Keheningan di dalam ruang tamu utama kediaman Montmirail terasa begitu tebal. Seolah olah waktu itu sendiri telah membeku di udara. Suara isak kesakitan Pangeran Richard dan derap langkah pengawalnya yang melarikan diri sudah lama menghilang. Kini, hanya tersisa sebuah realita baru yang jauh lebih menakutkan bagi sang penguasa rumah.
Sang Duke of Montmirail berdiri mematung. Jari telunjuknya yang kasar bergetar pelan saat menelusuri deretan angka yang tertulis dengan tinta hitam di atas kertas perkamen. Matanya yang tajam biasa digunakan untuk memantau pergerakan pasukan musuh di perbatasan. Kini, ia dipaksa untuk membaca dan memahami bahasa yang sama sekali berbeda. Bahasa akuntansi. Bahasa kapital.
Tanggal pengiriman gandum, rincian biaya perbaikan baju zirah, dan total koin emas yang dibayarkan kepada serikat dagang terpampang nyata di hadapannya. Fakta bahwa pasukannya bertahan hidup selama enam bulan terakhir bukan karena kemurahan hati Raja, melainkan karena kejeniusan putrinya, menghancurkan seluruh pandangan dunia militer konservatifnya hingga tidak bersisa.
Sang Jenderal perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap buku kas bersampul beludru biru lembut yang ada di atas mejanya. Ingatannya kembali pada siang hari tadi. Saat itu ia dengan angkuh memerintahkan para ksatrianya untuk menghancurkan gerobak etalase di depan butik Le C'eow. Ia tiba tiba menyadari sebuah ironi yang sangat menyakitkan. Karya seni yang ia hina habis habisan beberapa jam yang lalu adalah tambang emas sesungguhnya. Tambang emas yang menopang ribuan nyawa prajuritnya. Perhiasan bergaya negeri dongeng dengan paduan warna biru lembut dan ungu lembut itu, yang memiliki detail sangat ramai dan rumit, adalah fondasi utama kekuatan militer klan Montmirail saat ini. Ukiran sulur perak dan kristal yang ia sebut rongsokan pedagang jalanan ternyata memiliki ketajaman yang jauh melebihi pedang baja pasukannya. Tinta di atas kertas perkamen ini telah mengalahkan kilauan pedang di medan perang.
"Kau," S…
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita
Tunduk pada Emas
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 153 Episodes
Comments
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Sebuah pandangan yang sangat mendalam.
Cinta yang murni sering kali melampaui batas logika karena ia bergerak berdasarkan ketulusan, bukan kalkulasi untung-rugi.
Ketika seseorang merasakan cinta yang murni baik kepada pasangan, anak, sesama, atau suatu idealisme, metrik rasional yang biasanya kita gunakan untuk mengambil keputusan bisa bergeser.
Alasan mengapa logika akhirnya mengalah pada cinta yang murni.
Logika mencari keselamatan, cinta mencari pengorbanan.
Rasionalitas selalu mengarahkan kita untuk melindungi diri sendiri dan meminimalkan risiko.Namun, cinta yang murni siap menghadapi risiko, bahkan pengorbanan terbesar sekalipun, demi kebahagiaan subjek yang dicintai.
Logika menghitung, cinta menerima.
Pikiran rasional bekerja dengan sebab-akibat dan kelayakan. Sebaliknya, cinta murni menerima kekurangan dan ketidaksempurnaan tanpa menuntut hitungan yang sepadan.
Cinta menciptakan realitasnya sendiri. Apa yang dianggap "bodoh" atau "tidak masuk akal" oleh orang luar, sering kali menjadi hal yang paling masuk akal dan bernilai bagi mereka yang menjalaninya dengan ketulusan.
Namun, beberapa orang juga berpendapat bahwa bentuk cinta tertinggi justru membutuhkan sedikit logika agar tidak menjadi destruktif atau "buta"...🤭🤣😍
2026-08-28
0