NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Jangan Sentuh Dia

Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar Atlas tidak membangunkannya. Saat itu sudah pukul sebelas siang, dan Atlas telah tidur dengan nyenyak sejak malam sebelumnya. Bahkan, ini bisa dibilang pertama kalinya Atlas mendapatkan tidur sepanjang itu tanpa gangguan.

Namun, dering ponselnya akhirnya memaksa Atlas bangun dari tidurnya. Mata merahnya yang masih sembab menyapu ruangan mencari ponselnya, yang berada di atas meja samping tempat tidur.

"Alicia?" Nama adik perempuannya muncul di layar, dan Atlas segera menjawab panggilan itu.

"Atlas! Hai! Kenapa kau lama sekali mengangkat teleponku? Ngomong-ngomong, aku merindukanmu, jadi aku mengunjungi kantormu. Aku lupa kau berada di lantai berapa, tapi aku akan menunggumu di kafetaria, oke!"

"Alicia—"

Sebelum Atlas sempat merespons, adiknya sudah lebih dulu menutup telepon. Tanpa menunda, Atlas langsung bangkit dan bergegas keluar kamar untuk menemui Alicia. Untungnya, pakaian yang ia kenakan kemarin masih cukup layak dipakai keluar.

"Ini buruk. Jika dia tahu aku sudah tidak bekerja lagi, dia pasti akan kecewa."

Atlas berlari, berpacu dengan waktu.

Untungnya, jarak dari rumahnya ke kantor tidak terlalu jauh.

"Diam! Berhenti menangis!"

Suara Bianca membuat langkah Atlas terhenti. Matanya membelalak saat melihat Alicia duduk di depan pintu perusahaan sambil menangis. Penampilannya yang berantakan, dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang kusut.

"Alicia! Apa yang terjadi? Apa yang kalian lakukan pada adikku!"

Atlas mengepalkan tangannya. Alicia tidak sendirian, dia bersama Stevan dan Bianca.

Kedua orang itu tampak marah, terutama Bianca.

"Seharusnya aku yang bertanya apa yang keluargamu ajarkan pada Alicia sampai dia menjadi wanita murahan!" kata Bianca sambil menarik rambut Alicia.

"Hei! Bianca, jangan berani-beraninya kau menyentuh adikku, atau kau akan menyesal!"

"Apa? Apa yang akan kau lakukan kalau aku melakukan ini pada pelacur ini?!"

"Ahhhhkkkk!"

Alicia menjerit kesakitan saat Bianca mencengkeram wajahnya dan kembali menarik rambutnya.

"Kaulah yang murahan!" Atlas yang marah meraih tangan Bianca dan mencengkeramnya kuat hingga membuatnya kesakitan.

Atlas melirik Stevan, yang tetap tidak bergerak. Meski begitu, wajahnya menunjukkan kemarahan dan frustrasi yang mendalam.

"Apa yang terjadi, Alicia? Kenapa kau datang bersama mereka?"

"Lepaskan aku!" Bianca dengan kasar menepis tangan Atlas dan melipat tangannya, lalu menendang tubuh Alicia dengan lututnya. Dia berkata, "Jawab, bodoh! Jelaskan pada kakakmu yang menyedihkan ini bahwa kau adalah wanita murahan yang menginginkan sentuhan pria!"

Beberapa pejalan kaki yang lewat dan karyawan di lobi melirik keributan itu. Namun, Atlas tidak peduli. Baginya, sebesar apa pun keributan itu, jika menyangkut keluarganya—terutama adiknya yang merupakan satu-satunya keluarga yang tersisa—itu adalah hal penting yang harus diperjuangkan.

"Jelaskan, Alicia. Apa pun yang terjadi, jangan takut untuk bicara!" kata Atlas dengan tegas.

"Aku... aku memang tadi berada di dekat kantormu, dan kebetulan aku melihat Bianca. Dia bersama pria itu, terlihat sangat dekat dan tertawa bersama. Aku bingung karena bagiku itu aneh, mengingat dia adalah pacarmu. Jadi aku memutuskan untuk mendekatinya. Bianca bilang kau sudah putus, dan saat aku menanyakan keberadaanmu, mereka bilang kau ada di neraka.

Tentu saja itu membuatku terkejut dan panik. Aku mencoba mencari tahu, tapi mereka hanya tertawa dan terus menghinamu. Saat itu, Bianca menyadari ponselnya tidak ada dari tasnya, jadi dia masuk ke dalam kantor. Sementara itu, pria itu tetap di dekatku, dan saat aku hendak pergi, dia tiba-tiba memegangku.

