Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan pertama.
Hai, nama ku Briana Thea Elora aku anak bungsu dari tiga bersaudara.Pagi ini aku bangun lebih awal karena hari pertama aku masuk sekolah di SMA Pertiwi sekolah yang lumayan elit dan mahal. Aku pun segera turun ke lantai bawah untuk sarapan.
"Tumben bangun pagi, " ucap seorang perempuan yang tak kalah cantik dari aku.
Ya dia Kakak pertama ku bernama Kanaya Thea Elora nama belakangnya sama sepertiku dia baru saja menikah dengan pria pilihannya sendiri bernama Indra Bara Saputra bos sebuah restoran yang cukup besar di kota kami.
"Eh anak papa udah sarapan aja, " ucap papa ku yang baru turun dan langsung duduk setelah mengusap kepalaku.
Papa ku bernama Arman Baskara Elora , dia bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai manajer keuangan.
"Ya kan pertama masuk sekolah jadi harus pagi dong pa, " balas mama yang baru keluar dari dapur.
Mama ku bernama Sukma Ayu dia memiliki sebuah toko bunga jadi dia tidak hanya ibu rumah tangga tapi memiliki kesibukannya sendiri.
"Abang gak sarapan ma, " ucap abang ku yang baru turun lalu pergi.
"Tunggu aku bang, " panggil ku lalu mengejar bang Rian kakak kedua ku. Aku pun langsung berlari setelah menyalami kedua orang tua ku.
"Hati-hati sayang, " teriak mama.
"Iya ma, " jawab ku dengan berteriak juga.
Aku pun berangkat bareng abang ku yang akan pergi kuliah karena saat ini bang Rian masih kuliah semester terakhir. Namanya Brian Ibrahim Elora.
Semua nama kami belakangnya ada Elora karena mengikuti nama papa. Aku pun tiba di sekolah dan aku langsung turun.
"Ni helmnya, " aku menyerahkan helm pada bang Brian.
"Jangan nakal, jangan mikirin cowok tapi belajar, " ucapnya menasehati ku.
"Dih, perasaan situ deh yang tiap hari pacaran, " balas ku.
"Gue udah gede lo masih kecil, " balasnya lalu pergi begitu saja.
Aku pun masuk dan hampir semua sudah datang. Kami di kumpulkan di sebuah lapangan dan upacara pembukaan pun di mulai. Kami di bagi kelas lalu di bingbing oleh anggota OSIS untuk pengenalan sekolah. Acara itu berlanjut selama empat hari dan hari terakhir adalah acara pengenalan ekstrakulikuler sekolah. Semua siswa baru di kumpulkan di sebuah lapangan dan satu persatu ekstrakulikuler tampil . Aku yang dari awal memang tidak terlalu minat untuk mengikuti salah satunya. Aku pun cuek dan tidak terlalu memperhatikan. Karena bosan aku pun mencari tempat yang menurutku tenang. Namun di koridor tiba-tiba seseorang menabrak ku membuat aku terjatuh.
"Aduh, " ucap ku lalu membersihkan tanganku dan hendak bangun. Namun tiba-tiba sebuah tangan hendak membantu ku membuat aku mengangkat wajah ku melihat siapa orang itu.
Aku yang di buat terdiam oleh ketampanan seorang pria dengan senyuman manisnya.
"Kamu gak apa-apa kan? " tanya nya membuat aku tersadar dari lamunan.
"Aku gak apa-apa kok, " jawab ku lalu bangun.
"Maaf aku lagi buru-buru, kalau ada apa-apa cari aja aku di anggota team basket, " ucapnya lalu pergi dan aku hanya diam saja kaya orang bego yang baru melihat cowok ganteng.
Aku pun melanjutkan jalan ku namun malah ketemu anggota OSIS.
"Kamu mau kemana?, orang lain di lapangan, " tanya nya dengan ketus.
"Mau ke toilet kakak mau ikut? " jawab ku berbohong.
"Ya udah kalau selesai cepat kembali ke lapangan, " ucapnya lalu pergi.
Aku pun akhirnya kembali ke lapangan mau gak mau aku harus ikut kumpul juga.
"Sekarang giliran team basket, " pengumuman di depan.
Entah kenapa tiba-tiba aku penasaran sama penampilan mereka. Setelah selesai mereka berbaris dan mulai mengenalkan nama-nama mereka.
"Itukan cowok yang tadi, " gumam ku saat melihat sosok pria di depan.
"Haidar, Haidar, " teriak cewek-cewek entah manggil yang mana karena menurut ku cowok di team basket pada oke.
"Nama saya Haidar saya ketua team basket SMA Pertiwi, " ucap cowok yang tadi bertabrakan dengan ku.
"Oh jadi namanya Haidar pantes banyak fansnya ganteng gitu, " ucap seorang cewek di sampingku entah siapa.
Penampilan ekstrakulikuler basket adalah yang terakhir dan setelah itu semua murid di perbolehkan untuk istirahat. Namun entah kenapa tiba-tiba kakiku terasa sakit bahkan untuk jalan pun sakit. Aku pun memutuskan untuk diam saja tidak pergi kemana-mana karena kaki ku sakit.
"Cowok tadi ganteng juga, " gumam ku sambil terus melihat ke arahnya karena saat ini dia sedang membereskan bola bekas penampilan tadi.
Tiba-tiba sebuah bola menggelinding ke arah ku.
"Hey tolong lempar kesini, " pinta salah satu dari mereka namun aku hanya diam saja toh jaraknya masih lumayan jauh dan kaki ku gak mungkin untuk di pakai jalan.
"Dih tuh cewek gak dengar apa pura-pura gak dengar, " ucap salah satu dari mereka.
Aku pun yang gak mau cari masalah akhirnya mencoba bangun dan berjalan ke arah bola dengan kaki pincang karena sakit. Aku pun melemparkan bola itu lalu duduk kembali sambil memijit kaki yang sakit.
Sebuah botol minum di sodorkan di depan wajah ku membuat aku melirik siapa orang yang ada di hadapan ku.
"Buat kamu, " ucapnya dan aku pun mengambilnya.
Cowok itu langsung jongkok dan hendak memegang kaki ku namun aku langsung menariknya.
"Kaki kamu sakit kan?, apa karena tabrakan tadi? " tanya nya.
Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan karena bingung juga.
"Sudah kamu buka aja sepatunya biar aku lihat, " ucapnya dan aku pun mengikuti perintahnya.
Dia pun mulai memeriksa kaki ku lalu di pijitnya membuat aku menahan sakit.
"Kaki mu hanya kekilir, nanti juga sembuh, " ucapnya dan aku hanya mengangguk lalu dia pergi.
Setelah di pergi aku mencoba bangun dan ternyata lumayan gak terlalu sakit bisa lah buat jalan dari lapangan ke depan karena nanti pulang aku minta di jemput sama abang. Penutupan acara pun di mulai dan semua siswa di bagi kelas agar hari senin tinggal masuk kelas. Semua siswa sudah bubar dan aku duduk di halte bus menunggu bang Rian jemput. Satu persatu semua orang sudah pergi dan tinggal aku yang masih duduk santai. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan ku dan aku tau siapa.
"Lama amat sih? " tanya ku kesal sambil memukul bang Rian.
"Lah gak lihat tuh jalanan macet, " balasnya sambil nunjuk ke jalan.
"Bukannya lo pembalap, " ucap ku.
Bang Rian memakai helm padaku setelah selesai aku pun hendak naik namun tiba-tiba sebuah motor melaju di depan ku dengan kecepatan lumayan tinggi.
"Siapa? " tanya bang Rian.
"Mana aku tau, " jawab ku lalu memeluknya.