Bab 9 Ketahuan

Setelah selesai mata pelajaran Matematika dan berganti dengan mata pelajaran kewarganegaraan, tak berselang lama guru kewarganegaraan masuk ke dalam kelas tapi Nayla malah menundukkan kepalanya ke meja.

“Kamu kenapa tidur di kelas ?” Tanya guru

“Lagi gak enak badan pak” Jawab Nayla

“Ke UKS sana, teman di sebelahnya tolong anterin dia ke UKS dulu” Titah guru

“Baik pak” Jawab Siska

Nayla di gandeng oleh Siska ke ruang UKS, dia berpura-pura lemas.

“Gak usah di lemes-lemesin, ada rencana apa kamu ?” Tanya Siska

“Hehehehe, mau pulang Sis” Jawab Nayla

“Tolong minta izin ke guru piketnya, kamu canti deh Sis” Lanjut Nayla merayu

“Huh, oke. Nanti pulang sekolah aku sama yang lainnya ke rumah kamu, tapi kamu harus cerita ada apa sama kita. INGET YA !” Ucap Siska

“Okeeee, siap princes” Jawab Nayla Siska yang mendengar itu menatapnya sebal

“Aku minta dulu surat dari penjaga UKS dulu, tunggu di sini” Ucap Siska

Siska pun masuk ke ruangan UKS untuk meminta surat ijin untuk Nayla, dan untungnya penjaga UKS itu baik hati memberikan surat ijin.

“Nih” Ucap Siska

“Makasih ya Sis” Ujar Nayla

“Iya sama-sama” Jawab Siska

“Aku pulang dulu ya Sis” Ucap Nayla

“Iya, hati-hati di jalannya” Jawab Siska

“Siap, laksanakan” Ucap Nayla

Nayla berpura-pura sakit karena ia sudah ada janji dengan Juan kekasihnya untuk ketemuan di warung dekat sekolah mereka. Sesampai di warung tersebut air mata Nayla kembali jatuh, senyumnya memudar perlahan bagaimana tidak jika di hadapannya dua anak adam sedang asik berciuman. Dia berbalik dan menghapus air matanya.

“Ekheeemmm” Deheman Nayla, dia sengaja berdehem agak keras dan membuat mereka yang sedang bercumbu itu kaget atau mungkin terganggu karena kedatangan Nayla.

“Kenapa kamu gak bilang kalau bisa datang sekarang ?, kata kamu bisanya nanti pulang sekolah” Ucap Juan

“Kakak mau bicara apa ?” Tanya Nayla dingin mengabaikan perkataan Juan sebelumnya

“Aku kangen sama kamu Nay” Jawab Juan seraya menyentuh tangan Nayla

Nayla menarik tangannya dan dia letakkan di atas meja.

“Kangen, tapi bisa ya berciuman sama cewe lain” Cibir Nayla

“Bukan begitu, kamu salah paham” Jawab Juan

“keputusanku sudah bulat kak, aku mungkin bukan yang terbaik untuk kakak begitu pun sebaliknya kita putus saja. Aku duluan yah kak” Ucap Nayla berdiri tapi lengannya langsung di ceka; oleh Juan

“Apa gak ada kesempatan ke dua ?” Tanya Juan

“Tadinya akum au kasih, tetapi setelah apa yang aku lihat di depan mata dan kepala ku sendiri tadi aku rasa keputusanku buat putus memang paling baik” Jawab Nayla langsung pergi di hadapan Juan

Juan terus memanggil Nayla tetapi dia tidak menghiraukannya, Nayla berlari dan Nayla mendengar klakson mobil karena tidak dapat di hindari nayla tertabrak tubuhnya terasa melayang dan matanya langsung tertutup.

BRAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK

“NAYLAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Teriak Juan

*****

Nayla mengerjakan amatnya perlahan rasanya selau hingga membuat matanya sedikit perih, dia mencoba memejamkan matanya sejenak lalu mencoba membuka lagi. hal pertama yang dia lihat adalah kakaknya yang tidur di sofa.

Ceklek

Suara pintu di buka dari luar membuatnya sedikit melirik kea rah pintu.

“Adek udah bangun ! papah panggil dokter dulu ya” Ucap Handa tersenyum lega melihat putrinya membuka mata

Handa kembali dengan dokter yang masih muda dan seorang suster.

