Plak!!
Suara tamparan menggema di dalam kamar Jingga. "Besar juga nyali lo, ya?!" ucap Jean bersungut-sungut.
Wajah Jingga menoleh ke sisi kiri, pipi bagian kanannya lah yang menjadi sasaran kemarahan Jean.
"Maksud kamu apa!!" teriak Jingga. Sudut bibirnya mengeluarkan darah, Jean menamparnya dengan sekuat tenaga. Tidak pandang bulu.
Jean mencengkeram rahang Jingga, "Udah gue peringatin buat jauh-jauh dari Mario, tapi apa yang lo lakuin tadi siang sama dia, hah!"
Dia hanya makan siang bersama dengan Mario di kantin kampus. Tidak lebih! Dia juga tidak menyangka Jean melihatnya.
Merasa kesakitan, Jingga memberontak dan hendak melayangkan pukulan kepada Jean. Tapi sayang, Jean sudah terlebih dahulu membaca pergerakannya.
Pemuda itu melepaskan cengkeramannya dan mendorong Jingga dengan kuat hingga menghantam kerasnya lantai. "Gak heran sih, Ibu lo aja jalang. Udah pasti anaknya bakal jadi jalang juga," ucap Jean.
Sudah berkali-kali Jean melakukan pelecehan verbal maupun fisik terhadapnya. Sampai kapan?
"Ibuku. Bukan. Jalang!" Jingga menekankan setiap suku kata yang keluar dari mulutnya. Meskipun dengan menahan rasa nyeri.
"Halah! Jalang mah jalang aja. Gak usah ngeles!"
Jingga menatap Jean dengan sendu, "Sebenarnya aku punya salah apa sama kamu sih, Je? Emangnya aku pernah ngusik, kamu? Enggak, kan?"
Dia bahkan sudah berusaha menghindari pemuda itu. Kenapa?
"Salah, Lo?" tanya Jean dengan senyum miring. Pemuda itu mendekati Jingga yang masih tersungkur di lantai.
"Ga usah pura-pura gak tau!"
Bibir Jingga gemetar, "Kalau memang kamu gak suka aku di sini, setelah Ayah balik aku bakal ngomong sama dia. Aku akan kembali ke panti seperti apa yang kalian inginkan," ucapnya berusaha tegas.
Perlawanan-perlawanannya beberapa hari ke belakang, ia lakukan agar ia tidak tampak begitu menyedihkan di depan saudara tirinya.
Pada kenyataannya, dia tidak sekuat itu. Kamarnya menjadi saksi tangisan kesakitannya acap kali saudara- saudara tirinya berlaku buruk padanya.
"Maaf sudah membuat kalian bertiga merasa tidak nyaman. Aku juga meminta maaf dengan setulus hati akan apa yang menimpa Tante Tania, itu di luar kendaliku."
"Ayo kita buka lembaran baru dan hidup seperti tidak pernah mengenal sebelumnya," pungkas gadis itu di iringi senyum manis.
Jean tersentak kaget saat mendengar kalimat terakhir. Membuka lembaran baru? Tidak pernah saling mengenal?
TIDAK AKAN PERNAH TERJADI!!
Tanpa aba-aba Jean berlulut dan menarik tengkuk Jingga, pemuda itu menubrukkan bibirnya di atas bibir gadis itu. Jean menyecap dan menggigit bibir Jingga dengan bringas.
Jingga melotot kaget, dengan kesadaran yang masih tersisa, ia mendorong Jean dengan keras. "Brengsek!" umpatnya tepat di depan wajah Jean. Napasnya terengah-engah.
Dia mengelap bibirnya menggunakan telapak tangan berulang kali, kedua matanya sudah tidak bisa membendung air mata yang sudah siap keluar sedari tadi.
Ini sudah termasuk pelecehan, kan?
Bibirnya bengkak akibat ulah Jean, dia masih terus menggosok bibirnya hingga berdarah.
"Stop!!" perintah Jean dan mencekal tangan Jingga agar berhenti. Jingga memberontak dan memundurkan tubuhnya menjauh dari Jean.
"Sama gue aja sok-sokan nolak. Giliran sama orang lain aja Lo terima dengan tangan terbuka. Dasar jalang munafik," ucap pemuda itu dengan geram.
"Lo kira gue gak lihat pertemuan Lo sama om-om beberapa hari yang lalu? Berapa harga yang ia tawarin buat jadi sugar babynya?"
Ternyata Jean sama sekali tidak berniat untuk berhenti. Melihat wajah kesakitan di wajah Jingga justru memicu adrenalinnya untuk semakin menyakiti jiwa dan raga gadis itu.
Katakan saja dia sudah gila!
"Ingat ini baik-baik ya, jalang murahan! Lo gak akan pernah bisa keluar dari rumah ini! Gue udah pernah bilang, rumah ini adalah neraka dunia yang pas buat jalang seperti, lo!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
FLASHBACK ON
Dari ketiga Januarta bersaudara, hanya Jean yang tidak memiliki jiwa sosial. Dia lebih suka menyendiri dan melakukan apapun sendiri. Dia juga jarang sekali berinteraksi dengan keluarga besar Ayah maupun Ibunya.
Hingga suatu hari, ia di minta sang Ibu untuk mengikuti acara amal yang di lakukan oleh nenek dari pihak Ibunya. Mereka akan pergi ke panti asuhan.
Saat itu Jason sedang persiapan ujian, sedangkan Jio sedang sakit. Jadi dia yang saat itu berada di kelas 8 sekolah menengah atas, terpaksa ikut karena kedua saudaranya tidak bisa.
Singkat cerita, saat sampai panti asuhan, keadaan begitu ramai dengan suara anak-anak yang berteriak gembira karena mendapatkan barang-barang yang di berikan kepada mereka.
Jean yang memang tidak suka keramaian, memilih untuk memisahkan diri dari rombongan. Dia berjalan ke arah samping panti asuhan yang ternyata adalah taman bermain.
Dug!
"Bodoh banget kamu Jingga!"
Mendengar suara orang lain di taman, Jean memilih untuk bersembunyi di balik pohon besar yang ada di sana.
Tak jauh darinya, ada seorang gadis yang terlihat seumuran dengannya tengah membawa keranjang yang berisi pakaian. Sepertinya gadis itu tidak memperhatikan jalan hingga dahinya terantuk tiang jemuran.
Gadis itu memanyunkan bibirnya dan mengusap dahinya. Hal kecil itu, tanpa sadar membuat Jean tersenyum tipis. Suatu hal yang sangat langka.
Hari demi hari, rasa penasaran Jean semakin tinggi kepada gadis yang ia temui di panti asuhan. Gadis yang ia ketahui bernama, Jingga. Nama yang sangat cocok dengan paras gadis itu.
Hingga akhirnya Jean memutuskan untuk mengintai di sekitar panti asuhan. Hanya untuk bisa melihat kembali gadis itu.
Dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dari sekian banyak manusia di bumi, hanya Jingga yang mampu membuatnya menggila seperti ini.
Tidak ada yang mengetahui perbuatannya yang sering pergi ke panti asuhan. Dia menyimpannya rapat-rapat dari keluarganya.
Satu tahun berlalu dengan cepat, ia di sibukkan dengan persiapan ujian dan mengurus berkas untuk masuk perguruan tinggi. Dia tidak memiliki waktu untuk datang melihat pujaan hatinya.
Saat dia memiliki waktu, dan beberapa kali datang ke area panti, ia tidak melihat Jingga. Akhirnya ia memutuskan untuk menghilangkan rasa cintanya. Mungkin itu hanya rasa penasaran.
Dengan kesibukannya sekarang sebagai mahasiswa, lambat laun ia mulai melupakan cinta pertamanya.
Hingga suatu hari sang ayah membawa seorang gadis yang di perkenalkan sebagai saudara tirinya. Gadis yang pada kenyataannya sudah mengambil hatinya saat pertemuan yang pertama.
Gadis yang mampu membuat seorang Jean mengendarai motor selama 3 jam hanya untuk melihatnya dari kejauhan, ternyata adalah anak Ayahnya dari wanita lain.
Bagaimana perasaannya saat itu? Campur aduk!
Dia benar-benar tidak menyangka takdir Tuhan bermain-main dengan perasaannya. Mulai hari itu, dia memutuskan untuk membenci Jingga sampai ke dasar relung hatinya.
Bukan lagi binar cinta yang ia berikan, tetapi tatapan benci yang menusuk hingga ke tulang. Dia membenci fakta bahwa gadis itu berbagi darah yang sama dengannya.
Itulah alasan yang mendasari kenapa dari ketiga saudaranya, hanya Jean yang terlihat tidak menyukai kehadiran Jingga.
Cinta pertamanya!
FLASHBACK OFF
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments