Bab 15 Bangkit

Malam ini rumah Nayla masih ramai dengan suara orang-orang yang mengaji, meski pun rumah ada banyak orang tapi di hati Nayla paling dalam masih merasa sepi. Nayla hanya merasa kecewa karena tidak ada di samping papahnya saat terakhir papahnya. Ingatannya terlempar di pagi tadi saat Nayla berpamitan pada papahnya.

“Pah, aku berangkat ya pah” Pamit Nayla pada Handa yang tengah duduk di atas ranjangnya

“Iya hati-hati, semangatnya bidadari papah” Ucap Handa

“Nanti kalo aku pulang, aku temenin papah ke dokter ya pah. Kata mamah papah mau ke dokter kalau aku yang nemenin” Ujar Nayla bergelayut manja di lengan papahnya.

“Iya, sudah sana berangkat. Ini ujian terakhirkan ?” Tanya Handa

“Iya pah” Jawab Nayla mengangguk

“Papah sayang sama kamu, sehat terus ya kesayangan papah” Ucap Handa menyemangati Nayla

Andai Nayla tahu itu adalah pelukan dan ciuman terakhir papahnya, dia memilih untuk tetap di dekat papahnya sepanjang hari. Nayla berjalan ke taman belakang rumah, tempat favorit papahnya kalau pagi dan sore hari. Nayla duduk dan menangis di sana sendirian, di temani angin malam yang menerpa.

“Jangan menangis terus, kasihan papah kamu. jalannya di sana nggak bakalan tenang kalau anak kesayangannya menangis terus di sini” Ucap Rangga sembari menyelimuti jaketnya kepada Nayla

Nayla tersenyum tipis dan mengeratkan jaket Rangga yang ada di tubuhnya.

“Aku gak mau munafik dengan bilang kamu harus sabar atau pun ikhlasin, karena semua orang tidak tahu apayang ada di dalam hati kamu tapi cobalah untuk diri kamu dan juga mamah kamu” Ucap Rangga yang masih berdiri di samping tempat Nayla duduk.

“Lihatlah mamah kamu Nay” Ucap Rangga sambi menunjuk Rasti yang ikut mengaji sesekali berhenti untuk mengusap air mata

“Mamah kamu kehilangan separuh jiwanya, orang yang menemaninya mulai dari memulai hidup baru sampai sekarang sudah tidak ada di sisinya lagi. Ibarat kaki mamah kamu patah sebelah dan berjalan dengan pincang karena hanya bertumpu satu kaki, dia punya kamu dan kakak kamu buat penyangga agar tetap berdiri tegak” Lanjut Rangga

“Udah cukup Rang cukup hiks hiks hiks” Jawab Nayla sambil menangis

Rangga memeluk bahu Nayla dan Nayla tanpa sadar melingkarkan tangannya pada pinggangnya.

“Aku Cuma mau kamu bangkit, bukan Cuma kamu yang sedih. Kasihan mamah kamu” Ucap ranggap sambil mengusap rambut Nayla

“Makasih ya” Ujar Nayla lalu melepaskan pelukan Rangga

“Sama-sama” Jawab Rangga lalu melihat jam yang ada di tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam

“Aku pulang dulu ya Nay” Pamit Rangga

Nayla masuk ke dalam rumah, lalu dia melangkah kakinya ke kamar orang tuanya. Malam ini dia ingin tidur dengan mamahnya.

“Mau tidur sama mamah sayang ?” Tanya Rasti menghentikan tangan Nayla yang berada di hedle pintu, lalu Nayla berbalik dan mendapati mamahnya tersenyum

“Iya mah, bolehkan ?” Ujar Nayla

“Boleh dong sayang, masuk sana. mamah mau ke depan dulu, tamu-tamu udah mau pulang” Jawab Rasti lalu meninggalkan Nayla

Nayla meneruskan langkahnya masuk ke dalam kamar orang tuanya, Nayla duduk di sisi kiri tempat tidur papahnya. Nayla tidur dan menghirup aroma parfum Handa, sepertinya Rasti sengaja menyemprotkan parfum Handa di kamar mereka.

