Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jembatan angker!
Selama kedua orang tua dan kakak-kakaknya asyik bermain berbagai macam wahana di pasar malam, Nadia sendiri hanya berjalan pelan memperhatikan banyak hal.
Nadia tersenyum saat melihat seorang anak seusianya sedang merengek meminta dibelikan gulali. Nadia mendengus pelan saat melihat seorang kakak merebut boneka kecil di tangan adiknya. Nadia hampir menangis saat melihat seorang anak kecil yang menangis tantrum tapi ditinggal begitu saja oleh ibunya.
Makin jauh kaki Nadia melangkah, makin banyak yang dapat ia lihat. Seperti saat ini, Nadia melihat boneka kelinci berwarna putih di gantung di stand permainan tembak balon.
Langkahnya semakin mendekat kearah stand itu, matanya memperhatikan saat seorang pria dewasa mulai mengarahkan senapan kearah balon di depannya.
Tembakan pertama tepat sasaran, tembakan ke dua, tiga hingga sembilan balon kena semua.
"Hore... Aku dapat boneka kelinci." Jerit riang seorang gadis kecil seusia Nadia saat semua balon berhasil di pecahkan oleh pria dewasa itu yang mungkin ayah si gadis kecil.
Kedua sudut bibir Nadia ikut melengkung keatas melihat kebahagiaan gadis kecil itu. "Ayah pasti bisa pecahkan semua balonnya. Terus aku dapat hadiah boneka kelinci juga kan!" Gumamnya berharap.
Merasa harapannya tidak akan jadi kenyataan, Nadia pun melanjutkan langkahnya. Tapi, sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, seseorang penjual telur gulung memanggilnya. "Kamu ini Nadia kan?"
Dengan wajah bingung Nadia mengangguk pelan.
"Nak Nadia anak pak Arman kan?"
"Iya, buk."
Penjual telur gulung itu tersenyum sambil memberikan uang sepuluh ribu. "Ini uang dari pak Arman. Katanya kalau ketemu nak Nadia, pak Arman titip pesan."
"Pesan apa, buk?" tanya Nadia ragu.
"Pak Arman titip pesan, katanya mereka sudah pulang duluan, karena tadi mendadak kakaknya dek Nadia muntah-muntah. Jadi, mereka pulang duluan gitu katanya."
"Ayah, bilang gitu?"
"Iya. Tadi dia pulang buru-buru. Katanya, nak Nadia pulang naik ojek saja."
Nadia bingung sambil meraih uang sepuluh ribu dari tangan penjual telur gulung itu. "Terimakasih ya, buk."
"Iya, sama-sama. Pulangnya hati-hati ya nak."
Dengan langkah cepat Nadia segera keluar dari area pasar malam. Di depan langsung bertemu tukang ojek.
"Pak bisa antar aku pulang?" tanya Nadia pada tukang ojek itu sambil menyebutkan alamat rumahnya.
"Bisa. Tapi ongkosnya lima belas ribu ya dek."
Sebentar Nadia diam, melirik uang sepuluh ribu di genggamannya. "Iya pak." ucapnya setuju karena ia pikir nanti setelah sampai rumah, ayah akan menambah kekurangan ongkosnya.
Nadia naik ke motor itu yang kemudian melaju dengan kecepatan sedang.
"Orangtuanya mana dek?" tanya tukang ojek.
"Pulang duluan, kakak aku tadi muntah-muntah." jawabnya seperti yang diberitahu penjual telur gulung.
"Memangnya mereka pulang naik apa?"
"Naik angkot." jawab Nadia asal.
"Ke pasar malamnya juga naik angkot sama orang tua kamu?"
"Iya."
Motor terus melaju, hingga sampailah di jembatan yang lumayan panjang dan terasa mencengkam. Angin malam membuat bulu kuduk berdiri.
"Pak berhenti!" Jerit Nadia yang membuat motor berhenti mendadak.
"Ada apa, dek?"
"Itu..." arah telunjuk Nadia tertuju pada seorang laki-laki yang berdiri di atas tiang penyangga jembatan.
"Waduh... Itu apa ya!" tukang ojek merinding.
"Pak, kakak itu sepertinya mau lompat."
"Biarin aja dek. Kita lanjut aja ya. Jembatan ini angker."
"Tapi pak, kakak itu..."
Mata Nadia terus tertuju pada laki-laki tinggi yang memakai hoodie hitam itu.
"Dek, pegangan ya. Kita lanjut jalan lagi!"
Tepat sebelum ojek itu melaju, Nadia turun dari motor itu.
"Dek... Ah bodoh amat." Tukang ojek langsung tancap gas meninggalkan Nadia yang melangkah cepat semakin dekat kearah orang yang dia pikir akan bunuh diri.
"Kak jangan!" Jerit Nadia lantang.
Laki-laki itu sontak menoleh kearah Nadia yang sekarang berlari kencang.
"Kak, jangan lompat!"
Jeritan itu membuat remaja tinggi itu turun dari tiang penyangga jembatan.
"Kak jangan lompat!" ucapnya ngos-ngosan. "Ibu guru bilang, bunuh diri itu dosa..." Nadia berdiri menatap wajah yang tertutup kupluk hoodie. Napasnya ngos-ngosan, bicaranya pun terbata-bata.
Remaja tinggi itu diam beberapa saat sebelum meraih kedua tangan Nadia erat hingga tubuh kecil Nadia masuk dalam pelukannya.
Mata Nadia membulat, Nadia bingung dan sangking kagetnya sampai lupa berontak dari pelukan asing itu.
"Maaf, maaf... Maafin kakak dek. Ini semua salah kakak." celoteh remaja itu sambil memeluk Nadia.
"Kak..." panggil Nadia hati-hati.
Sebentar kemudian remaja itu melepas pelukannya dan terduduk lemas di aspal dengan punggung bersandar pada tiang penyanggah jembatan.
Nadia bingung, menatap ragu wajah orang itu.
"Maaf, aku kira kamu adik aku."
Mendengar permintaan maaf itu, Nadia pun duduk di sebelahnya. "Kakak mau bunuh diri ya?" tanya gadis kecil polos itu.
"Tadinya iya. Tapi, sepertinya mendiang adikku akan sangat kecewa kalau aku benaran melompat." menatap tajam pada Nadia. "Kamu mau kemana malam-malam sendirian?"
"Aku dari pasar malam. Ya ampun, aku harus pulang. Ayah pasti khawatir nungguin aku."
"Tunggu, rumah kamu di mana?" menahan tangan Nadia yang sudah hendak beranjak pergi.
"Rumah aku jauh..." Nadia pun menyebutkan alamat rumahnya.
"Biar aku antar. Sebentar..." remaja itu menelpon menggunakan telepon pintarnya. "Pak, jemput aku di jembatan..."
Setelah menelpon, dia kembali menatap Nadia yang kini berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam.
"Sebentar ya." Nadia mengangguk paham.
Setelah hampir sepuluh menit, mobil sedan berhenti di dekat mereka.
"Ayo, aku antar kamu pulang." ajak remaja itu dengan lembut menarik tangan Nadia untuk ikut masuk ke mobilnya.
Mereka duduk di kursi penumpang, seorang pria paruh baya menyetir dengan laju kencang karena di perintahkan untuk cepat oleh majikannya.
Sepanjang perjalanan Nadia hanya diam saja menahan rasa takut di dalam mobil yang melaju kencang. Belum lagi Nadia juga mulai merasa ingin muntah.
"Kita sudah sampai. Mobil tidak bisa masuk ke dalam gang. Apa rumah kamu masih jauh?" tanya remaja itu.
Nadia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, menelan kuat muntah yang hampir keluar. "Sudah dekat. Terimakasih kak." Buru-buru turun.
"Hei, nama kamu siapa?" teriak remaja itu dari dalam mobil.
Nadia yang sudah turun dari mobil, menoleh. "Nadia. Terimakasih ya kak." sahutnya sebelum berlari cepat menghilang di gang gelap itu.
Bersambung...