NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1 — Lagu dari Ruang 13

Udara sore itu begitu lembap ketika Dimas Brawijaya turun dari mobil dan menatap bangunan tua di depannya. Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat berdiri dengan cat mengelupas, kaca kusam, dan lorong-lorong yang tampak menyimpan terlalu banyak cerita. Tidak ada angin, namun dedaunan bergemerisik pelan, seperti bisikan yang datang dari masa lalu.

Dimas menarik napas panjang. Tangannya sedikit bergetar saat ia menggenggam map berisi data pasien anonim yang diminta seorang perawat untuk ia lihat nanti. Tapi bukan itu tujuan utamanya datang ke tempat ini. Telepon dari seseorang bernama Sania—perawat yang baru beberapa bulan bekerja—telah membuat dadanya sesak seharian.

“Ada seorang pasien perempuan yang terus memanggil nama yang sama selama tiga minggu terakhir,” kata suara perempuan itu di telepon, terdengar ragu. “Dia memanggil… Dimas. Dimas Brawijaya.”

Nama itu, nama yang selama dua puluh tahun tidak pernah ia dengar dari siapa pun selain dirinya sendiri dan Digo, kakak kembarnya. Sejak tragedi yang merenggut keluarga mereka, hanya mereka berdua yang bertahan, dan satu nama lagi yang tak pernah muncul lagi dalam jejak kehidupan: Aluna.

Aluna Brawijaya. Adik mereka yang hilang setelah pembantaian itu.

Dimas menelan ludah. Kakinya melangkah masuk ke gedung itu, disambut bau obat kimia bercampur udara basi yang tidak pernah benar-benar melewati ventilasi dengan baik.

Sania menemui Dimas di ruang tunggu. Perempuan muda itu—mungkin awal dua puluh—tersenyum sopan, namun tampak gugup.

“Mas Dimas?” tanyanya.

Dimas mengangguk. “Benar. Bagaimana kondisi pasien itu?”

Sania menatap lantai sejenak. “Dia… tidak pernah berbicara jelas. Tapi dia bernyanyi. Lagu yang sama. Setiap hari, setiap malam. Dan beberapa kali… dia menyebut nama ‘Dimas’ dan ‘Digo’. Saya tidak yakin, tapi… mungkin Anda perlu melihat sendiri.”

Tanpa menunggu jawaban, Sania mempersilakan Dimas mengikutinya menyusuri lorong panjang. Lampu neon di atas mereka kedap-kedip, memantulkan bayangan bergerigi di lantai. Semakin jauh mereka berjalan, semakin sunyi suasana, seolah setiap langkah membawa mereka ke tempat yang terpisah dari dunia luar.

Di ujung lorong itu ada sebuah pintu besi berlabel RUANG 13.

Sania berhenti. “Dia ada di dalam.”

Dan sebelum Sania membuka pintu, suara itu terdengar.

Suara lembut, kecil, seperti anak perempuan yang berusia sembilan atau sepuluh tahun.

"Kupu-kupu terbang… sayapnya tiga…

Satu hilang malam itu… satu jatuh di jurang…”

Dimas membeku.

Suaranya… suara itu…

Ia pernah mendengarnya. Dua puluh tahun lalu. Di teras rumah lama mereka, ketika Aluna kecil duduk di pangkuan ibu sembari menggambar.

Sebuah lagu ciptaan mereka bertiga.

Tumit Dimas melemah, dan ia terpaksa bersandar pada dinding.

Sania menatapnya, khawatir. “Mas tidak apa-apa?”

“Buka pintunya,” ucap Dimas lirih.

Sania menelan ludah, lalu memutar kunci.

Pintu terbuka.

Ruangan itu sempit—hanya sebuah ranjang kecil, meja besi, dan lampu redup. Tapi seluruh dindingnya penuh tulisan. Tulisan dengan spidol hitam, goresan-goresan kasar seperti dibuat oleh tangan yang gemetar.

Nama-nama yang sudah lama hilang dalam waktu.

DIMAS.

DIGO.

LIANA.

DANIEL.

MARCO.

Dan di sela-sela itu, satu kata besar, berulang-ulang, memenuhi setiap inci kosong dinding:

PEMBUNUH

PEMBUNUH

PEMBUNUH

Dimas terpaku. Dadanya serasa diremas sesuatu yang tak terlihat. Kata itu menancap dalam kepalanya seperti belati yang diangkat kembali setelah dua puluh tahun tertancap.

Di pojok ruangan, seorang perempuan rambut panjang duduk berlutut sambil menghadap dinding. Tubuhnya kurus, bahunya berguncang kecil saat bernyanyi. Tangan kanannya menggenggam sesuatu yang berkilat di bawah cahaya redup.

Bros perak berbentuk kupu-kupu.

Bros yang Dimas sendiri berikan pada Aluna di ulang tahunnya yang ketujuh.

Bros yang hilang pada malam pembantaian keluarga mereka.

Dimas merasakan seluruh tubuhnya bergetar. “A… Aluna?”

Perempuan itu berhenti bernyanyi. Perlahan, ia menoleh. Rambutnya terurai kusut, menutupi sebagian wajahnya. Kedua matanya merah, seperti seseorang yang telah kehilangan dunia berkali-kali.

Tatapan itu kosong, namun ketika melihat wajah Dimas, pupilnya melebar—seakan sesuatu dalam dirinya mencoba menembus kabut gelap yang membungkus pikirannya selama dua puluh tahun.

Ia membuka mulutnya.

“S… si… sayap ketiga…” bisiknya.

Dimas melangkah mendekat, lututnya lemas. “Aluna… aku Dimas. Kakakmu.”

Aluna menggenggam bros kupu-kupu itu lebih erat, suaranya retak namun penuh ketakutan. “Jangan… dia lihat… dia lihat… jangan bilang…”

Dimas menahan napas. “Siapa yang lihat? Aluna, katakan.”

Aluna menggeleng cepat, panik, lalu merayap mundur ke pojok, menutup telinganya sambil berteriak pelan, “Jangan bilang… jangan bilang… pembunuh… pembunuh… pembunuh…”

Sania masuk cepat dan memegang bahu Dimas. “Mas Dimas, mungkin lebih baik—”

“Tunggu.” Dimas mengangkat tangannya, mencoba tetap tenang meski hatinya pecah. “Aku hanya ingin melihat adikku.”

Untuk pertama kalinya sejak ruangan itu terbuka, Aluna berhenti menjerit. Tubuhnya melemah, dan ia duduk terkulai sambil menggumamkan lagu yang sama.

"Kupu-kupu terbang… sayapnya tiga…

Satu hilang malam itu…”

Dimas memejamkan mata.

Sayap itu—sayap yang hilang—adalah keluarganya.

Dan Aluna adalah satu-satunya saksi yang tersisa.

Ketika ia membuka mata lagi, ia tahu: hidupnya tidak akan pernah sama. Sebab jawaban atas tragedi keluarga Brawijaya… masih tersembunyi di balik dinding bertuliskan satu kata itu.

PEMBUNUH.

Dan seseorang di luar sana masih hidup.

Mungkin mengawasi.

Mungkin menunggu.

Dan Dimas baru saja membuka kembali pintu menuju neraka yang telah mengubur mereka dua puluh tahun lalu.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!