Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: SILENT REAPER
Pintu kamar terbuka pukul tujuh tepat.
Seorang pelayan wanita dengan seragam abu-abu menunduk di ambang pintu. "Nona Alea, sarapan sudah siap. Tuan Damian menunggu."
Alea duduk di tepi ranjang sejak subuh. Matanya sembab, tapi ia sudah merias wajah tipis-tipis—hanya agar tidak terlihat seperti tahanan yang menangis semalaman. Gaun yang disediakan di lemari terlalu mahal, terlalu ketat, dan terlalu... merah. Seperti warnanya darah.
Ia memilih gaun hitam polos yang ia bawa sendiri.
"Tuan Damian menunggu," ulang pelayan itu, sedikit tegas.
"Tuan Damian," gumam Alea, "bisa saja sarapan sendiri."
Pelayan itu diam. Tidak tersenyum. Tidak membalas.
Alea menghela napas. Ia bangkit dan mengikuti wanita itu melewati lorong panjang yang sama seperti tadi malam. Kini dalam cahaya pagi, lorong itu terlihat berbeda—tidak lebih ramah. Lukisan-lukisan di dinding semuanya potret pria tua dengan mata dingin. Mungkin ayah Damian. Mungkin kakeknya. Mungkin setan yang sama.
---
RUANG MAKAN begitu besar hingga suara langkah kaki Alea bergema di dinding marmer.
Meja panjang mampu menampung 30 orang, tapi hanya satu pria yang duduk di ujung sana. Damian. Membelakangi jendela besar yang menampilkan langit kelabu.
Alea berhenti di pintu.
Pria itu makan. Tanpa suara. Sendoknya menyentuh sup tomat, naik ke mulut, turun kembali. Gerakannya presisi, seperti robot. Tidak sekali pun menoleh.
Di samping Damian, berdiri Rania—wanita yang kemarin menyambut Alea. Ia tersenyum hangat, lalu memberi isyarat agar Alea mendekat.
"Selamat pagi, Nona Alea," sapa Rania lembut. "Silakan duduk."
Alea berjalan mendekat. Ia memilih kursi di sisi kanan Damian, berjarak tiga kursi. Tapi Rania segera menarik kursi tepat di seberang Damian.
"Di sini saja," kata Rania. "Tuan Damian tidak suka jarak."
Alea menatap Damian. Pria itu masih fokus pada supnya. Wajahnya—ya Tuhan, di siang hari ia terlihat lebih muda dari yang Alea kira, mungkin akhir 20-an. Tapi matanya. Mata itu kosong. Seperti jendela rumah yang lama ditinggalkan penghuni.
"Selamat pagi," ucap Alea, mencoba.
Damian tidak menjawab. Sendoknya terus bergerak.
Rania mengisi piring Alea dengan roti dan telur. "Tuan Damian biasanya tidak banyak bicara di pagi hari, Nona. Jangan tersinggung."
Alea memotong rotinya. "Biasanya? Berapa banyak istri yang sudah didudukkannya di kursi ini?"
Rania tersenyum canggung. Damian masih makan.
Alea diam. Tapi jari-jarinya gelisah di pangkuan. Ia ingat visi semalam—Damian tertembak. Pelakunya wanita bergaun pengantin. Dirinya sendiri.
Harus kusentuh dia. Untuk visi yang lebih jelas.
Alea mengulurkan tangan. Melewati meja. Ujung jarinya hampir—
Tangan Rania mencegat. Cepat. Secepat ular.
"Maaf, Nona." Rania masih tersenyum, tapi genggamannya keras. "Tuan Damian tidak suka disentuh."
Alea menatap Damian. Pria itu akhirnya berhenti makan. Sendoknya diletakkan pelan di tepi piring. Suara denting kecil terdengar jelas di ruangan sunyi.
Perlahan, Damian mengangkat wajah.
Mata hitam itu menatap Alea. Lurus. Tanpa ekspresi. Tanpa kedip.
Alea merasa dadanya sesak. Bukan karena takut. Tapi karena di balik matanya yang kosong, untuk sepersekian detik, ia melihat sesuatu. Kilasan. Seperti anak kecil yang ketakutan.
Lalu hilang.
"Jangan sentuh aku."
Suaranya datar. Dingin. Seperti es yang digesek di kaca.
Rania melepaskan tangan Alea. Alea menarik napas panjang. Ia menatap Damian tanpa takut.
"Aku istrimu."
Damian menatapnya. "Itu hanya status."
"Apa bedanya?"
