Cerahnya langit biru mulai memudar, digantikan oleh senja yang kuning kemerahan. Sore ini masing-masing diri tidak memiliki kegiatan pribadi. Mereka memutuskan untuk tetap tinggal di ruangan dan lebih lama berkumpul untuk lebih mematangkan tentang acara-acara dibulan Ramadhan dan diselingi dengan obrolan dan canda, tawa.
Silvi yang duduk berhadapan dengan Ihsan di meja tugas Ketua Remaja. Asma dan Asyam yang juga ditemani oleh Syahrul , mereka duduk dilantai dengan laptop masing-masing. Syahrul ikut bergabung mendiskusikan acara apa saja yang akan dibuat. Nadia, Salwa dan Zidan berdiskusi tentang konsumsi buka puasa bersama untuk para Jama’ah masjid.
“asma si baru dapat 4 kegiatan, yang insya allah kita semua pun bisa aktif dalam kegiatan tersebut. Iftor jama’I , Ta’jil On The Road , sahur bersama, dan tadarus. Sebenarnya ingin diadakan antara kuliah subuh atau kuliah dhuha, tapi khawatir tidak ada yang mengisi.” Jelas Asma.
“kalau subuh sudah pasti ada, ma. Kalau dhuha, bagus juga si. Coba nanti di usulkan saja saat musyawarah ke dua.” Sahut Syahrul.
“bang asyam kira-kira kalau dhuha bisa mengisi tidak ?” tanya Syahrul.
“insya allah sabtu dan ahad, bisa. Kalau hari biasa, saya kerja.” Jawabnya.
“kalau rata-rata yang bisa hanya weekend, maka kuliah dhuha dibuka setiap sabtu dan ahad saja. Tapi kalau dihari biasa ada yang bersedia, maka kuliah dhuha akan aktif setiap hari.” Usul Asma dengan senyuman yang gembira.
“oke. Nanti kita tanyakan kesediaan mereka untuk mengisi kuliah dhuha.” Ucap Syahrul yang juga bergembira.
Sementara itu, Salwa dan Nadia sedang merincikan anggaran dana konsumsi untuk iftor para jama’ah masjid. Sambil ditulis diselembar kertas. Zidan hanya duduk dan memperhatikan.
Zidan Misbah Sa’dan, tetangga sekaligus teman dekat Syahrul. Zidan lelaki sederhana namun cerdas. Saat ini kegiatannya hanyalah sebagai mentor sekaligus marbot di salah satu masjid yang mengadakan Lembaga Amil Zakat (LAZ) sekaligus mengadakan kegiatan mentoring disetiap minggunya di dalam masjid yang bertempat seperti aula yang luas.
“untuk ta’jil kita pakai kurma sama teh. Laluuuu …” ucap Salwa sambil berfikir.
“makanan beratnya nanti bergilir saja, kalau ada dana lebih di kas, kita gunakan. Kalau tidak ada, mungkin minta bantuan masyarakat sekitar.” Selak Zidan sambil memainkan handphone-nya.
“hmm, boleh juga. Yasudah nanti dibicarakan lagi.” Ucap Nadia.
Nadia Elfira Syahidah, seorang gadis yang cerdas dalam mendidik anak. Sesuai profesinya sebagai pengajar di salah satu taman kanak-kanak dan bekerja sebagai seorang penyiar radio saat sore hari. Nadia terkenal sebagai gadis yang bertutur kata baik dan bijak juga seorang yang penyabar.
Adzan maghrib telah berkumandang, banyak orang-orang yang berjalan menuju masjid. Orang-orang yang berjualan malam di luar pagar masjid, meninggalkan dagangannya untuk melakasanakan sholat maghrib di masjid. Ihsan, Asyam dan teman-temannya keluar ruangan untuk berwudhu dan melaksanakan sholat maghrib berjama’ah. Silvi dan Salwa tetap berada di ruangan karena sedang berhalangan.
Silvi Damayanti, gadis berusia 25th. Satu kelahiran dengan Ihsan ditanah Jakarta. Sikapnya lembut, dewasa dan baik kepada sesama. Kabarnya dia telah dijodohkan oleh pemuda kelahiran tanah jawa, anak teman ayahnya. Namun sosoknya sampai sekarang belum juga diperlihatkan kepada teman-teman remajanya. Silvi gadis yang mandiri, bekerja, kuliah dan membiayai kedua adiknya untuk bersekolah. Silvia dan Salva, mereka kembar dan duduk di bangku Madrasa Aliyah tingkat 1.
“ka silvi, jadi dana kita untuk kegiatan ada berapa ka ?” tanya Salwa menghampiri Silvi yang masih berada di
meja Ihsan.
“kalau saldo ramadhannya belum ada. Kalau sisa kas kita ada sekitar delapan jutaan.” Jelas Silvi.
“hmm ..” gumam Salwa.
“kan kita juga mau menyebar proposal ke perusahaan sekitar untuk meminta partisipasi mereka. Nanti juga mau minta dana tambahan kepada pengurus masjid.” Jelasnya lagi.
