NovelToon NovelToon
Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Slice of Life / Komedi / Time Travel
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: RS Star

Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Tik ... Tok ... Tik ... Tok ....

Suara detik jam begitu menguasai ruangan, terdengar jelas di telingaku. Aku pun mulai memperhatikan sekeliling, dan hal yang kudapati adalah ....

"Ini mah kamarku ...," gumamku kecewa. Aku kira aku akan masuk ke isekai dan menjadi raja iblis atau semacamnya, seperti di manga, anime, atau novel-novel.

"Jadi cuma mimpi, ya? Tapi ada yang aneh ...," gumamku lagi sambil terus memperhatikan tata letak kamarku.

Seragam sekolah yang biasa kugantung di dekat pintu telah hilang. Beberapa buku yang kuletakkan di rak buku mendadak lenyap. Manga yang baru kubaca setengahnya juga tidak ada di atas meja belajar dekat laptop. Terlebih lagi ... ponsel yang ada di sebelah kasur, bukankah itu model yang kubeli ketika lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama)? Ke mana ponsel keluaran terbaruku ...?!!

Aku bergeser sedikit dari dudukku untuk meraih ponsel itu. Kembali aku dikejutkan karena ponsel yang seharusnya sudah retak di mana-mana pada bagian layarnya, kini kembali menjadi seperti baru tanpa goresan sedikit pun. Padahal, umur ponsel ini sudah lebih dari tiga tahun. Ketika layarnya kuhidupkan, aku semakin dibuat bingung karena tanggal dan tahun yang tertera adalah tiga tahun lalu.

"I-ini ... beneran?" gumamku. Aku benar-benar bingung dengan apa yang kulihat.

Harusnya beberapa tahun telah berlalu sejak ingatan ini kudapatkan. Rasanya sulit untuk dipercaya. Tanggal di ponselku tertera persis seperti saat aku baru masuk SMA (Sekolah Menengah Atas) dulu; tahun baru dan ajaran baru sebagai siswa SMA.

"Tenang dulu, aku harus memikirkan ini tanpa kepanikan apa pun. Kembali ke masa lalu itu sangat mustahil. Ini bukan manga, anime, ataupun sebuah kisah novel," ucapku berusaha menenangkan diri.

Meski begitu, aku sangat yakin aku sudah melalui masa tiga tahun SMA-ku dengan sadar. Itu bukan sekadar mimpi belaka. Aku bahkan masih bisa mengingat semua manga, anime, maupun novel yang telah kubaca selama tiga tahun itu. Anehnya, aku kehilangan ingatan tentang wajah teman-temanku. Namun, hal itu tidak mengherankanku. Aku kan seorang serigala penyendiri.

Aku beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Di sana, aku menatap cermin. Wajahku benar-benar menjadi lebih muda saat ini! Aku semakin bingung dan mulai ragu; jangan-jangan masa tiga tahun SMA-ku kemarin memang sebuah mimpi? Aku menepuk kedua pipi untuk memastikan bahwa pantulan di cermin itu benar-benar wajahku yang kembali muda.

"Kenapa, Kak?" tanya seseorang dari dekat pintu kamar mandi. Aku segera menoleh untuk menatap sumber suara.

"Ngaca melulu, deh. Mau berapa lama pun Kakak menatap cermin, enggak bakal bikin Kakak jadi ganteng," sindir Vanya padaku. Dia adalah adik perempuanku.

"E-eh, Vanya ... tunggu, kamu ...." Aku bergumam lirih. Aku benar-benar terkejut saat melihat adikku ini.

Wajah adikku memang terlihat jauh lebih muda. Dia seharusnya masih kelas dua SMP saat ini. Jadi begitu, ya .... Aku hampir lupa bagaimana rupa Vanya saat masih kelas dua SMP. Dia baru akan terlihat sangat cantik tiga tahun kemudian ketika sudah menjadi anak SMA.

"Tu-tunggu ... kenapa Kakak menangis?!!" serunya panik. Aku tidak sadar telah meneteskan air mata karena menatapnya terus-menerus.

"Sial, saat mengingat masa depan Vanya, aku jadi enggak kuasa menahan air mata," timpalku sambil menyeka air mata yang membasahi pipi.