“Apa yang nona rasakan sekarang ?” Tanya Dokter

“Pusing, badan saya sakit semua dok sama kaki saya juga sakit sekali” Jawab Nayla

“Kaki kamu patah, dan sudah di operasi jadi untuk sementara jangan banya gerak dulu ya nona” Jelas Dokter

“Tapi saya masih bisa berjalan kan dokter ?, aku nggak akan lumpuh kan ?” Tanya nayla begitu khawatir dengan mata berkaca-kaca

“Tidak, tenga saja. Insyaallah bisa jalan lagi asal mengikuti semua anjuran dokter” Jawab Dokter

“Baik dok, terima kasih” Ucap Nayla

“Sama-sama, kalau begitu saya permisi. Mari pak bu” Pamit Dokter

Nayla dan Handa kompak mengangguk.

“Mama kemana pah ?” Tanya Nayla karena dari dia siuman dia belum melihat mamanya

“Mama lagi beli makan, kamu mau sarapan ?” Ujar Handa dan di balas dengan gelengan kepala

“Kenapa kak Ali tidur di situ ?” Tanya Nayla kepada papanya

“Semalaman kakakmu nungguin kamu dek, papa sama mama di suruh nunggu di rumah” Jawab Handa Nayla mengangguk paham

Ali menggeliat lalu bangun dari tidurnya dan duduk, mungkin dia terganggu karena suara Nayla dan papanya. Ali melihat Nayla membuka mata dan tersenyum lalu berjalan ke brankar Nayla, dan mengelus pucuk kepala adiknya.

“Jangan bikin kita khawatir lagi, kakak takut waktu Juan telpon kakak kalau kamu kecelakaan” Ucal Ali

Mengingat Juan tiba-tiba air mata Nayla luruh tanpa di minta.

“Eh kenapa ?, ada yang sakit ?, kakak panggilkan dokter ya ?” Tanya Ali panik, Handa ikut panik. Membuat Nayla terkekeh di sela tangisku.

“Aku gak papa kak, aku cumin terharu” Jawab Nayla

“Alhamdulillah kakak kira kamu ada yang sakit” Ucap Ali mengelus dada lalu mengacak rambut Nayla membuat Nayla cemberut memajukan bibirnya yang malah di sambut tawa kakak dan papanya.

“Assalamu’alaikum, wah ada apa nih kok kayak asik banget ketawanya sampai kedengeran dari luar ?” Tanya Rasti yang membawa bungkus sarapan

“Alhamdulillah anak mamah udah bangun ternyata, ada yang sakit gak badannya sayang ?” Tanya Rasti

“Alhandulillah gak ada mah” Jawab Nayla sambil menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, ayo kita sarapan dulu sini biar mama kamu suapin” Ucap Rasti membuat mata Nayla berbinar

“Mau mah” Jawab Nayla bersemangat

“Tadi di tawarin sama papah gak mau, giliran sama mamah langsung ngangguk” Ucap Handa merajuk kepada anak gadisnya membuat Nayla menyengir

Setelah sarapan Ali pamit karena ada kuliah jam 9, Handa juga harus ke pabrik karena banyak pesanan sandal yang harus di produksi. Nayla meminta ponselnya yang retak tapi masih bisa d gunakan, karena waktu kecelakaan ponselnya ada di dalam tas. Dia membuka aplikasi hijaunya, ada banyak sekali chat dati sahabat-sahabatnya.

Sinta {Besok kita jenguk Nayla yuk}

Rizky {Oke, pulang sekolah aja}

Siska {Oke, siap}

Nayla {Kalau besok kalian mau jenguk aku tolong bawain kue sus ya}

Setelah membalas chat dari grup sahabatnya, Nayla beralih ke pesan yang di kirimkan oleh Rangga.

Rangga {Semoga cepat sembuh ya Nayla, kata Sinta kamu kecelakaan ?. Aku boleh jenguk kamu nggak ?}

Nayla {Yab oleh dong, kan kita udah jadi teman}

Setelah itu Nayla belarih ke pesan yang di kirim kan oleh Juan, tapi Nayla hanya membacanya saja.

Juan {Maafin aku ya Nay, kalau bukan karena aku kamu ngggak mungkin kaya gini}

“Dek, istirahat dulu jangan main handphone terus. Kamu mau makan buah mangga biar mamah memotongnya ?” Ucap Rasti

“Boleh mah” Jawab Nayla lalu meletakkan ponselnya di atas meja.

Rasti mengupas buah mangga dan menceritakan masa kecil Nayla dan Ali yang selalu membuatnya pusing, membuat Nayla tertawa mendengarnya.

