NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

PROLOG

Layar ponsel itu adalah satu-satunya benda paling modern di dalam kamar Agus. Cahaya dari layarnya yang retak di bagian sudut menyinari wajah Agus yang kusam setelah seharian bekerja di gudang material. Di luar kamar, suara batuk bapak agus terdengar berat, disusul suara gesekan panci yang dicuci oleh ibu agus di dapur.

Agus mengusap layar ponselnya. Sebuah notifikasi muncul. Satu pesan baru dari seseorang bernama Nor Rahma.

Agus menarik napas panjang. Ia melihat jempolnya yang kasar dan ada noda hitam di bawah kuku yang sulit hilang. Ia merasa ragu untuk membalas pesan itu. Nor Rahma, dalam foto profilnya, mengenakan pakaian yang rapi dan berdiri di depan sebuah kafe yang terlihat mahal. Wanita itu terlihat sangat bersih, sangat teratur, dan sangat jauh dari jangkauan tangan Agus.

Di rumah ini, uang seratus ribu rupiah adalah nyawa untuk makan satu minggu. Sementara di dunia Rahma, Agus menduga uang itu mungkin hanya cukup untuk sekali makan siang.

"Gus, lampu ruang tengah mati. Ada uang buat beli bohlam baru?" suara ibu agus terdengar dari balik pintu.

Agus terdiam. Ia merogoh saku celananya. Hanya ada dua lembar uang sepuluh ribuan dan beberapa receh. Ia melihat kembali ke layar ponselnya, ke arah foto Nor Rahma yang tersenyum. Sebuah kontradiksi yang menyakitkan. Antara keinginan untuk mencintai wanita sempurna itu, dan kenyataan bahwa untuk membeli sebuah bohlam lampu saja, ia harus berpikir dua kali.

Agus mematikan layar ponselnya. Ruangan itu seketika menjadi gelap gulita. Hanya menyisakan suara napasnya yang berat dan beban di pundaknya yang semakin terasa nyata.

...

EPISODE 1

Suara jangkrik di balik dinding papan rumahnya terdengar nyaring, bersahut-sahutan dengan bunyi kipas angin plastik kecil yang berderit setiap kali berputar ke kanan. Agus berbaring telentang di atas kasur lantai yang sudah tipis, hingga ia bisa merasakan kerasnya lantai semen di bawah punggungnya. Bau sisa keringat dari kaus yang belum ia ganti setelah pulang bekerja di gudang semen siang tadi tercium samar, bercampur dengan aroma obat nyamuk bakar yang asapnya mulai memenuhi kamar sempit itu.

Lengan kanan Agus terangkat, memegang sebuah ponsel pintar dengan layar yang memiliki retakan melintang dari sudut kiri atas hingga ke tengah. Cahaya dari ponsel itu menerangi wajahnya yang kusam. Di layar itu, sebuah aplikasi pencari jodoh sedang terbuka.

Sudah tiga hari Agus mengunduh aplikasi itu. Awalnya, ia hanya ingin mencari teman mengobrol untuk mengusir rasa sepi setelah seharian memikul sak semen di bawah terik matahari. Namun, malam ini, jempolnya berhenti bergerak saat sebuah profil muncul di layar.

Nor Rahma, 24 tahun.

Foto profilnya memperlihatkan seorang wanita dengan jilbab berwarna cokelat muda. Ia berdiri di depan sebuah bangunan kantor yang megah dengan cat putih bersih. Senyumnya tidak berlebihan, hanya tarikan tipis di sudut bibir, namun matanya terlihat cerdas dan teduh. Di bawah fotonya tertulis deskripsi singkat: “Mencari yang serius dan punya tujuan hidup. Tidak suka basa-basi.”

Agus menelan ludah. Ia melihat ke arah jempolnya sendiri yang kapalan dan kotor di bagian kuku. Ia lalu beralih melihat profilnya sendiri. Tidak ada foto di studio, hanya foto dirinya yang sedang duduk di atas motor tua miliknya, diambil dengan kamera ponsel yang buram. Di bagian pekerjaan, Agus hanya menuliskan Pekerja Lapangan. Ia tidak berani menuliskan secara spesifik bahwa ia adalah buruh angkut di gudang material.

"Mana mungkin orang seperti dia mau sama aku," gumam Agus pelan. Suaranya terdengar serak di dalam kesunyian kamar.

Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa minder itu. Ia menekan tombol Suka pada profil Nor Rahma. Ia berpikir, kemungkinannya hanya satu banding seribu wanita itu akan membalas. Agus meletakkan ponselnya di samping bantal, lalu memejamkan mata, mencoba tidur agar besok pagi ia punya tenaga untuk bekerja lagi.

Ting.

Sebuah notifikasi masuk. Agus tersentak. Ia segera meraih ponselnya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Di layar terkunci muncul tulisan: “Anda memiliki kecocokan baru dengan Nor Rahma!”

Agus terduduk seketika. Ia tidak percaya. Ia membuka aplikasi itu kembali dan benar, Nor Rahma juga memberikan tanda Suka padanya. Mereka sekarang bisa saling mengirim pesan. Agus merasa tangannya sedikit gemetar. Ia ingin mengirim pesan, tapi ia bingung harus memulai dari mana. Apa yang harus dikatakan laki-laki yang hanya punya uang lima puluh ribu rupiah di dompetnya kepada wanita sesempurna Nor Rahma?

Pagi harinya, suasana di dapur sudah mulai sibuk. ibu Agus, sedang berjongkok di depan tungku kayu bakar. Asap memenuhi ruangan dapur yang dindingnya sudah menghitam karena jelaga. Di atas meja kayu yang permukaannya tidak rata, sudah ada dua gelas kopi hitam dan sepotong singkong rebus yang masih mengepulkan uap.

bapak Agus, duduk di kursi plastik di dekat pintu dapur. Beliau sedang batuk kecil, sebuah kebiasaan yang semakin sering terdengar sejak setahun terakhir. Tubuhnya yang dulu gagah kini terlihat sangat kurus, dan kulitnya tampak pucat.

"Gus, sudah mau berangkat?" tanya bapak agus saat melihat Agus keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah pudar warnanya.

"Iya, Pak. Hari ini ada bongkar muat dua truk semen di gudang. Mungkin pulang agak sore," jawab Agus sambil menarik kursi dan duduk di samping ayahnya.

Ibu agus mendekat, membawa piring berisi singkong rebus. "Makan dulu, Gus. Jangan sampai perut kosong di gudang. Nanti pingsan kena debu semen."

Agus mengangguk. Ia meraih sepotong singkong. "Bu, apa ada sisa uang dari belanja kemarin?" tanya Agus hati-hati. Ia tahu pertanyaan ini sensitif, tapi ia harus bertanya.

Ibu agus menghela napas. Ia menyeka tangannya yang legam ke kain sarungnya. "Uangnya pas-pasan, Gus. Malah Ibu tadi mau pinjam ke kamu. Beras di karung tinggal buat sekali masak nanti sore. Bapakmu juga obat batuknya sudah habis semalam."

Agus terdiam. Rasa lapar yang tadinya ia rasakan seolah hilang. Inilah kenyataan hidupnya setiap hari. Di dalam pikirannya, ia teringat pada Nor Rahma yang ia temui di aplikasi semalam. Ia membayangkan jika suatu saat ia harus mengajak wanita itu makan di luar, atau sekadar membelikan sesuatu. Dari mana uangnya akan datang jika untuk beras dan obat ayahnya saja mereka harus berhitung setiap hari?

"Ya sudah, nanti sore kalau Agus dapat upah harian, Agus langsung belikan beras sama obat Bapak," kata Agus.

Bapak agus menatap anaknya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Maafkan Bapak ya, Gus. Bukannya bantu kamu cari modal buat masa depan, Bapak malah jadi beban begini. Umur Bapak sudah tua, badan sudah nggak kuat kerja berat lagi."

"Jangan bicara begitu, Pak. Ini sudah tugas Agus sebagai anak laki-laki tunggal," potong Agus cepat. Ia tidak suka mendengar ayahnya merasa rendah diri, meski jauh di dalam hatinya, ia sendiri merasa tercekik oleh keadaan ini.

Setelah menghabiskan kopinya, Agus berpamitan. Ia menghidupkan motor tuanya yang mengeluarkan asap putih dari knalpotnya. Di sepanjang jalan menuju gudang material, pikirannya terus melayang. Antara beban beras di rumah dan keinginan untuk membalas pesan Nor Rahma yang sejak semalam ia abaikan karena bingung.

Sesampainya di gudang, Agus duduk sebentar di atas tumpukan palet kayu sebelum truk pertama datang. Ia mengeluarkan ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Nor Rahma.

Nor Rahma: "Halo, Agus. Terima kasih sudah menyapa lewat profil. Salam kenal ya."

Agus menelan ludah. Rahma menyapanya lebih dulu. Laki-laki itu menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. Ia mulai mengetik di layar ponselnya yang retak.

Agus: "Halo juga, Rahma. Maaf baru balas, saya baru mau mulai kerja. Salam kenal kembali."

Hanya dalam hitungan detik, Rahma membalas.

Nor Rahma: "Kerja di mana kalau boleh tahu? Maaf ya kalau lancang, aku lebih suka bertanya di awal supaya sama-sama enak kalau mau lanjut mengobrol."

Pertanyaan itu datang lebih cepat dari yang Agus duga. Pertanyaan tentang identitas dan kemapanan. Agus menatap ke arah truk semen yang baru saja masuk ke halaman gudang. Debu semen beterbangan tertiup angin, menempel di baju dan kulitnya yang sudah kecokelatan.

Ia tidak ingin berbohong, tapi ia juga tidak ingin langsung ditolak.

Agus: "Saya kerja di logistik material, Rahma. Bagian operasional lapangan. Pekerjaannya kasar, mungkin tidak seperti teman-temanmu yang lain."

Agus menekan tombol kirim. Ia merasa sesak di dada. Ia merasa bahwa setelah pesan ini, Rahma tidak akan membalas lagi. Mana ada wanita yang bangga memiliki pasangan yang bekerja memikul semen setiap hari?

Namun, ponselnya bergetar lagi.

Nor Rahma: "Pekerja keras itu bagus, Agus. Aku lebih menghargai laki-laki yang mau berkeringat daripada yang cuma bicara. Yang penting punya visi ke depan. Menurutmu, bukti nyata dari keseriusan seorang laki-laki itu apa?"

Agus tertegun membaca kata bukti. Pertanyaan itu terasa sangat berat bagi seorang laki-laki yang tabungannya bahkan tidak cukup untuk membeli ban motor baru. Di depannya, mandor gudang mulai berteriak menyuruh para buruh berkumpul.

"Gus! Jangan main HP saja! Truk sudah sampai, cepat bongkar!" teriak mandor itu.

Agus memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berdiri, membetulkan posisi handuk kecil yang ia lilitkan di lehernya. Ia harus bekerja sekarang. Ia harus memikul puluhan sak semen seberat 50 kilogram satu per satu ke dalam gudang demi beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang akan habis untuk beras dan obat sore nanti.

Pertanyaan Rahma tentang bukti dibiarkannya menggantung. Di bawah sinar matahari yang mulai menyengat, Agus mulai memikul beban pertamanya. Pundaknya terasa berat, tapi pikirannya jauh lebih berat. Ia baru saja jatuh cinta pada seorang wanita yang ia temui di aplikasi, namun di saat yang sama, ia baru saja menyadari betapa miskinnya ia di hadapan dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!