Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.
Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
"Memangnya adikmu itu, kecelakaan dimana?" Tanya salah satu asisten Julia yang berada dibelakang bosnya.
Asisten pribadi yang berjenis kelamin laki laki yang diketahui bernama Reno, nama asli dan bukan samaran.
Dan diketahui jika siang hari namanya memang Reno, tapi kalau malam hari namanya itu berubah menjadi Reni.
Dia seorang laki laki bertubuh kekar, dengan badan yang tinggi besar khas orang Eropa, tapi bertingkah begitu anggun dan juga gemulai.
"Disekitaran jalan MH Thamrin om! Saya tidak mempunyai siapa siapa lagi didunia ini. Karena kedua orang tua saya sudah meninggal dunia, dan adik sayalah satu satunya kerabat yang saya punyai.
Tapi adik saya membutuhkan banyak sekali uang untuk operasi kulit, agar kulitnya itu bisa kembali seperti sedia kala. Saya sungguh merasa kasihan pada adik saya. Karena banyak kulit tubuhnya yang harus dijahit, mana adik saya itu perempuan lagi, dan berstatus pelajar SMP. Saya benar benar tidak bisa membayangkan, jika adik saya, yang masih berstatus sebagai pelajar SMP, harus mendapatkan bullyan karena fisiknya yang cacat dan banyak bekas jahitan. Saya benar benar tidak tega dan juga tidak mau kalau hal itu sampai terjadi pada adik saya," ucap Qiandra nerocos sembari menahan tangis, kala teringat bagaimana keadaan adiknya tadi.
Apalagi Qiandra juga mengingat tabiat adiknya itu, yang ntah mengapa? Sangatlah membenci dirinya. Ntah alasannya apa? Qiandra sendiri juga tidak tahu.
Kadang Qiandra sendiri menduga, mungkin adiknya itu membenci dirinya, karena dia tidak bisa memberikan adiknya kehidupan yang layak dan juga uang saku yang banyak.
Karena jika dibandingkan dengan dirinya sendiri. Adiknya jauh lebih modis dan punya banyak teman.
Jika dilihat dari segi baju bahkan penampilan. Setiap hari sebelum berangkat ke sekolah, adiknya selalu memberi wajah nya dengan pelembab dan juga mengoleskan bedak tabur ditambah dengan sentuhan lipstik.
Dan semuanya harus bermerek war dah, atau merek diatasnya.
Padahal bagi Qiandra uang 10 ribu saja sangat berharga. Apa lagi harga bedak, lipstik dan pelembab merek itu. Sungguh sangatlah mahal bagi Qiandra.
Qiandra sendiri setiap berangkat ke sekolah. Selalu polosan dan tidak memakai apa apa. Tapi kecantikan Qiandra sungguh mempunyai daya tarik tersendiri.
Bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi, Qiandra sudah menawar kan diri nya, untuk mengantar adiknya itu berangkat ke sekolah.
Tapi dengan nada yang terdengar kasar, adiknya itu berkata, "kakak mau mengantar ku dengan jalan kaki, aku malu jalan kaki sama gembel seperti kakak. Kenapa sih! Aku harus hidup dengan orang miskin seperti kakak. Awas ya kak! Kalau kita berpapasan, anggap saja kita seperti orang asing yang tidak saling mengenal.
Jujur, aku sangatlah malu punya keluarga seperti kakak!" Ucapan Diandra yang sering menyakiti hati Qiandra. Tapi walaupun begitu, Qiandra tetap tulus mencintai dan merawat adiknya itu dengan sepenuh hati.
Julia yang seakan tahu, kalau adik dari gadis muda yang ada di depan nya. Bukanlah korban tabrak lari, tapi memiliki sangkut paut dengan kecelakaan yang menimpa anaknya.
Akhirnya Julia pun memiliki sebuah rencana. Karena bisa dipastikan, jika gadis muda yang ada dihadapannya adalah seorang yang tidak mempunyai wali. Karena dari cerita yang Julia tangkap, gadis muda itu berkata. Jika setiap harinya berjualan donat untuk menghidupi dirinya dan juga adiknya.
Tiba tiba ingatan Julia, mengarah pada pesan dokter yang mengoperasi anaknya pagi tadi.
Untuk segera mencari ibu susu. Tidak mungkin juga Julia yang menyusui anaknya. Karena setiap menit waktu Julia menghasilkan rupiah. Maklum seorang boss kaya.
Setelah berpikir, akhirnya Julia langsung memutuskan sebuah rencana.
"Tolong, jangan panggil saya dengan panggilan Om, yang pertama saya tidak setua itu dan yang kedua saya itu bukan om kamu," ucap Reno dengan tatapan tajam ke arah Qiandra yang menahan tangis.
"hiks hiks hiks, saya mohon maafkan saya tuan, saya sedang banyak pikiran. Tapi maaf saya kok malah curhat sama kalian semua, saya mohon maaf sekali lagi. Kalau begitu saya permisi." Qiandra terlihat pamit ke pada tiga orang yang berdiri dihadapannya.
"Tunggu!" Julia terlihat Qiandra yang terlihat membalikkan badannya. Guna kembali keruangan adiknya.
Dengan menyeka air mata yang terus luruh melewati kedua pipinya, Qiandra pun akhirnya mengentikan langkah kaki nya.
"Loh kenapa memanggil anak itu?" Tanya Reno dengan nada mencibir kearah Julia.
"Jaga sopan santun mu itu Reno, di depan saya! Saya itu masih atasan kamu." Julia terlihat marah dengan tatapan mata nyalang ke arah asisten pribadinya.
"I - iya maaf Bu," ucap Reno dengan nada terbata bata.
"Tumben, kamu itu terlihat begitu bodoh. Apa kamu tidak tahun atau pura pura polos. Kamu lupa adik gadis polos itu adalah korban tabrak lari dijalan sekitar MH Thamrin tadi pagi, dan dia itu terlihat baru saja pulang dari sekolah.
Mungkin gadis polos itu mendapatkan sebuah informasi yang salah, bisa saja kan adiknya luka berat karena tabrakan beruntun disekitar jalan MH Thamrin," ucap Nala dengan nada datar kepada rekan kerja yang berdiri tepat disampingnya.
Nala adalah perempuan cuek, cerdas dan juga tomboy. Nala adalah salah satu asisten pribadi Julia.
Julia tidak menanggapi apa yang di ucap kan asisten pribadinya.
Julia terlihat berjalan menjauh dari ke dua asisten pribadinya. Dia berjalan menuju ke arah gadis polos yang baru ditabraknya.
"Saya bisa membantumu, dengan memberimu sebuah pekerjaan yang mudah. Tapi menghasilkan banyak uang," ucap Julia dengan nada yang terdengar begitu serius.
Karena jika ingin anak nya segera pulih dan juga sembuh, anaknya yang cacat vegetatif membutuhkan sebuah nutrisi asi.
Karena anak Julia memang sepanjang hidupnya alergi susu sapi dan juga susu kedelai.
Dan karena anaknya dalam keadaan koma, tidak ada satupun makanan yang bisa masuk kedalam tubuh anaknya itu kecuali air susu ibu.
Dokter pun menyuruh Julia, untuk segera mencarikan ibu asi untuk anak nya yang berumur 25 tahun.
Karena takut kalau kondisi anak nya malah akan semakin menurun. Karena tidak mendapatkan asupan makanan sama sekali.
Julia pun tidak menyia nyiakan kesempatan saat bertemu dengan gadis polos yang ada di depan nya.
Karena dia harus segera mencari ibu susu segera untuk anaknya. Apalagi Julia senang, gadis polos didepannya itu tidak mempunyai orang tua. Jadi tidak perlu perijinan.
"Hah ..?" Tanya Qiandra sembari membulatkan matanya. Qiandra tahu wanita yang ada didepan matanya adalah orang kaya. Jika dilihat dari pakaian dan juga barang yang melekat pada tubuh wanita paruh baya yang ada didepannya.
Tapi mana mungkin wanita paruh baya yang ada didepannya mau membantu dirinya secara cuma cuma ataupun gratis.
Apa lagi? Qiandra sadar, dia adalah seorang murid SMA, yang belum lulus dan tidak mempunyai ketrampilan apa apa? Bekerja yang menghasil kan uang banyak, ya bekerja apa lagi? Batin Qiandra dalam hati.
"Saya akan memberimu gaji 100 juta perbulan, jika kamu mau bekerja dirumah saya!" Julia terlihat memasang wajah serius.
"Apa? Nyonya akan membayar saya 100 juta perbulan," ucap Qiandra sembari mengernyitkan dahinya.
Padahal yang 50 ribu rupiah bagi Qiandra adalah uang yang sangat banyak, apa lagi uang 100 juta perbulan.
Qiandra menepuk pipinya berkali kali, untuk memastikan kalau semua ini bukanlah sebuah mimpi.
"Ya saya serius, dan saya pastikan ini bukanlah mimpi, jadi kamu gak perlu memukul pipimu itu lagi? Hanya untuk memastikan ini nyata atau hanyalah sebuah mimpi," ucap Julia dengan tatapan wajah serius.