Rasa yang tertinggal

Hari pertama akhirnya terlewati. Jam lima sore Nahla sudah tiba di kamar kos setelah menghabiskan hari yang sangat panjang. Mandi sejenak menghilangkan keringat, mengenakan baju tidur kemudian Nahla duduk di atas karpet bulu membuka bungkusan cemilan yang ia beli sebelum pulang.

Melihat lagi tugas ospek yang bisa ia kerjakan, setiap mahasiswa diharuskan membuat CV pribadi, menulis essay, membuat daily report, menghafalkan mars dan hymne, visi dan misi, dan yang terakhir membuat yel-yel. Itu tugas ospek kampus yang diberi waktu selama tiga hari dan harus di kumpulkan hari terakhir sebelum jam tiga sore. Setiap hari akan ada seminar dan membawa barang yang telah disebutkan, Nahla menyiapkan semuanya agar besok tidak lupa.

Usai ospek kampus penderitaan akan segera datang, ospek fakultas menunggu selama tiga hari. Nahla belum mendapat bocoran. Yang pasti harus menyiapkan diri. Katanya ospek fakultas lebih ketat.

Fokus Nahla teralihkan melihat panggilan masuk atas nama R. Nahla mengganti nama Regan di ponselnya dengan satu huruf saja. Berfikir lama namun akhirnya Nahla menerima panggilan tersebut.

"Em?"

"Dimana? Gue di bawah,"

Seketika Nahla bangkit dan panik. Bagaimana jika orang melihat.

"Ngapain?!"

"Kita harus bicara,"

"Gue sibuk kerjain tugas ospek," Nahla mencari alasan. "Nggak bisa sekarang,"

"Lo menghindar?"

Nahla menggeleng. "Nggak."

"Ya udah keluar sebentar. Atau gue masuk."

"Jangan!" Nahla menarik rambutnya frustasi. "Lo tunggu di persimpangan aja, gue ke sana."

"Oke."

Nahla bergegas berganti baju berubah menjadi ninja seketika. Wajahnya hampir tidak terlihat, memakai topi, kacamata hitam lalu masker. Nahla mengendap keluar sebelum ada yang menyadarinya.

Hanya memakai baju tidur, Nahla mengintip dari balik kaca mata mencari dimana mobil Regan. Mobil jenis Jeep Wrangler Rubicon special edition berwarna hitam tersebut berhenti di pinggir jalan dekat persimpangan. Nahla berjalan cepat, Memastikan sekali lagi tidak ada yang melihat ataupun orang yang mengenalnya, Nahla segera masuk.

Regan melihat Nahla dengan ekspresi bingung dan aneh. Nahla mengangkat tangannya menyapa kikuk. "Hai." Katanya.

Regan menggeleng pelan melihat kelakuan Nahla.

"Apa yang mau di bicarain?"

"Lepas dulu kali, Na, kacamata sama maskernya. Gue udah vaksin covid tiga kali." Regan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangannya di dada menatap Nahla.

Nahla melepas topi, kacamata lalu masker. Menyisir rambut panjangnya ke belakang. "Apa?"

"Udah makan?"

"Nggak boleh tanya-tanya,"

Regan mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Lo itu udah punya pacar, harusnya nggak boleh diam-diam ketemu gue seperti ini,"

"Lah? Lo kan keluarga gue,"

Nahla meremas masker di pangkuan. "Kita bukan keluarga," Ujar Nahla bergetar.

"Emang, kita nggak punya ikatan darah. Tapi kita sudah seperti keluarga,"

"Itu menurut lo,"

"Lo kenapa, sih?" Tanya Regan bingung. Menegapkan tubuhnya. "Gue udah janji sama almarhum kedua orang tua lo buat jaga dan memastikan lo hidup dengan baik."

Nahla terdiam lama kemudian berkata dengan bibir bergetar. "Jangan bawa mereka. Lo udah berhasil sejauh ini, makasih."

Regan terdiam tidak habis pikir. "Gue nggak mau hubungan silaturahmi yang terjalin belasan tahun putus hanya karena masa puber lo,"

Nahla menarik napas, menghembuskan dalam satu kali hentakkan. Memberanikan diri menatap Regan. "Iya, gue selalu terlihat masih kecil di mata lo." Nahla tersenyum. "Gue nggak bermaksud memutuskan hubungan silaturahmi, gue cuma mau lo pura-pura nggak kenal gue aja. Susah, ya?"

"Iya kenapa masalahnya?!"

