Jingga menatap pemandangan jalanan dari jendela bus. Di sampingnya, Reana sudah tertidur pulas dengan kepala yang menyandar di pundaknya.
Setiap bus di dampingi oleh 3 panitia, syukurlah Jean tidak ada di dalam bus yang ia tumpangi.
Dia sangat malas melihat wajah pemuda itu, apalagi mendengar penjelasannya semalam saat ia menanyakan keadaannya yang hanya mengenakan dalaman pagi itu.
Jingga yang sudah naik pitam dan menyemburkan amarah hanya di jawab Jean dengan:
"Lo muntah, jadi gue lepas."
Singkat, padat dan jelas. Bahkan setelah mengatakan itu, Jean langsung masuk ke dalam kamarnya. Tidak menghiraukan Jingga yang mencak-mencak di depan kamarnya.
Setelah memakan waktu hampir 2 jam, akhirnya bus sampai di tempat tujuan. Mereka akan menginap di villa yang sudah di sewa pihak kampus sebelumnya.
"Bangun, Re. Udah sampai," ucap Jingga pelan.
Reana perlahan membuka matanya dan menegakan tubuhnya, matanya menyipit. "Udah sampai?"
Jingga mengangguk, "Ayo turun!"
Keduanya pun bergantian turun dengan teman-temannya yang lain. Ada sekitar 70 orang yang ikut acara makrab ini, dan di bagi menjadi 2 bus.
"Perhatian semuanya!"
Suara panitia yang memegang toa membuat semua orang mengalihkan perhatiannya ke depan. "Kita akan bagikan kunci villa. Setiap villa akan di huni oleh 4-5 orang, silahkan cari sendiri teman satu villa kalian dan perwakilan maju ke depan untuk mengambil kunci."
Reana si anak aktif dengan cepat mencari 2 orang lagi untuk dia ajak satu villa bersama Jingga juga.
"Dapat nomor berapa Re?" tanya Jingga saat temannya itu sudah mengambil kunci villa.
"Nomor 10."
"Jika sudah mendapatkan kunci masing-masing, langsung bereskan barang bawaan kalian dan berkumpul kembali di sini. Kita akan makan siang bersama," jelas panitia makrab.
Semua maba berhamburan mencari kamar villa masing-masing bersama teman sekelompoknya. Jingga berkenalan dengan teman baru yang bernama Dewi dan Sania.
Keempatnya berjalan beriringan, setelah beberapa saat mencari, mereka akhirnya menemukan villa bernomor 10 yang letaknya sedikit di ujung.
Ting!
Ponsel Jingga berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Ia langsung mengecek notifikasinya.
"Setelah makan siang, gue tunggu di mobil."
Meskipun nomor baru, Jingga tau jika yang mengirimkannya pesan adalah Jean. Ia meremat ponselnya kuat, ternyata saudara tirinya itu membawa mobil sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah membuat alasan yang cukup kuat kepada Reana, Jingga menuju di mana mobil Jean terparkir. Kenapa dia tidak menolak atau menghiraukannya saja?
Jingga tidak ingin Jean kembali mengusiknya, mengingat bagaimana nekatnya Jean jika sudah di selimuti amarah.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke e penjuru arah, berjaga-jaga jika ada yang melihatnya masuk ke dalam mobil Jean.
Setelah di rasa aman, Jingga segera masuk ke dalam mobil Jean yang di parkir paling ujung, dan agak jauh dari mobil-mobil lain.
"Ada apa?" tanya Jingga sewot saat sudah memasuki mobil.
"Lo tanggung jawab gue di sini. Jangan macem-macem dan jangan deket-deket sama cowok selain gue," balas Jean.
Jingga tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari belah bibir Jean. Gadis itu terkekeh kecil, "Ngatur!" jawabnya tanpa rasa takut.
Jean yang mendapat tanggapan seperti itu mengeraskan rahangnya. "Lo pikir gue mau jagain lo di sini?! Jika bukan karena Ayah, gue ogah!"
"Aku gak minta di jagain tuh. Udahlah, aku mau balik!"
Jingga hendak membuka pintu tetapi sudah terlebih dahulu di cekal oleh Jean. "Tunggu!" cegahnya.
Pemuda itu mengambil paperbag yang ada di kursi belakang dan memberikannya kepada Jingga. "Kalau malem dingin, pake itu," ucapnya tanpa melihat Jingga.
Jingga menatap paperbag itu dalam diam. Bukannya senang ia justru merasa aneh, "Sekarang, apa lagi yang sedang kamu rencanakan?" tanyanya to the point.
