Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sajadah di Atas Aspal Berdarah
Malam di Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit yang biasanya hitam pekat kini semburat kemerahan oleh pantulan lampu kota dan kepulan asap dari knalpot kendaraan yang saling beradu di kejauhan. Namun, di sebuah gang sempit di kawasan pelabuhan yang terbengkalai, suasana jauh lebih mencekam. Bau karat dan amis darah menyeruak, mengalahkan aroma air laut yang payau dan sampah yang membusuk di sudut-sudut beton.
Arkan Xavier menyandarkan punggungnya pada dinding bata yang lembap dan berlumut.
Napasnya tersengal, pendek-pendek dan berat, menyisakan uap tipis di udara malam yang dingin. Tangan kanannya menekan kuat perut bagian kiri yang terus mengalirkan cairan hangat berwarna merah pekat—darah yang seolah tidak mau berhenti mengalir. Kemeja putih sutra seharga puluhan juta yang ia kenakan kini sudah tak berbentuk; robek, kotor, dan basah kuyup oleh sisa-hidupnya sendiri.
"Sial..." desisnya pelan. Suaranya serak, penuh dengan kemarahan yang tertahan, bukan ketakutan.
Pengkhianatan adalah makanan sehari-hari bagi Arkan. Sebagai kepala dari keluarga Xavier, sindikat yang menguasai jalur logistik hitam di Asia Tenggara, ia sudah biasa tidur dengan satu mata terbuka dan senjata di bawah bantal.
Namun kali ini, ia meremehkan lawan. Anak buah kepercayaannya telah menjual informasi lokasinya kepada musuh bebuyutan mereka.
Arkan terjebak dalam penyergapan yang seharusnya menjadi akhir dari hidupnya. Tiga peluru bersarang di tubuhnya, dan ia hanya mampu merangkak ke gang ini untuk mencari tempat mati yang tenang.
Pandangan Arkan mulai mengabur. Cahaya lampu merkuri di ujung gang tampak seperti bintang-bintang yang menari, mengejek kondisinya yang menyedihkan. Ia bisa mendengar langkah kaki berat para pengejarnya yang semakin mendekat, suara sepatu bot yang menghantam aspal basah bergema seperti lonceng kematian. Mereka membawa senjata otomatis, dan Arkan tahu, Glock-17 miliknya hanya menyisakan satu peluru terakhir. Satu peluru untuk musuhnya, atau satu peluru untuk mengakhiri penderitaannya sendiri.
"Mungkin ini akhirnya," batin Arkan dengan senyum sinis yang getir.
Ia tidak takut mati. Baginya, kematian hanyalah sebuah peristirahatan panjang dari dunia yang membosankan dan penuh dengan topeng ini. Ia sudah melihat terlalu banyak kegelapan hingga ia lupa seperti apa rasanya cahaya.
Namun, tepat sebelum kesadarannya benar-benar direnggut oleh kegelapan, sebuah suara lembut memecah keheningan malam yang brutal. Bukan suara tembakan, bukan pula suara makian kasar yang ia harapkan.
"Astaghfirullah... Tuan? Tuan tidak apa-apa?"
Arkan memaksa kelopak matanya yang berat untuk terbuka. Di depannya, berdiri sesosok wanita yang tampak seperti fatamorgana di tengah neraka. Wanita itu mengenakan gamis berwarna cokelat tua yang longgar, menutupi lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna.
Kepalanya dibalut kerudung besar yang menjuntai hingga ke pinggang, dan wajahnya ditutupi oleh selembar kain hitam—cadar yang hanya menyisakan sepasang mata bulat dengan bulu mata lentik yang kini bergetar hebat karena cemas.
"Pergi..." gumam Arkan, suaranya hampir menyerupai bisikan maut. "Mereka akan membunuhmu juga, Bodoh. Lari..."
Wanita itu, Aisyah, tidak bergeming sedikit pun. Ia adalah seorang mahasiswi kedokteran yang baru saja pulang dari kegiatan bakti sosial di pemukiman kumuh dekat pelabuhan. Ia tersesat saat mencoba mencari jalan pintas menuju pangkalan ojek. Secara logika, ia harus lari sekencang mungkin. Pria di depannya jelas bukan orang baik-baik; tato sayap hitam yang patah di lehernya dan senjata api yang digenggam lemah di tangannya adalah peringatan bahaya yang nyata.
Namun, hati Aisyah tidak mengizinkannya berpaling. Baginya, membiarkan seseorang mati tanpa pertolongan adalah sebuah dosa besar yang tidak akan pernah ia maafkan seumur hidup.
"Hanya Allah yang menentukan umur seseorang, Tuan. Dan malam ini, mungkin Dia mengirim saya ke sini untuk Anda," ucap Aisyah dengan suara yang kini lebih tenang. Ia berlutut di aspal yang kotor tanpa memedulikan gamis bersihnya yang mulai terkena noda lumpur dan darah.
Dengan gerakan cepat namun lembut, Aisyah membuka tas ranselnya yang berisi peralatan medis darurat. Ia mengeluarkan botol alkohol, perban, dan selembar kain bersih. "Saya akan menekan lukanya. Ini akan sangat sakit, mohon bertahanlah dan teruslah bernapas."
Arkan meringis, giginya bergeletuk menahan perih yang luar biasa saat jemari mungil itu menekan luka tembak di perutnya. Rasa sakitnya seperti dibakar api, tapi entah mengapa, sentuhan wanita ini terasa berbeda. Ada kehangatan yang asing, sesuatu yang belum pernah Arkan rasakan selama tiga puluh tahun hidupnya yang keras dan dingin.
"Siapa kau sebenarnya?" Arkan bertanya, mencoba tetap sadar meski dunianya mulai berputar-putar.
"Aisyah," jawabnya singkat. Matanya tetap fokus pada luka Arkan, tangannya bekerja dengan ketangkasan seorang calon dokter. "Jangan banyak bicara, Tuan. Detak jantung Anda terlalu cepat, itu akan mempercepat pendarahan."
Tiba-tiba, suara langkah kaki itu berhenti tepat di mulut gang. Tiga orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam muncul. Cahaya rembulan memantul di moncong senjata mereka.
Mata mereka liar, seperti serigala yang telah menemukan mangsanya.
"Itu dia! Si Xavier sialan itu di sana! Habisi sekarang sebelum polisi datang!" teriak salah satu dari mereka saat melihat bayangan Arkan dan Aisyah di balik tumpukan peti kayu tua.
Jantung Aisyah berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Takut? Tentu saja. Ia hanyalah wanita biasa yang terbiasa dengan buku pelajaran, bukan peluru. Namun, ia tidak meninggalkan Arkan. Ia justru berdiri, membentangkan tangannya sedikit, seolah-olah tubuh kecilnya bisa menjadi perisai bagi pria raksasa yang terkapar di belakangnya.
"Pergi kalian! Pria ini sedang terluka parah dan butuh pertolongan medis! Apa kalian tidak punya hati nurani?" teriak Aisyah. Suaranya bergetar karena takut, namun penuh keberanian yang membuat para mafia itu tertegun sejenak.
Para pengejar itu tertawa terbahak-bahak, suara tawa yang terdengar sangat keji. "Minggir, Ukhti! Ini bukan urusan pengajian! Atau peluru ini akan menembus kain hitammu itu sebelum kau sempat berdoa!"
Arkan, yang masih terduduk lemah dengan kesadaran yang timbul tenggelam, merasakan amarah membakar dadanya. Marah karena dirinya tidak berdaya, dan marah karena ada orang yang berani mengancam wanita asing yang mencoba menyelamatkannya ini. Tidak ada yang boleh menyentuh wanita ini. Tidak saat wanita ini telah mempertaruhkan nyawa untuknya.
Dengan sisa tenaga terakhir yang ia kumpulkan dari kemarahan, Arkan mengangkat tangan kanannya yang gemetar. Ia membidik dengan insting yang sudah mendarah daging.
BANG!
Satu peluru terakhir dari Glock Arkan melesat tepat mengenai bahu salah satu pengejar hingga pria itu tersungkur. Di saat yang bersamaan, suara sirine polisi menggema dari arah jalan utama—rupanya penduduk sekitar pelabuhan yang mendengar keributan sejak awal telah melaporkannya.
"Sial! Polisi datang! Ayo cabut!"
Para pengejar itu panik dan segera melarikan diri kembali ke dalam kegelapan malam, meninggalkan Arkan yang kini benar-benar ambruk sepenuhnya. Kepalanya jatuh dan bersandar di pangkuan Aisyah.
Aisyah segera kembali berlutut, napasnya tersengal-sengal karena adrenalin yang mulai turun. Ia segera menekan kembali luka Arkan dengan sisa perban yang ada. "Tuan? Tuan Arkan? Bertahanlah, bantuan akan segera datang. Tolong jangan tutup mata Anda!"
Arkan menatap mata Aisyah untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan benar-benar merenggutnya. Di bawah cahaya rembulan yang redup, ia melihat air mata jatuh dari sudut mata jernih itu, membasahi cadar hitamnya sebelum jatuh ke pipi Arkan. Air mata itu terasa lebih hangat daripada darahnya sendiri.
"Mata itu..." bisik Arkan dalam hati sebelum semuanya menjadi hitam.
Dunia Arkan Xavier yang penuh dengan pengkhianatan, kebencian, dan bau mesiu, tiba-tiba saja menemukan sebuah titik putih yang menyilaukan. Seorang wanita yang wajahnya bahkan tidak ia ketahui, yang namanya terdengar begitu suci di telinganya, kini menjadi satu-satunya alasan ia masih menghirup udara.
Malam itu, di atas aspal dingin pelabuhan yang berlumuran darah, sebuah takdir baru mulai tertulis dengan tinta yang tak bisa dihapus. Takdir antara sang pemangsa yang haus darah dan sang penjaga yang penuh doa. Arkan tidak tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah menemukan "kelemahan" terindahnya—seorang wanita bercadar yang tanpa sadar telah mencuri nyawanya, bukan untuk dibunuh, tapi untuk diselamatkan.