Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Setelah puas menatap bungkusan daun talas yang telah hangus menjadi abu, Gandraka berbalik dan melangkah pulang. Wajahnya tetap datar, seolah apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang luar biasa baginya.
Ia masuk ke dalam rumah, menuju kamar mandi kecil di sudut bangunan. Air ia tuangkan ke telapak tangan, membasuh sisa-sisa abu yang masih melekat. Gerakannya tenang, teratur, tanpa tergesa. Setelah itu, ia berjalan ke pendapa dan duduk bersila.
Tubuhnya tegak. Nafasnya rata.
Matanya menatap lurus ke arah perbukitan Wengker yang ditumbuhi pepohonan rimbun. Angin siang berembus pelan, menggerakkan dedaunan, namun ada sesuatu yang terasa tidak selaras—sebuah getaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang peka.
Tak lama kemudian, dari kejauhan terlihat dua sosok berjalan di jalan kecil yang membelah persawahan. Langkah mereka pelan, seperti orang yang pulang setelah bekerja seharian.
Ki Bagaskara dan Nyai Lodra.
Namun pandangan Gandraka tidak berubah. Justru matanya menyipit perlahan.
Ia melihat sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak kasatmata.
Sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Beberapa saat kemudian, kedua sosok itu mendekati halaman rumah, lalu berhenti beberapa langkah dari tempat Gandraka duduk.
“Apakah semuanya baik-baik saja, putraku?” tanya Nyai Lodra, suaranya terdengar lembut seperti biasa.
Gandraka tidak langsung menjawab. Ia menatap keduanya dengan tajam, seolah mengupas lapisan yang menutupi wujud mereka.
“Jangan nekat… kalau kalian tak mau hangus,” ucapnya dingin.
Ki Bagaskara dan Nyai Lodra saling berpandangan sejenak, lalu kembali menoleh ke arah Gandraka.
“Apa maksudmu, putraku? Ibu membawa buah jambu kesukaanmu. Kemarilah,” ajak Nyai Lodra, sambil mengulurkan tangan.
Tatapan Gandraka semakin menyempit.
“Jambu air… atau jambu klutuk?” tanyanya pelan.
“Jambu air, putraku,” jawab Ki Bagaskara tanpa ragu.
Hening.
Satu detik. Dua detik.
Lalu Gandraka tersenyum tipis—senyum yang tidak mengandung kehangatan.
“Salah.”
Ia berdiri perlahan.
“Orang tuaku… selalu memanggilku anakku Bukan putraku”
Angin yang tadi berembus pelan tiba-tiba berhenti. langit menjadi gelap
Suasana mengeras.
Dalam sekejap, senyum di wajah Ki Bagaskara dan Nyai Lodra berubah. Bibir mereka tertarik lebih lebar dari sewajarnya. Mata mereka menghitam sepenuhnya, tanpa sisa putih. Rambut mereka bergelombang liar, seolah disapu angin yang tak terlihat.
Dari balik bibir yang merekah itu… muncul taring panjang yang mengilap.
Wajah mereka retak—bukan secara harfiah, namun seperti topeng yang tak lagi mampu menahan bentuk aslinya.
Suara yang keluar kemudian… bukan lagi milik manusia.
“Bocah… kami adalah Lingsir Ireng.”
Suara itu keluar dari dua sosok di hadapannya—dalam, berlapis, seolah bukan satu makhluk yang berbicara.
“Makhluk yang haus akan darah… terlebih darah bocah wingit sepertimu. Aura kehampaan dalam dirimu… dapat melipatgandakan kekuatan kami.”
Senyum mereka merekah lebih lebar, tak lagi menyerupai manusia.
“Kami tidak sekadar mengancam. Bergabunglah dengan kami… atau kami akan menghisapmu hingga kering.”
Tawa mereka pecah—panjang, serak, dan menggema aneh di udara.
Namun tak ada setitik pun rasa gentar di wajah Gandraka.
Justru sorot matanya semakin tajam.
