Rani tanpa sadar dijadikan taruhan oleh Wira karena kalah balapan liar dengan Arlo. Arlo rela memberikan motor sport barunya untuk Wira demi untuk mendapatkan Rani.
Arlo memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan makanan Rani. Arlo hampir melecehkan Rani. Tapi sesuatu terjadi.
Rani berhasil melarikan diri bersama seseorang dan mengalami kecelakaan. Rani menghilang. Arlo dan Wira mencari Rani karena mereka takut Rani membocorkan rahasia mereka.
Rahasia apa yang tersembunyi?
Apa yang akan terjadi kepada Rani?
Apakah Wira dan Arlo tidak akan melepaskan Rani?
Ikuti kelanjutan ceritanya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Rani Salwa, lahir dan besar di kota Agate. Rani anak tunggal. Ayahnya bekerja sebagai kepala administrasi perusahaan swasta yang bergerak di bidang keuangan. Ibunya juga bekerja di perusahaan swasta di bidang otomotif.
Setelah virus covid 19 menyebar di seluruh penjuru negeri, situasi menjadi berubah. Virus covid 19 adalah penyakit menular yang menyerang sistem pernapasan, infeksi paru-paru dan menyebabkan kematian.
Covid 19 telah banyak menelan korban jiwa. Pemerintah pada saat itu, menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berimplikasi terhadap pembatasan kegiatan masyarakat, baik itu aktivitas ekonomi, aktivitas pendidikan, dan aktivitas sosial lainnya.
Dampak besar pasca covid 19, banyak perusahaan gulung tikar, pemecatan karyawan besar-besaran. Masyarakat banyak jatuh miskin.
Tidak terkecuali kedua orang tua Rani. Perusahaan tempat mereka bekerja bangkrut. Mereka terpaksa diberhentikan dari pekerjaan.
Kedua orang tua Rani, positif mengidap covid 19. Mereka berdua akhirnya menyerah dengan keganasan covid 19. Mereka berdua meninggal dunia.
Selepas ditinggal pergi kedua orang tuanya, Rani tinggal bersama Om, Tante (saudara dari ibunya Rani) dan juga saudara sepupu di rumah besar peninggalan orang tuanya.
Perusahaan tempat Damin bekerja juga mengalami kebangkrutan. Damin terlilit hutang. Damin menjual rumahnya untuk membayar hutang dan juga untuk membiayai kebutuhan rumah tangga.
Damin, Mira sangat menyayangi Rani seperti anak kandung mereka sendiri. Rani yang masih muda saat itu juga banyak membantu. Rani memberikan perhiasan ibunya kepada Mira untuk dijual melanjutkan hidup mereka.
Berbeda dengan Wira, saudara sepupu Rani. Wira sangat tidak menyukai Rani. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Wira berpikir, kehadiran Rani di keluarganya hanyalah sebagai parasit. Rani hanya membebani ekonomi keluarganya.
Waktu pun begitu cepat berlalu. Selama tinggal bersama Rani, Wira tidak lagi diberi uang jajan seperti sebelumnya. Damin mencoba memberikan pengertian kepada Wira keadaan mereka saat ini. Dalam keadaan seperti ini masih susah mencari pekerjaan.
Wira terbiasa hidup berkecukupan. Keinginan Wira harus dituruti. Jika tidak, Wira akan kabur tidak pulang ke rumah.
Wira ingin dibelikan motor baru. Sudah kelas 12 SMA keinginan Wira tidak dikabulkan orang tuanya. Giliran Rani, semua keperluannya selalu saja dipenuhi. Wira semakin membenci Rani.
Wira dan Rani satu sekolah yang sama. Wira tidak pernah mengakui Rani sebagai keluarganya. Wira menganggap Rani musuh di sekolah. Wira diam-diam menyuruh teman-temannya untuk membully Rani.
Rani tidak pernah tahu, Wira yang selama ini tinggal satu atap dengannya, yang dia anggap sebagai saudara, yang hidup dari warisan orang tuanya, selalu menganggapnya musuh. Rani juga tidak pernah cerita kalau di sekolah dia dibully kakak kelas kepada Damin dan Mira.
Dan suatu ketika, Wira diajak taruhan balapan liar oleh teman-temannya. Taruhannya yang menang akan mendapatkan motor sport baru. Tapi Wira tidak punya uang untuk dipertaruhkan. Wira nekat ikut balapan motor karena Wira yakin akan menang.
Balapan pun di laksanakan pada malam hari di jalan raya arah luar kota Agate. Wira memandangi motor sport baru yang menjadi hadiahnya. Lumayan lah untuk bonceng cewek ke sekolah.
Wira dan teman-temannya bersiap-siap. Wira memakai helmnya. Suara knalpot motor menggema memecah keheningan malam. Dalam hitungan ketiga, semua peserta balapan menarik full gas motornya. Mereka semua menggila, beradu skill kecepatan di jalan raya nan sepi.
Deru mesin motor dan sorakan para penonton membuat gaduh tengah malam. Jalan Akik adalah jalan yang penuh dengan tikungan tajam. Itulah sebabnya pada malam hari orang-orang takut melewati jalan itu.
Tidak ada tanda-tanda ketakutan. Wira dan teman-temannya salib menyalip saling mendahului di tikungan tajam. Adrenalin memacu diri.
Wira semakin jauh meninggalkan lawan. Wira sangat yakin, hadiah utama akan menjadi miliknya. Kepercayaan dirinya semakin tinggi. Sedikit lagi Wira akan sampai ke garis finish.
Tanpa dia sadari, dari arah belakangnya, sebuah motor sport melaju kencang. Hampir saja Wira terjatuh karena kehadiran motor itu secara tiba-tiba.
Pupus sudah harapannya. Wira menduduki tempat kedua. Motor sport yang selama ini diimpikan lenyap sudah. Wira membanting helmnya ke aspal. Wira memandangi Arlo yang begitu angkuhnya duduk di atas hadiah utama.
Masing-masing dari mereka yang kalah membayar taruhan kepada Arlo. Hanya Wira yang masih diam di atas motornya. Arlo perlahan mendekati Wira dan meminta bayarannya.
"Sorry, gue gak punya uang," ucap Wira.
"Lu gak punya uang ikut taruhan? Apa lu yakin pasti menang? Gue dilawan," ejek Arlo.
Semua yang mendengar tertawa bersama. Wira sedikit tersinggung. Arlo berhasil membuat dia malu. Memang Wira mengakui di hadapan Arlo, dia sangat menginginkan hadiah utamanya.
Arlo menepuk pundak Wira dan membisikkan sesuatu. Entah apa yang dikatakan Arlo, yang pasti Wira malam itu nampak bahagia. Seuntai senyuman terlukis di wajahnya yang tadinya suram. Wira mengetikkan sesuatu dan mengirimnya ke ponsel Arlo.
Arlo membuka pesan dari Wira. Arlo dan Wira berjabat tangan seolah membuat kesepakatan.
Mereka semua merayakan kemenangan Arlo. Arlo akan mentraktir mereka semua makan. Mereka semua meninggalkan jalan Akik.
.
🌑 Keesokan harinya.
Wira dan Rani melepas kepergian Damin dan Mira untuk keluar kota. Damin dan Mira mendapat pekerjaan untuk bantu-bantu di rumah makan. Mereka berencana akan bekerja di sana selama seminggu.
Damin dan Mira pergi menggunakan mobil peninggalan orang tua Rani. Mira berpesan agar Wira bisa menjaga Rani.
Untuk pertama kalinya Wira dengan ramah menyapa Rani. Wira mengundang Rani untuk pergi ke pesta ulang tahunnya yang akan dirayakan di kafe malam ini. Wira tidak menginginkan kado dari Rani. Cukup Rani datang itu sudah cukup.
"Ingat, gak usah bawa kado. Gue gak suka," dengan cueknya Wira masuk ke dalam kamarnya.
Rani begitu gembira mendapatkan undangan dari Wira. Rani pasti akan datang tanpa membawa kado, takutnya Wira akan marah.
Rani seperti biasa mengantarkan kue pesanan kepada pelanggan. Rani pamit kepada Wira.
Rani dengan motor matiknya mengantarkan pesanan. Mira mempunyai keahlian membuat makanan dan juga kue. Rani membantunya mempromosikan di media sosialnya. Dan alhasil, bisnis kecil-kecilan mereka mampu menambah pundi-pundi keuangan mereka.
Selama Mira di luar kota, Rani hanya menjual persediaan kue yang ada di rumah. Apakah Wira membantu bisnis kecil mereka? Oh tentu saja tidak. Wira anak orang kaya, tidak perlu bekerja itu kata Wira.
.
🌑 Malam harinya.
Rani masuk ke dalam kafe yang di maksud Wira. Kafe itu sepi, Rani bertanya kepada salah seorang karyawannya, apakah di sana sedang diadakan pesta ulang tahun. Karyawan itu menyuruh Rani masuk ke dalam sampai menemukan pintu belakang kafe.
Rani menurut, Rani menemukan pintu belakang kafe. Ada ruangan terpisah dan luas. Di sana memang diadakan sebuah pesta. Rani mencari Wira.
Arlo menyambut Rani. Arlo mengenalkan dirinya sebagai temannya Wira. Wira meminta Arlo menemani Rani. Wira keluar sebentar.
Arlo memberikan minuman dan kue kepada Rani. Arlo memperhatikan Rani dari kepala sampai ujung kaki. Arlo pernah melihat Rani sebelumnya keluar dari mobil yang sama dengan Wira.
Di sekolah, Wira tidak pernah menyapa Rani. Arlo penasaran dengan hubungan mereka. Dan pertanyaan Arlo terjawab. Ketika Wira kalah taruhan, Arlo meminta Rani sebagai bayaran dan Wira langsung menyetujuinya. Arlo mengetahui Wira sangat membenci Rani.
Rani merasa tidak nyaman, Arlo yang tadinya sopan mulai bertingkah berani. Setelah Rani minum dan makan kue yang diberikan Arlo, Rani merasa pusing. Arlo tanpa malu-malu merangkul pundak Rani. Arlo juga mulai menciumi rambut panjang Rani.
Rani dengan sopan menolak. Arlo memandangi wajah Rani. Matanya yang berkilau bak permata, rambut gelombangnya yang terurai rapi. Lesung pipit yang muncul saat dia tersenyum.
Jakun Arlo turun naik. Arlo mulai memeluk Rani. Arlo mencium kening Rani kemudian turun ke leher Rani. Rani dengan lemah berontak. Rani melihat temannya Arlo berteriak keluar dari ruangan yang ada di pojok sana.
"Arlo, gawat, ga ... gadis itu ...." Dia menunjuk ke dalam ruangan.
Arlo beranjak dari tempat duduknya berlari masuk ke dalam ruangan bersama temannya. Beberapa gadis berlarian keluar dari ruang itu, salah satu dari mereka meminta Rani cepat lari.
Rani dengan sisa-sisa tenaganya tertatih keluar dari ruangan. Rani terus berjalan sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.
Rani menabrak seseorang di depan kafe. Rani memegang tangan orang itu dan minta tolong agar dia membawanya pergi dari kafe.
Cowok itu di balik helmnya melihat keanehan dari Rani. Dan dari dalam kafe dia juga melihat dua orang cowok mengejar Rani.
Dia menaikkan Rani ke atas motor sportnya. Dia melingkarkan tangan Rani ke pinggangnya. Dia menghidupkan mesin motor dan dengan cepat melaju ke jalan raya.
VROOOM!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...