NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1 Perintah Menikah

Tuk-tak-tuk-tak-tuk-tak

Suara sepatu terdengar menuruni anak tangga, seorang pria tampak terlihat gagah tampak rapi menggunakan stelan jas berwarna hitam dan tidak lupa membawa tas kantornya.

"Sarapan Emir," sahut wanita tua sudah berada di meja makan saat ini sedang menikmati nasi goreng.

Pria bernama Emir itu menghampiri meja makan dengan menarik kursi, duduk tepat di hadapan Oma.

Emir mengambil setangkap roti dengan mengoles menggunakan selai kacang.

"Memang kenyang sarapan hanya dengan roti saja?" tanya Oma.

"Sekarang sudah 33 tahun dan tetap masih bertahan hidup walau setiap pagi sarapan dengan roti," jawabnya dengan datar.

"Kamu sudah menyadari bahwa usia kamu 33 tahun. Lalu apa juga tidak menyadari jika usia seperti kamu sudah seharusnya untuk menikah?" tanya Oma.

Jawaban cucunya itu ternyata justru pertanyaan yang mungkin sudah sering diperdengarkan di telinga Emir, sebuah jebakan dalam jawaban yang dia berikan.

"Kenapa harus membicarakan pernikahan saat di setiap momen kita bertemu seperti ini," sahut Emir menanggapi dengan santai.

"Emir, ayolah kamu jangan hanya fokus terus, kamu harus menikah agar ada yang mengurus kamu, menyiapkan sarapan kamu, menyiapkan bekal ke kantor dan pulang-pulang ada yang ingin kamu temui dan rasa lelah kamu akan berkurang," ucap Oma menggambarkan kepada Emir bahwa pernikahan itu sangat bahagia.

"Saya tidak punya waktu untuk memikirkan pernikahan, menjalani rumah tangga tidak bisa mencapai kebahagiaan, tetapi justru memperburuk keadaan," sahut Emir.

"Kamu ini, kalau diberitahu pasti ada saja jawabannya," sahut Oma dengan kesal.

Suara sendok pada piringnya itu yang berdenting sudah menggambarkan bahwa cucunya itu memang tidak pernah mendengarkannya.

"Lihat saja, jika kesabaran Oma sudah habis, maka Oma akan menjodohkan kamu dan tidak akan ada penolakan!" tegas Oma.

Emir tidak menjawab dan hanya menghela nafas dengan melanjutkan makannya.

Emir pria 33 tahun yang sukses dalam bisnis, dia bukan pewaris tetapi perintis yang memang sejak dulu bekerja keras, memulai segala sesuatu dari nol, disiplin dan bijaksana, pria itu sepertinya tidak memiliki kekurangan, dari fisik sangat sempurna memiliki tinggi 178, kulit putih dan postur tubuh yang menarik.

Sudah pasti banyak yang ingin menjadi istrinya, mungkin saja banyak wanita secara langsung menyatakan perasaannya tetapi sudah pasti ditolak oleh Emir, tidak mudah bagi Emir untuk memasukkan seseorang dalam kehidupannya.

Apa yang telah dia capai selama ini dan dia tanamkan pada dirinya tentang pendirian dan kedisiplinan belum tentu akan bisa menyatu dengan pasangannya nanti. Emir adalah pria yang tidak mau repot, jadi tidak akan mudah untuk mempersulit hidupnya.

*****

Perusahaan Verb.

Gedung tinggi pencakar langit tempat adalah perusahaan ternama yang menjadi pusat perusahaan nomor 1 di Asia. Perusahaan yang bergerak dalam bidang makanan siap saji itu semakin berkembang pesat dengan pimpinan CEO Emir Andra Wijaya.

Pagi baru saja merekah, tapi suasana di depan gedung perusahaan sudah seperti siang yang terburu-buru. Deru kendaraan beroda 2 dan 4 datang silih berganti, berhenti sejenak, lalu pergi lagi tanpa banyak basa-basi.

Pintu kaca utama terbuka tutup tanpa henti, seolah tak sempat menarik napas. Orang-orang berjalan cepat, langkah mereka tegas namun tergesa.

Sepatu menghentak lantai dengan ritme yang nyaris seragam tak ada yang benar-benar santai. Beberapa masih merapikan pakaian sambil berjalan, menyelipkan kartu identitas ke leher, atau menyesap kopi yang belum sempat dinikmati dengan tenang.

Di antara arus manusia yang tergesa itu, tampak seorang gadis berhijab melangkah dengan tenang namun pasti. Balutan hijabnya rapi, menjuntai lembut mengikuti gerakan langkahnya. Ia mengenakan rok panjang yang berayun halus setiap kali ia berjalan, memberi kesan anggun di tengah hiruk-pikuk yang serba cepat.

Wajahnya terlihat teduh, matanya fokus ke depan, seakan tak ingin larut dalam kepanikan waktu yang mengejar banyak orang di sekitarnya. Sesekali ia menyesuaikan tas di bahunya, langkahnya tetap ringan, berbeda dari yang lain yang cenderung tergesa.