Ceklek

Pintu di buka dari luar membuat Nayla memilih berpura-pura tidur, Nayla mendengar langkah kaki seseorang masuk ke dalam kamar lalu duduk di samping Nayla yang sedang tidur.

“Pantesan kakak car-cari gak ada, ternyata kamu sembunyi di kamar papah sama mamah” Ucap Ali

“Kakak janji bakal jagain kamu sama mamah, selamat malam” Lanjut Ali mencium kening adiknya sebelum keluar kamar

Begitu pintu tertutup sempurna Nayla membuka matanya, air mata Nayla kembali mengalir tapi dengan cepat dia menghapusnya dan mencoba memejamkan matanya kembali.

*****

Nayla mendengar samar suara oramg mengaji yang iringi dengan isak tangis yang menyayat hati, Nayla mencoba membuka matanya dan menemukan mamahnya sedang mengaji setelah sholat tahajud karena jam menunjukkan pukul 03:00 dini hari. Nayla turun dari tempat tidur lalu memeluk mamahnya dari belakang.

“Mamah, jangan sedih lagi masih ada aku sama kak Ali” Ucap Nayla yang sudah berkaca-kaca

“Iya, maaf ya adek jadi terganggu karena mamah menangis jadi kebangun” Jawab Rasti membuat Nayla menggelengkan kepalnya

“Aku juga mau tahajud dulu mah, nanti kita ngaji bersama” Ucap Nayla dan mereka pun mengaji bersama

*****

Pagi hari setelah sholat subuh Nayla melihat mamahnya ketiduran, Nayla tidak tega membangunkannya. Aku keluar dan menyeduh teh hangat dua gelas, kopi dan coklat hangat. Nayla tersadar ketika dia meletakkan the di atas meja, biasanya Handa juga meminum the di pagi hari. Nayla tersenyum sendu.

“Pagi dek” Sapa Ali

“Pagi kak” Jawab Nayla

“Mana mamah dek ?” Tanya Ali

“Masi tidur kak, tadi oagi abis sholat subuh mamah tidur lagi” Jelas Nayla

“Gak papa, kenapa kamu bikin minumnya 4 dek ?” Tanya Ali

“Aku kebiasaan bikin minum 4, aku baru ingat papah sudah gak ada yah” Jawab Nayla sendu sambil menitikkan air mata

“Jangan menangis de, jangan di ingat-ingat lagi. biar nanti kakak yang minun minuman buat papah” Ujar Ali

“Aku ma uke rumah papah kak” Ucap Nayla menunduk

“Iya nanti kita ke sana kalau mamah sudah bangun, kakak beliin nasi uduk di depan aja buat sarapan kita” Ujar Ali

“Iya kak” Jawab Nayla

Nayla masuk ke dalam kamarnya lalu mengecek apakah ada pesan yang masuk, dan ternyata teman-temannya memberikan dia dukungan akan terus semangat dalam mejalani hidupnya. Dan sesuai janji setelah Rasti bangun dan sarapan mereka mengujungi makan Handa, karena Nayla sudah merasa sangat rindu. Setelah melepas rindu mereka pulang ke rumah karena sudah merasa terobati rasa kangennya, meski pun tidak berwujud.

Sesampai rumah, Nayla di kejutkan oleh kedatangan Rangga yang tengah duduk di teras rumah mereka.

“Selamat pagi tante” Ucap Rangga sambil mencium tangan Rasti

“Pagi, mari masuk nak” Ajak Rasti

“Terima kasih tante, saya di sini saja” Jawab Rangga

“Kalau gitu tante ke dalam ya” Pamit Rasti

“Iya tante” Jawab Rangga

Setalah Rasti masuk ke dalam Rangga memberikan bingkisan kepada Nayla.

