"Kita mulai dalam lima menit."
Petugas humas memberi aba-aba dari balik panggung, suaranya teredam gemuruh wartawan yang sudah memenuhi ruangan sejak pagi. Adrian menatap Alena, mencoba membaca ketenangan di wajah istrinya meski tahu betul, di baliknya tersimpan kecemasan yang sama besar dengan yang ia rasakan sendiri.
"Ayah kamu udah siap?" Adrian bertanya, melirik ke arah Herman yang duduk kaku di kursi tunggu, tangannya meremas ujung jasnya berulang kali.
"Setidaknya dia keliatan lebih tenang dari kemarin," Alena menjawab, meski nada suaranya sendiri tidak sepenuhnya yakin.
Wisnu mendekat, menepuk pundak Herman pelan. "Kita lakuin ini bareng-bareng, Herman. Inget itu."
Herman mengangguk, mencoba tersenyum meski jelas gemetar menahan gugup yang luar biasa.
Konferensi pers dimulai dengan Adrian membuka pembicaraan, menjelaskan situasi hukum yang sedang mereka hadapi tanpa menyembunyikan detail penting apa pun. Setelah itu, giliran Wisnu dan Herman maju bersama ke podium, dua pria dari generasi dan latar belakang berbeda, kini berdiri sejajar menghadapi kamera yang sama.
"Tiga puluh tahun lalu," Wisnu memulai, suaranya bergetar tapi mantap, "saya memenangkan tender besar yang jadi fondasi berkembangnya Grup Mahardika. Tapi ada satu hal yang tidak pernah saya ceritakan secara terbuka—setelah kemenangan itu, saya memberikan sejumlah uang kepada salah satu anggota panitia lelang, sebagai ucapan terima kasih. Saat itu, saya menganggapnya wajar. Sekarang, saya sadar, itu adalah kesalahan yang seharusnya tidak pernah saya lakukan."
Ruangan itu hening, para wartawan mendengarkan dengan seksama, beberapa mulai mencatat cepat.
Herman melanjutkan, suaranya lebih gemetar dibanding Wisnu. "Dan saya... saya pernah menutupi kesalahan karyawan saya yang memanipulasi dokumen pengiriman barang, demi menyelamatkan reputasi perusahaan yang saat itu sedang di ambang kebangkrutan. Saya tidak melaporkannya ke pihak berwajib, dan itu adalah kesalahan besar yang saya sesali sampai hari ini…
Dipaksa Menikahi Pewaris Lumpuh Ternyata Penguasa Grup Terkaya
DUA KELUARGA BICARA DI DEPAN KAMERA
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 48 Episodes
Comments