Pria itu bangkit. Tinggi. Bahu bidang. Setelan hitam rapi. Ia memandang Alea dari atas, dan untuk pertama kali, bibirnya bergerak—bukan senyum. Bukan cemberut. Hanya garis tipis yang entah artinya.
"Kau bisa tidur di kamar itu, makan di meja ini, pakai apa pun di lemari itu." Damian berjalan melewatinya. Tanpa menoleh. "Tapi kau tidak akan pernah menyentuhku."
Langkahnya menjauh. Sepatu mahal itu bergema di lantai marmer. Rania mengikuti dari belakang.
Alea duduk sendiri di meja panjang itu. Sup tomat Damian masih setengah. Hangat. Ia menatap sendok yang baru dipakai Damian.
Tidak boleh disentuh.
Kenapa?
Ia mengulurkan jari, menyentuh gagang sendok itu.
VISI.
Gelap. Bau tanah basah. Seorang anak laki-laki kecil, mungkin 8 tahun, duduk di pojok ruangan sempit. Lututnya ditarik ke dada. Matanya terpejam. Bibirnya bergerak—berdoa? Menyanyikan lagu? Di luar, suara pintu besi dibuka. Seseorang masuk. Dewasa. Tinggi. Wajahnya tidak jelas.
"Kau masih hidup?" suara dewasa itu tertawa.
Anak itu membuka mata. Mata yang sama persis dengan Damian. Tapi basah. Dan penuh harap.
"Ayah..."
Pria dewasa itu membuang sesuatu ke lantai. Benda itu menggelinding. Sebuah pisau.
"Bunuh dia."
Anak itu menoleh ke pojok. Di sana, tergeletak tubuh wanita dengan gaun berlumuran darah—
VISI PUTUS.
Alea tersentak. Sendok jatuh ke meja dengan bunyi berisik.
Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi punggung.
Anak itu. Mata itu. Itu Damian kecil.
Dan wanita di pojok...
Ia menekan pelipis. Terlalu banyak. Terlalu cepat.
---
SISA HARI berlalu dalam kesunyian.
Alea diantar kembali ke kamar. Pintu terkunci. Kamera di ventilasi terus menyala. Ia duduk di lantai, memeluk lutut, mencoba menyusun puzzle.
Damian kecil dikurung. Dipaksa membunuh. Lalu tumbuh jadi pria dingin yang tak ingin disentuh.
Masuk akal.
Tapi satu hal mengganggunya.
Dalam visi itu, wanita di pojok—korban—mengenakan gaun putih. Berlumuran darah. Tapi sebelum visi putus, Alea sempat melihat wajahnya.
Wanita itu mirip denganku.
Ia menggeleng. Mustahil. Itu dulu. Aku belum lahir saat kejadian itu.
Malam turun. Mansion semakin sunyi. Pelayan datang mengantar makan malam—diletakkan di baki di depan pintu, lalu pergi tanpa suara.
Alea makan sedikit. Lalu mandi. Lalu berbaring di ranjang, mematung menatap langit-langit.
Jam menunjukkan pukul 11 malam.
11.30.
Tok. Tok. Tok.
Alea duduk tegak.
Suara itu. Lagi. Dari dinding.
Tapi kali ini bukan ketukan acak. Iramanya teratur. Seperti kode.
Tok. Tok. Tok. Tok. (empat kali)
Tok. Tok. (dua kali)
Tok. Tok. Tok. Tok. (empat kali)
Alea turun dari ranjang. Kaki telanjang menyentuh karpet tebal. Ia mendekat ke dinding, menempelkan telinga.
Di balik dinding, samar-samar, suara napas. Pelan. Tersengal.
Lalu bisikan.
"Kak... main petak umpet lagi..."
Bulu kuduk Alea meremang.
Ia mengenali suara itu. Suara anak kecil dari lorong basement semalam.
Damian Kecil.
"Kak... Damian dewasa lagi marah. Aku takut. Boleh aku masuk?"
Alea menelan ludah. "Di mana kau?"
"Di sini. Di balik dinding. Aku selalu di sini."
Alea memegang dinding dingin itu. "Kau... nyata?"
Hening beberapa detik.
Lalu suara itu berubah. Lebih dekat. Seperti tepat di belakang telinganya.
"Aku lebih nyata daripada Damian dewasa, Kak."
Alea berbalik.
Kamar kosong.
Tapi di cermin rias di sudut ruangan, pantulan dirinya sendiri menatapnya. Dan di samping pantulan itu, samar-samar, sesosok anak kecil berdiri.
Tersenyum.
---[Bersambung ke Bab 3]---