NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.

Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.

Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu

"Aku membencimu, Iago."

Kata-kata gadis itu menancap di udara, lebih tajam dari beling, terngiang di antara deru hujan yang menggerus segala suara lain.

Hujan mengguyur tanpa ampun, mengiris langit kelabu dengan jarum-jarum air yang tak terhitung. Air yang dingin menusuk itu memercik ke kulit, meninggalkan rasa beku yang merambat ke tulang, sementara tanah berubah menjadi rawa becek yang menelan setiap jejak.

Genangan air berwarna timah itu merayap naik, menyentuh mata kaki. Setiap kilat menyambar, membelah langit dengan cahaya ungu-putih yang pucat dan sesaat, memantulkan bayangan mereka yang terdistorsi di permukaan air.

"Aku sangat membencimu." Suaranya bergetar. "Kuharap kau mati."

Lalu ia berbalik. Jubahnya yang basah kuyup dan berat menampar udara dengan suara whap sebelum ia melangkah pergi, meninggalkan jejak-jejak lekuk yang dalam di lumpur yang mengisap.

Iago tetap di tempatnya, matanya membelalak, tak bergeming meski angin mencabik-cabik bajunya yang sudah menjadi kulit kedua. Hujan membasahi rambut hitamnya yang lepek dan kusut, menutupi alisnya, meneteskan air ke sudut mata yang kering.

Ia tidak tahu sudah berapa lama berdiri di situ. Yang ia tahu, semuanya bermula dari satu pagi yang terasa jauh sekali. Setahun yang lalu. Sebelum semua ini.

Setahun sebelumnya. Tahun 1500.

Di suatu pagi yang beraroma tanah basah pasca-hujan dan keringat kuda yang hangat, seorang pemuda berusia dua puluh tahun menginjakkan kaki di ibu kota. Rambutnya hitam legam dan sedikit bergelombang, terbelah di tengah dengan rapi yang cepat buyar, berantakan alami di bagian belakang. Matanya, warna kopi pekat, selalu setengah terpejam.

Pakaiannya sederhana tapi rapi, kain kasar yang ditenun dengan baik, tanpa satu pun noda atau jahitan yang lepas.

"Jadi, inilah Kerajaan Valemira," gumamnya, suaranya serak dan hampir hilang dalam keriuhan pasar yang seperti ombak.

Di ujung jalan, istana menjulang bagai gunung buatan manusia. Marmer putihnya bersinar membutakan di bawah matahari pagi yang keemasan, dihiasi logam emas yang memantulkan cahaya hingga puncak menaranya yang ramping.

Pemuda itu menyusuri kerumunan, bahunya sesekali menyenggol orang lain. Para penjual berteriak menawarkan sayuran segar yang masih berkilauan embun, suara mereka bersahutan, naik-turun. Ibu-ibu dengan lengan kuat membawa keranjang anyaman yang penuh, anak-anak berlarian dengan kaki telanjang yang coklat, tertawa-tawa dengan suara jernih dan polos.

Bau roti panggang hangat dan daging asap yang gurih menari di udara, hangat, berminyak, dan mengundang. Ia berhenti sebentar di sebuah genangan, memandangi bayangan wajahnya yang kabur dan bergoyang di permukaan air keruh, lalu menghela napas panjang yang bergetar dan melangkah lagi.

"Hei, pemuda!" Suara itu berat. "Wajahmu asing. Dari desa, ya?" Seorang pedagang berperut buncit melingkar dan berkumis tebal yang menguning melambai-lambai dari balik gerainya yang penuh barang rongsokan, senyum lebar terpampang di wajahnya.

"Ya, Pak. Baru tiba," sahut pemuda itu sambil mendekat, senyum tipis.

"Nah, kebetulan!" Pedagang itu menepuk-nepuk meja kayunya yang penuh goresan, menghasilkan bunyi thok-thok dan berdebu. "Saya punya jimat keberuntungan. Harga spesial untuk pendatang baru. Cuma satu Flor!"