“Jangan tertawa,” ucapnya datar. “Mendekatlah… kalau berani.”
Kedua makhluk itu berhenti tertawa. Sorot mata hitam mereka mengeras.
“Bocah… kau menantang kami? Sudah kau pikirkan baik-baik?” suara mereka berubah dingin. “Segel abu hitam yang kau tebarkan itu… tak ada gunanya bagi kami.”
Mereka mengibaskan tangan ke bawah.
Crrak! Crrak!
Ledakan-ledakan kecil berpendar di tanah. Garis abu hitam yang tadi membentang di sekeliling rumah seketika terpecah dan lenyap, seolah tak pernah ada.
“Nah, bocah…” suara itu kembali terdengar, kini penuh ejekan. “Apakah kau menyesal sekarang?”
Gandraka tersenyum tipis.
“Tidak pernah,” jawabnya pelan. “Karena sejak awal… aku hanya mengulur waktu.”
Sunyi jatuh sekejap.
Lalu—
dari belakang kedua makhluk itu, terdengar suara seorang pria. Dalam. Tegas. Penuh wibawa.
Suara yang tidak asing bagi Gandraka.
“He para makhluk ingkang boten kasat mata, ingkang nglangkungi wates tanpa idin, kawula dhawuh… mugi sami kasirnakaken. Wangsul dhateng papan asal panjenengan, aja ngantos nyedhak malih ing jagad punika. Keng ing lemah, keng ing rasa, pidhana, sirna, lan tilem ing salebeting bumi.”
Tanah di bawah kaki mereka bergetar.
Cahaya muncul dari bawah—bukan terang biasa, melainkan kilau pucat yang dingin.
Sebuah lingkaran segel terbentuk, mengurung kedua makhluk itu.
Lingkaran besar terukir di tanah, berpendar samar. Di tepinya terdapat empat tanda menyerupai arah mata angin—masing-masing berupa garis pendek yang mengarah ke luar.
Di dalam lingkaran, terlukis sebuah segitiga terbalik, dengan lingkaran kecil di pusatnya. Dari tiap sudut segitiga menjalar garis-garis halus seperti akar, menyatu dengan tanah di sekelilingnya.
Di antara garis-garis itu, muncul goresan lambang-lambang kecil—Tenger Wengker—yang berdenyut seirama dengan mantra.
Segel itu tidak hanya mengurung.
Ia… menekan.
Kedua makhluk Lingsir Ireng itu tersentak.
“Apa ini—?!”
Tubuh mereka bergetar hebat. Tanah di dalam lingkaran mulai retak, membelah perlahan seperti membuka mulut yang dalam.
Retakan itu bukan sekadar tanah.
Ia… seperti jalan menuju sesuatu yang lebih bawah.
“Kita ditarik—!!”
Mereka meronta. Tangan mereka mencakar udara, mencoba keluar dari lingkaran, namun setiap gerakan justru membuat tubuh mereka semakin berat.
Seolah ada tangan tak terlihat… yang menarik mereka ke bawah.
“Tidak… tidak mungkin…!”
Suara mereka pecah.
Tubuh mereka perlahan tenggelam ke dalam retakan tanah yang menganga. Separuh tubuh… lalu dada… lalu hanya kepala yang tersisa.
Mata hitam mereka menatap Gandraka—kali ini bukan dengan kesombongan. tapi ketakutan.
Mantra itu terus menggema. Berat. Dalam. Tak terelakkan.
Dan dalam satu tarikan terakhir. mereka lenyap.
Retakan tanah menutup kembali. Seolah tak pernah terjadi apa pun.
Namun udara di sekitar rumah itu… terasa lebih berat dari sebelumnya.
Dan di belakang mereka—
Ki Bagaskara berdiri. Matanya tajam, napasnya tertahan, namun auranya… jauh lebih dalam dari yang terlihat.
Gandraka menoleh sedikit.
Senyumnya tipis.
Seolah ia sudah tahu… semua ini akan terjadi.