Terpaksa Tinggal Serumah

Beberapa saat kemudian, pintu kamar rin diketuk dari luar

Tok. Tok.

Rin mengangkat kepala. Ketukan terdengar dari pintu kamarnya. Ia tidak menjawab.

"Hei, Nona." Suara pria itu. Rin langsung mengenalinya.

"Sebaiknya kita bicara."

Rin memeluk bantal lebih erat.

"Aku akan menyelesaikan masakan untuk makan malam," lanjut pria itu.

Hening sebentar. Lalu suara Takumi terdengar lagi.

"Dan...bersihkan diri mu sebelum makan malam..!"

Rin membeku. Matanya perlahan beralih ke arah cermin di sudut kamar. Ia melihat pantulan dirinya sendiri.

Rambut panjang berantakan, wajah kusam, dan piyama yang sudah tidak jelas kapan terakhir kali dicuci. Rin menatap dirinya beberapa saat. Harga diri dan gengsinya seolah baru saja ditimpa beban seberat gunung.

Bagaimana mungkin? Penghuni baru rumah itu memang menyebalkan, tapi... wajahnya tidak buruk. Bahkan bisa dibilang cukup tampan.

Sementara dirinya? Rin menatap pantulan tubuhnya lagi. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah lama menyerah pada kehidupan.

"aku tidak ingat..." Rin mendekat ke cermin. "Sudah berapa lama aku nggak mandi?"

Ia mencoba mengingat, tetapi tidak berhasil.

Rin mengusap wajahnya. Namun, yang lebih mengganggunya justru perkataan Obaachan tadi: “Kalau dia menyuruhmu keluar, itu haknya.”

Rin menelan ludah. "Jangan sampai..."

Ia masih membutuhkan tempat tinggal. Ia belum mau pulang ke rumah orang tuanya.

Akhirnya Rin bangkit dari kasur. Ia mengambil handuk, lalu membuka pintu kamar perlahan. Kepalanya mengintip ke luar. Tidak ada siapa-siapa.

Rin keluar dengan langkah pelan, mengendap-endap menuruni tangga. Sampai di tengah tangga, ia berhenti untuk mengintip. Takumi terlihat di dapur, sedang sibuk menyiapkan makan malam.

Rin langsung melanjutkan langkahnya. Cepat. Sangat cepat.

Begitu sampai di bawah, ia berlari kecil menuju kamar mandi. Pintu ditutup.

Klik.

Rin menghela napas lega. "Selamat..."

Beberapa saat kemudian, suara gemericik air mengalir terdengar dari kamar mandi. Takumi yang sedang memasak ia sempat melirik sesaat.

"Mandi juga dia," gumam Takumi, lalu kembali fokus pada masakannya.

***

Malam semakin larut. Selesai memasak, Takumi mematikan kompor. Ia membawa dua porsi makanan ke meja makan dan menatanya dengan rapi.

Baru saja ia meletakkan mangkuk terakhir—

Pintu kamar mandi terbuka. Takumi menoleh dan seketika membeku.

Rin berdiri di sana dengan rambut basah, hanya berbalut handuk yang terlilit di tubuhnya. Takumi hanya sempat melihat sosok itu beberapa detik. Rin pun ikut membeku.

Mata mereka bertemu di udara.

Kemudian—

MATI AKU! jerit Rin dalam hati.

Ia langsung berbalik dan berlari kencang menaiki tangga. Takumi hanya bisa menatapnya bengong. Gadis itu menghilang di lantai dua dalam hitungan detik.

Takumi memijat pelipisnya " Apa yang ada di dalam isi kepala nya sih ?" Ia menghela napas.

***

Beberapa menit kemudian, Takumi sudah duduk tenang di ruang makan. Makanan di depannya masih mengepulkan uap tipis. Rumah kembali sunyi, sampai terdengar suara pintu kamar dibuka.

Krek.