"Karena gue nggak tau lo seterkenal itu!" Kata Nahla menggebu. Dadanya naik turun membuat matanya mulai berkaca-kaca. Regan terdiam. "Gue nggak mau ada di dalam lingkungan kehidupan lo disini. Bisa nggak lo hargai privasi gue?"

Keduanya saling beradu pandang dalam keheningan cukup lama. Tetap pada argumen dan pemikiran masing-masing yang tidak bisa di mengerti. Akhirnya Regan mengalah. "Oke kalau itu yang lo mau,"

Nahla memakai kaca mata.

"Maaf kalau gue ganggu privasi lo, gue nggak ada maksud. Maaf juga karena gue nggak peka kalau lo nggak mau ada di hidup gue lagi."

Bukan itu maksud Nahla!

"Sukses buat urusan lo. Satu lagi, kalau ada apa-apa jangan sungkan kasih tau gue. Lo bisa panggil gue kalau lagi butuh. Gue nggak ada masalah, gue terima lo dalam keadaan apapun mau orang bilang lo ini dan itu. Tapi sepertinya gue salah, lo sendiri yang menjauh dan memilih untuk diam."

Nahla menunduk, memakai topi kembali. Menenangkan dirinya sebentar. Regan menunggu dengan sabar menatap jalan.

"Gue harus pergi." Ujar Nahla memakai masker.

Regan mengangguk. Mencondongkan tubuhnya ke kursi belakang. Mengambil dua bingkisan lumayan besar, Regan meletakkan ke atas pangkuan Nahla.

"Cemilan buat temenin lo kerjain tugas," Regan tersenyum kecil.

Nahla menatap bingkisan di pangkuannya lama lalu berkata. "Makasih," Nahla menerimanya, membuka pintu mobil.

"Na," Panggil Regan sebelum Nahla menutup pintu. "Lo harus tau, lo itu special. Jadi nggak perlu hilang percaya diri."

Nahla bungkam. Berdiri lama di pinggir jalan sementara mobil Regan sudah melaju, waktu seolah bisu hanya terdengar kalimat Regan berulang.

"Nahla!?" Ayra menepuk bahu Nahla menyadarkan dari lamunan. Nahla terkejut bingung. "Gue panggil dari sana lo nggak dengar. Ngapain disini sendiri?" Ayra menatap Nahla dari atas ke bawah. "Benar kan ini Nahla?"

"Em?" Nahla mengerjap. "Iya ini gue. Tadi habis beli ini." Mengangkat bingkisan di tangan.

"Kirain salah orang. Malu gue. Mau pulang?" Tanya Ayra sambil menjilat ice cream. Nahla mengangguk. "Yuk,"

Keduanya berjalan beriringan. "Lo dari mana?" Nahla melihat penampilan Ayra yang selalu stylist dan terlihat mewah. Semua pakaian yang Ayra pakai dari brand terkenal. Tidak terlihat kemiskinan di tubuh Ayra.

"Beli ice cream," Ayra memperlihatkan ice cream di tangan. "Beli dua, buat lo sama Zoya,"

Nahla melepas kacamata dan masker, tersenyum kecil mengambil ice cream yang Ayra berikan. "Jadi seperti ini kostum beli ice cream?" Nahla tertawa kecil.

"Emang kenapa sama penampilan gue?" Ayra menatap penampilannya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilannya.

"Nggak," Nahla menggeleng. "Lo udah kerjain tugas ospek?"

"Belum," Ayra menautkan tangan di lengan Nahla. "Lo udah?"

"Belum, baru sedikit,"

"Besok jadwal kita apa?"

"Ada seminar pagi kalau nggak salah,"

"Gue benci seminar. Kaki gue encok kalau tiap hari jalan terus ke kampus. Kenapa harus ada peraturan maba nggak boleh bawa kendaraan, sih? Dan juga kenapa harus stay jam tujuh pagi."

"Karena akan buat kemacetan katanya, lagi pula selama ospek, nggak seterusnya."

"Pusing gue mikirin ospek, sama kayak mikirin doi yang nggak mikirin kita," Ayra tertawa sendiri penuh perasaan.

Nahla dan Ayra tiba di gedung kos, berpisah masuk ke kamar masing-masing. Nahla melihat apa saja yang Regan berikan, berbagai jenis snack yang sangat banyak. Beberapa di antaranya adalah kesukaan Nahla.

Nahla tersenyum kecil, menyusun snack ke atas meja lalu melanjutkan mengerjakan tugas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!