Allahu Akbar Allahu Akbar..
Terdengar suara azan bersahut-sahutan dari menara mesjid dan musolla yang lokasinya berada di dekat tempat tinggal mereka.
Fikri menyudahi halaqahnya. Dia menutup kitab seraya memberi isyarat kepada salah satu santri untuk melantunkan azan dan iqamah.
Sesaat kemudian, hanya hening yang terasa. Semua khusuk menjalankan ibadah, menyembah Rabb yang menciptakan alam semesta ini.
Setelah semuanya selesai dan para santri sudah pulang, Fikri berjalan menuju dapur. Di lihatnya istrinya sedang menata meja makan.
"Ding," panggilnya. Annisa mendekat.
"Ya Kak." Sahutnya.
"Kita makan yuk."
Fikri mengamati makanan yang tersaji di meja makan. Ada sayur bening bayam dengan labu, goreng, ikan haruan goreng, jangan lupa sambal terasi dan di tambah nasi putih hangat. Sungguh menggoda selera.
Dia beruntung karena Annisa selalu tahu seleranya. Masakannya memang enak.
Lebih enak lagi karena yang masak adalah istrinya, sang pemilik wajah manis, sorot mata yang sayu dan senyuman yang sendu. Jujur dia akui, Annisa memang tak ada duanya..
****************
"Ding," panggilnya ketika mereka sudah memasuki kamar tidur.
Dilihatnya istrinya tengah duduk di sisi ranjang. Wajah itu memancarkan senyum teduhnya.
Fikri menjatuhkan tubuhnya tepat di samping istrinya.
"Hmmm ...." Wanita itu meraih tangannya dan menciumnya. Kebiasaan yang selalu di lakukan nya sejak dulu.
Fikri membalasnya dengan memeluk tubuh dan mencium keningnya.
"Ada yang mau Kakak bicarakan sama Pian, Ding." Fikri menatap wajah istrinya dalam-dalam.
Wanita itu balas menatap sendu wajah suaminya.
"Ada apa Kak?" bisiknya.
Sebenarnya dia tak tega harus mengatakan hal yang akan menyakitkan hati istrinya. Fikri menghela nafas dalam-dalam.
"Soal tamu yang datang tadi ya, Kak? Orang tua seorang santriwati Kakak yang mau menjadikan Kakak sebagai menantunya? Apakah Kakak mau minta izin pada Ading untuk berpoligami?" Pertanyaan beruntun istrinya membuat Fikri kaget.
Fikri tak menyangka istri nya mendengar percakapan mereka tadi.
Dia kembali menghela nafas dalam-dalam. Dengan berat hati dia menganggukkan kepala.
"Iya Ding. Tapi Kakak belum memberikan jawaban apapun terhadap tawaran mereka.. Kakak ingin membicarakan soal ini terlebih dulu denganmu. Apapun keputusanmu, Kakak akan terima. Karena ini menyangkut masa depan rumah tangga Kita."
"Ading bisa menolak kalo Ading tidak setuju. Lagi pula, Kakak gak ada niat untuk menikah lagi. Kalau boleh memilih, cukup Ading yang jadi istri Kakak." Fikri sambil mengelus pundak Annisa.
Annisa mengangguk pelan. Kembali di rengkuh nya tangan suaminya.
"Dari awal Kita menikah, Kita sudah membahas masalah ini, bukan? Ading rasa sudah tak ada lagi yang perlu di bicarakan." Lirih sekali suaranya.
Tapi Fikri tahu, ada yang luka jauh di dalam hatinya.
Fikri tahu, tak akan ada wanita yang mau berbagi suami dengan wanita lainnya. Tak ada seorangpun wanita yang ingin di madu. Setiap wanita hanya ingin mereka adalah satu-satunya wanita yang menjadi istri suaminya.
Annisa benar, Mereka memang sudah membahas ini jauh sebelum mereka menikah. Karena selalu ada kemungkinan pernikahan mereka bisa berubah status menjadi pernikahan poligami. Apalagi riwayat di dalam keluarga Fikri, ayah dan kakeknya memang memiliki istri lebih dari satu.
"Ya Allah, ampuni aku. Aku tak pernah berniat untuk menyakiti hati istriku. Andai aku bisa, aku ingin menghapus luka itu. Biarkan aku saja yang terluka. Jangan Annisa yang terluka." Fikri mendesah dalam hatinya.
Ada yang terasa hangat dan basah di dadanya. Annisa menangis. Isaknya terdengar lirih memenuhi suasana kamar tidur yang bercahaya temaram.
"Menangis lah, Sayang. Menangis lah malam ini sepuas Ading. Kakak akan selalu ada di sampingmu. Tapi besok, buanglah segala beban di hatimu. Dan berbahagialah. Kita masih punya banyak waktu untuk membicarakan hal ini."
"Yang penting, Ading sudah tahu masalah ini." Annisa pun terdiam.
Fikri memeluk erat-erat tubuh istrinya. Dia mengecup matanya, keningnya, pipinya, kemudian ******* bibirnya lembut. Dia menyentuh istrinya dengan segenap cintanya.
