Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Langkahnya membawa Shaka masuk lebih dalam, tanpa arah pasti, hanya mengikuti insting untuk menjauh dari gerbang. Dan kemudian, Ia melihat sebuah bangunan kecil di sisi kanan. Itu adalah mushola. Pintunya terbuka dan membuat cahaya hangat keluar dari dalam. Tanpa ragu, Shaka langsung bergerak ke sana dan masuk. Begitu melewati ambang pintu, Shaka langsung bersandar di dinding.
Napasnya masih tersengal-sengal. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya gemetar. Sementara tas itu masih tergantung di bahunya. Shaka menutup matanya sejenak dan mencoba menenangkan diri. Suasana terasa sunyi. Tidak ada suara sirine polisi. Tidak ada teriakan. Tidak ada langkah kaki polisi yang mengejar dirinya. Hanya keheningan. Perlahan, napas Shaka mulai teratur. Dada yang tadi terasa sesak mulai sedikit lega. Ia membuka mata dan menatap sekeliling.
Mushola itu terlihat sederhana, tapi bersih. Karpet hijau terbentang rapi, aroma khas tempat ibadah terasa jelas—tenang, damai, dan menenangkan dengan cara yang aneh.
Shaka menghela napas panjang. Ia merasa aman.setidaknya untuk sekarang. Shaka tertawa kecil yang terdengar pahit.
“Gila… bisa-bisanya gue lari ke tempat kayak gini…”
Shaka mengusap wajahnya menggunakan tangannya, mencoba menghilangkan sisa-sisa ketegangan yang menghimpit dirinya. Ia tidak tahu kenapa memilih masuk ke sini. Mungkin karena panik. Mungkin karena tidak ada pilihan lain. Atau mungkin karena tempat ini memang terasa seperti tempat terakhir yang tidak akan dicurigai siapa pun. Shaka mengangkat bahunya dari dinding dan berdiri tegak. Ia berjalan beberapa langkah ke dalam, memastikan tidak ada siapa-siapa.
Mushola itu terlihat kosong. Benar-benar kosong. Shaka mengangguk pelan. Ia merasa sangat pintar dengan keputusannya. Tidak ada yang tahu ia masuk kemari. Tidak ada yang melihat ia bersembunyi disini. Dan tidak ada yang akan mencurigainya. Untuk pertama kalinya sejak pengejaran itu dimulai, Shaka merasa dirinya selamat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Aman, Ia merasa aman.
Namun Shaka tidak menyadari satu hal. Di sudut mushola yang tertutup pembatas saf itu, Di antara bayangan yang samar dan cahaya lampu yang redup, Ada seseorang yang berdiri diam. Seorang pria dengan sorot mata tenang, yang baru saja menyelesaikan sholat malamnya. Dan kini, pria itu menatap lurus ke arah Shaka. Mengamati tanpa suara, tanpa peringatan, tanpa diketahui olehnya.
Bahwa kehadiran seorang asing, dengan napas terengah dan aura penuh ketakutan telah disadari pria itu sejak awal.
Langkah kaki itu terdengar pelan dan nyaris tak terdengar. Namun di tengah keheningan yang terlalu sunyi, suara sekecil apa pun terasa seperti gema yang memantul berkali-kali di kepala Shaka. Shaka yang semula berdiri santai dengan napas yang mulai teratur, seketika membeku. Seseorang ada di sini. Alis Shaka berkerut. Tubuhnya menegang tanpa sadar. Insting yang selama ini ia miliki—insting bertahan hidup di dunia keras yang tak pernah memberinya ruang untuk lengah—langsung mengambil alih.
Tok… tok…
Langkah kaki itu terdengar lagi. Pelan dan terukur. Bukan langkah orang yang panik. Bukan langkah orang yang berlari. Lebih seperti seseorang yang berjalan dengan tenang. Justru itu yang membuat bulu kuduk Shaka meremang. Kalau itu polisi, kenapa mereka tidak langsung menangkapnya? Kenapa mereka tidak berteriak? Kenapa tidak ada suara keras seperti di luar tadi? Atau mereka sedang mencoba menjebak? Jantung Shaka kembali berdegup kencang. Lebih kencang dari sebelumnya. Tangannya yang sempat mulai tenang kini kembali gemetar.
Tanpa berpikir panjang, ia bergerak cepat.
Tangannya menyelinap ke dalam saku jaketnya.
Dan di sanalah—tersembunyi rapi sejak awal—sebuah pisau kecil ia genggam erat. Dingin, tajam dan cukup untuk membuat seseorang mundur atau terluka. Shaka menahan napasnya. Tubuhnya sedikit merendah, seperti bersiap menghadapi sesuatu yang bisa datang kapan saja. Langkah kakitu semakin dekat.
Tok… tok… tok…
Kini jelas ada seseorang yang benar-benar sedang mendekatinya.
“Keluar aja…” gumam Shaka pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Matanya menyipit. Rahangnya mengeras. Begitu sosok itu muncul, Ia langsung berbalik. Gerakannya cepat dan tanpa ragu. Pisau itu terangkat, mengarah lurus ke depan—tepat ke arah seseorang yang kini berdiri hanya beberapa langkah darinya.
“JANGAN DEKAT-DEKAT!”
Suara Shaka terdengar keras, serak, dan penuh tekanan. Napasnya kembali memburu. Matanya liar, penuh waspada, penuh ketakutan yang berusaha ia sembunyikan di balik sikap agresifnya. Di hadapannya, seorang pria yang bukannya polisi melainkan seseorang dengan pakaian sederhana dengan sorban yang masih melingkar rapi di kepalanya, dan wajah yang tenang.
Orang itu adalah ustadz Haidar. Pria itu sempat terkejut. Jelas terlihat dari bagaimana langkahnya terhenti mendadak saat melihat pisau yang diarahkan Shaka kepadanya. Namun hanya sesaat, sangat singkat. Karena setelah itu, ekspresinya kembali terlihat tenang. Tidak ada kepanikan yang terlihat.
Tidak ada teriakan yang keluar. Hanya tatapan yang dalam, mencoba membaca situasi di depannya.
Seorang pemuda asing dengan napas terengah, dengan mata yang penuh ketakutan dan sebuah pisau yang siap melukai kapan saja.
“Turunin senjata mu itu wahai anak muda,” ucap Ustadz Haidar akhirnya, suaranya pelan, tapi tegas.
Shaka tertawa pendek dan sinis.
“Jangan nyuruh gue!” balasnya cepat. Tangannya makin mengerat pada gagang pisau itu. “Lo pikir gue main-main, hah?”
Ustadz Haidar tidak bergerak, tidak mendekat, tidak juga mundur. Ia hanya berdiri di tempatnya, menjaga jarak, memastikan tidak memancing reaksi yang lebih buruk.
“Gue gak bakal nyakitin lo kalau lo juga gak nyakitin gue,” lanjut Shaka, suaranya mulai bergetar meski ia berusaha terdengar tegas.
Kenyataannya ia panik.Sangat panik. Otaknya belum sepenuhnya memproses bahwa pria di hadapannya bukan polisi. Baginya, siapa pun yang ada di sini adalah ancaman. “Denger ya,” Shaka kembali berkata, suaranya lebih rendah, lebih penuh tekanan, “gue gak mau bikin masalah. Gue cuma numpang lewat. Jadi jangan macem-macem.”
Ustadz Haidar menatapnya lekat. Tidak ada rasa marah di sana. Tidak ada juga ketakutan yang terlihat. Yang ada hanya pengamatan. Seolah ia sedang mencoba memahami, bukan menghakimi.
“Kamu bukan orang sini,” ucap ustadz Haidar pelan.
Bukan pertanyaan, lebih seperti pernyataan. Dan itu membuat Shaka langsung menyeringai tipis.
“Pinter juga lo.”
“Dan kamu juga bukan orang yang datang ke mushola ini untuk ibadah,” lanjut Ustadz Haidar, masih dengan nada yang sama tenangnya.
Pisau di tangan Shaka sedikit bergerak, menandakan kegelisahannya.
“Gue bilang turunin analisis lo itu,” desis Shaka.
“Turunin dulu pisaunya,” balas Ustadz Haidar, tetap tenang. “Kita bisa bicara baik-baik.”
“Gak ada yang perlu dibicarain!” potong Shaka dengan cepat.
Tangannya makin gemetar. Sial. Kenapa pria ini tidak panik? Kenapa dia tidak takut? Itu justru membuat Shaka semakin tidak nyaman. Sementara itu di luar, Suara sesuatu terdengar samar. Langkah kaki yang terdengar banyak, tidak hanya satu atau dua. Dan itu membuat Shaka langsung menoleh ke arah pintu mushola. Jantungnya seperti berhenti sesaat.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.