Ia mengangkat sebuah benda kecil berkilauan. Logam murah yang dibentuk seperti bintang berujung lancip, bergoyang-goyang di antara jari-jarinya yang gemuk dan berkotor.

Pemuda itu menaikkan alisnya yang hitam. Satu Flor, koin perak yang bisa mengisi perut seminggu, untuk sebongkah logam dan keyakinan yang tipis?

"Maaf, Pak. Uang segitu lebih baik untuk membeli makanan."

Mendengar itu, pedagang tersebut tertawa canggung. "Haha... benar juga. Baiklah, baiklah. Keberuntunganmu sendiri yang menolak."

Setelah percakapan singkat dan penolakan halus, pemuda itu kembali berjalan, menyisihkan diri dari kerumunan. Jimat keberuntungan, ya? Sudut bibirnya terangkat sekilas. Siapa yang mau membeli ilusi semacam itu?

Tiba-tiba, bunyi roda kereta mendekat, berderak keras dan berisik di atas jalanan batu yang tidak rata. Seekor kuda hitam legam berotot, berpelana mewah dengan sulaman benang emas, melintas dengan gagah, dikendalikan seorang penjaga bertampang tegas.

Di dalam kereta terbuka itu, duduk seorang gadis. Rambutnya pirangnya terurai di bahunya, memantulkan sinar matahari. Matanya biru seperti kristal laut.

Bukankah itu... Stella Valemira? pikir pemuda itu yang terus melangkahkan kakinya.

Untuk sesaat, sepersekian detik yang terentang panjang, pandangan mereka bertaut. Hanya sekejap, tapi cukup membuat denyut pasar seolah terhenti, suara-suara meredam menjadi dengung rendah. Waktu melambat, menjadi kental. Teriakan pedagang memudar menjadi bisikan. Hanya tatapan itu yang tersisa—biru laut yang dalam bertemu dengan hitam kopi yang pekat.

Kereta itu mendadak berhenti, rodanya bergesekan dengan batu hingga berbunyi nyaring kreek! yang memekakkan.

Stella melompat turun dengan langkah cepat, sepatu bot kulit halusnya membentur tanah dengan suara thok. Matanya, kini menyipit, menatap punggung pemuda yang mulai menjauh di kerumunan. Ia berlari kecil, kain gaunnya yang halus berdesir, napasnya sedikit tersengal ketika berhenti. "Tunggu! Hei, kau..."

Pemuda itu berbalik, kerutan kebingungan yang halus muncul di dahinya.

"Jangan cuma melongo!" Gadis itu membentak, tangannya yang ramping sudah berada di gagang pedang berukir yang menggantung di pinggang.

"Ada masalah, Putri Stella?" Suara pemuda itu tetap tenang.

"Siapa kau? Wajahmu asing. Tak ada dalam catatan pendatang hari ini."

"Saya baru dari pedesaan. Mungkin catatannya terlambat."

Mata Stella menyipit lebih dalam, mengkaji setiap garis wajahnya. Dalam satu gerakan cepat, pedangnya terhunus. Bunyi logam menyanyi di udara—shing, ujung bilah yang runcing berhenti seinci dari leher pemuda itu. Seketika, pasar mendadak hening. Bisikan berdesis, penuh rasa ingin tahu dan ketakutan.

"Itu Putri Stella..."

"Kenapa menghunus pedang kepada rakyat biasa?"

"Kudengar Sang Bayangan, pencuri hantu itu, berkeliaran di sini... Mungkin Tuan Putri mencurigainya."

Pemuda itu mendengar bisikan itu, menangkap setiap suku kata. Jadi, dia mengiraku pencuri itu...

Perlahan, dengan suara datar, ia berkata, "Saya mengerti kecurigaan Anda. Tapi apakah menghunus pedang perlu, sebelum kebenaran terbukti?"

Tanpa ragu, ia malah melangkah mendekat—sedekat bilah tajam yang mengiris kulit tipis di lehernya. Setetes darah muncul, merah terang dan mencolok di kulit pucatnya, mengalir pelan, membentuk garis tipis ke arah kerah bajunya.

