibu sambung nya.
Akankah Kellan terus mengejar cintanya dengan sang ibu sambung?
Akankah Henry mengetahui hal ini? dan jika tahu apa yang akan diperbuat olehnya?
Penasaran? mari kita simak cerita nya!
Jangan lupa vote, komen, dan like dari kalian ❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rekreasi
Beberapa saat kemudian mereka Sampai di tempat rekreasi area nya pun sangat luas.
Terdapat disana penangkaran rusa, penangkaran sapi, area berpacu kuda, wahana bermain panah, flying fox, wahana bianglala dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan.
Renata terlihat riang ia mengajak Henry untuk segera menelusuri nya.
Begitu pun dengan Henry tampak bahagia melihat ekspresi Renata karena ia sudah tidak bersedih lagi.
Renata meminta Henry untuk memotret dirinya di taman bunga yang terlihat indah,
"Paman. Tolong fotoin aku disebelah sini ya," perintah nya sambil menunjukan arah nya sekaligus memberikan handphone miliknya kepada Henry.
"Baiklah," ujar Henry sambil memegang handphone Renata.
'bunga nya sangat indah, tapi diri mu jauh lebih indah,' batin Henry bergumam.
Kini Renata tengah berpose ala gaya nya secara bergantian kemudian ia menawarkan Henry untuk foto bersama dengan nya.
Setelah selesai Renata melihat hasil jepretan nya, bahkan ia pun berani mengomentari ekspresi Henry di foto.
"Paman, wajah mu kok terlihat sangat kaku," ia pun terpaksa menghapus fotonya karena menurut nya foto tersebut terlihat tidak bagus.
"He-he-he! Habis paman tidak bisa bergaya," jawab gelak tawa nya.
"Baiklah, kita coba sekali lagi ya."
Henry mengikuti perintah Renata, ia pun mulai berpose merangkul bahu Renata namun ia sama sekali tidak keberatan.
Setelah berfoto mereka menjelajahi tempat yang lain dan masih banyak yang belum mereka kunjungi.
Langkah mereka berhenti di wahana bermain panah, lalu Henry menawarkan Renata untuk bermain disana.
"Kita coba bermain panah. Kau mau?" Ajak Henry.
"Aku mau saja. Tapi aku tidak bisa bermain panahan."
"Tenang saja nanti biar paman yang ajarkan"
"Baiklah! Kalau begitu."
Henry mengambil busur serta satu anak panah kemudian ia melepaskan sesuai titik sasaran nya, dan berhasil menancap anak panah nya mengenai sesuai sasaran.
"Yeah.... Paman hebat," sorak serta tepukan tangan renata yang begitu riang.
"Kini, giliran mu!"
"Aku tidak bisa. Aku ingin lihat paman bermain saja," Renata menolak
"Ayo lah! Kau harus mencoba nya," Henry memaksa akhirnya Renata menuruti permintaan nya.
Mulai lah ia mengajari Renata bermain panahan dari arah yang bersebelahan Renata mengikuti nya,
"Pertama pegang busur menggunakan tangan kiri dan pusatkan pandangan mu pada titik sasaran, setelah itu lebarkan kaki mu sejajar dengan bahu mu lalu pasangkan anak panah nya. Kemudian Gunakan tiga jari untuk menahan anak panah pada tali busur dengan ringan jangan lupa tegakkan dada mu lalu tarik dan lepas dengan rileks," Henry mempraktekkan tata cara menggunakan serta bermainnya.
Panah mereka melayang secara bersamaan, panah milik Henry tertembak sesuai dengan titik, namun panah yang diarahkan Renata rupanya meleset.
"Yahh.... huhf....!" Wajah Renata terlihat frustasi.
Henry hanya tertawa melihat tingkah gemas Renata, kemudian ia berinisiatif mengajari nya tata cara teknik memanah yang benar. ia pun melangkah ke arah Renata, Lalu ia berdiri tepat dibelakang Renata dan jarak nya pun sangat dekat bahkan bisa dikatakan berdempetan.
Deggg....
Lagi dan lagi Henry dikejutkan dengan perasaan nya yang bergejolak tak karuan,
'kenapa kau selalu memancing ku renata? Apakah aku harus meminta tanggung jawab mu?' Batin nya bertanya-tanya.
Ia pun mengabaikan nya dan kembali mempraktikkan tata cara memanah.
Tangan Renata sudah memegang busur yang diarahkan oleh tangan Henry, kedua mata Renata sudah fokuskan pada titik sasaran.
"1...2...3... Sekarang lepas!" Pinta Henry dengan aba-aba nya.
Anak panah tersebut berhasil menancap tepat pada sasaran, terlihat raut wajah begitu bahagia serta mengembangkan senyum indah di wajah nya.
Di lain sisi Henry mengamati wajah Renata dengan dalam nampak nya ia mulai terkesima.
Mereka melanjutkan perjalanan nya kembali, disana terdapat penangkaran rusa Renata meminta tolong pada Henry untuk memotret nya bersama rusa.
Saking gemasnya ia melihat, maka tak segan ia berpose mencium rusa saling berhadapan.
