Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Beberapa hari kemudian
Di sebuah desa terpencil
Ombak datang dan pergi tanpa suara yang berarti. Air laut menyentuh tubuh gadis itu, lalu mundur lagi, meninggalkan pasir basah yang perlahan mengering di kulitnya.
Ia terbaring miring, pakaian lusuh menempel di tubuh, bercampur dengan pasir dan garam. Rambutnya kusut, sebagian menutupi wajah pucat tanpa ekspresi.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar di atas pasir. Seseorang dari desa dekat pantai itu berjalan mendekat. Ia berhenti, menatap gadis itu sekilas, lalu berjongkok tanpa tergesa.
Tidak ada kepanikan di wajahnya. Tidak ada teriakan.
Hanya satu tarikan napas pendek sebelum tangannya menyentuh bahu gadis itu.
“Masih hidup.”
Gadis itu adalah Calista Li yang ingin mengakhiri hidupnya, namun kini dirinya ditemukan oleh warga desa.
***
Di sisi lain...
Beberapa hari setelah hari pelantikan Nathan sebagai ketua organisasi, ia masih disibukkan dengan urusan pekerjaan serta mengatur strategi dan anak buah yang berada di bawah kendalinya.
Ruang rapat di lantai tertinggi gedung itu dipenuhi suasana tegang. Nathan Han berdiri di depan layar besar, jas hitamnya rapi, tatapannya dingin seperti biasa.
“Wilayah timur sudah mulai lepas kendali ” ucapnya tenang. “Jika kita biarkan, mereka akan menganggap kita lemah.”
Beberapa pria di meja panjang itu saling pandang, tak satu pun berani memotong.
Nathan menekan remote di tangannya. Peta digital kota menampilkan titik-titik merah dan biru.
“Pindahkan dua tim ke pelabuhan. Pastikan distribusi tetap berjalan. Dan untuk yang berani bermain di belakang kita…” sudut bibirnya terangkat tipis, tanpa kehangatan, “beri mereka peringatan yang tidak akan mereka lupakan.”
“Baik, Ketua,” jawab mereka serempak.
Bagi Nathan, ini bukan sekadar strategi bisnis. Ini tentang mempertahankan kekuasaan. Tentang memastikan tak ada yang cukup berani menyentuh tahtanya.
Ambisi adalah satu-satunya hal yang tidak pernah ia abaikan.
Asisten yang berdiri di sampingnya, Marcus Song, menerima informasi dari ponselnya. Ia melangkah mendekat dan berbisik pelan di telinga Nathan.
Nathan terdiam sesaat. Tatapannya berubah lebih tajam.
“Rapat hari ini sampai di sini,” ucapnya tenang.
Tanpa menunggu respons, ia melangkah keluar dengan gerakan elegan dan berwibawa—sosok yang jelas memimpin, bukan dipimpin.
Di lorong privat lantai itu, Marcus mengikuti di belakangnya.
“Tuan Han, sepertinya Tuan Muda Jims sengaja menimbulkan masalah. Dan kali ini, ia menyeret nama Anda,” lapor Marcus hati-hati.
Nathan terkekeh pelan, tanpa kehangatan.
“Dia memang selalu mencari masalah denganku,” ujarnya dingin. “Dia ingin menjatuhkanku… dengan cara mempermalukanku.”
Langkahnya tak melambat sedikit pun.
“Kalau itu yang dia inginkan,” lanjut Nathan tenang, “biarkan dia belajar… siapa yang sebenarnya sedang dia tantang.”
***
Angin laut berembus kencang malam itu. Garis pantai masih sepi ketika seorang nelayan melihat sesuatu terdampar di antara buih ombak dan segera melapor ke pihak berwajib.
Tak lama kemudian, dua mobil patroli berhenti di tepi pantai. Garis polisi dipasang. Beberapa petugas mendekat dengan langkah hati-hati.
Salah satu polisi berlutut, memeriksa tubuh wanita yang tergeletak tak bergerak di atas pasir basah. Pakaiannya masih utuh, namun kondisinya telah rusak oleh air laut.
Wajahnya…
Sulit dikenali.
Sebagian kulit tampak rusak akibat benturan dan gesekan dengan karang. Pembengkakan karena terlalu lama berada di air membuat fitur aslinya berubah. Rambut panjangnya kusut menutupi sebagian wajah, bercampur pasir dan serpihan rumput laut.
“Sudah lebih dari beberapa hari di air,” gumam salah satu petugas forensik yang baru tiba.
“Identifikasi lewat wajah tidak memungkinkan,” jawab rekannya pelan. “Kita harus periksa barang pribadi atau data forensik.”
Kamera dokumentasi berbunyi pelan. Ombak kembali menyentuh ujung kaki wanita itu sebelum akhirnya tubuhnya ditutup kain putih.
Namanya belum dipastikan.
Wajahnya tak lagi bisa menjadi jawaban.
Salah satu ahli forensik berlutut di samping tubuh wanita itu. Dengan sarung tangan karet, ia memeriksa saku mantel yang masih berat oleh air laut.
“Tunggu… ada sesuatu di dalamnya,” ucapnya pelan.
Ia menarik keluar sebuah dompet tipis yang sudah basah kuyup. Setelah membukanya dengan hati-hati, ia menemukan sebuah kartu identitas berbahan plastik. Permukaannya tergores dan sebagian tintanya memudar, namun foto dan nama di atasnya masih terlihat.
Petugas itu menyipitkan mata, lalu membacanya dengan suara rendah,
“Calista Li.”
Seorang polisi lain mendekat. “Apakah bisa dipastikan?”
“Kartunya asli. Material dan hologramnya sesuai,” jawab ahli forensik itu. “Meski terendam air, kartu jenis ini tahan air. Identitas sementara mengarah pada nama ini.”
Ia lalu menatap kembali wajah wanita yang sudah sulit dikenali.
“Namun untuk kepastian hukum,” lanjutnya tegas, “kami tetap akan melakukan identifikasi lanjutan melalui sidik jari dan data forensik lainnya.”
“Dokter, apakah korban jatuh ke laut atau dibunuh?” tanya polisi itu.
Dokter forensik melepas sarung tangannya dengan tenang. “Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain di tubuh korban. Tidak ada luka tusuk, tidak ada bekas cekikan.” Ia berhenti sejenak. “Korban memiliki tato bunga mawar di pundaknya. Dari pemeriksaan awal, kemungkinan besar korban terjun sendiri ke laut.”
Polisi itu mengangguk pelan, wajahnya tetap serius.
Kapten tim kemudian melangkah maju. “Sebarkan pemberitahuan orang hilang ke seluruh kantor kepolisian wilayah kota. Lacak alamat sesuai kartu identitas yang ditemukan. Jika ada keluarga yang melapor, arahkan mereka ke kamar jenazah untuk proses identifikasi.”
“Baik, Kapten,” jawab rekannya serempak.
Di sisi lain, Nathan baru tiba di sebuah hotel elit bersama Marcus. Mereka melangkah memasuki bangunan megah itu dan menuju lobi, tempat keributan terdengar jelas dari kejauhan.
Di tengah lobi, Jims sedang beradu mulut dengan seorang pria berpakaian formal. Suasana memanas. Dalam hitungan detik, Jims mengambil botol dari meja dan memukulkannya ke kepala pria di hadapannya.
Bruk.
Pecahan kaca berhamburan. Pria itu terhuyung dan jatuh ke lantai.
Para staf hotel hanya berdiri tegang di sudut ruangan. Tak satu pun berani mendekat. Beberapa pengawal Jims berdiri mengelilinginya, membuat siapa pun berpikir dua kali untuk ikut campur. Bahkan manajer hotel memilih diam, wajahnya ketakutan.
Langkah Nathan dan Marcus berhenti tak jauh dari kerumunan itu.
“Ketua!” sapa salah satu pengawal Jims dengan hormat begitu menyadari kehadiran Nathan.
Suasana mendadak lebih sunyi.
Jims menoleh perlahan. Tatapannya tajam, senyumnya miring penuh ejekan.
“Akhirnya kau datang juga,” katanya angkuh. “Walau kau adalah ketua… tetap saja kau hanya peliharaan papaku.”
Lobi hotel terasa makin dingin.
Nathan tidak langsung menjawab. Tatapannya datar, tanpa emosi—namun justru itu yang membuat suasana semakin menekan.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???