"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Badanku berkeringat mengurus gadis kecil yang memberontak saat menjalankan hukumannya yang di mana aku mengurungnya di dalam kamar bersamaku, berpikir untuk menyentuhnya? Tidak sama sekali, ia masih sekolah dan aku masih waras untuk tidak melakukannya kepada Fio.
Bisa-bisa ia menangis dan pergi meninggalkanku, dan aku tidak mau itu terjadi, apalagi di luar sana banyak yang mengincarnya lantaran banyaknya musuhku.
Aku berpikir keras, apakah aku harus keluar dari kepemimpinan mafia tersebut?
Menurutku iya, memang sudah terlambat tapi aku harus menerima segala resikonya tentang perjanjian yang aku lakukan kepada sang ayah angkat.
Flashback On.
Kau harus berjanji Fallen bahwa Kau akan menggantikan jabatanku sebagai pemimpin mafia.
"Baik, Saya berjanji," ucap Fallen sambil menunduk hormat.
Minner, Ayah Fio yang tengah duduk di kursi kekuasaannya dan disamping kirinya adalah tangan kanannya.
"Jangan pernah meninggalkan jabatan ini sebelum Kau mendapat penerus, kelompok ini akan terus berlanjut sampai kapanpun. Jika Kau melepaskannya, maka Kau akan menerima dampaknya, Fallen!" tegas Minner.
"Siap, Ayah!" balas Fallen tak kalah tegas.
Flashback OFF
Aku menghela nafas pelan kala mengingat kejadian itu semua, sampai aku mengingat dimana diriku membunuh Minner lantaran tidak menyetujui jika aku mencintai anaknya.
Aku menatap istriku dan mengusap kepalanya dengan lembut, jika saja, aku tidak membunuh Minner, maka pria tua itu akan menjadi penghalang terbesarku untuk menjadikan Fio sebagai milikku seutuhnya.
"Maaf, sayang. Aku akan melakukan apapun agar kita bisa bersama, sekalipun ada penghalang, akan kubunuh, tidak peduli siapapun dia," ucap ku dingin kemudian memeluk Fio erat.
~~
Di sisi lain, seorang wanita yang bernama Rene mengamuk di luar rumah Fallen, ia tidak rela jika Fallen bersama wanita lain.
"Hei Satpam gila! Lepasin gue, gue gak terima Fallen gak nikahin gue, mana tuh cewek jalang? Gue pengen bunuh dia, hahaha!" tawa Rene menggema bersama dengan teriakan kerasnya.
Satpam sudah berusaha untuk menghentikan Rene, tapi Rene tetap berusaha untuk masuk ke dalam rumah.
"Fallen! Keluar Kamu, kita harus menikah!" teriak Rene.
Bi Aspira yang tengah memasak terkejut dibuatnya, dengan khawatir ia segera menuju kamar Fallen dan mengetuknya.
"Tuan, buka pintunya," ucap Bi Aspira.
Di dalam kamar, Fio terbangun. Ia mendengar ketukan pintu dan suara Bi Aspira yang khawatir.
Fio beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar.
"Ada apa, Bi? Kok khawatir gitu?" tanya Fio.
"Gini non, di luar ada perempuan yang teriakin nama Tuan Fallen," jawab Bi Aspira, Fio mengerutkan keningnya kemudian mengangguk.
Segera Fio keluar dan melihat Rene yang tengah memberontak, "Kak Rene?" tanya Fio.
Rene berhenti memberontak dan menatap tajam Fio di depannya, "Hei, jalang! Lo udah berani rebut calon Suami gue, dasar pelakor!" teriak Rene.
Fio menutup telinganya, ia berjaga-jaga agar telinganya baik-baik saja, "Tuh suara apa speaker Kak? Tolong dikontrol, ini bukan hutan Kak."
Bi Aspira dan Satpam tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Fio serta ekspresinya yang polos.
"Kurang ajar lo yah, mana Fallen hah? Lo pasti rayu diakan biar bisa anu-anu?" tanya Rene marah.
"Anu-anu apaan kak? Tolong langsung sebutin aja, gak usah ambigu Kak," jawab Fio.
"Pasti lo udah ngelakuin hubungan Suami Istri kan?" tanya Rene dan Fio mengangguk.
"Jelas dong! Kan Aku sudah nikah sama Kak Fallen, hubungan Suami Istri sudah biasa kami lakukan, baik dalam membangun rasa cinta bersama, mempererat kasih sayang, dan meningkatkan hukum bagi Suami maupun Istri yang selingkuh," jawab Fio.
"Hahaha," tawa Satpam kembali pecah.
Diikuti dengan Bi Aspira.
"Argh! Fallen keluar! Aku gak mau tau yah, Kamu harus tanggung jawab soal kehamilan Aku," ucap Rene.
Fio terkejut kemudian menyentuh dahi Rene, apakah panas atau tidak? Atau Rene sedang berhalusinasi? Mengapa tingkat halusinasinya begitu tinggi? Mana mungkin Fallen melakukannya dengan Rene sedangkan dirinya saja belum pernah disentuh dalam hal torpedo yang berusaha menembus dinding pertahanan Fio.
"Kak, pulang aja. Di sini tidak berlaku bagi orang yang tingkat kehaluannya benar-benar diluar batas orang normal pada umumnya, jadi silahkan melangkah dengan cantik sebelum Pak Satpam melangkahkan Kaki Kakak dengan cara yang sadisme," ucap Fio.
Rene menggeram kesal, "Gak perlu, terimakasih. Tanganku begitu suci disentuh oleh tangan para Pak Satpam," balas Rene dan menatap Satpam jijik.
Fio hanya menggelengkan kepalanya kemudian menatap Pak Satpam lembut, "Jangan diambil hati Pak, dia halu," ucap Fio dan Pak Satpam mengangguk paham.
~~
Terimakasih, semoga kalian suka. Silahkan klik like dan beri tanggapan/komentar.
kalau pribadi yimak .membawa like