Disusul derap langkah kaki dari tangga. Takumi mengangkat pandangannya.

Rin akhirnya muncul. Kali ini ia sudah mengenakan pakaian yang lebih pantas. Rambut panjangnya masih setengah basah, tetapi sudah jauh lebih rapi.

Untuk pertama kalinya, Takumi bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. Parasnya manis, meski ada sedikit kantung mata akibat kurang tidur, serta sebuah tahi lalat kecil yang menghiasi area bawah mata kanannya.

Takumi terdiam sesaat. Tidak buruk.

"Silakan makan," Takumi menunjuk kursi di depannya. "Masih hangat."

Rin hanya mengangguk pelan. Ia duduk di seberang Takumi, matanya langsung tertuju pada makanan di atas meja. Kelihatannya sangat menggugah selera.

Takumi mengambil sumpitnya. "Semua bahan makanan ini milik nenekmu."

Rin tidak banyak bicara. Ia ikut mengambil sumpit. "Itadakimasu."

Mereka mulai makan. Rin mengunyah perlahan, lalu matanya sedikit membesar.

Enak...

Ia kembali mengambil suapan berikutnya. Masakan pria ini sungguh enak. Rasanya sederhana, tapi entah kenapa mengingatkannya pada masakan Obaachan.

Sesekali Rin mencuri pandang. Takumi makan dengan tenang dan tidak terburu-buru. Cara duduknya tegak dan rapi, gerakannya teratur. Entah kenapa, dari cara makan saja Rin merasa pria di depannya seperti berasal dari latar belakang keluarga yang sangat berbeda darinya.

Tanpa sadar, Rin menghela napas.

Takumi tiba-tiba berhenti mengunyah. "Kenapa?"

Rin tersentak. "Eh?"

"Kenapa Kau menghela napas di depan ku saat makan..?"

Rin mengerutkan dahi. Apa salahnya menghela napas? Kenapa pria ini memperhatikan semuanya?

"Aku... cuma lelah," jawab Rin sekenanya.

Takumi menyipitkan mata, Ia lalu menurunkan sumpitnya. "Namaku Aku Takumi Kurosawa."

Rin ikut menghentikan gerakannya. " siapa Nama mu?" tanya Takumi.

Rin menatapnya beberapa saat. "aku .. Rin Tachibana."

"Rin Tachibana..." Takumi mengulang nama itu pelan, kemudian mengangguk. "Ya."

Tidak ada percakapan lanjutan. Mereka kembali menyantap makanan dalam diam.

Setelah selesai makan, Takumi membawa mangkuk dan piring kotornya menuju wastafel. Rin ikut mengambil peralatannya dan meletakkan mangkuk di sisi wastafel, lalu mundur selangkah.

Takumi yang sedang mencuci piring sempat melirik pergerakannya. Rin berbalik, hendak kembali melarikan diri ke lantai dua.

"Tachibana-san."

Langkah Rin terhenti. Ia menoleh.

Takumi mengeringkan tangannya. "Tadi aku bilang kita harus bicara, kan?"

Rin mengangguk kecil. "Eh... iya. Aku pikir kita sudah bicara waktu makan tadi."

Takumi menatapnya dengan mata menyipit. Kemudian pandangannya turun ke arah mangkuk kotor milik Rin yang masih berada di wastafel.

"Sebelum bicara..." Takumi menunjuk mangkuk itu. "...urus piring kotormu dulu"

Rin menatap mangkuknya. Takumi yang sudah selesai mencuci piring miliknya mengeringkan tangan dengan kain lap.

"Setelah itu aku tunggu di sofa," ucap Takumi sambil berjalan melewati Rin. "Jangan lama. Aku lelah, ingin istirahat."

Rin memandang punggung Takumi yang semakin menjauh. Kemudian matanya turun lagi menatap wastafel. Bibirnya maju beberapa senti.

"Nyebelin..." umpatnya pelan.

Namun akhirnya, Rin mulai mencuci piringnya sendiri.

Ia membilas mangkuknya sampai bersih. Ia mengeringkan tangannya pada kain lap lalu berjalan menuju ruang tengah.

Takumi ternyata benar-benar menunggunya. Pria itu duduk santai di sofa, satu tangannya menggenggam ponsel. Begitu mendengar langkah Rin mendekat, ia matikan layar ponselnya dan mengangkat pandangan.

"Duduklah. Kita perlu membicarakan beberapa hal."

Rin menghentikan langkah di dekat sofa. Entah kenapa, intonasi dan cara Takumi mengatakannya membuat Rin merasa seolah-olah sedang dipanggil masuk ke ruang kepala sekolah.

"Apa kau mau mengusirku?" tanya Rin blak-blakan.

Takumi mengernyitkan dahi. "Kenapa langsung berpikir begitu?"

"Karena aku tinggal di rumah yang kau sewa tanpa izinmu. Kalau aku jadi kau, mungkin aku juga ingin mengusir orang seperti itu."

Rin akhirnya mendaratkan tubuhnya di ujung sofa yang paling jauh, sengaja menjaga jarak aman dari Takumi.

Takumi mengamati gestur gadis itu sejenak sebelum bersandar santai. "Tadi saat bicara dengan nenek mu, kau bilang tidak bisa pulang kerumah mu..?"

Wajah Rin seketika berubah murung. "Aku memang tidak mau pulang."

"Kenapa?"

Rin menundukkan pandangannya. Jarinya sibuk memilin-milin ujung pakaian yang dikenakannya. "Aku cuma... belum mau berhadapan dengan keluargaku."

Takumi tidak mendesak atau bertanya lebih jauh. Ia bisa membaca dari garis wajah Rin bahwa gadis itu memang enggan mengungkit masalah pribadinya.

"Baik. Aku tidak akan ikut campur soal keluargamu."

Rin sedikit mengangkat wajahnya, menatap ragu.

"Tapi ada masalah lain yang harus kita selesaikan," potong Takumi lurus. "Rumah ini kusewa selama enam bulan. Aku membayar untuk seluruh rumah, bukan hanya untuk kamar di lantai bawah."

Rin mulai merasa tidak nyaman. "Jadi..."

"Jadi selama kau masih tinggal di sini, kita harus membuat beberapa aturan."

Rin memajukan bibirnya beberapa senti. "Sudah kuduga."

"Apa yang sudah kau duga?"

"Kalau tinggal di sini ternyata tidak gratis." saut Rin pelan

Takumi menghela napas pendek. "Aku tidak mengatakan kau harus membayar uang sewa tachibana-san."

Rin langsung membulatkan matanya. "Benarkah?"

"Jangan terlalu cepat senang," sergah Takumi dingin.

Rin kembali memasang raut wajah curiga. Takumi melanjutkan dengan nada tenang namun tegas.

"Aku hanya tidak ingin tempat yang kutinggali selama enam bulan berubah menjadi tempat yang tidak nyaman."

Rin mengangguk pelan. Takumi kemudian melirik ke arah tangga lantai dua. "Karena itu, ada satu hal utama yang harus kau lakukan."

Rin mengikuti arah pandangannya. "Kamar ku?"

"Ya.. Itu harus kau Bersihkan."

Rin langsung menggeleng cepat. "Aku nggak bisa."

Takumi menatapnya intens selama beberapa detik. "Nggak bisa atau nggak mau?"

"Aku bahkan nggak tahu harus mulai dari mana." Jawaban Rin terdengar begitu polos sekaligus mantap, sampai-sampai Takumi bingung harus merespons apa.

Takumi mengusap dagunya. "Membersihkan kamar bukan sesuatu yang sulit."

Takumi kembali terdiam. Entah kenapa, melihat ekspresi frustrasi di wajah Rin membuatnya tersadar bahwa gadis di hadapannya ini benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Namun sebelum Takumi sempat membalas, Rin buru-buru menambahkan, "Kalau cuma disuruh membuang sampah, aku bisa."

Takumi menatapnya datar. "Masalahnya, sampah di kamarmu mungkin sudah bisa membuangmu lebih dulu."

Rin melotot tajam. "Itu keterlaluan!"

"Kalau begitu, besok pagi aku ingin kau sudah mulai membuang semua sampah di kamar mu .."

"Besok?"

Takumi mengangguk. "Kita bersihkan kamarmu."

Rin menatapnya seolah tidak percaya. "Kita?"

"Aku akan membantumu."

Rin terpaku. Pria di hadapannya ini benar-benar aneh. Baru beberapa jam bertemu, sudah berani mengatur-atur isi kamarnya.

Tapi di sisi lain... jika Takumi memang berniat mengusirnya, pria itu tentu tidak perlu repot-repot menawarkan bantuan.

Rin akhirnya menghela napas pasrah. "Baiklah."

Takumi mengangguk puas. "Kalau begitu, masalah pertama selesai."

"Masalah pertama?" Rin kembali menatapnya penuh rasa curiga.

Takumi bangkit dari sofa. "Masih ada beberapa aturan lain yang perlu kita bicarakan besok."

Takumi melangkah santai menuju dapur untuk menuang segelas air minum.

Enam bulan.

Ia harus berbagi atap dengan pria asing ini selama enam bulan penuh. Dan baru berbicara selama beberapa menit saja... Rin sudah bisa merasakan kalau enam bulan ke depan akan berjalan sangat panjang dan menguras tenaga.

Episodes
1 Penghuni yang Tidak Seharusnya Ada
2 Laptop yang Hilang
3 Berlibur ke hokaido
4 Penghuni yang Seharusnya telah datang
5 Terpaksa Tinggal Serumah
6 Dia tuan rumahnya
7 pertemuan di restoran
8 Sepuluh Aturan Kurosawa-san
9 Poin kesepuluh
10 mengintip dari lantai dua
11 Ayah datang tiba-tiba
12 Pertemuan dengan kiba hotori
13 pertemuan kedua arashi hondo
14 pertemuan ke tiga kyo hideki
15 percakapan takumi dan kyo
16 pagi bersama kyo
17 pangilan takumi dari lapangan
18 Takumi dan makoto
19 Pertemuan di Tengah Malam
20 Pagi yang Berbeda
21 aku akan pulang cepat
22 pertemuan tidak terduga
23 Jalan-jalan ke pantai
24 jalan jalan kepantai berakhir
25 Canggung
26 ke cafe aozora
27 Rin bernyanyi
28 jalan jalan tengah malam
29 pertengkaran rin dan takumi
30 Butuh kejelasan
31 pertemuan dengan kiba di swalayan
32 pertemuan di kasir
33 1000 Alasan Rin
34 rin mabuk
35 pergi survei universitas
36 Masa lalu Rin
37 menuju pertemuan
38 bertemu kiba dipantai
39 ke cafe aozora
40 ingin putus tapi susah
41 konser kecil kecilan
42 suara merdu rin menyanyi lagu di mobil
43 Takumi berangkat
44 Telpon yang akhirnya terjadi
45 aku di nagano
46 Nagano Town Square
47 Sedih tapi ingin tertawa
48 takumi datang
49 Dijemput Takumi
50 Rumah yang berubah
51 Bicara berdua dengan ayah
52 dua sahabat lama bertemu
53 ibu terkejut
54 Pertemuan Tak terduga
55 pelukan takumi dan curahatan isi hati rin
56 pengakuan bibi maru dan bermain game bersama
57 bukan nguping tapi terdengar
58 Besok sidang ibu
59 kejutan yang mengejutkan
60 angkat telephone
61 linggis dan pria hidung belang
62 Rin pulang ke rumah
63 rahasia makoto terbongkar
64 Kyo datang berkunjung
65 Perhatian Rin Mulai terlarih
66 Rin belajar memasak
67 Tujuan berlibur
68 rencana liburan bersama
69 perjalanan dimulai
70 kedatangan di kebun apel
71 makan siang dan kebun apel
72 kepergok
73 perjalanan menuju sungai
74 bibir Rin bengkak
75 isi hati haruto
76 Digodain
77 curhatan tengah malam
78 hukuman dari takumi
79 Rin kalab
80 rin curhat
81 perjalanan pulang
82 sampai halte
83 Pagi Terakhir di Ishikawa
84 Gelang bandul apel
85 keterbukaan takumi didepan ayah rin
86 kejujuran ayah
87 makan malam bersama ayah
88 Malam Pertama di Gifu
89 antara jepang atau inggris
90 Tamu yang diharapkan datang
91 berdua dikamar
92 kemungkinan terbesar
93 Makan siang bersama
94 bicara santai pada ayah di malam hari
95 perjalanan ke rumah ibu
96 tamu ibu bikin Rin syok
97 Tamu tak terduga
98 keputusan ayah kyo dan Ibu rin
99 Pendapat Rin tentang rencana ibu
100 Nasihat takumi di aliran sungai yg jernih
101 Takumi tempat curhat rin terbaik
102 keputusan Rin untuk kuliah
103 selamat tidur rin
104 perpisahan dengan ibu
105 Temani takumi sesaat
106 perpisahan denga takumi
107 selamat jalan rin ..
108 mengantar ayah pulang
109 curhatan ayah
110 Konsultasi tugas akhir dengan takumi
111 bercanda dengan takumi diperpustakaan
112 REVISI TERAKHIR DAN KABAR BAIK DARI PROFESOR
113 HARI YANG PENUH KABAR BAIK
114 PESAN DARI JEPANG
115 SENYUM DI TENGAH PERJALANAN
116 SENYUM UNTUKKU
117 CIUMAN YANG MEMBONGKAR SEMUA NYA
118 KATAKAN SAMBIL MENATAP MATA KU
119 RIN MENOLAK MIKE
120 Dua hari menghindari perasaan nya
121 Jarak yang Tak Pernah Ada Sebelumnya
122 RAHASIA DIBALIK TELEPON
123 RINDU DI UJUNG LAYAR
124 Apartemen yang Berantakan
125 Aku Merindukanmu, Mike
126 Kita Berdamai, Mike
127 Hari yang ditunggu
128 Hasil yang Tak Terduga
129 Kabar Baik yang Kurahasiakan
130 Pesan yang Tak Terbalas
131 Malam yang Tidak Direncanakan
132 Pagi yang Dimulai dengan Nasi Goreng
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Penghuni yang Tidak Seharusnya Ada
2
Laptop yang Hilang
3
Berlibur ke hokaido
4
Penghuni yang Seharusnya telah datang
5
Terpaksa Tinggal Serumah
6
Dia tuan rumahnya
7
pertemuan di restoran
8
Sepuluh Aturan Kurosawa-san
9
Poin kesepuluh
10
mengintip dari lantai dua
11
Ayah datang tiba-tiba
12
Pertemuan dengan kiba hotori
13
pertemuan kedua arashi hondo
14
pertemuan ke tiga kyo hideki
15
percakapan takumi dan kyo
16
pagi bersama kyo
17
pangilan takumi dari lapangan
18
Takumi dan makoto
19
Pertemuan di Tengah Malam
20
Pagi yang Berbeda
21
aku akan pulang cepat
22
pertemuan tidak terduga
23
Jalan-jalan ke pantai
24
jalan jalan kepantai berakhir
25
Canggung
26
ke cafe aozora
27
Rin bernyanyi
28
jalan jalan tengah malam
29
pertengkaran rin dan takumi
30
Butuh kejelasan
31
pertemuan dengan kiba di swalayan
32
pertemuan di kasir
33
1000 Alasan Rin
34
rin mabuk
35
pergi survei universitas
36
Masa lalu Rin
37
menuju pertemuan
38
bertemu kiba dipantai
39
ke cafe aozora
40
ingin putus tapi susah
41
konser kecil kecilan
42
suara merdu rin menyanyi lagu di mobil
43
Takumi berangkat
44
Telpon yang akhirnya terjadi
45
aku di nagano
46
Nagano Town Square
47
Sedih tapi ingin tertawa
48
takumi datang
49
Dijemput Takumi
50
Rumah yang berubah
51
Bicara berdua dengan ayah
52
dua sahabat lama bertemu
53
ibu terkejut
54
Pertemuan Tak terduga
55
pelukan takumi dan curahatan isi hati rin
56
pengakuan bibi maru dan bermain game bersama
57
bukan nguping tapi terdengar
58
Besok sidang ibu
59
kejutan yang mengejutkan
60
angkat telephone
61
linggis dan pria hidung belang
62
Rin pulang ke rumah
63
rahasia makoto terbongkar
64
Kyo datang berkunjung
65
Perhatian Rin Mulai terlarih
66
Rin belajar memasak
67
Tujuan berlibur
68
rencana liburan bersama
69
perjalanan dimulai
70
kedatangan di kebun apel
71
makan siang dan kebun apel
72
kepergok
73
perjalanan menuju sungai
74
bibir Rin bengkak
75
isi hati haruto
76
Digodain
77
curhatan tengah malam
78
hukuman dari takumi
79
Rin kalab
80
rin curhat
81
perjalanan pulang
82
sampai halte
83
Pagi Terakhir di Ishikawa
84
Gelang bandul apel
85
keterbukaan takumi didepan ayah rin
86
kejujuran ayah
87
makan malam bersama ayah
88
Malam Pertama di Gifu
89
antara jepang atau inggris
90
Tamu yang diharapkan datang
91
berdua dikamar
92
kemungkinan terbesar
93
Makan siang bersama
94
bicara santai pada ayah di malam hari
95
perjalanan ke rumah ibu
96
tamu ibu bikin Rin syok
97
Tamu tak terduga
98
keputusan ayah kyo dan Ibu rin
99
Pendapat Rin tentang rencana ibu
100
Nasihat takumi di aliran sungai yg jernih
101
Takumi tempat curhat rin terbaik
102
keputusan Rin untuk kuliah
103
selamat tidur rin
104
perpisahan dengan ibu
105
Temani takumi sesaat
106
perpisahan denga takumi
107
selamat jalan rin ..
108
mengantar ayah pulang
109
curhatan ayah
110
Konsultasi tugas akhir dengan takumi
111
bercanda dengan takumi diperpustakaan
112
REVISI TERAKHIR DAN KABAR BAIK DARI PROFESOR
113
HARI YANG PENUH KABAR BAIK
114
PESAN DARI JEPANG
115
SENYUM DI TENGAH PERJALANAN
116
SENYUM UNTUKKU
117
CIUMAN YANG MEMBONGKAR SEMUA NYA
118
KATAKAN SAMBIL MENATAP MATA KU
119
RIN MENOLAK MIKE
120
Dua hari menghindari perasaan nya
121
Jarak yang Tak Pernah Ada Sebelumnya
122
RAHASIA DIBALIK TELEPON
123
RINDU DI UJUNG LAYAR
124
Apartemen yang Berantakan
125
Aku Merindukanmu, Mike
126
Kita Berdamai, Mike
127
Hari yang ditunggu
128
Hasil yang Tak Terduga
129
Kabar Baik yang Kurahasiakan
130
Pesan yang Tak Terbalas
131
Malam yang Tidak Direncanakan
132
Pagi yang Dimulai dengan Nasi Goreng

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!