Demi Tuhan, Fikri takkan pernah sanggup mengendalikan dirinya kala bersama pemilik sorot mata sayu dan senyum nan sendu itu.
Annisa adalah candunya. Dia begitu memuja apapun yang ada di dalam diri Annisa.
Ahh.. hasrat cintanya terus menggelora. Dia menyempurnakan ibadah malamnya dalam gemuruh rasa yang berkecamuk.
************
Sejak pembicaraan malam itu, Annisa lebih banyak diam. Ia tak banyak berbicara pada suaminya. Wajahnya makin terlihat sendu.
Fikri berjanji tak hendak membicarakan masalah itu, kalau istrinya tak memulainya. Dia biarkan istrinya berpikir dengan jernih. Tanpa berada di bawah pengaruh siapapun.
" Kak," ucap Annisa suatu hari ketika mereka selesai makan siang.
"Ya Ading. Ada apa?" Fikri fokus menatap wajah istrinya..
"Malam ini Ading mau menginap di rumah Mama. Boleh gak Kak?"
Fikri menganggukkan kepala.
"Boleh dong, Sayang. Nanti Kakak antar ke rumah Mama, sekalian Kakak berangkat mengajar."
Annisa tersenyum senang.
"Makasih Kak."
Ia meraih tangan suaminya dan menciumnya. Fikri pun balas mengelus pucuk kepalanya.
"Sama-sama, Ading. Tapi Kakak harap, Kita bisa bersikap dewasa dalam menyikapi masalah di dalam rumah tangga Kita. Apapun masukan yang Pian dapat dari Mama dan Kakak Pian, Kakak harap Pian bisa berpikir jernih. Jangan pernah membuat keputusan karena paksaan dari pihak lain."
Fikri sudah bisa menebak kenapa Annisa menginginkan bermalam di rumah orang tuanya.
Secara Annisa dekat dengan ibu dan kakak lelakinya itu. Bahkan kakak lelakinya itu sudah di anggap sebagai pengganti ayahnya yang sudah tiada.
Annisa mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
"Kakak tidak perlu khawatirkan soal itu. Tenanglah." Sahutnya.
Fikri menghela nafas lega.
****************
"Apa?" Ibu tersentak kaget mendengar penuturan Annisa.
"Begitulah ceritanya, Mama," sahutnya
Annisa membaringkan dirinya di samping ibu.
"Kalo menurut Nisa gimana?"
"Nisa belum bisa menentukan sikap, Ma," ucapnya lesu.
"Kalo Nisa menolak, sama artinya Nisa minta pisah dari Kak Fikri. Dan itu aib, Ma. Apa kata masyarakat Kita nantinya? Hanya karena tak mau di madu, Nisa malah minta cerai."
"Sementara untuk menerima pun juga sulit. Tak ada wanita yang mau berbagi suami," keluhnya.
Wanita tua itu menghela nafas. Paham akan kegalauan di hati anaknya.
"Sebenarnya almarhum Abah Pian dulu juga pernah berada di posisi yang sama dengan suami Pian. Di tawari orang untuk menikahi putrinya. Tapi Abah Pian menolak," ucap ibu.
Nisa mendengarkan dengan penuh minat.
"Pian mau tahu kan kenapa Abah Pian bisa menolak hal itu?" tanya ibu.
Annisa mengangguk.
" Karena Mama memiliki perjanjian pra-nikah dengan Abah Pian, yang isinya antara lain adalah Abah Pian tidak boleh menikahi wanita lain selama Mama masih hidup dan sehat," ucap ibu.
"Emang kenapa bisa seperti itu Ma? Apakah di dalam Islam di perbolehkan melakukan perjanjian pra nikah?"
Ibu tersenyum sambil mengelus rambutnya.
"Bukan soal boleh atau tidaknya, Nak. Tapi bagaimana ke depannya Kita bisa menjalin hubungan yang baik dengan pasangan hidup kita," sahut ibu.
"Hukum poligami memang ada dan tersebut di dalam Al Qur'an. Tapi itu kan sebuah pilihan."
" Mama dulu yang meminta Abah Pian untuk menjadikan Mama sebagai istri satu-satunya, bukan karena tidak mengakui adanya hukum poligami. Tapi Mama pikir ketika di dalam rumah tangga hanya ada suami dan satu istri, itu lebih maslahat. Setidaknya untuk situasi dan kondisi saat Mama menikah dengan Abah Pian waktu itu."
"Intinya kembali kepada masing-masing orang, Nak. Pilihan ada di tangan Pian dan Pian bertanggung jawab atas keputusan yang Pian buat sendiri." Ibu kembali mengelus rambutnya.
Annisa tersenyum.
"Nisa akan berusaha membuat keputusan yang terbaik, Ma."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Juan Sastra
benar banget itu ma fikri bisa menolak jika memang tidak mau menyakiti nisa,,namun fikri sudah terlanjur di kuasai nafsu hanya dengan melihat poto saja..
2023-02-21
0
Risky Titi sarlinda
benar benar gedek aku 😁😁😁😁😁
2022-09-23
0
Ardika Zuuly Rahmadani
nyesel banget
2022-03-08
0