21+++
Sinopsis :
Naina Alexandra adalah seorang gadis berumur 18 tahun yang memiliki banyak pesona, dia mampu memikat siapa saja yang menatapnya. Namun dirinya benar-benar tergila-gila kepada sosok Jonas Tirta Alvino yang usianya terpaut jauh dengannya. Bahkan Jonas sudah bisa dikategorikan sebagai om-om.
Naina tergila-gila padanya bukan tanpa alasan yang kuat. Jonas menjadi sosok malaikat penolong sekaligus pelindung baginya, rumah ternyaman untuknya. Namun mampukah gadis ini meluluhkan hati Jonas yang selalu tidak berselera dengan sentuhan-sentuhan para wanita ? bagaimanakah petualangan cinta mereka sampai terjadi ikatan yang benar-benar kuat ?
Temukan jawabannya dalam Novel ini !!!!!
Tokoh Utama :
1. Naina Alexandra
2. Jonas Tirta Alvino
Tokoh Pendamping:
1. Dimas Prabowo
2. Dewi Maharani
3. Tiara Aurora
4. Dirgantara Putra
5. Micko Hadi Prakasa
6. Bagas Alvino
7. Ivana Nelasari
Tokoh Pelengkap :
1. Imelda Salsabilla
2. Kirana Paramitha
3. Salma
4. Susi
5. Kepala Desa
6. Adam Prakasa
7. Sandra Prakasa
8. Herlambang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
POV Author
Hari ini adalah hari Minggu, berkah bagi para pekerja dan pelajar untuk menikmati istirahat. Naina, yang tidak sekolah karena hari libur, memutuskan untuk pergi ke mall untuk membeli buku. Ia sudah berjanji dengan dua sahabatnya, Tiara dan Dewi, untuk menghabiskan waktu bersama. Sebelum berangkat menaiki mobil mewahnya, seperti biasa, Naina akan mengabari Jonas terlebih dahulu. Ini adalah ritual kecil yang tak pernah ia lewatkan, bagian dari kebiasaan yang terbentuk dari hubungan unik mereka.
Druttt… druttt… drutt…
Deringan HP Jonas yang nyaring membangunkan Jonas dari tidur nyenyaknya di atas ranjang king size hotel miliknya. Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas.
"Halo?" ucap Jonas dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur.
"Om Jonas baru bangun ya? Sudah jam 10 loh?" Suara Naina terdengar ceria, sedikit menggoda.
"Ada apa?" Jonas bertanya tanpa basa-basi, langsung ke inti.
"Om, hari ini aku mau beli buku di mall sebentar, sekalian jalan-jalan sama teman-teman aku, Tiara dan Dewi?"
"Selamat bersenang-senang..."
Sambungan telepon langsung dimatikan sepihak oleh Jonas. Naina mengerutkan bibirnya.
"Padahal aku masih mau ngomong, eh sudah dimatikan. Kapan sih Om bisa melihat bahwa aku sangat menyukai Om?" gerutu Naina, bibirnya cemberut. Ia memang sudah terbiasa dengan nada bicara Jonas yang dingin, datar, dan cuek. Namun, sampai sekarang, Naina masih saja mencari celah dan cara untuk masuk ke dalam hati Jonas. Pria yang setiap hari membuat hatinya semakin jatuh cinta.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Jonas langsung bangkit dan menuju kamar mandi. Diambilnya boxer yang berserakan di lantai, lalu dipasangkannya. Saat memasang boxer itu, matanya menangkap sesuatu yang berkilauan di lantai: sebuah lipstik berwarna merah menyala.
"Cewek panggilan itu, sebelum pulang harusnya dia periksa dulu semua barangnya. Apa dia enggak sadar lipstiknya tertinggal? Menyebalkan," gerutu Jonas, suaranya dingin.