'untung saja kau hewan, coba kalau manusia sudah habis kau dengan tangan ku' rupa nya Henry tampak iri dengan rusa tersebut yang berjenis kelamin laki-laki.
Terletak penangkaran kuda yang tak jauh arah nya dari penangkaran rusa, maka Renata pun meminta izin kepada Henry untuk mencoba menaiki kuda. Kemudian henry menyanggupi nya, kini mereka sudah menaiki kudanya secara masing-masing dan ditemani pemandu masing-masing.
Kini giliran Henry yang meminta izin kepada Renata untuk menaiki wahana flying fox, namun di tolak oleh nya karena ia takut akan ketinggian.
"Kalau kamu takut ketinggian berarti selama hidup mu tidak pernah naik pesawat?" Tanya nya dengan sebuah ejekan.
"Bu-bukan begitu itukan sudah beda cerita," Renata dengan alasan nya.
"Tidak ada penolakan dan jangan banyak alasan. Ayo!" Henry menarik tangan Renata dengan lembut terpaksa Renata pun menuruti nya.
Mereka telah sampai di wahana flying fox nampak wajah Renata terlihat ngeri, matanya melihat pemandangan ke arah bawah.
"Paman, aku beneran takut," ujar Renata dengan kengerian nya.
"Tak perlu takut karena ada paman disamping mu," ucap nya dengan mengembangkan senyum
"Jika terjadi sesuatu hal pada diri ku kau harus bertanggung jawab ya, Paman."
Henry merasa tertantang dengan ancaman Renata namun ia sama sekali ia tidak takut,
'harus nya kau yang bertanggung jawab karena mu suasana hati ku menjadi gaduh,' celoteh batin Henry.
"Itu sudah pasti," jawab Henry dengan mantap.
Mereka mengenakan helm pelindung masing-masing, terlihat 2 orang pemandu sedang mengaitkan tali yang cukup kuat guna untuk merekatkan pada bagian-bagian tertentu.
Tanpa diketahui oleh renata, Henry melihat raut wajah nya yang tampak ngeri ia pun memutuskan meminta kepada 2 orang pemandu untuk meluncur secara bersamaan.
Dengan mengurangi rasa takutnya perlahan ia menutupi kedua matanya. Kemudian tubuh renata secara mendadak memeluk erat pada tubuh Henry yang sudah berhadapan dengan dirinya. Jelas Henry merasakan hal itu tentu saja ia tidak ingin sia-siakan momen tersebut, ia pun mulai memperhatikan wajah Renata yang begitu dekat dengan wajah nya, tak lupa ia pun memberikan dekapan yang diarahkan di dada bidang nya.
'*l*agi-lagi kau mulai memancingku renata,' dalam hatinya berucap sambil merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tubuh nya.
"3...2...1..." Dengan hitungan mundur pemandu tersebut segera meluncur kan mereka berdua.
"ARGH....."
Dari arah ketinggian Renata berteriak cukup kencang.
Beberapa detik mereka sudah tiba di bawah, perlahan Renata membuka sepasang mata nya dan perlahan pula dekapan tubuhnya ia lepaskan, akhirnya ia pun merasa lega.
"Sekarang puas kau, Paman. Kau sudah berani membuat ku merasa ketakutan. Lihat saja tunggu pembalasan ku," protes nya karena sudah dikerjai oleh Henry.
Henry hanya membalas dengan tawa yang geli,
"Ha-ha-ha... Lucu sekali tingkah mu. Kira-kira apa ya pembalasan mu," ejek Henry pada nya.
"Ih... Paman sangat menyebalkan," Renata mendengus kesal sambil mencubit bahu kekar Henry.
"Aw......" Henry mengelus bahu nya yang dicubit.
"Huh! Paman payah, gitu saja kesakitan," balas Renata yang tak mau kalah.
"Ga sakit kok! Kan kamu cubitnya pakai hati" goda Henry pada nya.
"Ih! paman!" Oceh renata, Henry hanya membalas dengan tawa nya.
Tak jauh dari arah, Henry melihat cafe dan resto ia pun menawarkan Renata untuk makan siang disana, Renata sama sekali tak menolak dan bergegas lah mereka ke arah yang ingin di tuju.
Sesampai di cafe & resto salah satu pelayan dengan ramah nya mempersilahkan mereka untuk duduk. Kedua nya memesan menu yang sama yakni berupa 2 porsi steik dan 2 dessert yang berbeda serta minuman yang sama yaitu milk shake.
Pelayan telah selesai mencatat pesanan mereka dan tak lupa menyuruh nya untuk menunggu.
Hampir 20 menit makanan yang mereka pesan sudah tiba.
Tak menunggu waktu lama mereka menyantap makanan nya masing-masing.
Mati aja lu Kellan 😛😕
Renata, Kellan itu suka sama kamu peka dong . masa kamu gk tau sih 😕
🌟💗💜💜💜💜🌟
🌟💗💜💜💜💜🌟
🌟✨💜💜💜✨🌟
🌟✨✨💜✨✨🌟
✨🐬✨🐬✨🐬✨
🌊🌊🌊🐬🌊🌊🌊