Xiao Tian terus berlatih tanpa lelah, meski hanya seorang diri semangatnya tidak kunjung padam. Teknik pedang pemburu bukanlah sesuatu yang sulit, meski teknik tersebut merupakan kemampuan khas yang dimiliki oleh Gunung Wuyi namun bukan berarti puncak lainnya tidak mengetahuinya.
Di sisi lain, dalam ingatannya kini terpampang keterampilan teknik pedang bayangan iblis. Teknik yang mengutamakan penggabungan antara kekuatan dan kecepatan itu bukanlah milik Sekte Awan Biru, melainkan suatu keberkahan yang Xiao Tian dapatkan dari penyatuan mutiara dewa iblis di dalam dirinya.
Dengan seksama, menggunakan pedang biru peninggalan gurunya, ayunan pedang Xiao Tian menari di udara membawa ribuan bayangan pedang dari langit, meninggalkan gemuruh yang sangat menakutkan.
Meski awalnya agak kaku, namun secara perlahan gerakan tangannya mulai luwes tanpa mengurangi kekuatan yang terkandung di dalamnya. Cahaya pedang yang berputar dan berkelok indah, bergerak lincah seperti naga biru yang meliuk dengan kekuatan yang menakjubkan. Batu dan pepohonan hancur berkeping, andai saja kekuatan kultivasinya lebih tinggi maka dapat dipastikan jika lonjakan kekuatannya akan sangat mengerikan.
Hingga menjelang malam baru lah ia menyudahi latihannya, dengan napas terengah-engah dan butiran keringat yang sudah mengering, Xiao Tian memutuskan duduk bersila di tengah tanah lapang beratapkan langit.
Pada saat berikutnya, energi Qi gila-gilaan masuk ke dalam tubuhnya. Teknik Naga Merobek Langit benar-benar berbeda dengan teknik kultivasi yang sebelumnya ia gunakan, kecepatannya dalam menyerap Qi benar-benar sangat luar biasa. Hanya dalam beberapa tarikan napas, energi di dalam tubuhnya kembali terisi dengan cepat. Jika orang lain melihatnya, maka akan terjadi kehebohan serta kegemparan di dunia kultivator.
Selama beberapa hari berikutnya Xiao Tian tetap berlatih dengan keras, dengan beberapa batu energi yang ia dapatkan dari Paviliun sumberdaya dan beberapa pil, kini basis kultivasinya telah menyentuh ranah Inti Jiwa tahap akhir.
Kendati demikian, Xiao Tian tidak bergembira berlebihan karena langkah tersebut barulah tingkat pemula. Kategori tingkatan sebenarnya adalah pembagian gelar bagi seorang kultivator, hal ini mengacu pada :
Tingkat pemula : Pemurnian Qi, Pondasi Qi, Inti Jiwa;
Tingkat mahir : Pendekar Raja, Kaisar, Bumi;
Tingkat sempurna : Pendekar Langit, Suci, Dewa;
Tingkat Abadi : Surgawi.
Penjelasan tersebut akan melekat pada seorang kultivator di Benua suci Tianwu. Meski ada beberapa istilah samar seperti ranah setengah langkah atau alam transformasi, namun hal itu bisa dianggap sesuatu yang krusial pada seseorang yang mengalami kemacetan kultivasi. Umumnya terdapat pada mereka yang sudah berada di tingkat sempurna, merasa berada di puncak kultivasi dan enggan untuk menerobos ke ranah keabadian yang sama sulitnya seperti menaiki langit.
Xiao Tian tentu saja mengetahui, untuk mengikuti turnamen antar puncak gunung di Sekte Awan Biru maka ia harus berada minimal di tingkat mahir. Adapun tingkat sempurna menjadi milik enam orang rekannya yang dulu sama-sama berada di puncak Gunung Wuyi, adapun beberapa lainnya seperti Li Mochou sepertinya masih bisa dihitung dengan jari.
"Berlatih sendiri cukup membosankan.." Gumam Xiao Tian pada saat selesai berlatih.
Dengan kemampuannya kini, teknik Pedang pemburu dan teknik pedang bayangan iblis telah berkembang ke tingkat yang mencengangkan. Adapun jurus tangan kosong, sudah ia perbaharui dengan pemahaman barunya. Bisa dikatakan jika Xiao Tian telah melakukan inovasi besar pada setiap gerakan dan juga kemampuan bertarungnya.
Memikirkan kebosanan yang hinggap di dalam dirinya, Xiao Tian memikirkan sebuah menara pelatihan yang terdapat di puncak ketiga. Jika dulu ia memiliki rekan untuk berlatih tanding, maka kini menara pelatihan adalah sarana yang tepat untuk mengasah kemampuannya.
Menara beladiri yang memiliki dua puluh lantai adalah tempat bagi para murid Sekte Awan Biru untuk melakukan ujian. Bahkan bisa dikatakan, menara beladiri adalah ajang pembuktian bakat yang dapat menentukan kualitas seorang murid. Sewaktu masih ada gurunya, tempat semacam itu tidak menarik perhatian Xiao Tian dan juga saudara seperguruannya. Tetapi sekarang semuanya sudah berubah, mau tak mau Xiao Tian sendiri harus mengikuti perkembangan agar bisa turun gunung untuk melakukan beberapa hal.
Pada siang harinya, Xiao Tian meninggalkan kuil Wuyi dan berjalan menuju menara beladiri di puncak ketiga. Meski cenderung penasaran dengan menara pelatihan, sudah waktunya juga ia membuka diri untuk bersosialisasi seperti yang gurunya pesankan.
Tidak lama kemudian, Xiao Tian tiba pada sebuah halaman yang luas dan tertata rapi. Tepat di depannya, berdiri kokoh sebuah menara batu yang tersusun dengan sebuah formasi dan struktur yang unik.
Pada saat ini, tempat tersebut cukup ramai dikunjungi para murid yang ingin menguji kemampuan bertempurnya. Kebanyakan mereka adalah para murid senior yang akan mengikuti turnamen antar puncak gunung.
"Hai, sepertinya aku tidak pernah melihat orang itu? Apakah ia murid baru?" Tanya seorang murid saat melihat kedatangan Xiao Tian.
"Seharusnya tidak juga, dengan ranah Inti Jiwa tahap akhir mungkin ia bagian dari kelompok yang tidak pernah berinteraksi" Jawab seorang murid dengan sedikit ragu.
"Tapi bukankah itu terlalu nekat? Walau bagaimanapun juga tempat ini bukan sesuatu yang bisa diukur oleh tingkat pemula" Timpal yang lainnya dengan nada meremehkan.
Xiao Tian tidak terpengaruh dengan omongan orang-orang, sebagai sosok yang tidak dikenal di Sekte Awan Biru tentu ia bisa memahaminya. Namun hal yang menarik justru tatapan matanya yang mengarah pada seorang wanita yang tidak lain adalah saudara seperguruannya yang sudah beralih dari Gunung Wuyi ke puncak kedua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Musang Bulan
Like & Comentnya jangan lupa agar karya ini tetap eksis...
2025-03-28
0