Bab 14 Pergi Untuk Selamanya

Satu tahun berlalu sekarang mereka sedang menghadapi ujian nasional. Suasana kelas yang hening karena sedang berlangsungnya ujian.

Teeeeet Teeeeet Teeeeet

“Baik anak-anak waktunya sudah habis, semoga hasilnya memuaskan dan kalian bisa lulus dengan hasil yang membanggakan” Ucap Pengawas

Mereka keluar dari ruangan secara tertib, sesampai di luar mereka bernapas lega, karena ujian telah selesai tinggal menunggu pengumuman.

“Aaakkkhh akhirnya selesai juga” Teriak Rizky

“Semoga kita semua lulus ya guys” Ucap Nayla

“Ke kantin yuk” Ajak Siska

“Ayo” Jawab mereka bersamaan

Nayla berjalan perlahan sesekali mengingat-ingat momen yang telah lalu, yang tak akan pernah kembali. Suasana SMA yang begitu berkesan di hati membuat Nayla tersenyum.

“Cepetan udah laper nih” Ucap Siska

Mereka pun memesan bakso dan es the, menikmati detik-detik terakhir setiap momen di sekolah. Karena setelah ini mereka semuaakan sibuk dan berpisah demi mengejar cita-cita mereka.

“Kamu jadi mondok Ky ?” Tanya Nayla

“Insyaallah, doakan saja ya” Jawab Rizky

“Kamu sendiri jadi kuliah kedokteran Nay ?” Tanya Rizky

“Pengennya sih gitu, aku akan cob acari beasiswa dulu kalau nggak dapat ya jadi perawat juga gak papa” Jawab Nayla

“Kita harus tetap komunikasi ya guys, meski pun kita pisah tapi kita harus tetap nyempetin untuk berkumpul” Ucap Siska

“Aku setuju, kita harus tetap jalin komunikasi” Jawab Sinta

“10 tahun lagi kita bakal kayak gimana ya ?” Tanya Siska

“Yang pasti harus udah jadi orang sukses” Jawab Rizky

“Jadi sukses menurut versi masing-masing” Tambah Nayla

Mereka pun berdiri lalu berpelukan. Biarlah di kata lebay atau pun alay mereka gak peduli.

*****

Nayla pulang ke rumah dengan suasana hati yang cerah tiba-tiba dibagai di sambar petir ketika Nayla melihat rumahnya di datangi banyak orang, ketika rumahnya di pasang bendera kuning. Dengan langkah yang bergeta Nayla berjalan sesekali menepuk pipinya dan meyakinkan dirinya. Bahwa semua ini hanya mimpi, dia hanya perlu masuk ke dalam rumah dan tidur lalu semua akan kembali baik-baik saja.

Nayla sampai di ambang pintu, Nayla melihat seseorang yang berkujur kaku di temani mamahnya yang terus menagis. Dia tidak berani mendekat, Nayla tidak mau menangis tapi air matanya mengalir terus menerus walaupun dia sudah menghapusnya.

“Pap, papah udah gak ada” Bisik seseorang yang memeluknya dari belakang, dia menoleh dan menemukan kakanya yang memeluknya dengan wajah sembab

“Kakak bohongkan ?” Tanya Nayla tidak percaya lalau dia melepaskan pelukan kakaknya dan mendekati mamahnya

“Mah” Panggil Nayla

Rasti menoleh dan langsung memeluk Nayla tangis Nayla pecah bersahutan dengan mamahnya.

“Papah udah gak sakit lagi, adek ihlasin papah ya sayang” Ucap Rasti sambil mengusap punggung Nayla sembari terisak

Setelah menguasai dirinya Nayla memberanikan dirinya untuk mencoba mendekat ke jenazah papahnya lalu membuka kain yang menutupi wajah papahnya. Nayla mencium kedua pipi dan keningnya, dan dia langsung memeluk yang terbaring di lantai.

Pelukan hangat yang tidak mungkinlagi dia rasakan, Nayla menangis menikmati pelukan terakhir yang tak bisa lagi terbalaskan. Semua orang yang melihat itu, memalingkan wajahnya tak kuasa mendengar raungan Nayla yang memilukan menyayat hati.

Karena stress memikirkan papahnya, Nayla pun tak sadarkan diri.

“Dek” Seseorang memanggilnya membuat Nayla membuka mata

“Papah” Ucap Nayla melihat papahnya yang terlihat masih muda sambil merentangkan tangannya

Dia berlari dan memeluk erat tubuh papahnya

“Bidadarinya papah” Ujar Handa sambil mengelus rambut Nayla

“Papah” Ucap Nayla sambil menangis

“Maafin papah yah sayang, papah gak pamitan sama kamu. papah gak mau kamu sedih” Ujar Handa sambil menuntun duduk di bangku taman yang indah

“Papah sangat percaya Nayla anak yang kuat, bantu kakak jagain papah yah dek” Pinta Handa dan Nayla menggelengkan kepalanya atas jawabannya

“Udah jangan nangis lagi, papah udah harus pulang” Lanjut Handa tiba-tiba berdiri, Nayla memegang erat tangannya agar tidak pergi lagi

“Papah plis pah, jangan tinggalin aku” Ucap Nayla memohon

Dan Handa meninggalkan Nayla masuk kedalam cahaya putih.

“Papah…” Teriak Nayla

Sahabat-sahabatnya yang mendengar teriakan Nayla karena mereka sedang ada di kamarnya Nayla, langsung membangunkan Nayla karena merasa khawatir.

“Nayla bangun, Nay” Ucap Mereka sambil menggoyangkan badan Nayla

Nayla membuka matanya dan melihat sahabat-sahabatnya berada di kamarnya.

“Papah hiks hiks” Nayla menangis

Siska dan Sinta langsung memeluknya dan ikut menangis.

“Yang sabar Nay. Biar om juga tenang di sana” Ucap Siska

Nayla masih menangis, walau pun mulut bisa berkata ikhlas tetapi rasanya seperti teriris.

Ceklek

“Dek, kamu gak mau nganteri papah pulang ?” Tanya Ali membuat Nayla mengangguk.

Nayla berjalan kea rah lemari mengambil baju dan berganti di kamar mandi. Nayla bersama sahbat-sahabatnya turun ke bawah, dia langsung memeluk Rasti mencoba untuk tidak menangis seperti pesan papahnya. Rasti tersenyum walau pun Nayla tahu senyum itu senyum yang menyayat hati, Nayla berjalan masuk ke dalam mobil yang membawa papahnya ke peristirahatan terakhirnya. Nayla di temani oleh Sinta di ambulan, tiba di TPU Nayla menguatkan diri ketika jenazah papahnya di turunkan ke dalam tanah mamahnya sudah jatuh pingsan karena sudah tak sanggup menyaksikan separuh jiwanya hilang di timbun tanah.

Ali ikut turun dan mengumnandangkan adzan dengan suara bergetar sebelum tubuh papahnya di tutup oleh tanah. Semua proses sudah selesai, Nayla meminta teman-temannya membawa dan menemani mamahnya di mobil.

“Aku sayang papah” Ucap Nayla berjongkok di samping makan papahnya

“Ayo pulang dek, sebentar lagi hujan” Ajak Ali

Nayla berdiri dan memeluk kakaknya, Nayla menangis.

“Ssssstttt sudah, papah gak bakalan suka lihat anak-anaknya nangis terus. Kita harus kasih mamah kekuatan, mamah yang paling kehilangan” Ucap Ali

Nayla mengangguk dan Ali merangkul bahu adiknya meninggalkan papahnya yang sudah tertidur dengan tenang di dalam tanah.