“Ini dari kak Erika, halal kok kakak ku seorang mualaf” Ucap Rangga

“Makasih” Jawab Nayla dan dia membuka bingkisannya dan menemukan ada kebab dan sup zuppa serta yogurt kotak langsung Nayla cicipi

“Enak gak ?” Tanya Rangga membuat Nayla teringat bahwa dia lupa tidak menawarinya

“Astagfirulloh, maaf aku lupa tidak menawarimu. Ini sangat enak” Jawab Nayla

“Gak papa, habiskanlah kalau kamu suka” Ucap Rangga sambil tersenyum

Episodes
1 Bab 1 Pertemuan Pertama
2 Bab 2 Membeli Perlengkapan Camping
3 Bab 3 Pesan Dari Seseorang
4 Bab 4 Kedatangan Juan dan Perhatian Rangga
5 Bab 5 Sekolah
6 Bab 6 Meminta Putus
7 Bab 7 POV Rangga
8 Bab 8 Di Café
9 Bab 9 Ketahuan
10 Bab 10 Rumah Sakit
11 Bab 11 Kepergian Juan
12 Bab 12 Taman
13 Bab 13 Berbagi
14 Bab 14 Pergi Untuk Selamanya
15 Bab 15 Bangkit
16 Bab 16 Kedatangan Tamu
17 Bab 17 Jawaban Nayla
18 Bab 18 Kemarahan Ali
19 Bab 19 Ke Rumah Rangga
20 Bab 20 Duet
21 Bab 21 Mungungkapkan Perasaan
22 Bab 22 Bioskop
23 Bab 23 Tragedi Di Jalan
24 Bab 24 Berjunjung Ke Pabrik
25 Bab 25 Jalan-Jalan Malam
26 Bab 26 Olah Raga Pagi
27 Bab 27 Permintaan Mamah Rangga
28 Bab 28 Pergi Ke Kampung Nenek
29 Bab 29 Pondok Pesantren Al-Ikhlas
30 Bab 30 Jalan-Jalan Di Kampung Nenek
31 Bab 31 Orang Di Masa Lalu Rangga
32 Bab 32 Pulang Dan Penjelasan
33 Bab 33 Wisuda Sekolah
34 Bab 34 Pesta Kecil-Kecilan
35 Bab 35 Perjodohan
36 Bab 36 Berita Perjodohan Rangga
37 Bab 37 Mulai Kuliah dan Di Pabrik
38 Bab 38 Chat Dari Mami Rangga
39 Bab 39 Pertemuan Juan dan Rangga
40 Bab 40 Di Kampus
41 Bab 41 Ketahuan Dengan Om-Om
42 Bab 42 Perdebatan
43 Bab 43 Mimpi
44 Bab 44 Cabang Baru
45 Bab 45 Merenggang
46 Bab 46 Rumah Sakit dan Rencana Pindah
47 Bab 47 Di Tembak Dosen
48 Bab 48 Surat Dari Nayla
49 Bab 49 Kepergian Nayla dan Pondok Pesantren
50 Bab 50 Hari Pertama Di Pesantren
51 Bab 51 Kegiatan Di Pesantren Dan Bertemu Seseorang
52 Bab 52 Kecelakaan
53 Bab 53 Libur Semesteran
54 Bab 54 Mengetahui Kabar Rangga dan Pertemuan Pertama
55 Bab 55 Bertemu Okta
56 Bab 56 Siuman
57 Bab 57 OTW Bandung
58 Bab 58 Acara Lamaran Riki dan Pernikahan Riki
59 Bab 59 Resepsi Pernikahan Rangga dan Zulaika
60 Bab 60 Akankah Aku Dapatkan Cintanya
61 Bab 61 Buah Dari Kesabaran dan Akhirnya Sah
62 Bab 62 Suka Duka Poligami
63 Bab 63 Mimpi Buruk
64 Bab 64 Qodarullah dan Dua Berita Duka
65 Bab 65 Ikhlas
66 Bab 66 Tanda-Tanda Pelakor