Jean menoleh dan mengeryitkan alisnya, "Maksudnya?"
"Tumben baik, biasanya selalu bikin aku sengsara. Kerasukan apa kamu?!" cibir Jingga.
Pemuda itu tertawa sumbang, "Jingga, Jingga," ucapnya sembari menggelengkan kepalanya. "Lo pikir itu dari gue? Itu dari Ayah, goblok! Dia nitip gue karena lo udah pergi dulu," lanjutnya.
Jingga mengatupkan bibirnya, "Jangan pernah berpikir aku akan baik kepadamu. Aku akan selalu menganggapmu sebagai anak seorang jalang yang merusak rumah tangga orang lain," tegas Jean.
Jean tetaplah Jean, pikir Jingga. Mana mungkin hanya dalam sekejap mata pemuda itu baik padanya.
Tanpa menunggu lama, Jingga membuka pintu mobil dan keluar sembari membawa paperbag titipan Ayahnya. Ia tertawa sumbang, "Apa yang kau harapkan," gumamnya saat sudah menjauh dari area parkir.
Di dalam mobil, Jean memukul stir mobilnya dengan keras. "Sial!" teriaknya.
Matahari dengan cepat sudah berganti dengan bulan. "Semuanya, dengarkan!" teriak Rio, dia adalah ketua panitia makrab.
Mahasiswa sudah di kumpulkan di lapangan dengan kayu yang sudah di tumpuk rapi untuk membuat api unggun.
"Kita akan melakukan game berpasangan, pasangan akan di acak. Jadi, ambil satu bola berwarna yang ada di atas meja itu lalu buka, di dalamnya terdapat gambar. Siapapun yang memiliki gambar sama, berarti mereka akan menjadi pasangan," jelas Rio.
Satu persatu maba mulai mengambil bola itu. "Yah, kita beda," lirih Reana. Gadis itu mendapatkan gambar semangka, sedangkan Jingga sendiri mendapatkan gambar singa.
"Waktu kalian 5 menit untuk mencari pasangan yang sesuai. Di mulai dari sekarang!!" teriak Rio.
Jingga masih berdiri di tempatnya, ia melihat teman-temannya yang lain saling berteriak dan berlarian untuk menemukan pasangan masing-masing.
"Kamu gak ikut nyari?"
Jingga menoleh saat ada seseorang yang berbicara di sampingnya. "Belakangan aja, Kak. Masih rusuh," jawabnya di iringi senyum tipis.
"Emangnya kamu dapat gambar apa?" tanya orang itu.
Jingga memperlihatkan isi bolanya kepada orang yang tak lain merupakan anggota panitia dan juga seniornya itu.
"Kebetulan," ucap orang itu. Ia ikut membuka bola yang ia pegang dan memperlihatkannya kepada Jingga. "Kita jadi pasangan malam ini," lanjutnya.
Jingga melotot kaget, ternyata ia tidak perlu bersusah payah. Pasangannya datang sendiri.
"Kenalin, aku Mario. Mahasiswa seni dan desain semester 6." Pria itu mengulurkan tangannya kepada Jingga.
Jingga membalas uluran tangan tersebut, "Ji--"
"Mario!!"
Suara teriakan dari arah belakang menghentikan ucapan Jingga. "Lo dapet apa, Mar?" tanya orang itu.
Mario memperlihatkan bolanya tanpa menjawab. "Lo di panggil Siska tuh, di suruh bantuin buat konsumsi. Mana, gue aja yang main" pinta orang itu.
"Tapi---"
"Udah, sana susul Siska. Udah ngomel dari tadi tuh anak," lagi-lagi orang itu menghentikan ucapan orang. Sangat tidak sopan!
Setelah kepergian Mario, pria yang baru saja datang itu menatap Jingga dengan tajam. "Udah gue peringati. Jangan deket-deket cowok selain gue. Satu yang harus lo tau, Mario itu bukan cowok baik-baik."
Jingga mendengus kasar, "Terus apa bedanya dia sama kamu? Setelah lepas dari mulut buaya, sekarang aku masuk ke dalam mulut singa. Begitukah, Jean yang terhormat?"
Pria yang baru datang itu adalah Jean. Dari kejauhan tadi ia sudah melihat Jingga yang diajak mengobrol oleh temannya. Maka dari itu ia segera menghampiri keduanya. Dia juga tidak sengaja mencuri dengar jikalau Jingga mendapatkan gambar singa seperti Mario.
"Seenggaknya kamu aman di tanganku," balasnya dengan wajah datar.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments