Andai kita bisa tau apa yang terjadi di masa depan, mungkin tak akan ada yang namanya penyesalan dan tak akan ada yang namanya introspeksi diri atas apa yang kita alami dan kita lakukan selama ini.
" katakan Mila apa yang kamu tau tentang Alena " desak Aris yang sangat yakin jika Mila tau dimana Alena saat ini dan mungkin juga apa yang terjadi pada Alena sebenarnya.
" jika memang bapak masih memiliki perasaan untuk ibu pasti bapak bisa menemukan ibu sebelum semuanya terlambat " ucap Mila yang tak bisa memberitahu keberadaan Alena karena Mila sudah berjanji pada Alena akan merahasiakan semuanya terutama dari Aris.
" baiklah jika kamu bersikukuh tak ingin memberitahu dimana Alana saat ini, saya pasti bisa menemukan Alena tanpa kamu beri tahu " ucap Aris yang memilih pergi meninggalkan Mila setelah mengambil kunci toko milik Alena.
Aris pun langsung meninggalkan Mila dan berusaha mencari keberadaan Alena di tempat yang mungkin akan Alena datangi, mulai dari makam kedua orang tua Alena, rumah orang tua Alena, bahkan ke tempat Tante Alena tapi Aris masih belum bisa menemukan Alena.
" kamu dimana sayang !!"
" apa kamu sedang menghukum mas dengan pergi tanpa memberitahu dimana kamu saat ini " tanya Aris pada Poto Alena yang masih tersimpan manis di galeri handphone nya.
Saat Aris tenggelam dalam lamunannya dimana saat ini Aris masih berada di dalam mobil yang iya tepi kan di tepi jalan di daerah rumah Tante Alena, handphone miliknya tiba tiba berdering dan yang menghubunginya saat ini tak lain Erika istri keduanya yang saat ini menjadi istri satu satunya.
" halo "
" halo mas, kamu dimana ? "
" apa kamu membeli sarapan di luar pulau hingga butuh waktu begitu lama hanya untuk membeli sarapan untuk kita bertiga " ucap Erika yang langsung memberondong pertanyaan padahal Aris hanya mengatakan satu kalimat.
" maaf ada hal penting yang harus mas urus dan ini sangat mendesak " ucap Aris yang kini sudah menyalakan mobilnya menuju rumah sakit dimana Erika Bu Gendhis dan Zahwa berada di sana.
" cepat datang ke rumah sakit dan jemput kami karena Zahwa sudah di perbolehkan pulang " ucap Erika yang langsung menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Aris.
" dimana Aris ? " tanya Bu Gendhis yang juga sama kesalnya dengan Erika yang harus menahan lapar ditambah lagi mendengar ucapan Erika yang terkadang cukup kasar jika kalimat itu di ucapkan oleh seorang menantu pada ibu mertuanya.
" ngga tau, tapi Erika jamin sebentar lagi mas Aris akan datang ke rumah sakit " ucap Erika yang kembali duduk di sofa menunggu Aris.
" oh iya Bu, tolong rapihkan semuanya biar kita bisa langsung pulang saat mas Aris datang " ucap Erika yang bahkan tak melihat ke arah Bu Gendhis saat mengatakan semua itu.
" kamu memerintah ibu ?" tanya Bu Gendhis yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja iya dengar.
" lalu ... harus Erika yang membereskan semuanya !"
" Erika lelah dan Erika ingin istirahat, tapi sebelum mas Aris datang semua ini harus sudah rapih dan ibu tak boleh memberitahu mas Aris " ucap Erika yang langsung saja memejamkan matanya tanpa Erika sadari jika Zahwa melihat apa yang ibunya lakukan pada neneknya.
" kenapa Erika jadi kasar dan tak sopan seperti ini ? " tanya Bu Gendhis yang tetap merapihkan semua yang ada di ruang rawat Zahwa agar saat Aris datang mereka bisa langsung pulang.
Dan saat Bu Gendhis baru saja duduk di kursi samping tempat tidur Zahwa, pintu ruang rawat pun di buka dan ternyata Aris lah yang datang dengan membawa dua kantong plastik yang berisi bubur ayam untuk mereka bertiga.
" Bu, maaf Aris lama " ucap Aris yang langsung menyodorkan satu kotak bubur ayam untuk ibunya yang langsung di terima oleh Bu Gendhis yang memang sangat lapar.
" mas kamu bawa apa ?" tanya Erika yang langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Aris yang masih berdiri di samping Bu Gendhis.
" bubur ayam " ucap Aris sambil mengarahkan matanya ke arah meja dimana masih ada dua box bubur ayam untuk dirinya dan juga Erika tentunya.
" kenapa beli bubur seperti itu saja hingga tiga jam lebih ?" tanya Erika yang langsung memberondong pertanyaan pada Aris yang terlihat sedang banyak pikiran.
" ada urusan penting yang tak bisa mas tunda" ucap Aris yang tak bisa menjelaskan kemana dirinya pergi tadi.
" apa ?" tanya Erika yang tak ingin apapun di tutupi dari dirinya.
" apa ini tentang wanita itu lagi ?" tanya Erika yang langsung saja curiga pada Alena.
" mas sedang tak ingin berdebat, dan jika memang Zahwa sudah di perbolehkan pulang lebih baik kita pulang " ucap Aris yang langsung di menekan tombol darurat untuk memanggil suster agar selang infus yang masih menempel di lengan Zahwa putri kecilnya.
Erika pun memilih untuk diam terlebih saat melihat tatapan tak bersahabat dari Aris yang terlihat sangat berbeda hari ini.
" Ris, ibu langsung pulang ya " ucap Bu Gendhis yang tak ingin jika ikut pulang ke rumah Erika maka Erika akan semakin kurang ajar dan semakin seenaknya saja memerintah dirinya.
" kenapa Bu, Erika pikir ibu akan menemani Zahwa saat pemulihan " ucap Erika yang kembali bersikap lembut di hadapan Aris.
" tidak apa apa, lain hari ibu menginap di rumah kalian" ucap Bu Gendhis yang tau jika Erika saat ini sedang berpura pura.
" oh iya mas, apa wanita itu sudah keluar dari rumah kalian ?" tanya Erika yang berhasil membuat Aris menatap nyalang ke arah Erika.
" kenapa ? Apa kamu ingin menempati rumah itu setelah Alena pergi dari rumah itu ?" tanya Aris yang sebenarnya tepat sasaran tapi bukan Erika namanya bila tidak bisa bersilat lidah.
" bukan seperti itu " ucap Erika sambil membelai lembut lengan Aris agar Aris bisa lebih tenang.
" jika memang rumah itu sudah kosong kenapa tidak ibu saja yang mengisi " ucap Erika mencari alasan agar lambat Laun bisa mengisi rumah Alena yang memang lebih besar dari rumahnya.
" ibu sudah punya rumah sendiri " ucap Aris yang sampai kapan pun tak akan membiarkan siapapun menempati rumah yang sudah ber atas nama kan Alena.
" tapi mas, jika rumah itu di biarkan kosong terlalu lama maka akan cepat rusak " ucap Erika menakut nakuti Aris.
Tok tok tok.
" permisi, ada yang bisa saya bantu ?" tanya suster yang baru saja datang ke kamar Zahwa.
" apa Zahwa sudah di perbolehkan pulang ? Jika sudah di perbolehkan pulang, tolong lepaskan infusan dan saya akan membereskan administrasi agar putri saya bisa segera pulang " ucap Aris.
" bapak bisa mengurus administrasi terlebih dahulu baru saya melepaskan infusan anak bapak " jelas suster sesuai SOP rumah sakit.
Aris pun bergegas menuju ruang administrasi tapi saat dalam perjalanan tak sengaja Aris berpapasan dengan dokter Bayu dan tentu saja membuat dokter Bayu penasaran kenapa Aris masih ada di rumah sakit ini.
" suami Alena ? Kenapa masih ada di rumah sakit ? Bukan kah Alena sudah pulang semalam ?" tanya dokter Bayu yang tak bisa mengendalikan rasa penasaran nya.
" suami saya sedang mengurus administrasi anak kami dok "
" dan asal dokter tau jika sejak semalam Aris hanya menjadi suami saya, jelas dok " ucap Erika yang menyusul Aris menuju ruang administrasi rumah sakit.
" lalu dimana Alena ? Kenapa anda begitu tega melakukan hal itu pada Alena terlebih saat kondisi Alena seperti sekarang ini ?"
" maksud dokter apa ? tolong jelaskan pada saya maksud dokter apa ?
✍️✍️✍️ kemana Alena sebenarnya ? Kenapa di rumah mendiang orang tua Alena tidak ada ? Apa setelah tau yang sebenarnya Aris akan merubah keputusannya ?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Love you moreee 😘 😘 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Rini
menuju kehancuran Aris
2024-07-29
1
Cookies
lanjut,
2024-07-28
0