NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. Di Bawah Pengawasannya.

Alea bersandar di pintu kamarnya yang tertutup, jemarinya meremas kain satin di bagian dadanya yang masih naik-turun tak beraturan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan.

Kata itu—Run—masih terngiang-ngiang di kepalanya, diucapkan oleh bibir pria yang sepuluh tahun lalu ia tangisi kepergiannya.

"Sialan," umpat Alea lirih.

Suaranya bergetar.Ia segera melangkah menuju lemari pakaiannya dengan gerakan panik. Ia harus menutupi dirinya.

Ia harus menghilangkan jejak kulit yang tadi dengan lancangnya ditatapi oleh Bima. Alea menyambar sebuah oversized hoodie berwarna abu-abu dan celana kain panjang yang longgar.

Ia ingin menghapus kesan "gadis dewasa" yang tadi dilihat Bima dan kembali menjadi Alea yang biasa.

Namun, saat ia bercermin, ia melihat pipinya masih bersemu merah. Matanya tampak lebih lebar, dan bibirnya sedikit bengkak karena ia terus menggigitnya sejak tadi. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang terlarang.

Alea menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Dia hanya Bima. Sahabat Daddy. Hanya paman yang sudah lama tidak bertemu, batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri, meski ia tahu itu bohong besar.

Setelah merasa cukup tenang, Alea kembali menuruni tangga. Kali ini ia melangkah dengan lebih waspada, matanya memicing ke arah ruang makan.

Di sana, ayahnya dan Bima sudah duduk berseberangan. Aroma sarapan kini bercampur dengan aroma parfum Bima yang kembali menyerang indra penciumannya saat ia mendekat.

"Ah, ini dia bidadari Daddy," sapa Baskara saat melihat Alea muncul. Ia menunjuk kursi di sebelah Bima yang kosong.

"Duduklah, Sayang. Daddy sudah buatkan omelet kesukaanmu."Alea membeku.

Kursi itu tepat berada di samping Bima. Ia bisa melihat lengan Bima yang berotot bersandar santai di atas meja, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya—jam tangan yang sama yang tadi menahan tangan Alea dengan begitu kuat. Alea duduk dengan kaku, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin di kursinya.

"Kau terlihat sangat tertutup sekarang, Alea," suara Bima terdengar, rendah dan mengandung nada mengejek yang halus.

"Apa kau merasa kedinginan?"Alea tidak berani menoleh. Ia fokus pada piringnya.

"Aku hanya ingin merasa nyaman, Uncle."

"Uncle?" Bima terkekeh, suara tawanya terdengar seperti gesekan beludru yang berat.

"Dulu kau memanggilku paman yang paling tampan. Kenapa sekarang terdengar begitu... formal?"Baskara tertawa mendengar itu.

"Dia sudah dewasa, Bima. Dia mulai merasa malu."

"Malu?" Bima memutar cangkir kopinya perlahan, matanya yang tajam mengunci sisi wajah Alea.

"Kira-kira apa yang membuatmu merasa malu denganku, little bird? Bukankah kita sudah cukup... akrab tadi pagi?"Alea tersedak air yang baru saja ia minum.

Ia terbatuk pelan, wajahnya kembali memanas. Kalimat Bima jelas merujuk pada insiden pelukan dan kecupan di pipi tadi, dan ia melakukannya tepat di depan ayahnya.

"Alea memang agak canggung sejak kau pergi tanpa kabar, Bima," potong Baskara, untungnya tidak menangkap makna ganda di balik kata-kata Bima.

"Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Dia pasti butuh waktu untuk terbiasa lagi dengan kehadiranmu."

"Aku punya banyak waktu," sahut Bima santai. Ia kemudian menjangkau stoples selai yang berada di dekat Alea.

Saat melakukannya, lengannya sengaja bersentuhan dengan lengan Alea yang tertutup kain hoodie.Meski terhalang kain tebal, Alea bisa merasakan panas dari kulit Bima yang seolah menembus masuk ke dalam pori-porinya.

Ia tersentak kecil, namun tidak bisa menjauh karena tangannya tertahan oleh pinggiran meja.

"Kau mau selai?" tanya Bima, menyodorkan stoples itu.

Tangannya tidak langsung dilepaskan, ia membiarkan ujung jarinya menyentuh punggung tangan Alea sejenak.

"Tidak, terima kasih," sahut Alea cepat, menarik tangannya ke bawah meja.

Di bawah sana, ia mengepalkan jemarinya yang gemetar.

"Oh ya, Bima," Baskara menyela sembari memotong daging asapnya.

"Karena kau akan mengurus proyek barumu di sini selama beberapa bulan ke depan, aku sudah menyiapkan kamar tamu untukmu. Tidak perlu menginap di hotel, rumah ini terlalu besar jika hanya ditingali kami berdua.

"Gelas yang dipegang Alea nyaris terlepas. Ia mendongak, menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya.

"Dia... akan tinggal di sini, Dad?"

"Tentu saja. Bima adalah keluarga. Lagi pula, dia bisa menjagamu kalau Daddy harus keluar kota minggu depan," jawab Baskara tenang

.Alea merasa dunianya baru saja runtuh. Menjaga? Pria yang menatapnya seperti ingin menerkamnya itu akan menjaganya?Bima menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak sangat puas melihat reaksi Alea.

Ia menyilangkan kakinya di bawah meja, dan tanpa sengaja—atau mungkin sangat sengaja—ujung sepatunya menyentuh betis Alea.

Alea tersentak, mencoba menarik kakinya, tapi Bima terus menekannya dengan lembut namun posesif.

Tatapan Bima tetap tenang, ia bahkan tersenyum tipis ke arah Baskara.

"Terima kasih, Baskara. Aku akan memastikan putrimu berada dalam pengawasan yang... sangat ketat selama kau pergi," ucap Bima.

Mata hitam itu kembali beralih ke Alea, memberikan tatapan lapar yang tidak lagi ia sembunyikan karena posisi duduk mereka yang membuat ayahnya tidak bisa melihat ekspresi Bima sepenuhnya.

Bima seolah sedang menyatakan perang, dan Alea tahu, tidak ada tempat baginya untuk bersembunyi di dalam sangkar ini.Sarapan pagi itu terasa seperti siksaan paling panjang bagi Alea.

Setiap gerakan Bima, setiap bunyi denting sendoknya, dan setiap hembusan napasnya seolah menjadi beban yang menghimpit dada Alea.

Setelah Baskara selesai dan pamit untuk menerima telepon penting di ruang kerja, keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka berdua di ruang makan.

Suara detak jam dinding seolah berdentum seirama dengan detak jantung Alea yang tak keruan.

Alea segera berdiri, berniat melarikan diri untuk kedua kalinya. Namun, sebelum ia sempat melangkah, tangan Bima sudah lebih dulu bergerak di bawah meja—menahan pergelangan kakinya dengan cengkeraman yang panas dan tegas, memaksa Alea tetap di tempatnya.

"Mau lari lagi?" bisik Bima.

Pria itu berdiri, namun tidak menjauh. Ia justru melangkah memutar, mendekati kursi Alea hingga ia berdiri tepat di belakang gadis itu, lalu mencondongkan tubuhnya.

Ia mengurung Alea di antara kedua lengannya yang bertumpu pada pinggiran meja. Aroma maskulin yang dominan kembali menyerang indra penciuman Alea, membuatnya pening.

"Lepaskan, Uncle. Daddy ada di ruangan sebelah," ancam Alea dengan suara bergetar, meski ia tahu ancaman itu terdengar sangat rapuh.

Bima tidak takut. Ia justru menarik kursi Alea sedikit lebih mundur, memaksanya untuk mendongak menatap wajahnya.

Bima mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar menyelipkan beberapa helai rambut pirang Alea ke belakang telinga, lalu jempolnya berhenti tepat di bibir bawah Alea yang gemetar.

"Baju ini jauh lebih baik, Alea," gumam Bima, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang sangat dalam.

"Tapi aku lebih suka yang tadi. Membuatku penasaran... apa kau masih memakai sesuatu yang hitam di balik kain tebal ini?"

Alea membelalakkan mata, tangannya mencoba mendorong dada Bima.

"Kau benar-benar gila!"

"Aku memang gila," sahut Bima lirih.

Tiba-tiba, tanpa peringatan apa pun, Bima menundukkan kepalanya. Alea mengira pria itu akan membisikkan ancaman lagi, namun ia justru merasakan sentuhan lembut yang panas di sudut bibirnya.

Bima mengecup singkat sudut bibir Alea—sebuah ciuman yang tidak hanya mencuri napasnya, tapi juga mengklaim dirinya secara paksa.

Hanya sedetik. Sentuhan itu singkat, namun membekas seperti luka bakar.

Bima segera menarik dirinya, menyeringai tipis melihat keterkejutan yang membeku di wajah Alea.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan melangkah dengan santai menuju ruang kerja ayahnya, meninggalkan aroma maskulinnya yang masih tertinggal di udara.

Alea masih mematung. Sentuhan bibir Bima seolah masih bergetar di kulitnya. Butuh beberapa detik bagi otaknya untuk memproses apa yang baru saja terjadi—tindakan yang begitu lancang dan kurang ajar.

"UNCLEEEEEE!"

Teriakan histeris Alea menggema di seluruh ruang makan, sebuah perpaduan antara rasa marah, malu, dan kepanikan yang luar biasa.

Namun pria yang ia panggil itu tetap melangkah tenang, bahkan tidak menoleh sedikit pun, seolah ia baru saja memenangkan babak pertama dari permainan yang sangat panjang.

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!