"Enggak kuasa apa?!! Jangan bikin Vanya bingung! Kakak ini kenapa tiba-tiba menangis begitu?!! Apa karena Kakak benci MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah)?" Vanya mengatakannya dengan semakin panik. Aku hanya tertawa geli sendiri karena rahasia ingatan ini hanya aku yang tahu.

"Kamu akan jadi gadis cantik tiga tahun lagi, hidupmu juga bakal baik-baik saja sampai SMA ...," gumamku lirih. Aku baru tersadar dari rasa haru ketika mendengar Vanya menyebut kata MPLS.

"Hah? MPLS?!!" seruku bertanya. Vanya menatapku ketus sembari berkacak pinggang, terlihat songong.

"Iya, kan? Kemarin Kakak bilang mau mendapatkan pacar saat MPLS. Apa sudah lupa sama ucapan sendiri? Kayak kakek-kakek aja!" jawabnya ketus. Aku tersentak, tidak menyangka seberapa noraknya diriku tiga tahun lalu.

"Tu-tunggu!! Aku benar-benar segila itu tiga tahun lalu?!! Orang gila mana yang bisa dapat pacar pada hari pertama masuk sekolah?!! Paling masuk akal itu cuma punya banyak teman di awal masuk, kan?!!" timpalku panik sekaligus malu. Aku benar-benar tidak habis pikir bisa memiliki pemikiran senorak itu.

"Gimana, sih?!! Kemarin kayaknya percaya diri banget bilang bakal dapat pacar di MPLS, sekarang malah dibilang pemikiran gila!!" bentak Vanya kesal. Aku pun menggelengkan kepala beberapa kali sambil tertawa kecil.

Yah, aku juga heran kenapa bisa sepercaya diri itu mengatakan hal memalukan di depan Vanya. Aku akui, waktu itu aku memang sangat bersemangat menyambut masa remaja. Namun, setelah melewatinya selama tiga tahun penuh, sekarang aku sadar kalau tindakanku dulu itu sangat norak.

"Dari tadi Kakak bilang 'tiga tahun lalu' melulu. Memangnya ada apa sama tiga tahun lalu?" tanya Vanya heran. Aku pun menatapnya dengan raut wajah meyakinkan agar dia tidak bertanya lebih jauh tentang kembalinya aku ke masa lalu. Lagi pula, aku tidak akan bisa menjelaskan alasannya kalaupun aku ingin menjelaskan.

"Bukan apa-apa, mungkin aku memang sedikit gila," jawabku dengan nada tenang, datar, dan mencoba seyakin mungkin. Namun, respons itu malah membuat Vanya kesal.

"Apa pun itu, asal jangan jadi gila beneran!!!" bentaknya. Aku berjalan keluar dari kamar mandi dengan sikap sok keren supaya Vanya tidak semakin khawatir.

"Tiba-tiba sampai menangis lho! Kakak sebenarnya kenapa?!!" bentaknya lagi. Aku tersenyum tenang.

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," jawabku sambil terus berjalan menuju kamar.

Dengan langkah mantap, aku masuk ke kamar lalu membuka lemari pakaian. Di sana, aku mendapati seragam yang terlihat masih baru dan berbau toko. Sial, aku benar-benar kembali ke masa MPLS! ucapku dalam hati. Kemudian, aku mencari tas sekolah dan menemukan selembar kertas. Kertas itu berisi pengumuman tentang tata cara dan apa saja yang harus dilakukan selama masa MPLS.

"Sepertinya aku benar-benar harus mengulangi masa SMA-ku yang buruk itu ...," keluhku sambil terus menatap kertas tersebut.

Tidak, aku tidak bisa menerima kenyataan ini, tetapi aku harus tetap melangkah maju. Jadi, setelah bersiap-siap, aku menuju meja makan untuk sarapan. Di sana aku bertemu Ayah, Ibu, dan Vanya yang semuanya terlihat kembali muda. Sambil menyantap sarapan, aku membayangkan Ayah akan mengatakan hal yang sama seperti dulu ketika kami sarapan di hari aku akan mengikuti MPLS.

"Ayah sedang membuat program untuk berjalan sepuluh ribu langkah, lho," ucap Ayah, sama persis dengan kejadian tiga tahun lalu.