“hmm .. ka silvi rencana pernikahannya kapan, hehe ..” Tanya Salwa sambil bercanda.
“hii ko jadi bahas nikah si .. Doakan saja ya, ngga baik diumbar-umbar. Nanti saja tunggu undangannya.” Ucap Silvi dengan senyuman.
“salwa kapan nyusul ?” Ledek Silvi.
“ih kaka nih, aku saja baru mulai kuliah, ka. Calonnya saja belum keliatan. Tapi .. doakan saja ya sama pemuda yang satu ini, hihihi ..” canda Salwa.
“hayo , pemuda yang mana ..” desak Silvi sambil bercanda.
Para Jama’ah masjid berhamburan keluar masjid untuk memakai sandal. Ada juga beberapa yang masih tinggal di masjid untuk membaca Al-Qur’an sambil menanti datangnya waktu isya. Ihsan, Asyam dan Zidan kembali menaiki tangga. Tetapi tidak dengan Syahrul, yang mengeluarkan motornya dari barisan parkir.
“rul, mau kemana ?” Tanya Ihsan yang sedikit berteriak karena posisinya yang hampir mendekati pintu sekretariat.
“biasa, bang ihsan. Buka warung dulu.” Jawabnya.
“cepat balik ya.” Ucap Ihsan dengan senyumnya.
“siap, bang.” Balas Syahrul.
Syahrul Ramadhan. Putra bapak Syahdan yang memiliki rumah makan olahan ayam di pinggir jalan raya yang berjarak 1km dari tempat tinggalnya yang berada 100 meter dari masjid. Syahrul hanya tinggal bersama ayahnya, ibunya meninggal sejak Ia duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah tingkat 3. Menjelang ujian nasional. Kini keadaan perekonomiaannya lebih baik semenjak ayahnya membuka rumah makan di pinggir jalan. Ruangan yang
cukup luas untuk menata meja dan kursi, juga dapur dibagian belakang. Lagi-lagi, Asma lah yang membantu menata dan merias ruangan itu. Ayahnya sangat menyayangi Asma sebagai anak perempuannya juga sangat dihormati karena Ia adalah putri dari keluarga Ustadz dan Ustadzah yang terpandang dilingkungan sekitar.
“assalamu’alaikum, pak. “ ucap Syahrul sambil mengangkat rooling door.
“wa’alaikumsalam .. kemana saja ngga bantu bapak dari sore ?” Ucap Pak Syahdan yang terlihat kesal terhadap putranya.
“maaf, pak. Tadi kumpul sama teman-teman remaja di masjid.” Jelas Syahrul sambil menurunkan bangku yang tergantung diatas meja.
“yasudah, sebagai gantinya. Syahrul bantu bapak sampai tutup.” Ucap Syahrul.
“urusi saja urusanmu. Biar bapak yang berdagang.” Ucap Pak Syahdan sambil mengeluarkan ayam yang telah dibumbui untuk ditaru di etalase depan.
“jangan marahlah, pak. Syahrul kan sudah minta maaf dan ingin menebus kesalah syahrul.” Ucap Syahrul.
Tiba-tiba saja ponsel Syahrul bergetar , menerima pesan dari seorang teman.
“rul , aku dan teman-teman yang lain mau mampir ke warung bapa sekalian makan malam disana.”
“pak , asma sms. Katanya dia dan teman-teman mau mampir dan makan disini.” Ucap Syahrul gembira.
“bener kamu, rul ?” tanya Pak Syahdan yang ikut bergembira karena rezeki dari Allah untuknya akan segera datang dari teman-teman putranya.
“iya, pak. Bener.” Sahut Syahrul.
“Alhamdulillah.” Ucap Pak Syahdan.
Ada hati yang resah menantikan kehadiran putri semata wayangnya yang tak kunjung datang dari jam pulang mengajarnya. Nomor yang dihubungi sejak sore, tidak aktif. Tidak ada pula kabar yang sampai kepada orang tuanya, Ustadz Hasan Khusaeni dan Ustadzah Zulfah Fitriyah.
“coba hubungin ihsan, yah. Kali ajah asma lagi sama ihsan dan teman-temannya dimasjid.” Ucap Ustadzah Zulfah yang terlihat panik.
“yasudah, bunda kan bisa hubungi pakai telpon rumah.” Ucap Ustad Hasan.
Ihsan dan kawan-kawan telah sampai di RM Syahdan (nama rumah makan milik bapak syahdan.) Pak Syahdan sangat gembira tiap kali bertemu dengan Asma, putri seorang Ustadz yang sangat Ia hormati. Mereka berkumpul di meja panjang yang sama dan saling berhadapan.
“hayo pada pesan menu apa nih ?” tanya Syahrul yang ramah sambil memegang kertas dan pulpen ditangannya.
“kalau asma pasti ayam bakar madu sama jeruk hangat, ya kan ?” Ucap Syahrul dengan tawa.
“yes. Right, syahrul.” Sahutnya sambil tersenyum.
“nampaknya untuk pelanggan yang ini sangat dihafal kesukaannya.” Ledek Ihsan.
