"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU
"Baju untuk hari ini udah ku pilihin, Mas. Gih, cepet mandi dan siap-siap. Nanti terlambat ke kantor lho, ini udah siang."
Kanaya Ambar Evelyn, ia mengguncang dengan lembut tubuh suaminya yang masih terbaring nyenyak di atas ranjang dan terbalut selimut tebal.
"Hmmmmm,..."
Kanaya tersenyum tipis saat suaminya itu hanya menggeram, tapi tak bangun dan masih dalam posisi tidurnya.
"Mas,... Udah siang lho ini, katanya ada acara penting di kantor."
Kanaya berusaha menarik selimut yang menutupi suaminya, membiarkan cahaya lampu kamar menyorot dan mengganggu kenyenyakan tidur pria itu.
"Andra Gumelar!" Kanaya memanggil nama lengkap suaminya, ia sengaja memasang nada suara seolah dirinya marah dan caranya itu berhasil.
Andra membuka matanya seketika, menatap sang istri yang berdiri tak jauh darinya dengan ekspresi wajah memicing dan tangan bertengger di kedua pinggangnya.
"Iya, iya. Ini aku udah bangun, Sayang." Andra menarik lengan Kanaya, membuat wanita itu jatuh ke dalam pelukannya dan memeluk sang istri dengan sangat erat.
Terdengar gelak tawa memenuhi kamar mereka, cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah jendela menambah kesan hangat pasangan tersebut.
"Oops! Nope! No morning kiss sebelum mandi. Mandi dulu, baru cium."
Kanaya meletakan jari telunjuknya di bibir Andra yang hendak mencium bibirnya, ia mendorong lembut sang suami untuk menjauh.
Wajah cantiknya tampak riang, senyum manis di
bibirnya yang penuh semakin menegaskan pesonanya.
"Satu kali aja,..."
Andra memasang wajah memelas yang membuat Kanaya kembali tertawa, wanita itu kemudian menggelengkan kapalanya sambil masih tersenyum manis.
"No,... Mandi dulu."
Kanaya menyilangkan kedua tangannya di atas dada, menatap Andra yang cemberut karena permintaannya tak dituruti.
Bukan apa-apa, bukannya ia tak sudi dicium oleh sang suami saat pria itu baru saja bangun dari tidurnya.
Akan tetapi, jika ia membiarkan Andra menciumnya sekarang, maka pria itu pasti akan menariknya kembali ke atas ranjang dan melakukan aktivitas yang justru akan membuat pria itu semakin terlambat.
"Ayo, mandi. Janji, nanti cium kalo udah selesai mandi."
Kanaya menarik lengan Andra, memaksanya untuk
Segera bangun dari atas ranjang dan bergegas ke kamar mandi karena waktu terus berjalan.
Sinar matahari dari celah jendela juga tampak semakin terik di luar, pertanda bahwa hari semakin siang.
"Janji?" Kanaya mengangguk.
Dengan malas dan enggan, Andra bangun kemudian turun dari ranjang.
Ia kembali memeluk sang istri erat dan menciumi
leher wanita itu sebelum akhirnya benar-benar bergegas
masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kanaya menggelengkan kepalanya sambil berdecak, tapi senyum bahagia masih terukir di bibir penuhnya.
Wanita itu membuka lebar gorden jendela dan membiarkan cahaya matahari yang hangat masuk semakin leluasa menerangi kamarnya.
Sambil bersiul lembut, Kanaya membersihkan dan merapikan ranjang yang berantakan.
Suara getar ponsel milik Andra di atas meja nakas sedikit menarik perhatiannya, ia melirik sekilas ke arah benda tersebut dan seketika terdiam.
Kanaya sebenarnya bukan tipe pasangan yang suka mengotak-atik dan memeriksa isi ponsel suaminya, tapi nama yang muncul di layar benda canggih tersebut membuat wanita itu penasaran sekaligus,.... Curiga.
Kanaya menatap ke arah pintu kamar mandi lama, kemudian kembali menatap ponsel di atas meja nakas seolah tengah berpikir dan menimbang tentang hal apa yang akan dirinya lakukan.
Ia meletakan bantal di tangannya dan memutuskan untuk memeriksa benda elektronik tersebut.
Dengan sedikit gemetar Kanaya mengambil ponsel tersebut dan membuka pesan yang baru saja masuk, keningnya mengernyit dalam bersamaan dengan dadanya yang bergemuruh saat melihat isi pesan tersebut.
Jantungnya seketika berpacu dengan sangat cepat,
Kanaya bahkan bisa mendengar suara debarnya dengan sangat jelas.
"Hari ini beneran jadi berkunjung ke sini kan, Mas?
Aku udah masak masakan kesukaan kamu, aku tunggu ya.
Aku udah nggak sabar ketemu sama kamu, Mas. Aku kangen."
Begitu lah isi pesan yang baru saja masuk ke ponsel suaminya.
Sebuah pesan yang tidak mungkin dikirim oleh teman atau sekedar rekan kerja. Pesan seperti itu hanya dikirim oleh seseorang dengan hubungan spesial.
Tangan Kanaya semakin gemetar, dadanya sesak bukan main.
Tapi wanita itu menguat dan memberanikan diri, ia menggulir layar ponsel dan memeriksa seluruh riwayat pesan antar suaminya dengan perempuan tersebut.
Dugaannya semakin kuat, suaminya memar benar-benar telah mendua.
Setiap kata dan kalimat dari percakapan mereka yang ia baca, setiap foto yang saling mereka kirim dan riwayat panggilan di antara mereka yang berlangsung cukup lama benar-benar meruntuhkan dunianya.
Andra telah mengkhianatinya, dan tidak hanya sampai di situ, pria itu bahkan sudah menikahinya
Suara air yang berhenti dari kamar mandi menarik kesadaran Kanaya kembali, ia dengan cepat mengambil screenshoot riwayat chat mereka kemudian mengirimkan semua bukti itu ke nomor miliknya.
Setelah menghapus bukti kirim dari ponsel suaminya, ia kembali meletakan benda tersebut tepat saat pintu kamar mandi terbuka.
Wajah sumringah dan ceria Andra menyapanya, tapi yang ia rasakan saat ini pada pria itu hanyalah marah dan kecewa.
"Ayo, sini cium. Tadi udah janji, kan? Sini."
Andra berjalan riang sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, bibirnya mengerucut bersiap untuk mencium Kanaya.
Kanaya jelas menghindar, ia jijik bukan main.
Wanita itu tidak sudi disentuh kembali oleh tangan dan tubuh suaminya yang sudah dia pakai untuk menyentuh perempuan lain.
"Eyy, kok gitu sih. Tadi kan janji kalo udah mandi boleh cium-cium." Suaminya berucap manja, tapi yang muncul di hati Kanaya adalah rasa jijik yang semakin besar.
Bagaimana mungkin suaminya bisa bersikap seperti ini padanya dan tetep mendua di luar sana?!
"Sini, cium. Kamu nggak bisa kabur, aku-"
Andra menghentikan aksinya saat melihat ekspresi
sang istri yang jelas jauh berbeda dengan sebelum ia masuk ke kamar mandi.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?"
Andra bertanya dengan penuh rasa khawatir, ia melangkh semakin cepat dan hendak menarik lengan Kanaya mendekat padanya tapi lagi-lagi wanita itu menghindari sentuhannya.
"Kanaya? Kenapa? Ada apa, Sayang?"
Andra menatap sang istri dengan bingung, ia jelas tidak mengerti dengan perubahan tiba-tiba wanita itu.
Baru saja, sebelum ia masuk ke kamar mandi wanita itu masih bersikap manja dan manis, lalu sekarang Kanaya bertingkah laku dan bahkan menatapnya seolah Andra adalah orang yang paling dirinya benci.
"Sejak kapan?"
Kening Andra mengernyit bingung, ia jelas tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan tiba-tiba Kanaya.
"Apanya yang sejak kapan, Sayang? Kamu kenapa begini tiba-tiba? Ada apa, hmm?"
"Sejak kapan kamu menikah sama perempuan itu?"
Wajah Andra seketika memucat, ekspresi bingung pria itu perlahan menghilang dan berganti dengan kesadaran.
Ia akhirnya sadar apa yang meniadi penyebab perubahan mendadak sang istri. Kanaya sudah tau.
"Kamu,... Kamu tau dari mana? Kamu cek-cek handphone-ku?"