Yang datang

Semua rangkaian ospek telah terlewati dengan suka cita penuh kenangan. Membentuk pribadi semakin tangguh dan jiwa toleransi tinggi serta wawasan di lingkungan yang baru.

Usai ospek, semua mahasiswa libur tiga hari sebelum memulai semester pertama.

Nahla bersemangat karena ini hari pertama kuliah dan Nahla sudah mempersiapkan diri dari semalam. Baju kaos putih dipadukan celana jins dan sepatu sneakers. Rambutnya di kuncir sebagian sehingga bagian bawahnya masih tergerai. Tote bag di bahu kanan serta senyuman di bibir cantiknya menyambut suasana baru, penampilan yang sederhana. Nahla mengunci pintu kamar kos lalu berlari kecil menghampiri Ayra yang sudah menunggunya di mobil.

Setelah Nahla duduk di kursi samping kemudi, Ayra mengendarai mobil menuju kampus. Zoya sudah pergi terlebih dahulu karena ada jam kuliah pagi.

Ayra mengajak Nahla untuk makan di kantin sebelum masuk kelas. Banyak sekali pria yang menyapa Ayra ataupun mengajak ngobrol perempuan itu. Nahla memilih untuk menjauh duduk di bangku dekat jendela karena tidak nyaman pada orang yang baru di kenal.

Mengaduk teh hangat di meja dengan cemilan roti. Masih ada waktu setengah jam lagi, Nahla membuka iPad melihat ada berita apa dunia pagi ini.

"Ngikutin kasus pelecehan seksual terhadap sepuluh mahasiswa yang pelakunya sekarang sedang liburan ke luar negeri?"

Nahla mengangkat wajahnya, melihat seorang pria tiba-tiba datang duduk di hadapannya.

"Tidak perlu di pikirkan karena kita hidup di negeri seribu bayangan," Lanjutnya tersenyum tipis, meletakkan botol air mineral dan sebuah buku tentang jendela dunia. Pria tersebut mengulurkan tangan. "Askara,"

Nahla terpaku di tempatnya, pria dengan tatapan mata teduh disertai senyuman tipis membuatnya tidak bisa berkedip. Postur tubuh ideal yang pastinya membuat para kaum hawa ingin merasakan dalam dekapan. Tinggi, tampan dan sangat beribawa, seperti itulah kesan peratama Nahla. Dari suara, gerak tubuh dan juga tatapan mata yang mendukung semuanya menjadi satu kesempurnaan.

"Nahla," Kata Nahla gugup namun berusaha untuk tidak terlihat. "Ngikutin kasus ini juga?"

"Dari awal."

"Kenapa?" Nahla menyipitkan matanya berusaha menebak. "Anak hukum?"

Askara mengangguk sekali lalu keduanya saling melempar senyuman. "Mahasiswa baru? Jurusan apa?"

"Psikolog," Nahla meletakkan iPad ke meja. "Pelaku saat ini sedang mencari cara bagaimana terbebas dari semua tuntutan menggunakan berbagai macam cara. Lalu para korban di buat bungkam sampai mati tidak boleh membela diri. Kadang miris melihat negeri ini. Banyak sekali kasus seperti ini tidak bisa ditinjaklanjuti dikarenakan kurangnya orang-orang yang bisa membela kebenaran dan bertambahnya orang-orang haus akan uang, kekuasaan maupun ketenaran meski harus menjatuhkan."

"Ada segelintir orang yang menggunakan kasus tertentu untuk memperkaya diri."

"Kalau begitu lebih baik bersemedi di gunung kawi," Ujar Nahla disertai tawa ringan keduanya. Kecanggungan perlahan mencair.

"Lo mau ikut komunitas gue?" Askara membuka tasnya. "Nama komunitasnya bunga bangsa, komunitas ini aktif dalam mengampanyekan isu kejahatan sosial di lingkungan kampus dan sekolah,"

Nahla menerima kartu nama komunitas. Membacanya lebih terperinci.

"Kita biasanya kumpul dua bulan sekali, berkunjung ke sekolah-sekolah yang ada di Bandung. Kalau lo mau gabung, bisa hubungin nomor di sana. Nanti di kasih tau tempat biasa kita sering kumpul,"

Nahla mengangguk.

"Kalau gitu, gue pergi dulu. Dua menit lagi ada kelas,"

"Makasih," Nahal tersipu malu setelah Askara pergi. Seolah udara di sekitarnya tersita hanya untuk pria tersebut. Kini Nahla menghirup udara sebanyak-banyaknya mengisi rongga paru, tiba-tiba hawa di dekatnya menjadi panas seketika.

"Na? Demi apa Askara samperin terus duduk ngobrol sama lo?" Ayra menepuk pundak Nahla tidak percaya. "Lo tau kan cowok yang ngobrol sama lo tadi siapa?!" Tanyanya menggebu.

"Yang pernah lo ceritakan,"

"Betul. Kenapa seorang Askara bisa duduk terus ngobrol sama lo?

"Emang kenapa?" Tanya Nahla bingung.

"Askara itu nggak ada bedanya sama kulkas dua puluh lima pintu dengan suhu 4 derajat Celcius. Dia hanya bisa mencair kalau ada Aruna. Dari yang gue dengar, dia selalu menghindari suatu obrolan ataupun perkumpulan kampus." Ayra menatap Nahla curiga. "Atau dia tertarik sama lo, Na?!"

Nahla memutar bola matanya karena bicara Ayra semakin tidak tahu arah. "Lo mau samain orang sekelas Aruna sama upik abu kek gue? Jauh, Ayra. Udah jangan banyak berkhayal. Ayo masuk kelas,"

Ayra tidak puas dengan jawaban Nahla, sepanjang perjalanan perempuan itu terus mendesak maupun menggoda Nahla.

Terpopuler

Comments

Rita Riau

Rita Riau

jgn heran Ayra, mau Askara kulkas 25 pintu atau 100 pintu ga ngaruh buat Nahla, karena Nahla tokoh utama. jadi kalo ga nyemperin Nahla Askara cuma sebuah nama,,

2024-10-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!