Sinar matahari pagi kali ini begitu terang masuk ke dalam kamar. Nahla menarik selimut karena terlalu mengganggu penglihatan. Merasakan lembut dan harum yang nyaman di tempat tidurnya. Kasur di kosan miliknya tidak selembut ini. Nahla pasti sedang bermimpi.
Tolong sebentar lagi, Nahla masih ingin menikmati kenyamanan ini.
Aroma parfum yang mengingatkan Nahla pada satu orang pria.
Tunggu.
Kedua bola mata Nahla terbuka lebar kemudian ia berteriak di bawah selimut melihat otot kekar tanpa sehelai benang menyambutnya.
"Gue dimana?!" Nahla membuka selimut membuat tubuh Regan terekspos. "Lo apain gue?!" Nahla memukul Regan lalu menyilangkan tangannya di dada. Nafasnya naik turun dengan cepat.
Regan yang sedang tertidur dengan posisi tidur terlungkap menutup telinganya mengabaikan Nahla.
Nahla memutar kembali ingatan dirinya. Mengumpulkan kepingan nyawa yang masih melayang.
"Lo apain gue?!" Nahla kembali memukul bahu telanjang Regan.
"Aw!" Regan kesakitan mengelus bahunya. "Apa, sih?! Emangnya gue apain lo?"
"Kenapa gue bisa ada disini, dan lo disini juga tanpa pakaian?!"
"Semalam lo tidur. Terus gue tidur. Udah." Penjelasan Regan yang super singkat. "Gue nggak sentuh lo, pakaian lo masih utuh,"
"Terus kenapa lo nggak pakai baju?"
"Gue tidur emang suka nggak pakai baju, pakai celana nih," Regan membuka selimut. "Ngerti?"
Emosi Nahla mereda perlahan.
"Tenang aja, Na. Gue nggak akan sentuh apapun tanpa izin lo," Kata Regan merubah posisi menjadi terlentang. Nahla menoleh. "Gue juga tahu batasan, nggak main nyosor sana sini,"
"Bagus kalau tau,"
Regan mengambil remot, menutup gorden sedikit agar tidak terlalu silau. "Ada yang perlu di bahas? Apa ada yang belum selesai di antara kita?"
"Nggak, semuanya selesai. Apa yang belum selesai?"
"Yakin?" Regan menatap Nahla.
"Em," Nahla mengangguk mantap.
"Lo harus tanggung jawab."
"Maksudnya?"
"Karena kata-kata lo di acara camping buat gue kepikiran." Regan merubah posisinya menjadi duduk. "Gue nggak tau, Na. Apa perasaan ini sudah selesai apa masih ada,"
Jantung Nahla kembali berdegup kencang. Terlebih Regan menatapnya dengan jarak yang cukup dekat. Suasana yang hening membuat percakapan keduanya terdengar di penjuru ruangan.
"Lo udah punya pacar, Regan. Jangan mengulangi kesalahan yang sama."
"Karena kesalahan itu buat gue mimpi buruk setiap malam." Regan menunduk sebentar. "Gue merasa bajingan di hadapan lo, makanya gue lari dari masalah."
Nahla mengepalkan tangannya. Keheningan menyelimuti keduanya.
"Izinkan gue pastikan satu hal, Na," Kata Regan pelan dan lembut mengayun di telinga Nahla.
"Em?"
"Tentang perasaan gue." Regan menatap lekat menunggu izin.
"Nggak—" Terlambat, Regan sudah membekap bibir Nahla dengan bibirnya.
Nahla kaget seketika dengan mata terbuka sempurna. Tangannya yang ingin mendorong tubuh Regan di tahan oleh pria itu sampai tubuh Nahla terbaring di ranjang.
Regan melepaskan tautan bibirnya. Menatap Nahla yang terlihat marah. Regan mengunci tubuh Nahla di bawahnya. Keduanya saling melempar pandangan cukup lama.
"Gue rasa ini nggak akan pernah selesai, Na." Ujar Regan melepaskan tubuh Nahla dalam dekapan. Regan turun dari ranjang menuju kamar mandi.
"Apa?"
Langkah Regan terhenti.
"Mau lari lagi? Kenapa lo nggak pernah menyelesaikan masalah dengan kita duduk berdua terus bicarakan apa yang lo dan gue mau dengan kepala dingin? Jangan seperti ini Regan. Lo pengecut."
Nahla memakai topinya. "Jangan menyesal di kemudian hari. Semua butuh proses, jangan mencoba menarik perhatian di saat kepompong sudah menjadi kupu-kupu."
Regan memutar tubuhnya menatap Nahla penuh.
"Satu lagi, bilangin sama nyokap lo, tolong jangan minta gue hadir di pertunangan kalian."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Rita Riau
hadeeh Regan jgn bikin Nahla ilfil sama kamu,,🙄🙄
2024-10-14
0