\*\*\*\*\*

Jam dinding menunjukkan pukul 12 siang, Nayla dan yang lainnya melaksanakan sholat.

“Alhamdulillah udah adzan dzhuhur, aku sama Ali ke musola dulu ya” Ucap Handa

“Iya pah, mama sholat di sini aja sambil nungguin Nayla” Jawab Rasti

Handa dan Ali keluar dari ruangan Nayla, tak lama kemudian Nayla mendengar suara rebut dari luar.

“Nayla !” Ucap Sinta setengah berteriak yang langsung di hadiahi geplakan di kepala oleh Siska

Nayla terkekeh melihat teman-temannya, rasti memberi waktu pada mereka agar bisa berbicara leluasa akhirnya rasti ijin menyusul anak dan suaminya ke musola rumah sakit.

“Kok jam segini udah di sini ?, pulannya masih jam dua kan ?” Tanya Nayla

“Iya gurunya Cuma kasih tugas aja karena nggak masuk, akhirnya kita izin pulang duluan buat jenguk kamu dan alhamdulillah di izinin” Jawab Sinta

“Nih kue sus kesukaan kamu, mau di makan sekarang atau nanti ?” Tanya Rizky

“Sekarang dong, makasih loh bestie-bestie ku” Jawab Nayla tengil, Rizky mencebikkan bibirnya

“Gimana kronoogisnya Nay ?, bukannya kamu mau ketemu sama kak Juan kan hari itu ?” Tanya Siska

Ingatan Nayla langsung teringat pada hari itu, dimana Juan dan Disty berciuman dan ketika sebuah mobil yang oleng akhirnya menabraknya. Nayla menceritakan semuanya pada sahabat-sahabatnya.

“Jadi kak Juan yang bikin kamu kayak gini ?” Tanya Ali tiba-tiba dengan rahang mengetat, membuat Nayla menunduk tak berani menatap kakaknya yang memancarkan amarahnya.

#Apa yang akan Ali lakukan saat tahu kalau adiknya kecelakaan di akibatkan oleh Juan ?#