Kehadirannya seperti jeda kecil dalam keramaian tidak mencolok, namun cukup untuk membuat suasana terasa lebih seimbang.

Lift penuh sesak, angka-angkanya bergerak naik turun tanpa jeda. Ada yang memeriksa jam tangan dengan cemas, ada yang berlari kecil mengejar waktu, dan ada pula yang menarik napas panjang sebelum akhirnya masuk kedalam lift.

"Ayana!" seorang wanita menyapa wanita berhijab itu sembari membuka rol rambutnya yang diletakkan di poninya.

"Diva," sapa balik Ayana dengan memberikan senyum lebarnya.

"Bagaimana lembur tadi malam?" tanya Diva.

"Luar biasa," jawabnya.

Keduanya masih menyempatkan mengobrol sedikit di dalam lift sampai akhirnya pintu lift terbuka.

Banyak yang menghela nafas dan menempati tempat duduk masing-masing, ada yang langsung memeriksa pekerjaan yang ditinggalkan kemarin, sebagian masih ingin memperbaiki make up dan juga masih banyak basa-basi, ada yang mengobrol dengan banyaknya cerita yang ingin diungkapkan setelah beberapa jam tidak bertemu.

Jika masih sempat dilakukan maka mereka akan melakukan sebelum tiba saatnya karena perusahaan besar itu memiliki peraturan seluruh karyawan yang bersangkutan harus datang sebelum 7 :30. Jika terlambat maka siap-siap saja akan mendapatkan teguran dari atasan.

Ayana juga menduduki salah satu meja yang berbeda di antara deretan meja yang hampir seragam itu, ada satu meja yang tampak berbeda. Letaknya sedikit lebih dekat ke ruang pimpinan, dengan penataan yang lebih rapi dan teratur.

Di atasnya tersusun agenda kerja, map-map penting, serta sebuah komputer yang menyala dengan tampilan jadwal yang padat.

Sebuah vas kecil berisi bunga segar menambah kesan hidup, seolah menjadi penyeimbang di tengah kesibukan yang kaku.

"Huhhhh......" Ayana menarik nafas panjang dan membuang perlahan seketika tangannya sedikit merapikan meja tersebut, mengambil Tumbler dengan meneguk air putih.

"Oke, memeriksa pekerjaan!" sudah menjadi kebiasaannya yang pertama dilakukannya adalah mengecek kembali pekerjaan yang akan diserahkan kepada atasannya.

Ayana harus terbiasa dengan disiplin karena memiliki atasan yang super duper disiplin. Tangan yang memegang pulpen itu mencentang tulisan yang tertempel pada dinding mejanya, berupa catatan kecil yang dilakukan sebelum pulang kerja.

Layar komputer yang sudah hidup. Tangannya bergerak lincah mencatat, sesekali mengetik dengan cepat.

"Oke, ini sudah selesai, ini juga, ini tinggal, edit sedikit," mulutnya terus berbicara sembari meneliti dengan benar pekerjaan.

Dratt-dratt-dratt.

Ayana menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menjawab telepon dengan suara yang lembut namun profesional.

"Baik terimakasih," ucapnya mengakhiri panggilan telepon tersebut.

"Ayana!" Diva menghampiri mejanya dengan memberikan dokumen berwarna merah.

"Sebenarnya aku tidak percaya diri," ucap Diva terlihat tidak bersemangat.

"Hey jangan seperti itu, kamu sudah melakukan yang terbaik ..... Aku akan membawanya ke tempat Pak, Emir," ucap Ayana menggabungkan dokumen tersebut dengan tumpukan dokumen yang sudah dia siapkan.

Diva tetap saja terlihat gugup. Ayana tersenyum dengan mengusap lengan rekannya itu, pandangan kedua bola mata gadis cantik itu sudah mampu memberikan energi semangat untuk temannya.

"Kamu pasti bisa percaya padaku!" tegas Ayana.

"Oke!" sahut Diva dengan menganggukkan kepala dan kembali ke tempat duduk.

Ayana kemudian melanjutkan pekerjaannya dengan mengatur jadwal, menyaring tamu yang akan bertemu dengan atasannya dan memastikan segala sesuatu berjalan sesuai alur tanpa menarik perhatian terlebih.

Rekan-rekannya yang lain juga sudah mulai terlihat bekerja, suara ketik keyboard yang terdengar saling memburu dengan suasana tergesa-gesa.

Bersambung....

...Hay para pembaca yang setia dalam mengikuti novel-novel saya. Saya kembali memberikan karya terbaru untuk kalian semua. Besar harapan saya Novel saya dapat dicintai oleh para pembaca dan banyak yang menjadi peminatnya....

...Jangan lupa untuk terus mendukung karya saya membaca dari bab 1 sampai selesai dan tidak boleh menabung bab, terus ikuti di setiap bab dan jangan lupa like, komen, vote, subscribe,. sedikit banyaknya yang kalian berikan untuk saya akan menjadi semangat untuk saya terus mengeluarkan karya terbaru lagi....

...Terima kasih para pembaca, salam cinta dari saya, Author.......

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!