Sepanjang sore itu, Alena tidak bisa fokus melakukan apa pun. Ia duduk di taman belakang dengan buku di pangkuannya, tapi matanya terus menerawang ke arah gerbang rumah, seolah berharap Ines tiba-tiba muncul membawa kabar baik.
"Kamu belum makan siang," Adrian mendekat dengan kursi rodanya, membawa sepiring buah potong. "Dari tadi cuma mondar-mandir mikirin Ines."
"Gimana aku bisa makan tenang, Adrian? Udah lima jam sejak dia buru-buru pergi dari kafe, dan sampai sekarang nggak ada kabar sama sekali."
"Mungkin dia emang lagi sibuk sama urusan kantor," Adrian mencoba menenangkan, meski nada suaranya sendiri tidak sepenuhnya meyakinkan.
"Atau mungkin," Alena menoleh, matanya penuh kekhawatiran, "Wirawan udah tahu soal pertemuan kita, dan sekarang dia lagi introgasi Ines abis-abisan."
Adrian terdiam, tidak bisa membantah kemungkinan buruk itu. Ia meraih tangan Alena, menggenggamnya erat sebagai bentuk dukungan meski dirinya sendiri juga diliputi kecemasan yang sama.
"Kita udah kasih dia nomor darurat, kan? Kalau dia butuh bantuan, dia bisa hubungi kita kapan aja."
"Iya, tapi kalau ponselnya disita, gimana dia bisa hubungi kita?"
Pertanyaan itu membuat Adrian ikut terdiam, menyadari betapa rapuhnya rencana perlindungan yang mereka janjikan pada Ines pagi tadi—penuh niat baik, tapi minim persiapan konkret untuk skenario terburuk.
Menjelang malam, ketegangan itu memuncak ketika ponsel Alena akhirnya berbunyi. Bukan dari Ines, melainkan nomor tidak dikenal lainnya.
"Halo?" Alena menjawab cepat, suaranya bergetar.
"Alena, ini saya, Ines," suara di seberang terdengar terengah, panik, jauh berbeda dari nada tenang yang ia tunjukkan di kafe tadi pagi. "Saya pakai ponsel orang lain, punya saya udah disita."
"Ines, kamu di mana? Kamu baik-baik aja?"
"Saya masih di kantor. Wirawan curiga, Alena. Dia tanya-tanya soal ke mana saya pergi tadi pagi, katanya ada yang lihat saya masuk mobil yang bukan mobil kantor."
Dada Alena mencelos mendengar itu. "Kamu bilang apa ke dia?"
"Saya bil…
Dipaksa Menikahi Pewaris Lumpuh Ternyata Penguasa Grup Terkaya
MENUNGGU KABAR DARI INES RASANYA KAYAK DIDUDUK DIATAS BARA
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 48 Episodes
Comments