Episodes
1 Bab 1 Pertemuan Pertama
2 Bab 2 Membeli Perlengkapan Camping
3 Bab 3 Pesan Dari Seseorang
4 Bab 4 Kedatangan Juan dan Perhatian Rangga
5 Bab 5 Sekolah
6 Bab 6 Meminta Putus
7 Bab 7 POV Rangga
8 Bab 8 Di Café
9 Bab 9 Ketahuan
10 Bab 10 Rumah Sakit
11 Bab 11 Kepergian Juan
12 Bab 12 Taman
13 Bab 13 Berbagi
14 Bab 14 Pergi Untuk Selamanya
15 Bab 15 Bangkit
16 Bab 16 Kedatangan Tamu
17 Bab 17 Jawaban Nayla
18 Bab 18 Kemarahan Ali
19 Bab 19 Ke Rumah Rangga
20 Bab 20 Duet
21 Bab 21 Mungungkapkan Perasaan
22 Bab 22 Bioskop
23 Bab 23 Tragedi Di Jalan
24 Bab 24 Berjunjung Ke Pabrik
25 Bab 25 Jalan-Jalan Malam
26 Bab 26 Olah Raga Pagi
27 Bab 27 Permintaan Mamah Rangga
28 Bab 28 Pergi Ke Kampung Nenek
29 Bab 29 Pondok Pesantren Al-Ikhlas
30 Bab 30 Jalan-Jalan Di Kampung Nenek
31 Bab 31 Orang Di Masa Lalu Rangga
32 Bab 32 Pulang Dan Penjelasan
33 Bab 33 Wisuda Sekolah
34 Bab 34 Pesta Kecil-Kecilan
35 Bab 35 Perjodohan
36 Bab 36 Berita Perjodohan Rangga
37 Bab 37 Mulai Kuliah dan Di Pabrik
38 Bab 38 Chat Dari Mami Rangga
39 Bab 39 Pertemuan Juan dan Rangga
40 Bab 40 Di Kampus
41 Bab 41 Ketahuan Dengan Om-Om
42 Bab 42 Perdebatan
43 Bab 43 Mimpi
44 Bab 44 Cabang Baru
45 Bab 45 Merenggang
46 Bab 46 Rumah Sakit dan Rencana Pindah
47 Bab 47 Di Tembak Dosen
48 Bab 48 Surat Dari Nayla
49 Bab 49 Kepergian Nayla dan Pondok Pesantren
50 Bab 50 Hari Pertama Di Pesantren
51 Bab 51 Kegiatan Di Pesantren Dan Bertemu Seseorang
52 Bab 52 Kecelakaan
53 Bab 53 Libur Semesteran
54 Bab 54 Mengetahui Kabar Rangga dan Pertemuan Pertama
55 Bab 55 Bertemu Okta
56 Bab 56 Siuman
57 Bab 57 OTW Bandung
58 Bab 58 Acara Lamaran Riki dan Pernikahan Riki
59 Bab 59 Resepsi Pernikahan Rangga dan Zulaika
60 Bab 60 Akankah Aku Dapatkan Cintanya
61 Bab 61 Buah Dari Kesabaran dan Akhirnya Sah
62 Bab 62 Suka Duka Poligami
63 Bab 63 Mimpi Buruk
64 Bab 64 Qodarullah dan Dua Berita Duka
65 Bab 65 Ikhlas
66 Bab 66 Tanda-Tanda Pelakor
67 Bab 67 Dugaan
68 Bab 68 Makan Malam
69 Bab 69 Periksa Kandungan
70 Bab 70 Menolong Seseorang
71 Bab 71 Rizky mengenal Fuji
72 Bab 72 Tawaran Rizky
73 Bab 73 Mulai Bekerja dan Perhatian
74 Bab 74 Berkunjung Ke Rumah Erika
75 Bab 75 Rumah Sakit
76 Bab 76 Berkunjung Ke Rumah Sakit
77 Bab 77 Bertemu Dokter Wisnu
78 Bab 78 Bandung
79 Bab 79 Menjenguk Fuji Di Rumah Sakit
80 Bab 80 Sidang Skripsi Rangga
81 Bab 81 Kedatangan Keluarga Bandung
82 Bab 82 Jalan-Jalan Malam
83 Bab 83 Ali Pulang
84 Bab 84 Berkunjung Ke Kampung Mertua
85 Bab 85 Mulut Julid Tetangga
86 Bab 86 Telpon Dari Seseorang
87 Bab 87 Bertemu Seseorang yang menyukai Rangga
88 Bab 88 Kedatangan Dina
89 Bab 89 Dina Hamil
90 Bab 90 Ngidam Makan Bersama
91 Bab 91 Melahirkan
92 Bab 92 Kembali Ke Rumah
93 Bab 93 Menjadi Orang Tua Baru
94 Bab 94 Telpon Dari Riki
95 Bab 95 Telpon Dari Seseorang
96 Bab 96 Pulang Ke Desa Mertua
97 Bab 97 Jalan-Jalan Di Desa Mertua
98 Bab 98 Terbongkar Niat Buruk Dina
99 Bab 99 Pesan Dari Gus Ezra
100 Bab 100 Meluruskan Kesalahan
101 Bab 101 Hari Bahagia Siska
102 Bab 102 Nayla Mengetahui
103 Bab 103 Penolakan
104 Bab 104 Kedatangan Gus Riqza
105 Bab 105 Belanja Untuk Donasi
106 Bab 106 Si Kembar Sakit
107 Bab 107 Telpon Dari Fuji
108 Bab 108 Kabar Nenek Arsyita
109 Bab 109 Kematian Nenek Arsyita
110 Bab 110 Kepulangan Rizky dan Fuji
111 Bab 111 Happy Ending
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Bab 1 Pertemuan Pertama
2
Bab 2 Membeli Perlengkapan Camping
3
Bab 3 Pesan Dari Seseorang
4
Bab 4 Kedatangan Juan dan Perhatian Rangga
5
Bab 5 Sekolah
6
Bab 6 Meminta Putus
7
Bab 7 POV Rangga
8
Bab 8 Di Café
9
Bab 9 Ketahuan
10
Bab 10 Rumah Sakit
11
Bab 11 Kepergian Juan
12
Bab 12 Taman
13
Bab 13 Berbagi
14
Bab 14 Pergi Untuk Selamanya
15
Bab 15 Bangkit
16
Bab 16 Kedatangan Tamu
17
Bab 17 Jawaban Nayla
18
Bab 18 Kemarahan Ali
19
Bab 19 Ke Rumah Rangga
20
Bab 20 Duet
21
Bab 21 Mungungkapkan Perasaan
22
Bab 22 Bioskop
23
Bab 23 Tragedi Di Jalan
24
Bab 24 Berjunjung Ke Pabrik
25
Bab 25 Jalan-Jalan Malam
26
Bab 26 Olah Raga Pagi
27
Bab 27 Permintaan Mamah Rangga
28
Bab 28 Pergi Ke Kampung Nenek
29
Bab 29 Pondok Pesantren Al-Ikhlas
30
Bab 30 Jalan-Jalan Di Kampung Nenek
31
Bab 31 Orang Di Masa Lalu Rangga
32
Bab 32 Pulang Dan Penjelasan
33
Bab 33 Wisuda Sekolah
34
Bab 34 Pesta Kecil-Kecilan
35
Bab 35 Perjodohan
36
Bab 36 Berita Perjodohan Rangga
37
Bab 37 Mulai Kuliah dan Di Pabrik
38
Bab 38 Chat Dari Mami Rangga
39
Bab 39 Pertemuan Juan dan Rangga
40
Bab 40 Di Kampus
41
Bab 41 Ketahuan Dengan Om-Om
42
Bab 42 Perdebatan
43
Bab 43 Mimpi
44
Bab 44 Cabang Baru
45
Bab 45 Merenggang
46
Bab 46 Rumah Sakit dan Rencana Pindah
47
Bab 47 Di Tembak Dosen
48
Bab 48 Surat Dari Nayla
49
Bab 49 Kepergian Nayla dan Pondok Pesantren
50
Bab 50 Hari Pertama Di Pesantren
51
Bab 51 Kegiatan Di Pesantren Dan Bertemu Seseorang
52
Bab 52 Kecelakaan
53
Bab 53 Libur Semesteran
54
Bab 54 Mengetahui Kabar Rangga dan Pertemuan Pertama
55
Bab 55 Bertemu Okta
56
Bab 56 Siuman
57
Bab 57 OTW Bandung
58
Bab 58 Acara Lamaran Riki dan Pernikahan Riki
59
Bab 59 Resepsi Pernikahan Rangga dan Zulaika
60
Bab 60 Akankah Aku Dapatkan Cintanya
61
Bab 61 Buah Dari Kesabaran dan Akhirnya Sah
62
Bab 62 Suka Duka Poligami
63
Bab 63 Mimpi Buruk
64
Bab 64 Qodarullah dan Dua Berita Duka
65
Bab 65 Ikhlas
66
Bab 66 Tanda-Tanda Pelakor
67
Bab 67 Dugaan
68
Bab 68 Makan Malam
69
Bab 69 Periksa Kandungan
70
Bab 70 Menolong Seseorang
71
Bab 71 Rizky mengenal Fuji
72
Bab 72 Tawaran Rizky
73
Bab 73 Mulai Bekerja dan Perhatian
74
Bab 74 Berkunjung Ke Rumah Erika
75
Bab 75 Rumah Sakit
76
Bab 76 Berkunjung Ke Rumah Sakit
77
Bab 77 Bertemu Dokter Wisnu
78
Bab 78 Bandung
79
Bab 79 Menjenguk Fuji Di Rumah Sakit
80
Bab 80 Sidang Skripsi Rangga
81
Bab 81 Kedatangan Keluarga Bandung
82
Bab 82 Jalan-Jalan Malam
83
Bab 83 Ali Pulang
84
Bab 84 Berkunjung Ke Kampung Mertua
85
Bab 85 Mulut Julid Tetangga
86
Bab 86 Telpon Dari Seseorang
87
Bab 87 Bertemu Seseorang yang menyukai Rangga
88
Bab 88 Kedatangan Dina
89
Bab 89 Dina Hamil
90
Bab 90 Ngidam Makan Bersama
91
Bab 91 Melahirkan
92
Bab 92 Kembali Ke Rumah
93
Bab 93 Menjadi Orang Tua Baru
94
Bab 94 Telpon Dari Riki
95
Bab 95 Telpon Dari Seseorang
96
Bab 96 Pulang Ke Desa Mertua
97
Bab 97 Jalan-Jalan Di Desa Mertua
98
Bab 98 Terbongkar Niat Buruk Dina
99
Bab 99 Pesan Dari Gus Ezra
100
Bab 100 Meluruskan Kesalahan
101
Bab 101 Hari Bahagia Siska
102
Bab 102 Nayla Mengetahui
103
Bab 103 Penolakan
104
Bab 104 Kedatangan Gus Riqza
105
Bab 105 Belanja Untuk Donasi
106
Bab 106 Si Kembar Sakit
107
Bab 107 Telpon Dari Fuji
108
Bab 108 Kabar Nenek Arsyita
109
Bab 109 Kematian Nenek Arsyita
110
Bab 110 Kepulangan Rizky dan Fuji
111
Bab 111 Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!