Lorong belakang, sunyi, hanya langkah sesekali.
Sella pura-pura sibuk di rak linen, tapi matanya gelisah. Ia menunggu. Dion belum muncul.
Begitu Dion lewat, tak ada sapaan. Hanya tatapan yang cukup lama, cukup dalam.
Ia berhenti sebentar di belakang Sella. Napasnya hangat di dekat telinga.
Dion
Kamu dengerin voice note-ku sampai habis?
Sella tak menoleh. Tapi mengangguk.
Dion
Aku pengen lanjutinnya. Langsung. Bukan suara.
Lalu Dion pergi.
Sella tak bergerak. Tapi tubuhnya sudah terbakar.
Parkiran belakang rumah sakit.
Selepas shift pagi, 14.07
Sella baru saja membuka helm ketika ponselnya bergetar.
Dion
[14.08]
Capek?
Dion
[14.08]
Temani aku makan sebentar, yuk.
Sella
[14.10]
Boleh. Tapi jangan lama-lama. Aku bilang ke rumah cuma mau istirahat sebentar.
Warung kecil di pojok jalan belakang RS, 14.30
Mereka duduk di sudut tersembunyi. Tempat itu tenang, hanya satu meja lain yang terisi.
Dion duduk terlalu dekat. Saat tangan mereka bersentuhan mengambil gelas, tak ada yang menjauh.
Dion
Akhir-akhir ini kamu sering bilang ‘sebentar’. Tapi nyatanya kamu nggak buru-buru pulang.
Sella tersenyum kecil, pandangannya mengarah ke sendok di tangannya.
Sella
Karena kadang, aku memang nggak pengen cepat-cepat pulang.
Dion tak berkata lagi. Tapi sejak detik itu, mereka sama-sama tahu: "sebentar" akan semakin panjang.
Kamar Tidur, 21.34
Rumah sudah tenang. Suaminya baru saja selesai mandi dan langsung tertidur, punggungnya membelakangi Sella seperti biasa.
Di atas ranjang, lampu redup. Sella memegang ponselnya dengan satu tangan, membuka galeri.
Foto-foto makanan siang tadi dan satu foto lain: selfie Dion di parkiran, dikirim tanpa kata.
Sella menatap foto itu lama. Lalu jempolnya bergerak.
Sella
[21.37]
Kamu kirim itu buat apa?
Dion
[21.38]
Buat kamu. Buat nemenin kamu yang katanya gak pengen cepat pulang.
Sella menoleh ke sebelah. Suaminya masih lelap.
Ia pasang earphone, menekan voice note dari Dion yang baru saja masuk.
Dion
[Voice note] 00:19 detik.
"Kalau kamu ada di sini sekarang, aku bakal tarik kamu duduk di pangkuanku. Kamu diam aja, aku cuma mau lihat wajah kamu waktu gak harus pura-pura."
Sella menutup mata. Suaranya berbisik, tapi tubuhnya terasa gaduh.
Malam itu panjang.
Tapi yang membuatnya terjaga bukan lagi suara dengkur tapi suara lain, yang datang dari dalam dirinya sendiri.
Comments