"Ooh," responsku dan Vanya kompak. Vanya merespons begitu karena tidak percaya Ayah akan benar-benar melakukannya, sedangkan aku tahu kalau program itu hanya akan bertahan selama tiga hari.

Setelah sarapan, aku segera berangkat ke sekolah. Jika memang benar aku kembali ke masa lalu, maka aku akan melihat pemandangan yang sama persis seperti tiga tahun lalu, kan? Ingatanku tentang masa itu memang agak samar-samar, tetapi aku masih mengingat beberapa detailnya. Bersamaan dengan itu, aku melihat gerombolan siswa-siswi yang berjalan menuju SMA-ku. Aku sedikit melamun sampai di titik ini ....

...Semua orang terlihat mengecil...

Yah, sekarang saja aku tidak merasa seperti menjadi siswa baru. Aku masih terbiasa menjadi siswa kelas tiga SMA. Bersamaan dengan pemikiran itu, aku menyadari satu detail kecil. Aku langsung menunduk, tepat setelah menatap gedung sekolah di depanku.

"Yak... itu dia kotoran kucing yang sudah terinjak. Padahal sudah mengulang waktu, tetapi tetap saja kotoran itu terinjak orang lagi. Apa dia tidak pernah belajar dari pengalaman? Kasihan sekali," gumamku. Tidak lama setelah itu, aku menyadari sesuatu yang sangat penting bagi hidupku.

"Hah?!! Ini benar-benar ingatanku tiga tahun lalu!! Terdengar seperti karakter utama ketika sadar telah kembali ke masa lalu. Tapi, kenapa aku cuma ingat bagian kotoran kucing yang terinjak saja?!" ucapku panik. Aku semakin yakin kalau aku sudah diseret kembali ke tiga tahun yang lalu.

Aku sangat ingat, pada pagi hari saat berjalan menuju sekolah, aku melihat ada tumpukan kotoran kucing yang terinjak di dekat jalan menuju SMA-ku! Lagipula, dari sekian banyak ingatan, kenapa aku malah yakin sudah kembali ke masa lalu cuma gara-gara masalah kotoran kucing ini?!! Kalau benar aku punya ingatan ini, berarti aku memang benar-benar terseret ke masa lalu, kan?! Tapi, kenapa harus kotoran kucing yang kujadikan alasan untuk memverifikasi kebenaran ini, sih?!

...Aku sudah tidak paham lagi ....

Di dalam kelas, satu per satu siswa-siswi memperkenalkan diri mereka masing-masing. Ini memang khas masa MPLS, kan?

"Namaku Reza dari SMP xxx. Aku senang bisa berkenalan dengan kalian. Ditambah lagi, tadi aku sempat menginjak kotoran kucing saat perjalanan ke sini. Jadi, tolong hibur aku, dong," ucap Reza, teman sekelasku. Seketika seisi kelas tertawa bersama, tetapi tidak denganku.

Aku membatin, ternyata orang yang menginjak kotoran kucing tadi adalah teman sekelasku. Kalau tidak salah ingat, dulu memang ada yang memperkenalkan diri dengan kalimat seperti itu. Entah bagaimana respons atau tanggapanku waktu itu, tetapi saat ini rasanya aku sulit untuk ikut tertawa. Lebih dari itu, aku kagum pada orang-orang ekstrover. Hal sial dan memalukan seperti itu saja bisa dijadikan bahan candaan, ya?

Kalau hal itu sampai menimpaku, aku pasti akan mati-matian membersihkannya terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas agar tidak mengganggu orang lain. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau sampai ada yang menyadari aku menginjak kotoran kucing. Aku pasti akan gemetaran dan tidak akan berani berkata jujur kalau akulah yang membawa bau busuk itu ke dalam kelas.

"Oke, berikutnya," celetuk Pak Guru di depan kelas. Aku pun berdiri dan bersiap untuk memperkenalkan diri.