67 Bab 67 Dugaan
68 Bab 68 Makan Malam
69 Bab 69 Periksa Kandungan
70 Bab 70 Menolong Seseorang
71 Bab 71 Rizky mengenal Fuji
72 Bab 72 Tawaran Rizky
73 Bab 73 Mulai Bekerja dan Perhatian
74 Bab 74 Berkunjung Ke Rumah Erika
75 Bab 75 Rumah Sakit
76 Bab 76 Berkunjung Ke Rumah Sakit
77 Bab 77 Bertemu Dokter Wisnu
78 Bab 78 Bandung
79 Bab 79 Menjenguk Fuji Di Rumah Sakit
80 Bab 80 Sidang Skripsi Rangga
81 Bab 81 Kedatangan Keluarga Bandung
82 Bab 82 Jalan-Jalan Malam
83 Bab 83 Ali Pulang
84 Bab 84 Berkunjung Ke Kampung Mertua
85 Bab 85 Mulut Julid Tetangga
86 Bab 86 Telpon Dari Seseorang
87 Bab 87 Bertemu Seseorang yang menyukai Rangga
88 Bab 88 Kedatangan Dina
89 Bab 89 Dina Hamil
90 Bab 90 Ngidam Makan Bersama
91 Bab 91 Melahirkan
92 Bab 92 Kembali Ke Rumah
93 Bab 93 Menjadi Orang Tua Baru
94 Bab 94 Telpon Dari Riki
95 Bab 95 Telpon Dari Seseorang
96 Bab 96 Pulang Ke Desa Mertua
97 Bab 97 Jalan-Jalan Di Desa Mertua
98 Bab 98 Terbongkar Niat Buruk Dina
99 Bab 99 Pesan Dari Gus Ezra
100 Bab 100 Meluruskan Kesalahan
101 Bab 101 Hari Bahagia Siska
102 Bab 102 Nayla Mengetahui
103 Bab 103 Penolakan
104 Bab 104 Kedatangan Gus Riqza
105 Bab 105 Belanja Untuk Donasi
106 Bab 106 Si Kembar Sakit
107 Bab 107 Telpon Dari Fuji
108 Bab 108 Kabar Nenek Arsyita
109 Bab 109 Kematian Nenek Arsyita
110 Bab 110 Kepulangan Rizky dan Fuji
111 Bab 111 Happy Ending
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Bab 1 Pertemuan Pertama
2
Bab 2 Membeli Perlengkapan Camping
3
Bab 3 Pesan Dari Seseorang
4
Bab 4 Kedatangan Juan dan Perhatian Rangga
5
Bab 5 Sekolah
6
Bab 6 Meminta Putus
7
Bab 7 POV Rangga
8
Bab 8 Di Café
9
Bab 9 Ketahuan
10
Bab 10 Rumah Sakit
11
Bab 11 Kepergian Juan
12
Bab 12 Taman
13
Bab 13 Berbagi
14
Bab 14 Pergi Untuk Selamanya
15
Bab 15 Bangkit
16
Bab 16 Kedatangan Tamu
17
Bab 17 Jawaban Nayla
18
Bab 18 Kemarahan Ali
19
Bab 19 Ke Rumah Rangga
20
Bab 20 Duet
21
Bab 21 Mungungkapkan Perasaan
22
Bab 22 Bioskop
23
Bab 23 Tragedi Di Jalan
24
Bab 24 Berjunjung Ke Pabrik
25
Bab 25 Jalan-Jalan Malam
26
Bab 26 Olah Raga Pagi
27
Bab 27 Permintaan Mamah Rangga
28
Bab 28 Pergi Ke Kampung Nenek
29
Bab 29 Pondok Pesantren Al-Ikhlas
30
Bab 30 Jalan-Jalan Di Kampung Nenek
31
Bab 31 Orang Di Masa Lalu Rangga
32
Bab 32 Pulang Dan Penjelasan
33
Bab 33 Wisuda Sekolah
34
Bab 34 Pesta Kecil-Kecilan
35
Bab 35 Perjodohan
36
Bab 36 Berita Perjodohan Rangga
37
Bab 37 Mulai Kuliah dan Di Pabrik
38
Bab 38 Chat Dari Mami Rangga
39
Bab 39 Pertemuan Juan dan Rangga
40
Bab 40 Di Kampus
41
Bab 41 Ketahuan Dengan Om-Om
42
Bab 42 Perdebatan
43
Bab 43 Mimpi
44
Bab 44 Cabang Baru
45
Bab 45 Merenggang
46
Bab 46 Rumah Sakit dan Rencana Pindah
47
Bab 47 Di Tembak Dosen
48
Bab 48 Surat Dari Nayla
49
Bab 49 Kepergian Nayla dan Pondok Pesantren
50
Bab 50 Hari Pertama Di Pesantren
51
Bab 51 Kegiatan Di Pesantren Dan Bertemu Seseorang
52
Bab 52 Kecelakaan
53
Bab 53 Libur Semesteran
54
Bab 54 Mengetahui Kabar Rangga dan Pertemuan Pertama
55
Bab 55 Bertemu Okta
56
Bab 56 Siuman
57
Bab 57 OTW Bandung
58
Bab 58 Acara Lamaran Riki dan Pernikahan Riki
59
Bab 59 Resepsi Pernikahan Rangga dan Zulaika
60
Bab 60 Akankah Aku Dapatkan Cintanya
61
Bab 61 Buah Dari Kesabaran dan Akhirnya Sah
62
Bab 62 Suka Duka Poligami
63
Bab 63 Mimpi Buruk
64
Bab 64 Qodarullah dan Dua Berita Duka
65
Bab 65 Ikhlas
66
Bab 66 Tanda-Tanda Pelakor
67
Bab 67 Dugaan
68
Bab 68 Makan Malam
69
Bab 69 Periksa Kandungan
70
Bab 70 Menolong Seseorang
71
Bab 71 Rizky mengenal Fuji
72
Bab 72 Tawaran Rizky
73
Bab 73 Mulai Bekerja dan Perhatian
74
Bab 74 Berkunjung Ke Rumah Erika
75
Bab 75 Rumah Sakit
76
Bab 76 Berkunjung Ke Rumah Sakit
77
Bab 77 Bertemu Dokter Wisnu
78
Bab 78 Bandung
79
Bab 79 Menjenguk Fuji Di Rumah Sakit
80
Bab 80 Sidang Skripsi Rangga
81
Bab 81 Kedatangan Keluarga Bandung
82
Bab 82 Jalan-Jalan Malam
83
Bab 83 Ali Pulang
84
Bab 84 Berkunjung Ke Kampung Mertua
85
Bab 85 Mulut Julid Tetangga
86
Bab 86 Telpon Dari Seseorang
87
Bab 87 Bertemu Seseorang yang menyukai Rangga
88
Bab 88 Kedatangan Dina
89
Bab 89 Dina Hamil
90
Bab 90 Ngidam Makan Bersama
91
Bab 91 Melahirkan
92
Bab 92 Kembali Ke Rumah
93
Bab 93 Menjadi Orang Tua Baru
94
Bab 94 Telpon Dari Riki
95
Bab 95 Telpon Dari Seseorang
96
Bab 96 Pulang Ke Desa Mertua
97
Bab 97 Jalan-Jalan Di Desa Mertua
98
Bab 98 Terbongkar Niat Buruk Dina
99
Bab 99 Pesan Dari Gus Ezra
100
Bab 100 Meluruskan Kesalahan
101
Bab 101 Hari Bahagia Siska
102
Bab 102 Nayla Mengetahui
103
Bab 103 Penolakan
104
Bab 104 Kedatangan Gus Riqza
105
Bab 105 Belanja Untuk Donasi
106
Bab 106 Si Kembar Sakit
107
Bab 107 Telpon Dari Fuji
108
Bab 108 Kabar Nenek Arsyita
109
Bab 109 Kematian Nenek Arsyita
110
Bab 110 Kepulangan Rizky dan Fuji
111
Bab 111 Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!