Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Pertemuan Pertama
Sesuai dengan kesepakatan jika malam ini Nayara dan Adrian akan bertemu untuk pertama kalinya, disebuah restaurant terlihat suasana yang tenang dan juga memberikan kesan elegan.
Lampu gantung kristal yang memberikan pantulan cahaya hangat keseluruh ruangan, sementara dentingan musik piano kini mengalun indah dan lembut di latar belakang.
Nayara yang telah sampai lebih dulu memilih untuk duduk dikursi dengan sikap yang tenang, menggunakan gaun hitam yang sederhana memberikan kesan anggun tanpa berusaha untuk terlihat berlebihan.
Tangannya kini menegang gelas yang berisi minuman, sedangkan isi kepalanya benar-benar tidak bisa fokus pada apapun yang berada dihadapannya.
Nayara menunggu dengan tenang sejak sampai di restaurant.
5 menit ... 10 menit ... Sebenarnya Nayara bisa saja merasa kesal, namun sayangnya Nayara bukanlah tipe perempuan yang mudah menunjukkan perasaannya dihadapan banyak orang. Bagi Nayara menunggu hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidupnya, sampai akhirnya pintu restaurant terbuka.
Seorang pria kini Melangkahkan kakinya dengan tenang dan penuh dengan rasa percaya diri, bahkan beberapa orang didalam ruangan tanpa sadar menoleh memperhatikan pria bertubuh tinggi, mengenakan setelan jas berwarna abu-abu gelap terlihat sangat rapih.
Aura dingin namun berwibawa langsung terasa dari cara ia berjalan, tatapannya kini menyapu ruangan sebentar sampai akhirnya berhenti pada satu meja dimana Nayara tengah duduk.
Mata Keduanya kini bertemu dan untuk beberapa waktu terasa lebih lama dari seharusnya, tidak ada yang bergerak dari Nayara maupun Adrian keduanya terdiam dengan ekspresi wajah yang tenang.
Jadi ini yang namanya Adrian Mahendra....
Pria itu kini berjalan semakin mendekat dengan langkah yang mantap tanpa ada keraguan sedikitpun, ketika ia sampai di meja Nayara langkahnya terhenti tepat dihadapan Nayara.
" Maaf membuat Anda menunggu" suara Adrian tenang menampilkan senyuman tipis di bibirnya.
" Aku baru menunggu sepuluh menit, tidak masalah" Nayara sedikit mengangkat alisnya.
" Berarti aku masih cukup tepat waktu, ya?"
Adrian menarik kursi tepat didepan Nayara dan duduk dengan sikap santai namun tetap terlihat elegan, beberapa detik keduanya saling pandang memperhatikan satu sama lain tanpa kata yang keluar dari mulut. seolah tengah mencoba membaca pergerakan satu sama lain, sampai akhirnya Adrian adalah orang pertama yang memecah keheningan.
" Jadi... Anda Nayara Almeera?"
" Hmmm, dan Anda Adrian Mahendra? Ahhh... Sepertinya kita sudah sama-sama tahu tujuan pertemuan ini bukan? " Nayara yang memang tidak suka dengan basa-basi.
" Perjodohan" Adrian menganggukkan kepala pelan dengan jari-jari yang bertautan diatas meja.
Pelayan datang dengan membawa daftar menu, tapi keduanya hampir tidak benar-benar melihatnya. Nayara lebih tertarik memperhatikan pria dihadapannya, Adrian Mahendra terlihat lebih tenang dari apa yang dibayangkan. Tidak arogan tidak terlalu banyak bicara basa-basi, justru terlihat terlalu terkendali.
" Ayahku bilang kita diberi waktu satu bulan?" Adrian kembali memecahkan keheningan.
" Benar, aku yang meminta waktu satu bulan untuk kita saling mengenal satu sama lain sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah atau tidak" Nayara mengangguk kecil.
" Tapi aku penasaran... Mengapa kamu tidak menolak?" pertanyaan sederhana kini terlontar begitu saja dari mulut Adrian.
" Karena aku merasa tidak punya alasan untuk menolak" Nayara kini menatap Adrian.
" Tidak punya alasan?" jawab Adrian dengan sedikit memiringkan kepalanya.
" Bagiku, pernikahan hanyalah sebuah keputusan yang rasional.... Bukan tentang rasa cinta" jawab Nayara.
" Hmmm... Menarik" tatapan Adrian kini berubah sedikit.
" Hah... Menarik? Kenapa?" Nayara justru dibuat heran.
" Biasanya wanita memiliki banyak harapan tentang rasa cinta" Adrian kini bersandar di kursinya.
" Sayangnya, aku tidak termasuk kedalam wanita yang seperti itu" senyuman tipis itu kini tercipta dibibir Nayara.
Hening kembali mengisi meja mereka, namun kali ini bukan keheningan yang canggung. Justru terasa lebih seperti sebuah percakapan yang sedang mencari arah.
Adrian memperhatikan wajah Nayara secara seksama, tatapan wanita dihadapannya cukup tenang namun sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi didalamya. Sesuatu yang... Terluka.
" Aku juga tidak percaya pada konsep cinta yang berlebihan" kata Adrian selanjutnya.
" Jadi... Kita sepakat?" Nayara menatapnya kembali.
" Sepertinya begitu" Adrian mengangkat gelas airnya sedikit.
" Satu bulan untuk kita saling mengenal" Nayara ikut mengangkat gelasnya.
" Satu bulan..."
Gelas keduanya saling bersentuhan pelan, namun tak ada satupun dari mereka yang tahu jika pertemuan sederhana malam ini akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang bahkan tidak pernah ada dalam bayangan Nayar, karena ternyata dibalik ketenangan seorang Adrian Mahendra... Ada perasaan yang perlahan mulai tumbuh.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seorang pria mulai tertarik pada wanita yang kini duduk dihadapannya dengan tenang. Sementara Nayara sama sekali belum menyadarinya.
" Ada satu hal lagi" saat makan malam hampir selesai, Adrian tiba-tiba saja mengeluarkan suaranya.
" Apa?" Nayara menatapnya dengan datar.
" Satu bulan mungkin cukup untuk saling mengenal satu sama lain... Tapi menurutku itu juga cukup untuk mulai menyukai seseorang, bukan?" Adrian tersenyum tipis.
Nayara terdiam sejenak tatapannya kini sedikit berubah, dan untuk pertama kalinya malam itu... Nayara merasa obrolan yang terjadi ini tidak sesederhana yang dipikirkan.