Saat jam kerja sudah hampir habis, Faisal segera menemui bang Irgi untuk meminta izin libur besok. Faisal tak memberitahu alesan sebenarnya mengapa ia meminta libur pada bang irgi, karna sebelumnya sang istri sudah mewanti-wanti untuk tak memberitahu siapapun dulu soal kehamilan nya.
Sekitar jam 5 sore, Faisal pun tiba dirumah. Tapi begitu lelaki itu membuka pintu utama, ia tak melihat sang istri yang biasa menyambut kepulangan nya.
"Assalamualaikum..!?" ucap Faisal sambil membuka pintu kamar.
"Waalaikumsalam.!" jawab Yessi dengan nada lirih.
Wanita itu sedang berbaring diatas kasur, dengan wajah pucat dan juga terlihat lemas. Sontak Faisal yang melihat sang istri seperti itu pun, langsung dibuat panik luar biasa.
"Kita kerumah sakit ya sayang?" tutur Faisal dengan memegang tangan Yessi.
"Adek gapapa bang, tadi cuma muntah-muntah aja makanya lemes begini..." jawab Yessi lirih.
"Kenapa gak ngabarin Abang? berarti sekarang adek belom makan?" tanya Faisal dengan lembut.
"Tadi mau makan, tapi pas nyium nasi malah muntah" jelas Yessi pada Faisal.
"Abang coba suapin ya, mau gak?" tanya lelaki itu sambil mengelus punggung tangan yessi.
Yessi mengangguk, ia sebenarnya merasa sangat lapar. Mungkin jika di suapin oleh suami nya itu, ia tak akan merasakan mual. Pikirnya
Melihat Yessi mengangguk, Faisal pun langsung bergegas ke dapur untuk mengambil makan. Siang tadi, lelaki itu sempat mengirim makanan dari resto untuk sang istri. Dan ternyata makanan itu masih utuh di atas meja makan, karna makanan nya tak basi dan belom di acak-acak juga. Jadi Faisal pun berinisiatif untuk menghangatkan kembali makanan itu.
Yessi mendudukkan tubuh nya bersandar pada kepala ranjang, begitu melihat sang suami datang dengan satu piring nasi beserta lauk nya dan juga segelas air putih.
"Dikit dulu aja bang, takut nya mual lagi." ujar Yessi begitu Faisal ingin menyuapkan nasi ke dalam mulut nya.
Dan setelah di coba 2 kali suapan, Yessi tak merasakan ada tanda-tanda kalo ia akan muntah lagi saat menelan nasi itu, berbeda rasa nya pada saat siang tadi.
"Mual gak dek?" tanya Faisal dengan ekspresi was-was.
Yessi menggeleng dengan masih mengunyah nasi di dalam mulut nya. Faisal pun langsung menarik napas lega.
"Adek mau nya di suapin sama bapak, iya?" ujar Faisal sambil mengusap pelan perut yessi yang masih terlihat datar.
Yessi hanya bisa tersenyum dengan pipi yang sudah memerah.
"Abang, mau nya di panggil bapak?" tanya Yessi dengan malu-malu.
Faisal mengangguk dengan tersenyum. "Abang mau nya kita di panggil bapak sama ibu, adek setuju gak?" tanya Faisal.
"Boleh...!" Yessi mengangguk seraya tersenyum tipis.
*****
Keesokan pagi nya, Faisal mengajak Yessi untuk periksa ke dokter. Namun istri nya itu malah meminta untuk diperiksa ke bidan saja, jadi Faisal pun menuruti nya.
"Udah semua dek, ga ada yang ketinggalan?" tanya Faisal seraya mengunci pintu.
"Udah.!" jawab Yessi sambil mengangguk pelan.
Jarak dari rumah Faisal ke bidan tak terlalu jauh, mungkin hanya butuh waktu 10 menit bila memakai motor. Maka tak membutuhkan waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di bidan.
Yessi masuk dan langsung menuju tempat pendaftaran. "Selamat pagi, ada yang bisa di bantu kak?" tanya karyawan itu yang di nametag nya tertulis nama Vina.
"Mau cek kehamilan mbak." jawab Yessi pelan.
Mbak Vina pun langsung memberikan Yessi nomer antrian. Setelah menunggu selama 15 menit, Yessi langsung di panggil untuk masuk keruangan bidan Indri. Mungkin karna masih pagi, jadi antrian nya belum terlalu banyak.
"Selamat pagi, silakan duduk dulu." ujar bidan itu dengan ramah. "Mau cek kehamilan ya, kapan terakhir datang bulan Sayang?" sambung dokter Indri dengan senyum lembut.