Aku cukup terkejut dan secara refleks melepaskan tangannya. Dia mendekatiku dan membisikkan sesuatu yang menjijikkan. Dia melecehkanku, mengatakan dia ingin membayarku untuk satu malam bersama karena tubuhku terlalu menggoda untuk tidak dinikmati. Saat dia mengatakan itu, Bianca tiba-tiba kembali dan mulai berteriak padaku.

Pria itu mengarang cerita, mengatakan pada Bianca bahwa akulah yang merayunya. Tapi itu tidak pernah terjadi. Kau tahu aku tidak terlalu peduli dengan cinta, Atlas. Aku tidak akan melakukan hal buruk hanya demi uang!"

Stevan tampak murka dan melampiaskan emosinya dengan memukul sisi dinding.

"Diam! Aku tidak mungkin melecehkan wanita! Adikmu memang terlihat seperti pelacur, tapi aku tidak akan melakukan hal buruk padanya, apalagi membayar tubuhnya! Bahkan jika itu gratis, aku tidak akan mau menikmatinya!"

Atlas mengepalkan tangannya dan berjalan mendekati Stevan, menatapnya dengan tajam. Dia berkata, "Katakan itu sekali lagi, dan aku akan menghancurkanmu, Stevan!"

"Ah!"

Alicia kembali menjerit, dan Atlas mengalihkan pandangannya ke arah adiknya. Dia melihat Bianca kembali menarik rambut Alicia dan berteriak di telinganya. "Jangan berbohong, atau aku akan mengirimmu ke penjara! Wanita murahan sepertimu tidak mungkin dirayu oleh Stevan! Dia tahu mana wanita baik dan buruk!"

"Bianca!"

Tangan Atlas hampir mengenai wajah Bianca, tetapi dia menahan diri untuk tidak menamparnya.

"Kenapa? Kenapa kau tidak menamparku? Ayo, tampar aku. Silahkan saja membela pelacur ini, karena dia bersalah. Bahkan jika kau menamparku seribu kali, aku tidak akan berhenti memberi pelajaran pada adikmu! Ingat, Atlas! Kau sudah berpisah dari Alicia selama bertahun-tahun. Bagaimana kau tahu bahwa dia menjalani pekerjaan rendah ini tanpa sepengetahuanmu? Bukankah kau pernah bilang padaku kalau para wanita akan mendekati Stevan karena kekayaannya? Itulah yang terjadi pada adikmu sekarang!"

Atlas menatap adiknya, yang menggeleng kepala dengan wajah penuh air mata.

Stevan mengangkat bahu. "Benar, seperti yang kukatakan, tubuhku terlalu berharga untuk dinikmati wanita murahan dan rendah seperti adikmu, Atlas."

Kata-kata Stevan semakin memicu amarah Atlas. Kali ini, dia tidak lagi menahan emosinya. Dia berbalik ke arah Stevan, meraih kerah bajunya, dan berkata, "Katakan lagi, Stevan, katakan!”

"Aku sudah bilang, tubuhku terlalu berharga untuk tidur dengan wanita murahan seperti adikmu."

Stevan tampak tertawa, sementara Atlas, yang tidak mampu lagi menahan amarahnya, hendak melemparkan pukulan ke arah Stevan.

Namun, tepat sebelum pukulan itu mengenai wajah Stevan, Alicia berteriak, "Berhenti!"

Gadis berbaju merah itu mendekati Atlas dan memeluknya erat dari belakang. Hal itu membuat Atlas melepaskan cengkeramannya dari kerah Stevan dan memeluk Alicia untuk menenangkannya.

"Jangan lakukan apa-apa, Atlas. Aku mohon. Jangan membahayakan posisimu," bisik Alicia.

Stevan dan Bianca menampilkan senyum licik di wajah mereka. Stevan, khususnya, tetap percaya diri karena mereka berada di perusahaan ayahnya. Dia yakin hal itu akan melindunginya dari serangan Atlas.

Selama mereka berada di wilayahnya, Stevan berpikir Atlas tidak akan berani menyentuhnya.

"Apa yang dikatakan adikmu benar, Atlas. Sebaiknya kau jaga sikapmu. Kau bisa saja berakhir tanpa pekerjaan di kota ini. Kau seharusnya mengerti kekuatan keluargaku, apa yang bisa kami lakukan untuk membentuk karier seseorang. Kau tidak ingat saat kau bekerja di sini, salah satu rekan kerjamu dipecat? Pernahkah kau bertanya bagaimana hidupnya sekarang?" Stevan menatap Atlas dengan tajam.

"Aku tidak peduli dan aku tidak takut pada keluargamu, Stevan! Aku di sini untuk membela adikku!" balas Atlas dengan tatapan tajam.

"Lebih tepatnya, membela wanita murahan," Bianca menyela sambil tertawa.

Atlas hendak mendekati Bianca, dan kali ini dia tidak peduli lagi apakah dia seorang wanita atau tidak. Dia ingin menampar wajah Bianca. Namun, sekali lagi, Alicia menghentikan kakaknya dengan menahannya.

"Jangan, jangan! Jangan lakukan apa-apa, Atlas. Aku mohon, berjanjilah padaku!" pinta Alicia.

"Alicia! Berhenti menahanku. Mereka menyebarkan fitnah dan kebohongan untuk merendahkanmu! Kau sudah dipermalukan oleh mereka, Alicia! Aku tidak akan diam saat seseorang tidak menghormati keluargaku!"

Stevan dan Bianca bertepuk tangan dan tertawa. Keduanya mendekati Atlas dan Alicia, bahkan Stevan tidak ragu memeluk Atlas dengan ekspresi menjengkelkan.

"Drama yang indah di pagi hari. Kau beruntung memiliki adik yang jauh lebih dewasa dan mengerti posisimu di kota ini, Atlas. Alicia, aku akan memaafkan usahamu yang sengaja mencoba merayuku, dan aku tidak akan lagi mengungkit fitnah yang kau lontarkan pada Atlas. Bianca juga memutuskan hal yang sama. Apa yang terjadi pagi ini, kuanggap selesai.”

"Tidak! Ini belum selesai, bajingan!" Atlas kembali menarik kerah Stevan.

"Hentikan, Atlas!"

Alicia meninggikan suaranya dan memarahi kakaknya. Dia melepaskan pelukannya pada Atlas dan menarik tangan Atlas dari kerah Stevan.

"Biarkan aku yang mengurus ini!" Alicia menangkupkan tangannya di depan Stevan dan berkata, "Aku mohon, maafkan apa yang terjadi pagi ini. Tolong jangan mempersulit kakakku untuk mencari pekerjaan. Lagipula, kami sudah tidak punya orang tua lagi. Kami butuh uang, aku mohon padamu, jangan ungkit kejadian ini lagi, Tuan."

Melihat adiknya terus-menerus meminta maaf kepada Stevan membuat Atlas semakin marah. Dia kemudian memutuskan menarik Alicia menjauh dari Stevan.

"Ayo, Alicia!"

Atlas memilih untuk tidak memperpanjang masalah selama Alicia berada di dekatnya. Dia menahan amarah dan kebenciannya terhadap Stevan. Namun, pikirannya masih berjuang untuk tetap fokus dan tidak membiarkan emosi kembali meledak terhadap dua orang yang menyebalkan itu.

Sayangnya, kata-kata yang keluar dari mulut Stevan setelah itu membuat langkah Atlas terhenti, yang sebelumnya sudah cukup jauh, saat Stevan berteriak, "Selamat tinggal, orang miskin! Kalau kau butuh pekerjaan, datanglah padaku, Alicia, dan jilat pantatku!"

"Jangan, jangan lakukan itu, Atlas!" Alicia mencoba menghentikan Atlas, tetapi kakaknya sudah tidak mampu lagi menahan amarahnya.

Tawa Bianca dan Stevan menggema di depan perusahaan. Tepat sebelum Stevan masuk, Atlas melompat ke arahnya, membuat Stevan terjatuh.

"AKKKHHHHH!"

Tawa Bianca berubah menjadi jeritan. Tubuh Stevan berada tepat di tengah pintu, membuat pintu otomatis tetap terbuka.

Atlas mencengkeram lehernya dan duduk di atas tubuh Stevan. Tatapannya tajam, dan dia berkata, "Sapa neraka, Stevan!”

1
Was pray
kalau kegoblogkan Alicia masih berlanjut malas nerusin baca novel ini
Was pray
Alicia kok menjengkelkan sih Thor? jadi sisi negatif novel
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!