Episodes
1 Bab 1 Pertemuan Pertama
2 Bab 2 Membeli Perlengkapan Camping
3 Bab 3 Pesan Dari Seseorang
4 Bab 4 Kedatangan Juan dan Perhatian Rangga
5 Bab 5 Sekolah
6 Bab 6 Meminta Putus
7 Bab 7 POV Rangga
8 Bab 8 Di Café
9 Bab 9 Ketahuan
10 Bab 10 Rumah Sakit
11 Bab 11 Kepergian Juan
12 Bab 12 Taman
13 Bab 13 Berbagi
14 Bab 14 Pergi Untuk Selamanya
15 Bab 15 Bangkit
16 Bab 16 Kedatangan Tamu
17 Bab 17 Jawaban Nayla
18 Bab 18 Kemarahan Ali
19 Bab 19 Ke Rumah Rangga
20 Bab 20 Duet
21 Bab 21 Mungungkapkan Perasaan
22 Bab 22 Bioskop
23 Bab 23 Tragedi Di Jalan
24 Bab 24 Berjunjung Ke Pabrik
25 Bab 25 Jalan-Jalan Malam
26 Bab 26 Olah Raga Pagi
27 Bab 27 Permintaan Mamah Rangga
28 Bab 28 Pergi Ke Kampung Nenek
29 Bab 29 Pondok Pesantren Al-Ikhlas
30 Bab 30 Jalan-Jalan Di Kampung Nenek
31 Bab 31 Orang Di Masa Lalu Rangga
32 Bab 32 Pulang Dan Penjelasan
33 Bab 33 Wisuda Sekolah
34 Bab 34 Pesta Kecil-Kecilan
35 Bab 35 Perjodohan
36 Bab 36 Berita Perjodohan Rangga
37 Bab 37 Mulai Kuliah dan Di Pabrik
38 Bab 38 Chat Dari Mami Rangga
39 Bab 39 Pertemuan Juan dan Rangga
40 Bab 40 Di Kampus
41 Bab 41 Ketahuan Dengan Om-Om
42 Bab 42 Perdebatan
43 Bab 43 Mimpi
44 Bab 44 Cabang Baru
45 Bab 45 Merenggang
46 Bab 46 Rumah Sakit dan Rencana Pindah
47 Bab 47 Di Tembak Dosen
48 Bab 48 Surat Dari Nayla
49 Bab 49 Kepergian Nayla dan Pondok Pesantren
50 Bab 50 Hari Pertama Di Pesantren
51 Bab 51 Kegiatan Di Pesantren Dan Bertemu Seseorang
52 Bab 52 Kecelakaan
53 Bab 53 Libur Semesteran
54 Bab 54 Mengetahui Kabar Rangga dan Pertemuan Pertama
55 Bab 55 Bertemu Okta
56 Bab 56 Siuman
57 Bab 57 OTW Bandung
58 Bab 58 Acara Lamaran Riki dan Pernikahan Riki
59 Bab 59 Resepsi Pernikahan Rangga dan Zulaika
60 Bab 60 Akankah Aku Dapatkan Cintanya
61 Bab 61 Buah Dari Kesabaran dan Akhirnya Sah
62 Bab 62 Suka Duka Poligami
63 Bab 63 Mimpi Buruk
64 Bab 64 Qodarullah dan Dua Berita Duka
65 Bab 65 Ikhlas
66 Bab 66 Tanda-Tanda Pelakor
67 Bab 67 Dugaan
68 Bab 68 Makan Malam
69 Bab 69 Periksa Kandungan
70 Bab 70 Menolong Seseorang
71 Bab 71 Rizky mengenal Fuji
72 Bab 72 Tawaran Rizky
73 Bab 73 Mulai Bekerja dan Perhatian
74 Bab 74 Berkunjung Ke Rumah Erika
75 Bab 75 Rumah Sakit
76 Bab 76 Berkunjung Ke Rumah Sakit
77 Bab 77 Bertemu Dokter Wisnu
78 Bab 78 Bandung
79 Bab 79 Menjenguk Fuji Di Rumah Sakit
80 Bab 80 Sidang Skripsi Rangga
81 Bab 81 Kedatangan Keluarga Bandung
82 Bab 82 Jalan-Jalan Malam
83 Bab 83 Ali Pulang
84 Bab 84 Berkunjung Ke Kampung Mertua
85 Bab 85 Mulut Julid Tetangga
86 Bab 86 Telpon Dari Seseorang
87 Bab 87 Bertemu Seseorang yang menyukai Rangga
88 Bab 88 Kedatangan Dina
89 Bab 89 Dina Hamil
90 Bab 90 Ngidam Makan Bersama
91 Bab 91 Melahirkan
92 Bab 92 Kembali Ke Rumah
93 Bab 93 Menjadi Orang Tua Baru
94 Bab 94 Telpon Dari Riki
95 Bab 95 Telpon Dari Seseorang
96 Bab 96 Pulang Ke Desa Mertua
97 Bab 97 Jalan-Jalan Di Desa Mertua
98 Bab 98 Terbongkar Niat Buruk Dina
99 Bab 99 Pesan Dari Gus Ezra
100 Bab 100 Meluruskan Kesalahan
101 Bab 101 Hari Bahagia Siska
102 Bab 102 Nayla Mengetahui
103 Bab 103 Penolakan
104 Bab 104 Kedatangan Gus Riqza
105 Bab 105 Belanja Untuk Donasi
106 Bab 106 Si Kembar Sakit
107 Bab 107 Telpon Dari Fuji
108 Bab 108 Kabar Nenek Arsyita
109 Bab 109 Kematian Nenek Arsyita
110 Bab 110 Kepulangan Rizky dan Fuji
111 Bab 111 Happy Ending
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Bab 1 Pertemuan Pertama
2
Bab 2 Membeli Perlengkapan Camping
3
Bab 3 Pesan Dari Seseorang
4
Bab 4 Kedatangan Juan dan Perhatian Rangga
5
Bab 5 Sekolah
6
Bab 6 Meminta Putus
7
Bab 7 POV Rangga
8
Bab 8 Di Café
9
Bab 9 Ketahuan
10
Bab 10 Rumah Sakit
11
Bab 11 Kepergian Juan
12
Bab 12 Taman
13
Bab 13 Berbagi
14
Bab 14 Pergi Untuk Selamanya
15
Bab 15 Bangkit
16
Bab 16 Kedatangan Tamu
17
Bab 17 Jawaban Nayla
18
Bab 18 Kemarahan Ali
19
Bab 19 Ke Rumah Rangga
20
Bab 20 Duet
21
Bab 21 Mungungkapkan Perasaan
22
Bab 22 Bioskop
23
Bab 23 Tragedi Di Jalan
24
Bab 24 Berjunjung Ke Pabrik
25
Bab 25 Jalan-Jalan Malam
26
Bab 26 Olah Raga Pagi
27
Bab 27 Permintaan Mamah Rangga
28
Bab 28 Pergi Ke Kampung Nenek
29
Bab 29 Pondok Pesantren Al-Ikhlas
30
Bab 30 Jalan-Jalan Di Kampung Nenek
31
Bab 31 Orang Di Masa Lalu Rangga
32
Bab 32 Pulang Dan Penjelasan
33
Bab 33 Wisuda Sekolah
34
Bab 34 Pesta Kecil-Kecilan
35
Bab 35 Perjodohan
36
Bab 36 Berita Perjodohan Rangga
37
Bab 37 Mulai Kuliah dan Di Pabrik
38
Bab 38 Chat Dari Mami Rangga
39
Bab 39 Pertemuan Juan dan Rangga
40
Bab 40 Di Kampus
41
Bab 41 Ketahuan Dengan Om-Om
42
Bab 42 Perdebatan
43
Bab 43 Mimpi
44
Bab 44 Cabang Baru
45
Bab 45 Merenggang
46
Bab 46 Rumah Sakit dan Rencana Pindah
47
Bab 47 Di Tembak Dosen
48
Bab 48 Surat Dari Nayla
49
Bab 49 Kepergian Nayla dan Pondok Pesantren
50
Bab 50 Hari Pertama Di Pesantren
51
Bab 51 Kegiatan Di Pesantren Dan Bertemu Seseorang
52
Bab 52 Kecelakaan
53
Bab 53 Libur Semesteran
54
Bab 54 Mengetahui Kabar Rangga dan Pertemuan Pertama
55
Bab 55 Bertemu Okta
56
Bab 56 Siuman
57
Bab 57 OTW Bandung
58
Bab 58 Acara Lamaran Riki dan Pernikahan Riki
59
Bab 59 Resepsi Pernikahan Rangga dan Zulaika
60
Bab 60 Akankah Aku Dapatkan Cintanya
61
Bab 61 Buah Dari Kesabaran dan Akhirnya Sah
62
Bab 62 Suka Duka Poligami
63
Bab 63 Mimpi Buruk
64
Bab 64 Qodarullah dan Dua Berita Duka
65
Bab 65 Ikhlas
66
Bab 66 Tanda-Tanda Pelakor
67
Bab 67 Dugaan
68
Bab 68 Makan Malam
69
Bab 69 Periksa Kandungan
70
Bab 70 Menolong Seseorang
71
Bab 71 Rizky mengenal Fuji
72
Bab 72 Tawaran Rizky
73
Bab 73 Mulai Bekerja dan Perhatian
74
Bab 74 Berkunjung Ke Rumah Erika
75
Bab 75 Rumah Sakit
76
Bab 76 Berkunjung Ke Rumah Sakit
77
Bab 77 Bertemu Dokter Wisnu
78
Bab 78 Bandung
79
Bab 79 Menjenguk Fuji Di Rumah Sakit
80
Bab 80 Sidang Skripsi Rangga
81
Bab 81 Kedatangan Keluarga Bandung
82
Bab 82 Jalan-Jalan Malam
83
Bab 83 Ali Pulang
84
Bab 84 Berkunjung Ke Kampung Mertua
85
Bab 85 Mulut Julid Tetangga
86
Bab 86 Telpon Dari Seseorang
87
Bab 87 Bertemu Seseorang yang menyukai Rangga
88
Bab 88 Kedatangan Dina
89
Bab 89 Dina Hamil
90
Bab 90 Ngidam Makan Bersama
91
Bab 91 Melahirkan
92
Bab 92 Kembali Ke Rumah
93
Bab 93 Menjadi Orang Tua Baru
94
Bab 94 Telpon Dari Riki
95
Bab 95 Telpon Dari Seseorang
96
Bab 96 Pulang Ke Desa Mertua
97
Bab 97 Jalan-Jalan Di Desa Mertua
98
Bab 98 Terbongkar Niat Buruk Dina
99
Bab 99 Pesan Dari Gus Ezra
100
Bab 100 Meluruskan Kesalahan
101
Bab 101 Hari Bahagia Siska
102
Bab 102 Nayla Mengetahui
103
Bab 103 Penolakan
104
Bab 104 Kedatangan Gus Riqza
105
Bab 105 Belanja Untuk Donasi
106
Bab 106 Si Kembar Sakit
107
Bab 107 Telpon Dari Fuji
108
Bab 108 Kabar Nenek Arsyita
109
Bab 109 Kematian Nenek Arsyita
110
Bab 110 Kepulangan Rizky dan Fuji
111
Bab 111 Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!