Saat berdiri, aku sempat ingin berkata, “Aku datang dari tiga tahun mendatang.” Ahaha ... tidak, aku tidak akan mengatakan hal aneh seperti itu. Jadi, aku memperkenalkan diriku dengan biasa-biasa saja. Lagi pula, kalaupun aku mengatakannya, pasti tidak akan ada yang percaya. Aku malah akan dianggap sebagai orang aneh di sekolah ini. Alasan kenapa aku diseret kembali ke tiga tahun lalu juga masih menjadi sebuah misteri. Sampai saat ini pun aku bingung apa yang harus kulakukan. Hal terbaik yang kupikirkan dan harus kulakukan saat ini hanyalah berhati-hati dengan kecelakaan lalu lintas.

...Setelah semua siswa memperkenalkan diri...

"Baiklah, hati-hati di perjalanan pulang nanti, ya," ucap Pak Guru. Serentak siswa-siswi menyahut, "Baik, Pak!"—kecuali aku.

Sesaat kemudian, mereka mulai sibuk mencari kelompok masing-masing dan berkenalan lebih dekat satu sama lain. Ah ... ya, mereka benar-benar tampak masih muda. Mereka merasa harus buru-buru mencari teman dan memperkuat hubungan kelompok agar semakin solid menghadapi kerasnya kehidupan masa SMA. Dulu aku sama seperti kalian, tetapi aku menderita kekalahan yang memalukan.

Aku bukannya punya gangguan berkomunikasi. Aku paham bagaimana cara bersosialisasi yang baik dan benar, tetapi aku kesulitan mengikuti alur pembicaraan jika merasa tidak cocok dengan lawan bicaraku. Aku jadi teringat masa lalu ketika tidak bisa membangun hubungan pertemanan. Dengan penuh percaya diri, aku malah menjadi seorang penyendiri pada pekan pertama seperti ini.

Bukannya aku tidak berupaya, aku sudah berusaha maksimal, tetapi ujung-ujungnya tetap saja berakhir sendiri. Aku rasa itu adalah minggu tragis dalam kehidupan seorang serigala penyendiri; memutuskan untuk mencari kelompok, lalu terbuang begitu saja. Contohnya cowok yang sedang mengobrol di sebelah kananku itu. Dia pasti dulu pernah membatin, “Oh, dia yang dulu pernah mencoba berteman denganku, tetapi kami sudah tidak pernah mengobrol lagi.” Gawat, kan, kalau hal itu sampai terjadi lagi di masa sekarang?

Jadi, sekarang semuanya akan berbeda!

Karena sudah pernah merasakan jadi murid SMA selama tiga tahun, levelku tentu saja sudah tidak setara dengan para bidak seperti kalian. Aku akan menghadapi tiga tahun masa SMA yang kuulang ini dengan berkaca dari pengalamanku dulu. Pelajaran terbesar yang bisa kupetik pastinya adalah aku tidak cocok dengan hubungan interpersonal. Dengan kata lain, hal terbaik yang harus kulakukan sekarang adalah menyerah, lalu pulang.

Aku berdiri dari tempat duduk, lalu segera melangkah keluar kelas. Keahlian meninggalkan kelas tepat setelah materi MPLS selesai seperti ini jelas berada di luar jangkauan murid baru. Aku yang dulu bahkan hanya bisa duduk mematung di bangku sampai satu per satu siswa pulang dan hanya menyisakan aku sendiri.

"Tunggu," terdengar suara seorang cewek tepat ketika aku baru saja menginjakkan kaki di luar kelas. Namun, aku mengabaikannya begitu saja.

Akan sangat memalukan kalau aku sampai salah sangka, lalu membalikkan badan hanya untuk mendapati cewek itu ternyata memanggil orang lain. Aku tidak akan melakukan kesalahan pemula seperti itu. Oh ... siapa pun yang sudah menyeretku kembali ke masa lalu, pujilah pertumbuhan mentalku yang luar biasa ini dalam menghadapi MPLS!

"Tunggu!!!" teriaknya lagi. Kali ini, dia menarik tas punggungku dengan cukup kuat hingga aku tidak bisa melangkah lagi.

"Kenapa kamu mengabaikanku?!!" bentaknya lagi. Aku terpaksa berbalik untuk melihat siapa orang yang sudah lancang memanggilku.

"Ternyata benar ...," ucap cewek di depanku saat aku membalikkan badan. Matanya terlihat berkaca-kaca dengan raut wajah haru, senang, dan entahlah ... aku tidak cukup mengerti ekspresi apa yang sedang dia tunjukkan padaku saat ini.