Mata Stella terbelalak. "Jangan bergerak!" teriaknya.

"Apakah ini cara Valemira menghakimi orang tak bersalah, Putri?" kata pemuda itu.

Penjaga yang mengendarai kereta kuda tadi segera mendekat, langkahnya cepat tapi terkendali. Suaranya yang rendah namun tegas memotong ketegangan, "Yang Mulia, tolong kendalikan diri. Kita masih belum punya cukup bukti. Dia mungkin memang cuman pemuda biasa yang datang dari desa."

Mendengar suara penasihatnya itu, Stella akhirnya menarik napas dalam sebelum menurunkan pedangnya. "Kau benar, Garron. Maafkan kekasaran saya." Pedangnya kembali masuk sarung dengan suara mendesing, logam bertemu kulit dengan thup yang melegakan.

Kerumunan mulai bubar dengan raut kecewa yang jelas di wajah mereka—pertunjukan gratis sudah selesai sebelum klimaks. Stella lalu tersenyum, sementara matanya yang biru masih mengawasi. "Aku Stella Valemira, putri tunggal Kerajaan Valemira. Dan kau?"

Tunggu… Pemuda itu menatapnya lebih dalam, matanya menelusuri garis wajahnya. Kenapa... Kenapa wajah gadis ini terasa tidak asing? Apa hanya perasaanku saja?

Namun ia mengabaikan pikiran itu lalu membungkuk hormat, satu tangan di dada. "Saya Iago Verbal. Suatu kehormatan."

"Iago Verbal." Stella mengulang namanya pelan. Senyumnya pudar, digantikan oleh kerutan di antara alisnya yang tipis. "Nama yang... unik. Terdengar seperti nama tua dari selatan."

"Orang sering bilang begitu," Iago membalas dengan senyum.

"Kita... pernah bertemu sebelumnya?" tanya Stella, tatapannya menelusuri setiap garis wajah Iago.

Garron gelisah di sampingnya. Ia menggeser berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki lain, pelat besi di bahunya berderak halus. "Putri, waktu kita tak banyak. Mari kita lanjutkan pencarian kita."

Tapi Stella mengabaikannya, fokusnya tertancap pada Iago.

Iago menggeleng halus, rambut hitamnya yang berantakan bergoyang. "Saya baru tiba. Mustahil kita pernah bertemu, Tuan Putri."

"Ah, benar juga. Mungkin hanya perasaanku saja," ucap Stella, berusaha merilekskan bahunya yang menegang. "Jadi, apa tujuanmu ke ibu kota yang hiruk-pikuk ini?"

"Yah, itu... mencari pekerjaan."

"Pekerjaan?" Stella memiringkan kepalanya, rambut pirangnya jatuh seperti tirai emas. Matanya yang analitis turun ke pakaian Iago, mengamati kainnya. "Dan pakaianmu ini... Jarang melihat kain dengan tenunan seperti ini di desa-desa sekitar. Kualitasnya baik." Nada Stella ramah, tetapi di balik keramahannya, matanya mengawasi.

Jadi seperti ini Putri Stella yang katanya mengalahkan Organisasi IV? pikir Iago. Dia benar-benar orang yang curigaan...

"Ini hadiah dari seorang teman di kota. Kami sangat dekat, seperti saudara," jawab Iago akhirnya.

"Teman?" Stella menaikkan alisnya, membentuk lengkungan yang sempurna. "Kau tahu di mana ia sekarang? Mungkin bisa kujadikan kenalan."

"Tidak. Kami kehilangan kontak."

"Putri," Garron menyela lagi, suaranya sekarang lebih mendesak. "Kita sudah terlambat. Pencarian harus dilanjutkan."

"Kau benar, Garron." Stella memutar tubuhnya, kain gaunnya berputar, tapi pandangannya yang terakhir masih tertahan pada Iago. "Tapi pencuri seperti Sang Bayangan takkan muncul di siang terang benderang begini, bukan, Iago?" Ia tersenyum tipis.