Ya, sekarang Jonas tengah berada di salah satu kamar hotel miliknya. Setelah keluar dari kamar mandi, Jonas mengenakan pakaiannya. Sebuah kemeja mahal yang pas di tubuh atletisnya. Setelah itu, Jonas bergegas keluar dari kamarnya menuju restoran hotel di lantai 3 untuk sarapan. Setelah pergulatan memuakkan tadi malam, pagi ini Jonas memasang muka marahnya. Di restoran hotel, semua pegawai menunduk hormat kepada CEO mereka, menyajikan pelayanan terbaik dengan hati-hati, tak ingin membuat sang bos semakin murka.
Sebelum menyantap makanannya, Jonas menelpon Dimas, asisten pribadinya.
"Halo, Bos?" sapa Dimas dari seberang telepon.
"Aku di hotel sekarang, cepat kemari!" perintah Jonas, nadanya tegas.
"Siap, Bos!"
Setelah telepon ditutup, Jonas selanjutnya menyantap makanan yang sudah dihidangkan di atas meja oleh para pelayan restoran itu. Walaupun hatinya masih kesal, perutnya tetap harus diisi.
Meskipun hari ini hari Minggu, Dimas secepat mungkin datang ke hotel sesuai perintah bosnya. Dimas sama seperti yang lainnya, dia juga sangat takut kepada Jonas. Karena jika Jonas marah, Jonas bisa menghancurkan orang itu semudah membalikkan telapak tangannya. Tiga puluh menit kemudian, Dimas sudah sampai di hotel dan langsung bergegas ke lantai 3. Saat Dimas melangkahkan kakinya di restoran, Dimas langsung bisa melihat sang bos yang baru saja menyelesaikan sarapannya di jam yang sudah terbilang bukan pagi lagi.
"Ada perintah apa, Bos, untuk saya?" tanya Dimas, berdiri tegak di hadapan Jonas, siap menerima segala amarah yang mungkin akan diluapkan.
"Pelacur yang kamu bawa untukku tadi malam, kamu dapat dari mana?" bentak Jonas, suaranya tajam menusuk.
"Sesuai dengan perintah Bos, saya selalu memilih wanita terbaik untuk melayani Bos. Dia salah satu primadona di Club Malam 'Red', salah satu Club Malam terkenal," jawab Dimas dengan gugup, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Terbaik kamu katakan? Baru 5 menit aku menyentuhnya, dia sudah membuatku tidak berselera. Nanti malam bawa wanita baru lagi untukku! Awas saja kalau ini kembali terulang!" tegas Jonas, tatapannya membunuh.
"Baik, Bos!" ucap Dimas, segera mencatat perintah itu dalam hati.
Setelah mendapat komplain dan perintah dari Jonas, Dimas turun ke bawah menuju mobilnya sambil menggerutu. Setelah masuk mobilnya, amarah Dimas masih ada. Ia meninju setir mobil beberapa kali, melampiaskan kekesalannya.
"Kayaknya yang bermasalah bukan di cewek-cewek yang aku bawa deh, tapi di Bos. Sudah sering banget kayak gini, alasannya selalu sama, 'habis 5 menit menyentuhnya sudah enggak berselera lagi katanya', 'baru 10 menit sudah bosan katanya'. Emang cewek kayak gimana sih yang bisa bikin Bos berselera dan puas? Lemah syahwat kali ya si Bos," Dimas menghela napas panjang, "Capek banget sering cari cewek seperti yang Bos minta. Enggak heran kalau Bos sudah 2 kali cerai, jangan-jangan 2 istrinya dulu juga bikin dia enggak berselera kali ya?" gerutu Dimas di dalam mobil, berbicara sendiri, mencoba menganalisis kelemahan bosnya.
Meskipun Dimas kadang jengkel karena selalu disuruh mencari wanita pemuas nafsu bosnya, tapi Dimas selalu menjalankan perintah itu mengingat statusnya yang hanya asisten sekaligus sekretaris pribadi Jonas. Dimas juga tiap hari selalu siap diomeli bosnya jika pekerjaan terlambat terselesaikan. Itu sebabnya Dimas selalu mewanti-wanti karyawan agar bekerja dengan benar dan tepat waktu agar jika ada kesalahan, dia tidak diomeli oleh Jonas yang terkenal kejam.
Jonas jg ceo Lebih sibuk
gak yakin kalo nyata ada yg tentram aja krna kesibukan masing2