1
Chizuru
cekatan sama pesimis beda tipis gak sih 🤣🤣🤣🤣🤣
SS Star
tuh kan Raka!!! /Sob//Sob/ hasil dari suicide mission lo buat nyelametin orang malah bikin lo berakhir jadi public enemy dibenci satu sekolah, iih kzl!! /Sob//Sob//Sob/ elma juga napa diem bae, gak sadar apa ya kalau dia baru aja bikin raka dapet villain role sewilayah sekolah? gw sekarang literally jadi paham banget gimana perasaan maya, instinct buat nampol raka tuh emang sekuat itu rasanya /Sob//Sob//Brokenheart/
SS Star
iih lowkey kzl bet sama raka!!! /Sob//Sob/ kek gak ada cara buat save elma yang lebih gentle apa ya? /Sob//Sob/ meskipun gw kagum sih dia masih care dan mau bantu elma biar kejadian drop out itu gak keulang, tapi ya mikir dikit kek. minimal cari cara yang lebih cool dan berestetika gito loh/Sob//Sob/ rakaaa!!!
Cece
tragis bgt 🤣.. udahlah reinkarnasi Krn Maya...masih di bully habis2an SMA mayaaa....🤣🤣
You Know me So well
sadizz coeg 🤣🤣
i'm your
ampun dah, kesian bet sama raka/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Fatieh
tutup MBG, biarkan Maya dan Elma yang memasak 🔥🔥🔥
Raudhatul
elma gak enakan orangnya🤣🤣🤣
Chizuru
mayaa badash🤭🤭🤣
BiNtAnG kEjOrA
lanjutkan Maya...jangan berhenti😄😄😄😄
H5 (halima) :v
Maya sadiiiissss 🤣🤣🤣
i'm your
wkwkwk kesian amat
You Know me So well
ya ya ya bangga aja udah gpp 🗿🗿
Silvia: ayo Qt beri tepukan...😄
total 2 replies
SS Star
sari apaan sih, fix kesel banget sama nih orang /Panic//Panic//Panic/ keliatan banget kalah saing sama elma sampai harus playing dirty buat jatuhin dia /Panic//Panic/ tapi jujurly gw penasaran banget sih sama next move yang bakal raka lakuin buat mutar roda kenangan dia, lagian maya udah meremehkan raka banget ya, tapi aku kalau jadi maya sama aja sih responnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ which is emang bener sih raka tuh keliatan useless banget dan gak guna sama sekali jadi manusia /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
SS Star
udah baca sejauh ini dan gw dapet konklusi: Raka emang takdirnya buat ditampol massal /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ Elma, Maya, sekarang Sari, semuanya punya insting yang sama buat ngeplak si raka/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tapi jujurly alurnya makin seru pas masuk ke misteri hilangnya memory kehidupan pertama dia, fix ini sih topik yang bakal seru banget buat diexplore ke depannya, semngat Thorku /Determined//Determined//Determined/
SS Star
eh ko tumben ch ini agak deep, tapi seru sih jadinya gak bercanda mulu /Facepalm//Facepalm/ agak mempertanyakan kok raka bisa lupa sama Elma padahal teman sekelas, padahal diawal dia kyk dapet flashback sama kehidupan pertamanya gitu kan /Shy//Shy//Shy//Shy/ tapi ttp ya, point minusnya itu elma gak nampol raka ditempat /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ padahal aku menantikan itu loo thor, sepanjang ch ini raka pure bikin emosi jiwa /Facepalm//Facepalm/
pie gemilang
jangan berharap banyak Raka...sepertinya kamu akan mendengar kalimat itu setiap saat!🤣💪
Kerak Telor
🤣🤣🤣terjebak situasi apa lagi Raka ini?😄😄
Cece: kaga ada yg bener cara Raka ketemu cewek 🤣
total 1 replies
Kenzie
elma suka raka?? hmm.. maya terus gimana thor??
4rafah: Maya SMA Elma berantemin aja.🤣🤣🤣
total 2 replies
pie gemilang
go ahead maya🤣🤣🤣💪💪💪...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!