"Awal bulan lalu" jawab Yessi dengan meremas kedua tangan nya.
"Langsung kita periksa aja ya, ayo silakan berbaring dulu disitu." ujar dokter Indri sambil menunjuk kasur pasien yang ada di ruangan itu.
Yessi pun langsung bangkit dan segera naik dengan di bantu oleh Faisal. Saat menggenggam nya, Faisal bisa merasakan tangan Yessi sangat dingin.
"Maaf ya sayang, di buka sedikit baju nya." ucap dokter Indri lembut.
Dokter Indri langsung mengoleskan gel ke perut Yessi, dan memeriksa nya dengan alat khusus USG. Ketika benda itu mulai bergerak di atas perut nya, Yessi langsung merasakan jantung nya berdetak kencang. Faisal yang paham kegelisahan Yessi pun, sedikit memberi usapan di bahu wanita itu, meyakinkan bahwa semua nya akan baik-baik saja.
"Nah ini kantung rahim nya, usia kandungan nya baru 8 minggu. Alhamdulillah semua nya bagus, tapi harus tetap di jaga ya karna usia segini itu masih rawan banget buat keguguran." ujar dokter Indri tersenyum tipis.
Bidan Indri hanya meresepkan obat anti mual dan pusing, serta vitamin juga.
*****
Kini, sepasang suami istri itu sudah duduk kembali di atas jok motor. Namun Faisal tak melajukan motor nya ke arah rumah mereka, melainkan kerumah sang mertua atas permintaan sang istri.
"Mau mampir beli sesuatu dulu gak sayang?" tanya Faisal dengan sedikit berteriak.
"Enggak." jawab Yessi singkat.
Karna sang istri menolak untuk diajak mampir-mampir, jadi Faisal pun langsung membawa motor nya bablas kerumah Bu Mira.
"Assalamualaikum" ucap Yessi sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam...!" itu bukan suara ibu, melainkan suara mbak shanum. "Ya ampun dek kok kamu pucat banget sih muka nya?" tanya mbak shanum saat melihat wajah Yessi.
Yessi hanya tersenyum sambil menyalami punggung tangan kakak ipar nya itu. "Ibu mana mbak?" tanya nya.
"Ibu lagi ke warung Ceu Ida, mungkin sebentar lagi pulang udah daritadi soalnya" jawab mbak shanum. "Kamu lagi sakit dek?" sambung nya.
"Alhamdulillah aku sehat kok mbak." jawab Yessi dengan tersenyum tipis.
"Tapi pucat banget itu loh muka nya, udah makan belom?" tanya mbak shanum dengan nada khawatir.
Belom sempat Yessi menjawab, suara salam ibu sudah lebih dulu terdengar dari luar.
"Adek, kesini kok gak bilang ibu dulu?" ujar nya dengan nada terkejut sekaligus senang.
"Abis dari bidan tadi, terus mampir kesini" jawab Yessi dengan santai.
Sontak ibu dan mbak shanum pun langsung terkejut, dan tak lama kedua nya mengucap rasa syukur dengan kompak.
"Pantes loh muka mu itu pucat banget dek, trus udah usia berapa sekarang kandungan nya?" tanya mbak shanum dengan antusias.
"Kata bidan nya tadi masih 8 Minggu.!" tutur Yessi.
Ibu memeluk anak dan menantu nya untuk menyalurkan rasa bahagia yang tengah ia rasakan. Tak lupa juga, Bu Mira langsung mengambil hp untuk memberi kabar bahagia tersebut pada sang suami.
*****
Setelah makan siang bersama, minus mas bhama. Faisal dan Yessi pun pamit untuk pulang.
"Nyaman gak dek kalo naik motor kaya gini?" tanya Faisal ketika mereka berhenti di lampu merah.
"Nyaman kok, asal gak ngebut-ngebut aja bawa nya" sahut Yessi dengan tangan yang melingkar di pinggang Faisal.
"Abang, mampir kesitu dulu" ujar Yessi dengan menunjuk kedai seblak yang ada di sebrang jalan yang mereka lewati.
Sebenarnya Faisal tak suka Yessi memakan makanan itu, karna memiliki rasa yang sangat pedas. Namun ia juga Tek tega, jika harus melarang sang istri yang sedang dalam keadaan hamil itu.
"Beli nya jangan yang pedes ya dek!" Faisal mengingatkan sang istri sebelum memesan.
Yessi pun hanya mengangguk dengan wajah yang sedikit cemberut.
...****************...
Jangan lupa like, komen dan vote ya sayang 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments