Curi pandang

Nahla berlari kecil berteduh di salah satu warung karena hujan tiba-tiba turun. Membuka hoddie jaket yang menutup kepala. Rambutnya tergerai basah terkena air hujan. Hidungnya sedikit tersumbat karena Nahla alergi dingin.

Melihat jam di pergelangan tangan, lima belas menit lagi jam sembilan. Pagar kos akan di tutup, Nahla berdiri gelisah karena hujan bertambah deras disertai angin kencang seperti badai.

Banyak sekali anak seumuran dirinya yang terjebak karena hujan. Warung tempat Nahla berteduh tidak padat sehingga tidak harus berhimpitan seperti warung-warung lainnya. Nahla harus bergegas pergi, jika tidak ia akan tidur di mana. Namun, Nahla juga tidak mungkin menerobos hujan karena petir bergemuruh.

Nahla mencoba menghubungi Ayra maupun Zoya, namun kedua temannya itu tidak mengangkat panggilan telpon ataupun membalas pesannya. Mereka pasti sudah tidur kerena kelelahan. Jarak yang harus Nahla tempuh sedikit jauh dan jarum jam terus berjalan.

Nahla duduk di bangku menghadap jalan, hanya ada seorang lelaki yang duduk tidak jauh darinya. Nahla akhirnya memutuskan untuk bangkit, memakai hoddie jaket bersiap untuk berlari.

Niat Nahla terhenti mendengar suara klason mobil. Nahla mengangkat kepala mencari sumber suara. Bukan hanya Nahla yang mendengar, semua orang yang berada di sana juga. Di sebrang jalan jauh dari warung, Nahla melihat mobil Regan terparkir di sana. Jantung Nahla berdegup kencang, ia mencoba tidak menghiraukan namun Regan menekan klason dan kini cukup panjang.

Nahla mengabaikan, hendak berlari dan lagi suara klason berbunyi lebih panjang dari sebelumnya membuat semua mata menatap mobil tersebut. Nahla mengurungkan niat, menatap mobil dari kejauhan. Nahla tahu itu adalah bentuk peringatan.

Satu pesan Nahla terima.

R

Masuk atau gue jemput.

Lo nggak mau semua orang lihat kan?

Kalau gue nggak masalah

Gue nggak menerima penolakan

Masuk!

Nahla menghembuskan napas pelan, memasukkan handphone ke saku jaket. Melihat ke kanan-kiri memastikan tidak ada kendaraan, Nahla berlari menyebrang jalan. Semua mata menatapnya dari kejauhan karena hanya Nahla yang bergerak di sana. Tidak ada lampu jalan yang menerangi mobil Regan, namun mereka yang kebanyakan mahasiswa segera sadar saat lampu mobil menyala meninggalkan lokasi setelah Nahla naik.

Keheningan terjadi, hanya suara gemuruh yang terdengar. Regan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.

Melepas hoddie jaket lalu masker, Nahla menatap jendela kaca. Kemudian menoleh melihat handuk yang Regan berikan. Nahla menerima, mengeringkan air di kepala dan tubuhnya.

"Apa harus di tegasin dulu?" Tanya Regan menoleh sekilas. Terlihat raut wajah marah disana. "Nggak bisa kalau gue bilang sekali?"

Nahla menatap Regan malas. Tidak ada yang ingin Nahla sampaikan.

"Kalau aja gue nggak lihat lo, mau sampai kapan lo disana? Mau tidur di mana?"

Mendengar itu Nahla segera sadar. Ia melihat jam di pergelangan tangan. Jam sembilan lewat sepuluh menit. Nahla menutup mata mengendalikan diri.

"Apartemen gue aja," Ujar Regan. Nahla menoleh. "Apa yang ada di pikiran lo nggak akan terjadi,"

"Emang apa yang ada di pikiran gue?" Nahla mendengus.

"Besok, pagi-pagi gue antar ke kos,"

Nahla diam karena tidak punya pilihan. Tidak ada percakapan lagi sampai tiba di basement apartemen. Keduanya keluar bersamaan. Nahla mengikuti langkah Regan di belakang, melihat sekitarnya. Apartemen mewah dengan fasilitas lengkap.

Masuk ke dalam lift, Nahla melihat Regan menekan tombol di angka lima puluh dua. Angka terakhir yang tertera di sana. Hanya keheningan yang terjadi, baik sekitarnya maupun Regan dan Nahla.

Pintu lift terbuka, Nahla berjalan di atas lantai. Setiap interior terlihat mewah dengan paduan gaya Eropa modern yang memiliki ciri khas dan juga karakteristik ruangan yang bersih dan tidak banyak hiasan maupun dekorasi.

Hanya ada satu pintu di lantai tersebut, Nahla segera tahu ketika Regan membuka pintu dengan memasukkan sandi. Nahla di buat kagum melihat kemewahan dengan gaya yang elegan di hadapannya. Sebuah Penthouse dengan dua lantai di dominasi warna abu-abu dan putih. Pemandangan semakin menakjubkan ketika Regan menghidupkan lampu dekat jendela sehingga Nahla bisa melihat kota Bandung dari ketinggian.

"Lo boleh tinggal di sini kalau mau," Ujar Regan meninggalkan Nahla yang masih mengagumi keindahan menuju lantai dua.

Nahla mendengus menatap Regan dengan senyuman di bibirnya. Nahla pikir tempat tinggal Regan berantakan, bau dan tidak terawat. Semua yang ada di pikiran Nahla tidak ada yang benar. Regan menata rapih semua perabotan pada tempatnya.

"Ganti baju dulu," Regan menghampiri Nahla memberikan baju. "Gue nggak punya baju cewek, ini juga baju gue size-nya kekecilan,"

Nahla mengangguk, Regan mengantar Nahla ke kamar mandi untuk mengganti baju. Nahla mengganti bajunya yang lembab dengan baju kaos dan celana boxer yang over size di tubuhnya.

"Udah makan?" Tanya Regan melihat Nahla keluar dari kamar mandi. Regan sedang membuat minuman hangat.

"Gue beli nasi goreng tadi," Nahla mengambil bingkisan yang ia beli. Duduk di kursi bar melihat Regan membuat minuman. "Latte," Gumam Nahla pelan.

Regan tersenyum kecil. "Tau," Katanya membuat Nahla tersenyum.

Nahla mengambil sendok, membungka bungkus nasi goreng. "Lo mau?"

"Nggak, lo aja,"

Nahla makan dengan damai, alasan Nahla keluar malam karena ia kelaparan. "Lo tinggal sendiri?" Tanya Nahla melihat tempat tinggal Regan begitu luas. Regan mengangguk. "Nggak pernah pulang?"

"Kalau libur panjang, gue pulang." Regan mendorong segelas caffe latte pada Nahla. "Makan yang banyak, lo perlu tenaga,"

Nahla mendengus, seketika menjadi gugup karena Regan berdiri di hadapannya. Terpisah meja bar, Regan menatap Nahla teduh dengan kedua tangan di bibir meja.

"Enak? Nggak berubah kan rasanya?"

"Berubah," Ujar Nahla meletakkan gelas ke meja usai menyeruput minuman campuran kopi dan susu tersebut.

"Latte atau rasa yang lain?" Tanya Regan tersenyum kecil.

Tidak baik untuk jantung Nahla. Ia tidak boleh gugup di saat seperti ini. Regan tidak boleh tahu perasaan Nahla yang masih sama seperti dulu.

"Rasa yang lain? Lo mungkin," Ujar Nahla tanpa menatap Regan, memasukkan sesendok nasi ke mulut.

"Tentang kejadian tadi pagi di kampus, harusnya lo bisa belajar dan paham. Kenapa bisa dengan mudahnya lo ikut sama orang yang nggak di kenal? Lo bukan anak kecil,"

Nahla mengangkat wajahnya. "Dia pakai almamater, gue kira panitia,"

"Nggak semua orang yang pakai almamater adalah panita. Ada segelintir orang yang menyalahgunakan kesempatan untuk kepentingan pribadi. Lo punya mentor, harusnya lo minta temenin dia,"

Nahla diam.

"Paham?"

"Em." Gumam Nahla malas ketika Regan mulai mengatur dan menceramahi dirinya.

"Lo harus beradaptasi dengan kehidupan kota—"

"Perasaan gue nggak tinggal di kampung," Nahla memotong kalimat Regan kesal. Seolah-olah selama ini Nahla tinggal di kampung, padahal dulu Regan juga sama sepertinya. "Lo lupa tempat tinggal lo di mana sebelumnya?"

"Bukan gitu,"

"Gue juga nggak minta bantuan lo," Nahla meletakkan sendok ke meja. "Lo urusin aja urusan lo,"

Regan menghembuskan napas pelan. "Lo akan paham dengan sendirinya kenapa gue bilang gini," Ujar Regan meninggalkan Nahla.

Nahla menghabiskan nasi goreng lalu menyusul Regan yang sedang duduk di sofa menonton tv. Nahla melihat jendela kaca, hujan masih turun.

"Kok gelap?" Tanya Nahla melihat kota Bandung yang tadinya gemerlap mendadak gelap gulita di sebagian tempat.

"Mungkin mati lampu,"

Nahla memilih duduk di sofa single menghadap jendela sambil membawa segelas coffe latte yang tersisa. Menutup tubuhnya dengan selimut tipis. Keadaan kembali hening, televisi dibiarkan menyala tanpa suara.

"Lo, apa kabar, Na?" Tanya Regan memecah keheningan.

Nahla menoleh sekilas. "Baik."

"Baik setelah nggak ada gue?"

Gerakkan mata Nahla terhenti menatap jendela. Regan masih fokus pada layar handphone.

"Bukannya lo yang terlihat baik setelah nggak ada gue?"

"Siapa yang bilang?"

"Keadaan lo sekarang," Keduanya saling melempar tatapan. Nahla tersenyum tipis. "Lo terlihat jauh lebih bahagia sekarang, hidup lo sempurna. Punya keluarga, kehidupan yang mapan, punya pacar yang di idolakan semua orang. Gue pikir nggak ada cacat di hidup lo sekarang,"

"Lo nggak bahagia?"

Nahla terdiam, membuang pandangan ke depan. "Bahagia," Ujarnya. "Karena kebahagiaan setiap orang berbeda-beda,"

Regan meletakkan handphone, menatap Nahla dari samping. Keheningan kembali terjadi. Regan membiarkan keadaan mengambil alih di tengah-tengah keduanya. Sampai jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam.

"Lo bisa tidur di atas," Kata Regan melihat Nahla menguap beberapa kali.

"Nggak, gue di sini aja," Nahla menggeleng namun segera berdiri cepat melihat Regan beranjak dari tempat duduk. "Kamarnya di mana?!" Tanya Nahla menggaruk belakang kepala, Nahla tahu jika Regan akan memaksa meski ia menolak.

Regan menunjuk arah tangga dengan kepalanya. Nahla meletakkan gelas kosong ke meja lalu kaki telanjangnya menaiki anak tangga. Nahla di buat bungkam melihat keindahan kamar Regan dan alam semesta yang terpampang jelas kerena semua dinding terbuat dari kaca.

"Lo mau tidur sambil berdiri?" Bisik Regan membuat Nahla bergidik mengusap telinganya. Nahla mengambil dua langkah menjauh. "Mau berdiri di tangga terus? Ngapain, sih?"

"Nggak," Nahla berdeham. "Lo mau ngapain?"

"Ambil charger," Regan mengambil charger handphone di atas nakas. "Kenapa? Nggak nyaman? Takut?"

"Nggak. Pemandangannya terlalu indah," Ujar Nahla kagum.

Regan tersenyum. Kemudian berjalan ke arah jendela membukanya sedikit. "Sini, Na. Lo harus lihat," Nahla mendekat antusias. Ada sebuah teleskop dekat balkon. "Biasanya bintang akan muncul setelah hujan turun," Regan mengarahkan setelah itu memberikan ruang pada Nahla.

"Mana?"

"Tunggu, awan lagi jalan,"

"Gelap semua," Nahla melihat melalui teleskop.

"Nggak," Regan mengambil alih membuat posisi keduanya seolah Regan sedang memeluk Nahla dari belakang. Nahla mengatur detakan jantungnya. "Ini,"

"Em?" Nahla menjadi salah tingkah.

"Ada, coba lihat lagi,"

Nahla menutup satu mata, dan sekarang ia bisa melihat bintang yang mulai muncul satu persatu. "Waw," Gumam Nahla kagum.

"Kalau mau lihat bintang, lo bisa datang ke Bosscha di lembang,"

"Tempat apa itu?"

"Observatorium peneropongan bintang tertua di Indonesia. Sekalian lo belajar,"

"Em, kapan-kapan gue kesana," Nahla mundur dua langkah. "Udah malam, besok gue harus bangun pagi,"

Regan mengangguk, mengunci jendela kaca lalu meninggalkan Nahla di kamar. Nahla merebahkan tubuhnya di ranjang, menarik selimut sampai dada. Mematikan lampu hingga hanya lampu tidur yang menerangi, begitu indah dan tenang.

Senyum Nahla perlahan mengilang melihat sebuah bingkai foto di atas nakas. Foto Regan bersama pacarnya. Nahla menutup foto tersebut kemudian menutup mata.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!