"Ya, biasanya pencuri bekerja di malam hari karena lebih sepi."

"Tepat." Dia berbalik sepenuhnya. "Ayo, Garron! Waktu kita terbuang untuk kecurigaan yang salah!"

Sebelum kereta bergerak, Stella menoleh sekali lagi dari jendela. Angin pagi meniup rambutnya, membingkai wajahnya yang pucat dan tegas di bawah bayangan kanopi kereta. Matanya menatap Iago dengan tatapan yang dalam. "Selamat tinggal, Iago Verbal! Kuharap kita bertemu lagi!"

Kereta mulai bergerak, meninggalkan Iago sendirian di tengah kerumunan yang kembali ramai.

Kenapa dia ingin bertemu lagi? pikir Iago, sambil memasukkan tangan ke saku celananya, merasakan kain kasar dan beberapa koin dingin di dalamnya.

Putri yang mengalahkan Organisasi IV, ya? Ia mengulang kalimat itu dalam kepala, dan sesuatu di sana menarik benang yang salah, membuka ingatan yang sudah lama ia lipat rapi.

Tiba-tiba, ia mengingat cerita kasus "Pembunuh IV" yang dilakukan oleh Organisasi IV. Seribu nyawa melayang dalam gelap, mayat-mayat yang ditemukan dengan pola yang aneh. Dalangnya, seorang pria berambut perak yang dikenal sebagai Alarion Varek, dieksekusi di tiang gantung dengan teriakan terakhir yang menggema di alun-alun: "Kalian semua salah!"

Sebagian percaya itu adalah pengakuan palsu orang gila, sebagian yakin dengan gemetar bahwa ada dalang lain. Cerita itu masih bergulir di lidah rakyat, dibisikkan di malam hari, seperti lagu nina bobo yang menyeramkan yang tak pernah usai.

Setelah beberapa saat berjalan, Iago akhirnya menemukan penginapan murah di lantai dua sebuah bangunan kayu yang reyot, kamar pojok dengan jendela kecil menghadap pepohonan yang menutupi pemandangan. Ia melemparkan tas kainnya yang tipis ke lantai kayu yang berdebu dan pecah-pecah, menghasilkan bunyi thud. Lalu merebahkan diri di atas kasur.

Kasur kapuk tua itu langsung mengeluarkan bunyi creak yang keras di bawah berat tubuhnya, per-pernya yang keras protes dengan setiap gerakan. Angin sore yang hangat menerbangkan tirai tipis dan berlubang-lubang, membawa aroma tanah lembab dan bunga liar yang manis.

Akhir-akhir ini selalu ada perasaan aneh, pikirnya, menatap langit-langit kayu yang retak dan dihiasi sarang laba-laba. Aku sendiri bahkan tak tahu ini baju siapa. Orang tua angkatku... Mereka bilang aku sudah berpakaian seperti ini saat mereka menemukanku pingsan.

Jam berjalan dengan malas, dan kemalasan yang berat menahannya di tempat tidur. Hawa panas siang mulai menyengat, mengubah kamar kecil itu menjadi tungku pengap. Keringat mulai berkumpul di pelipisnya, menetes pelan di sisi wajahnya, terasa asin dan lengket ketika ia menjilatnya.

"Panas sekali... Aku ingin sesuatu yang dingin."

Ia mengenakan mantel abu-abu lusuh yang selalu ia bawa. Tambalannya berjumlah lima—tiga di lengan kiri, dua di dada—ia pernah menghitungnya suatu malam yang sangat sunyi. Kemudian ia turun melalui tangga kayu yang berderit dan berjalan keluar, menyelam kembali ke lautan kota.

Kakinya membawanya berjalan tanpa tujuan khusus, mengikuti hidung, mengikuti kebisingan, sampai akhirnya ia terdampar di depan sebuah pintu kayu berat.

Kedai "Kuda Hitam" sepi dan berbau saat ia masuk. Lantai kayunya yang lapuk berderit di setiap langkah, baunya campuran bir basi yang masam, abu rokok yang pahit, dan keringat tua yang menyengat. Iago memesan sari apel dingin. Cairan keemasan itu terasa manis dan asam sekaligus, menyegarkan kerongkongan yang kering, membuat lidahnya yang lesu terasa hidup kembali dengan ledakan rasa.

Tapi tengkuknya meremang, bulu kuduknya berdiri. Ia merasa diawasi. Empat pria tua duduk di sudut gelap, sedang bermain kartu remi, namun mata mereka yang keruh menyelidik.

Setelah gelasnya kosong, meninggalkan jejak lingkaran basah di meja kayu yang berminyak, Iago membayar dengan koin yang berdentang nyaring dan pergi. Langkahnya menyatu dengan irama pasar yang sedang sekarat—dentang perkakas besi yang dikemas, teriakan penawaran terakhir yang berubah jadi gumaman serak dan putus asa.

Perasaan diawasi itu tidak ikut pergi.

Saat ia menyusup ke mulut sebuah gang sempit yang tersembunyi di antara dua bangunan tinggi, segala suara pasar itu terpotong bagai teriris pisau, ditinggalkan di dunia lain. Yang tersisa hanyalah gema sepatu botnya sendiri yang memantul dari dinding batu lembap yang ditumbuhi lumut hijau gelap.

Lalu, ada ritme asing yang memecah kesendiriannya. Lebih berat. Lebih banyak. Lebih berbahaya. Lima pasang kaki yang berderap di belakangnya, mengisi ruang sempit dengan ancaman.

Iago tidak menengok. Ia tak perlu. Empat pria besar dengan postur seperti pentungan, bahu lebar dan langkah berat, dan satu sosok lain di belakang yang langkahnya lebih terukur.

"Berhenti!"

Teriakan itu mengoyak kesunyian gang, kasar, basah, dan penuh amarah.

Derap di belakangnya berubah menjadi tumbukan keras dan cepat terhadap batu. Iago membalas dengan mempercepat langkahnya sendiri, napasnya mulai membentuk awan pendek dan panas di udara dingin gang, dan di dalam sangkar tulang rusuknya, jantungnya memukul-mukul penjara dagingnya dengan ritme panik.

Satu hal yang ia tahu pasti: ibu kota ini menyambutnya jauh lebih ramai dari yang ia rencanakan.

1
kenzi moretti
saya senang karena membaca novel ini sebagai bacaan pertama di platform ini. novel ini sangat bagus. kalian mau baca novel dari segi apa? plot? character? worldbuilding? action? gaya bahasa yang bagus? semuanya ada di sini.

tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.

novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.

tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.
Kaelits: okay, kenzi. aku lg banyak tugas sekolah. cuma novel ini gak bakal nge gantung kok.
total 3 replies
kenzi moretti
wahh gak expectt...
kenzi moretti
bab ini gelap bgt. tapi bab ini akhirnya memberikan flashback keluarga iago. adegan di pegunungan yang muncul di bab 2 pun dilanjutkan. keren thor👍
Kaelits: makasihh
total 1 replies
kenzi moretti
siapa ini?? salah satu penasihat gereja cahaya kahh? hmm...
kenzi moretti
apakah klo iago menerimanya maka dirinya yang sekarang akan lenyap dan digantikan iago lama?🤔
rinn
pantas aja ayahnya stella gak kelihatan dari awal
rinn
gacorr otto🔥
rinn
gilaa plot twist-nyaaa
rinn
sumpah gelap bgt ceritanya thor/Cry/
rinn
kasian juga eliana
rinn
akhirnya mereka bertemu kembali🔥
rinn
hmm, apakah pria tua ini synel?
rinn
nyesek bgt baca bab ini/Sob/
rinn
huhuu/Cry/
rinn
aww gentle man bgt otto😍
rinn
ahahaha kasian otto
rinn
wah licik bgt gereja cahaya
kenzi moretti
🥶
kenzi moretti
kejam kali bab ini thor😢
kenzi moretti
astaga😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!