🖊SEQUEL MENIKAHI SUAMI TIDAK NORMAL.
Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML001~Ziya
"Na na na~" kaki milik gadis kecil itu melangkah agak cepat diselingi lompatan kecil, mulut mungilnya bersenandung ria dengan tangan yang menenteng kantong plastik berisi beberapa buah ice cream.
'Gukkk! Gukkk!' suara anjing terdengar tidak jauh darinya, gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati seekor anjang dengan tali terlepas sedang menggonggong dan menatap ke arahnya.
Sontak ia terkejut dan spontan berlari kecil.
"Tolong!" teriaknya, sialnya para tetangga sepertinya sibuk semua.
"Huwaaaaa dasar anjing nakal!!!"
Matanya membulat saat kakinya tersandung, tidak sempat mengimbangi tubuhnya, ia pun jatuh tersungkur ke aspal, ia memejamkan mata, terpikir olehnya mungkin anjing dibelakangnya akan menggigitnya sekarang juga.
Gadis kecil ini bernama Ziya Ameera, imut, lucu, menggemaskan dan periang, tidak jauh berbeda dengan Alena, sebagai anaknya tentu ia mewarisi keras kepala dari Ibunya itu.
"Mama, tolong aku!" pintanya dalam hati. Ziya mengerjap beberapa kali saat mendengar suara anjing itu mulai menjauh.
"Kamu tidak apa-apa?" terdengar suara berat milik seorang laki-laki berusia 40 tahunan. Ziya dibantu berdiri.
"Makasih ya om. Ziya nggak apa-apa." kata Zia sembari menjawab pertanyaan dari pria yang membantunya.
"Hmm, lututmu lecet, Om bantu obati ya?" bujuknya.
Ziya diam sejenak, teringat pesan Ibunya agar tidak akrab dengan orang asing, Ziya pun memilih menolak bantuan pria itu.
"Makasih Om, Ziya nggak apa-apa kok, ini lukanya nggak sakit." tolaknya.
"Nanti iritasi, kamu jangan takut ya."
"Om nggak akan culik aku kan? Kata Mama kalau sama orang asing nggak boleh deket-deket, nanti diculik."
Pria yang menolongnya tidak lain adalah Pak Alex, ia terkekeh pelan. Sorot matanya tidak dapat disembunyikan, tersirat sesuatu saat melihat wajah imut Ziya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, tunggu sebentar ya, Om ambil Hansaplast untukmu."
Tidak berselang lama Pak Alex memberikan beberapa lembar Hansaplast pada Ziya.
"Ini aku bayar berapa Om? Kata Mama, Ziya nggak boleh minta-minta."
Ziya merogoh saku celananya.
"Ini, Ziya ada uang," kata Ziya sembari menyodorkan selembar uang dengan nominal Lima puluh ribu.
Pak Alex terkekeh, ia hendak memegang pundak Ziya, namun Ziya langsung sedikit menghindar.
"Om mau culik Ziya, ya?" tanyanya dengan raut wajah yang mulai menegang.
"Bukan, Om bukan orang jahat. Ini tidak usah dibayar."
"Sungguh?" tanya Ziya yang mulai tenang kembali.
"Iya. Mau Om antar pulang?"
Ziya menggeleng karena masih ingat pesan Ibunya.
"Rumah aku udah deket, Om. Makasih lagi ya."
Pak Alex tersenyum.
"Wajah kamu cantik sekali, membuat Om ingat pada seseorang, wajahmu tidak asing di mata Om."
"Makasih, Om. Aku memang cantik, hehe."
"Mama kamu pasti juga sangat cantik."
Ziya menghela napas, seolah ingin menyangkal tebakan Pak Alex.
"Papa, kenapa lama sekali?" seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Ziya tiba-tiba muncul sambil menekuk wajahnya.
Pak Alex menoleh.
"Iya, sebentar."
"Ini siapa?" tanya anak itu sambil menatap Ziya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kenapa liat aku kayak gitu?" tanya Ziya yang merasa diejek.
"Kenapa memangnya? Aku kan punya mata."
Ziya mendengus sebal.
Pak Alex menengahi kedua bocah yang sepertinya akan segera berkelahi, Ziya pun memilih pergi sembari menjulurkan lidah pada bocah laki-laki tersebut.
"Papa, lihat itu! Dia mengejekku." rengeknya.
Pak Alex hanya tertawa kecil, tawanya memudar saat menatap Ziya yang berlari.
"Anak itu kini benar-benar mirip Alena." gumam Pak Alex.
"Papa, ayo ke toko buku sekarang!"
"Iya,"
Pak Alex menggandeng anak itu, mereka segera masuk ke mobil dan pergi ke lokasi yang dituju.
○
○
○
Sesampainya di rumah, terlihat Alena sudah berdiri di teras rumah menanti kedatangan Ziya, melihat batang hidung puterinya yang sudah nampak, ia langsung berkacak pinggang.
"Hehe, Mama."
"Bagus ya, Mama tinggal olahraga kamu malah keluar nggak izin sama Mama."
"Maaf, Ma."
Alena melirik ke arah kantong plastik di tangan Ziya.
"Es krim lagi??"
Ziya hanya tersenyum.
"Terakhir ya, Ziya udah habis lima es krim siang ini, kalau nanti di ulangi, Ziya Mama hukum." ancam Alena.
"Iya, Ma. Janji."
"Bagus. Mana es krimnya."
Dengan berat hati Ziya menyerahkan kantong plastiknya pada Alena.
"Beli lima biji? Ziyaaaa, astaga."
Alena mengeluarkan satu Es krim dan langsung membuka bungkusnya.
"Wah Mama bukain Es krim buat aku," batin Ziya.
Senyum Zia pudar saat melihat Ibunya melahap Es krim miliknya di depan matanya langsung.
"Mama ihhhh!"
Alena terkekeh, ia langsung berlari, tentu Ziya mengejarnya.
"Mama, itu Es krim aku!"
...----------------...
Lelah berlarian, Alena dan Ziya duduk di meja makan sambil menikmati dingin dan segarnya Es krim yang Ziya beli tadi.
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
Alena terdiam sejenak.
"Gimana penampilan om itu?" tanya Alena.
"Emmmm, tinggi dan tampan, emmm wangi juga. Tapi anaknya jelek dan nyebelin."
Alena tertawa kecil.
"Siapa yang ngajarin kamu bilang orang lain jelek, hah?" tanya Alena.
"Dia kayaknya jahat. Kan kata Mama kalau orang jahat itu jelek." jawab Ziya dengan santai, jawaban anaknya langsung membuat Alena menepuk jidat.
"Oh iya, besok Ziya jadi sekolah kan, Ma?" tanya Ziya dengan begitu semangatnya.
"Jadi dong, malam ini nggak boleh tidur malem."
Ziya mengangguk pelan.
"Mama nggak bolehin Ziya tidur malem biar nggak liat Mama nangis ya?" tanya Ziya.
Pertanyaan Ziya membuat Alena merasa sedih.
"Anak Mama yang cantik, kamu nggak boleh tidur malem itu supaya nggak kesiangan, emang Ziya mau terlambat sekolah?"
Ziya spontan menggeleng.
"Besok Ziya udah kelas satu SD, nanti punya teman-teman baru, ingat pesan Mama, Ziya nggak boleh nakal, nggak boleh ganggu teman, dan apa?"
"Nggak boleh main keluyuran." sambung Ziya.
"Pinter..."
"Oh iya, kapan kita ke Papa?" tanya Ziya, Alena menghela napas.
"Ziya kangen lagi ya?"
Ziya mengangguk cepat, es krim ditangannya pun sudah lenyap, hanya tersisa cup dan sendoknya saja.
"Emmm nanti sore deh kita kesana."
Ziya kembali mengangguk tanda setuju.
"Sekarang Ziya mandi, habis itu tidur siang."
"Iya. Tapi nanti agak lama ya di Papa, Ma."
Alena mengangguk, dielusnya kepala Ziya dengan lembut, Alena menatap Ziya dengan tatapan sendu. Takdir seolah memintanya untuk selalu merasakan pahitnya hidup, tanpa bisa ia menolak, ia hanya bisa menerima dengan lapang dada.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin