Season 2
"Ingat! Hanya aku yang boleh membuatmu menangis, orang lain mah jangan! Mengerti?"
Ini adalah kisah antara Kiki dan Caca, anak-anak dari Nina dan Aldo. Kiki yang terlalu menyayangi adiknya, sehingga sering melarang Caca untuk tidak melakukan ini dan itu. Namun tanpa kiki sadari, karena sikapnya yang terlalu posesif pada sang adik sehingga membuat Caca merasa bersedih, karena kebebasannya sudah di rampas oleh Kiki.
Season 1
Nina Maharani Putri, terpaksa harus dijodohkan dengan Aldo Mahendra Saputra yang tak lain adalah musuh bebuyutannya sendiri karena sebuah wasiat milik almarhum kakeknya.
"Tapi Nina masih terlalu mudah Mah! Nina masih ingin menggapai apa yang Nina mau! Dan, aku juga masih ingin menikmati masa mudaku Mah!" Bentak Nina pada ibunya sambil bercucuran air mata.
Namun pada akhirnya Nina menuruti keinginan orang tuanya, apa lagi ini adalah wasiat almarhum. Bagaimana kehidupan pernikahan Nina dan Aldo di saat mereka berdua selalu ribut di mana pun dan kapan pun mereka berada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kertia ~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN DUA
Kala itu sinar mentari tampak malu malu menyelinap masuk melalui celah-celah gorden, dan menyapa Nina yang masih tertidur pulas dengan tubuh yang masih di balut bed cover.
"Nina, bangun Nak, sudah siang." Seorang wanita yang sedang membangunkan anaknya, tak lain adalah ibunya Nina, yaitu Ibu Mirna.
"Emm ... jam berapa ini, Ma?" tanya Nina dengan suara yang sedikit serak dan mata yang masih terpejam.
"Jam 6, bukankah hari ini adalah hari kelulusan mu?"
Nina yang mendengar hal itu langsung terperanjat kaget, dan langsung bergegas menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Nina sudah keluar dari kamarnya dan sudah siap untuk bergegas menuju sekolah.
"Nanti Pak Karto yang akan mengantar kamu ke sekolah, dan hari ini jangan pulang telat. Ada yang harus papa katakan padamu."
"Tidak usah Pa, Nina akan ke sekolah dengan naik sepeda aja," jawab Nina sambil memasukan roti ke dalam mulutnya, dan langsung bergegas menuju garasi untuk mengambil sepeda kesayangannya.
Di Sekolah
"Baik anak-anak, sekarang duduk di bangku masing-masing ya. Bagi yang namanya di panggil silakan maju kedepan, dan kita akan membuka amplop kelulusan ini bersama sama," ucap wali kelas itu dengan suara yang cukup kencang. Agar semua murid nya mendengar apa yang ia intruksikan.
"Sudah dapat semua amplop nya, kan? Nah, sekarang kalian boleh membukanya." Perintah wali kelas itu sambil tersenyum.
Dan tak butuh waktu lama, seisi kelas pun tiba tiba ramai oleh suara sorak sorai para murid karena tau bahwa mereka dinyatakan lulus.
Ada banyak yang menitikan air mata haru karena bahagia, bahwa perjuangan mereka selama tiga tahun tidak sia-sia. Ada juga yang menitikan air mata karena mau tak mau mau mereka berpisah dengan teman teman mereka, dan masa putih abu pun telah usai.
"Ibu pesan, tidak ada yang namanya acara coret-coret seragam. Mengerti?"
"Baik bu," jawab semua murid itu dengan kompak.
"Nah, kalian sudah boleh pulang."
Di Parkiran
"Nina!"
"Wahh Rina!! Uhh bakal kangen berat nihh sama kamu," ucap Nina sambil memeluk sahabat terdekatnya itu.
"Haha, jangan lebay deh. Kita masih bisa bertemu ko," kata Rina sambil membalas pelukan Nina.
Rina Aulia Rizka, sahabat terdekat Nina. Mereka sudah bersahabat sejak kelas satu SMA, dan hanya dia yang mampu menjadi penengah di saat Nina sedang ribut dengan Aldo.
"Makan baso yuk, hitung-hitung merayakan kelulusan kita." Ajak Rina kepada sahabatnya itu.
"Ahh maaf, aku eggak bisa. Aku di suruh pulang cepat sama papa," jawab Nina sambil menghela nafas. Jika bukan karena papahnya untuk menyuruhnya cepat-cepat pulang, ia akan menerima ajakan Rina.
"Yah sayang banget ya, yaudah deh. Kapan-kapan saja ya ...."
"Iya, aku pulang ya." Pamit Nina sambil melambaikan tangannya kepada sahabatnya itu.
Nina pun mulai mengayuhkan sepedanya menuju ke rumahnya. Dan 20 menit kemudian ia telah sampai di depan rumah nya, dan di lihatnya mobil papahnya sudah ada di dalam garasi.
"Papa udah pulang yaa? Tumben banget."
"Aku pulang Ma," sapa Nina saat sambil membuka pintu rumahnya.
Di lihatnya papa dan mamanya sedang duduk di ruang keluarga, ia pun bergegas menghampiri mereka dan duduk di atas sofa sebelah ibunya.
"Lulus?" tanya papanya Nina kepada anaknya.
"Iya, Pa, aku lulus hehe," jawab Nina sambil tersenyum bangga.
"Baguslah, berarti kita tak perlu menuda-nundanya lagi. Papa akan langsung ke intinya saja, satu minggu lagi kamu akan menikah. Dan besok kamu akan bertemu dengan calon suamimu."
Nina yang mendengar hal itu hanya membulatkan matanya, perkataan ayahnya bagaikan petir di siang bolong yang menyambarnya.
"A-apa maksud Papa? Ayolah, jika ingin bercanda jangan kelewatan seperti ini, ya?"
"Papa enggak bercanda, papa serius. Perjodohan ini sudah kami sepakati ketika kamu berumur 5 tahun sayang," ucap ibunya sambil merangkul pundak anaknya.
Namun Nina tiba tiba saja pergi menuju kamarnya, dan ia pun menangis tersedu sedu sampai kelelahan dan akhirnya tertidur.
jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🔥🔥🔥
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos 🌸🌸🌸
tinggalkan like and comment ya 🙏🙏
semangat up kak dan saling dukung 🔥🔥🔥