Setelah mendapatkan informasi dari Jimy. Kakek Surya mulai menyusun rencana agar Kyara menyetujui keinginanannya untuk menikah dengan cucunya— Gerry. Walau Kakek Surya tahu, akan sangat sulit untuk Kyara menyetujuinya. Apalagi wanita itu belum mengenal dirinya dan Gerry.
Seringaian licik nampak jelas di raut wajah tuanya ketika mendapatkan ide yang pasti akan disetujui Kyara. Walau hanya sekilas melihat wajah Kyara, tetapi Kakek Surya sangat yakin dengan pilihannya. Ditambah lagi dengan sedetail informasi dari Jimy tentang kehidupan Kyara. Kakek Surya bertambah yakin jika Kyaralah wanita yang pantas untuk disandingakan dengan cucunya—Gerry.
***
Kyara mengelap peluh yang semakin bercucuran di dahinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Kyara baru saja selesai mengerjakan pekerjaan yang terbengkalai oleh teman sesama OBnya. Kyara tahu, jika teman-temannya itu sengaja melimpahkan banyak pekerjaan kepadanya untuk menyiksa dirinya. Tetapi Kyara tak memepermasalahkannya. Selagi tubuhnya masih sanggup mengerjakan, maka Kyara akan mengerjakannya. Lagi pula, dibandingkan harus ribut dengan rekan kerjanya yang berujung dengan dirinyalah yang tetap disalahkan. Kyara lebih memilih diam dan bersabar.
"Baru pulang, Non?" tanya satpam petugas penjaga malam.
Kyara menampakkan senyum manisnya sebelum menjawab. "Iya, Pak. Kya pamit pulang dulu ya, Pak!"
Satpam itu mengangguk. "Hati-hati di jalan ya, Non!"
Kyara mengangguk mengiyakan dan mulai membawa kaki jenjangnya berjalan melewati pagar perusahaan Bagaskara Corp.
***
Kyara tak hentinya memandang kendaraan yang berlalu lalang disekitarnya. Pemandangan yang setiap harinya selalu menjadi teman penghantar perjalanannya pulang menuju kos—tempatnya tinggal. Terkadang terbesit keinginan Kyara untuk membeli kendaraan roda dua yang bisa mempercepat langkahnya untuk sampai ke tempatnya bekerja sehingga ia tidak takut lagi terlambat sampai ke perusahaan.
Mengingat kembali kondisi keuangannya yang semakin menipis, Kyara segera menggelengkan kepalanya mengusir rasa keinginannya. "Menggunakan kaki saja sudah cukup. Jika membeli kendaraan lagi, uang tabunganku bisa-bisa terkuras habis." gumamnya seraya mengibaskan tangannya disekitar wajahnya yang terasa cukup panas.
Kyara mempercepat langkah kakinya ketika melihat ke atas langit yang sudah semakin gelap diikuti gemuruh. "Tolong jangan turun dulu sebelum aku sampai ke kos," pintanya pada langit yang semakin bergemuruh di atas sana. Semoga nasib baik berpihak kepadanya kali ini. Harap Kyara.
Bunyi klakson mobil yang cukup nyaring membuat Kyara yang sedang berjalan cepat terlonjak kaget. "Astaga, jantungku!" mengelus dadanya yang berdetak kencang.
Kyara menoleh ke arah klakson mobil yang masih berbunyi seakan memanggil dirinya untuk melihat ke sana. Kyara menyerngitkan keningnya dalam ketika mobil itu sudah berada tepat di sampingnya. Seorang pria yang masih terlihat bugar di usianya yang sudah senja keluar dari dalam mobil penumpang.
"Kyara?"
"Saya?" Kyara nampak terkejut ketika pria tua di hadapannya tau dengan namanya.
"Ya, kamu Kyara, bukan?"
"Bagaimana Kakek bisa tau nama saya?" Kyara masih nampak kaget dengan pria asing di depannya.
Kakek tua itu nampak tergelak. "Tentu saja, nak. Lihatlah di baju yang kamu kenakan."
Kyara melihat ke sisi sebelah kanan saku bajunya. Dan benar saja, ia melupakan jika namanya tertulis jelas di sana. "Agh, iya. Ada apa Kakek memanggil saya?" tanyanya dengan sopan.
"Masuklah ke dalam mobil saya. cuaca cukup buruk untuk kamu berjalan kaki sampai ke rumah." ucapnya seakan tahu jika wanita di hadapannya kini sedang dalam perjalanan pulang.
***
*Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 463 Episodes
Comments
E NOKS77
beli payung kan bisa kyara
2024-01-14
1
Fatah Liverpooldlian
hahhaa
2023-06-11
1
Fatah Liverpooldlian
penculikan
2023-06-11
0