“ah bang ihsan nii .. Jangan cemburu-lah, bang.” ledek Syahrul.
“lupakan, lupakan .. aku pesan ayam kremes sama teh manis panas.” Ucap Ihsan.
“oh, iya. Ayam bakar punya ku dibungkus saja ya, nanti dimakan dirumah. Aku pesan tiga.” Ucap Asma dengan lembut.
“hmm .. iya.” Sahut Syahrul.
“yang lain ?” tanya Syahrul yang siap mencatat lagi.
“kita bertiga samain saja kaya asma, ayam bakar madu. Minumnya teh manis satu sama jus mangga dua.” Jelas Silvi.
“siap. Zidan sama bang asyam pesan apa ?” tanya Syahrul.
“saya ayam penyet sama jeruk hangat.” Ucap Asyam.
“aku ayam goreng sama teh manis saja, rul.” Lanjut Zidan.
“oke, ditunggu yaa.” Ucap Syahrul.
Tiba-tiba ponsel Ihsan bergetar menandakan panggilan masuk. Tertulis di layar ponselnya, bunda zulfah.
“bunda nelpfon, ma.” Ucap Ihsan kepada Asma yang duduk di hadapannya.
“astaghfirullah. Coba diangkat, bang. Tapi …. Jangan bilang tentang ini ya.” Ucap Asma sambil menunjukkan
jari-jarinya yang diperban.
Percakapan via telpon :
“wa’alaikumussalam ..” Jawab Ihsan.
“ihsan, kamu lagi dimana, nak ?” Tanya Bunda Zulfah.
“ihsan lagi makan di warungnya pak syahdan, bunda.” Jawab Ihsan.
“mmhh .. apa ada asma disana ?” Tanya Bunda Zulfah.
“ada, bunda. Asma pasti ngga ngabarin bunda sama ayah dirumah ya.” Ucap Ihsan.
“nomornya tidak bisa dihubungi. Bunda khawatir, takut asma kenapa-kenapa di jalan.” Ungkap Bunda Zulfah.
“insya allah ngga apa-apa, bunda. Tadi sehabis ngajar, ihsan yang meminta asma ke masjid. Mungkin hp-nya mati jadi tidak mengabari ke bunda. Sekarang kita semua lagi mau makan sama teman-teman yang lain. Sehabis itu, baru kita semua pulang.” Jelas Ihsan.
“yasudah, titip asma ya. Jangan terlalu malam pulangnya.” Ucap Bunda.
“insya allah.” Sahut Ihsan.
Asma pun menatap Ihsan berharap Ia menceritakan percakapannya dengan Bunda Zulfah, begitupun Ihsan yang menatapnya seolah ingin menasihatinya. Namun nyatanya, Syahrul dan sang ayah memecah lamunannya dengan menghadirkan beberapa piring sesuai dengan pesanan masing-masing.
“Alhamdulillah ..” ucap Silvi dengan wajah yang senang.
“silahkan dinikmati, moga-moga rasanya tidak mengecewakan.” Ucap Pak Syahdan.
“insya allah tidak, pak. Buktinya ayam bakar madu jadi favoritnya asma.” Ungkap Salwa bercanda.
“iyah, pasti enak ko, pak.” Sambung Silvi.
“rul, gabunglah. Kita sekalian mau lanjut membahas yang tadi.” Ucap Ihsan
“iya, bang.” Sahut Syahrul dan berjalan untuk menaruh nampan di belakang.
Sambil menyantap hidangan, sedik-sedikit mereka berbincang menyampaikan hasil diskusi dari masing-masing tugasnya. Sekitar 20 menit mereka menghabiskan makanan dan membersihkan tangan mereka. Mereka kembali memulai rapat dimeja makan.
“salwa, tolong dicatat semua usulan teman-teman. Syahrul silahkan dimulai rapatnya.” Perintah Ihsan.
“mmh .. maaf bang ihsan, kalau boleh usul rapatnya kita tunda sampai minggu depan saja, gimana ? takutnya kemalaman untuk dibahas lagi. Dan nanti tolong dibuatkan grup khusus panitia saja supaya bisa tetap diskusi jarak jauh.” Usul Silvi.
“mhh .. boleh juga. Jadi untuk masing-masing divisi dipersiapkan baik-baik ya. Supaya minggu depan bisa dibahas tuntas, nanti segera saya buatkan grupnya.” Ucap Ihsan.
Merekapun menyelesaikan pertemuan hari ini. Semua kembali kerumah dengan mengendarai motor dan ada pula yang berjalan kaki. Asma, Silvi dan Salwa berjalan sambil berbincang-bincang hingga sampai diperempatan jalan untuk berpisah. Silvi yang harus mengambil jalur kiri untuk sampai kerumahnya, begitu pula dengan Salwa yang berbelok ke kanan dan Asma tetap berjalan lurus.
Bersambung .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
rahasia
bagus
2022-02-04
0
Rinjani
wah alur ceritanya bagus
2022-02-04
1
Dahyun_Twice ❤️
yt
2021-11-23
1