Kita sampai di sebuah rumah sederhana di pedalaman. Rumah ini sudah di kelilingi oleh banyak orang,dan rumah itu sepertinya sudah lama tidak di tempati,namun furniture disana tampak begitu lengkap dan sudah di bersihkan,walaupun tetap terlihat tak pernah tersentuh. Lampu tidak terlalu terang,namun cukup membuat kita bisa melihat pijakan dan orang-orang di sekitar kita.
Aku tidak pernah tahu dimana kami berada,aku tidak pernah ingin tahu.
Papa mengantarkan ku ke kamar yang akan aku tempati.
“Sementara kita akan tinggal disini ya”
Aku hanya mengangguk.
“Beristirahat lah,besok Papa mau mengajak kamu berjalan-jalan di sekitar sini”
Aku melirik keluar jendela. Aku tidak melihat ada tempat wisata ataupun pusat berbelanjaan sejauh ini. Yang aku temukan hanyalah pohon-pohon tinggi dan jalanan yang amat sangat rusak membuat kita semua seperti sedang offroad di sebuah hutan.
“Baik Pa”
Aku mengistirahatkan diriku. Aku memaksa diriku untuk tertidur,walau sebenarnya mataku masih sangat terjaga.
Keesokan harinya. Pagi sekitar jam 06.00 Papa sudah masuk ke dalam kamarku yang tidak aku kunci.
“Aca sudah siap?” Tanya Papa.
“Sudah Pah” jawab ku.
Aku hanya mencuci muka dan bergosok gigi,aku juga hanya memakai sweater biru dan celana jogger,seperti orang yang mau berolahraga.
“Ayo ikut Papa” ajak nya.
Aku beranjak dari kursi ku dan mengikuti nya.
Kami berjalan di ikuti dengan beberapa anak buah Papa di belakang. Kita berjalan ke arah masuk nya hutan yang asri ini. Kita menyusuri jalan setapak dengan jalanan yang begitu licin. Aku tidak tau kemana Papa akan mengajak ku,namun saat kami sudah berjalan kurang lebih 20 menit aku mulai mendengar ada suara aliran air,dan semakin mendekat suara air itu semakin deras.
“Saya mau berdua saja dengan anak saya di air terjun,tolong kalian berjaga di sekitar sini” ujar Papa.
Ketiga anak buah Papa mengangguk.
“Baik Pak” jawab mereka.
Papa menuntun ku ke arah air terjun itu. Dia menyingkapkan pepohonan yang menghalangi jalan kami,dan ketika dedauan rindang itu di singkirkan terlihat lah air terjun yang begitu tinggi dan sangat indah. Air yang jatuh langsung ke aliran sungai di bawah nya dan menimbulkan percikan percikan air yang sangat besar membuat aku takjub untuk tak berkedip. Banyak bebatuan di sekitar air terjun itu,bahkan seperti nya aku bisa berenang di aliran sungai yang dangkal.
Tak hentinya aku terkesima dengan keindanhan air terjun asri yang baru aku lihat langsung selama hidupku. Aku langsung berlari ke arah air terjun itu,yang sepertinya sudah menantiku.
“Hati-hati nak” ujar Papa yang masih saja menganggap ku anak kecilnya.
Aku melepaskan sepatu ku,dan mulai masuk ke aliran sungai yang begitu dangkal. Aku berjalan-jalan di dalam nya yang ternyata di bawahnya terdapat batu-batu besar. Air ini begitu bening sampai aku bisa melihat kaki ku sendiri di dalam air. Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan ku,senyum terus terpancar di wajahku. Papa ku yang melihat aku begitu bahagia langsung ikut bergabung denganku.
“Sini Pah” pinta ku agar dia lebih mendekat ke air terjun agar bisa merasakan cipratan nya saja.
Karena kalau kita berdiam di bawah aliran air yang sangat deras itu,bisa-bisa kita tenggelam di dalam nya.
Aku duduk di atas batu yang sangat besar dekat dengan air terjun. Papah duduk di sebelah ku sambil ikut menikmati keindahan air terjun nya.
“Aca senang?” Tanya Papa sambil sedikit berteriak karena suaranya teredam oleh berisik nya suara air terjun.
Aku mengangguk sambil tersenyum dengan penuh hati. Kali ini aku tidak berbohong,aku benar-benar bahagia.
Papa melirik ke belakang dan memperhatikan sekitar,seolah dia sedang memastikan tidak ada orang di sekitar kami. Anak buah nya berjaga di balik semak-semak di sekitar air terjun,jadi sudah di pastikan mereka tidak akan melihat ataupun mengdengar percakapan kami.
“Nak. Ada yang perlu Papa bicarakan ini penting” ucap Papa dengan raut wajah serius. Dia berbicara seperti hanya boleh aku yang mendengarnya.
Wajah ku berubah menjadi tegang,aku melihat sekelilingku mencari apa ada orang yang mendengar selain kami.
“Papa sudah berjanji akan menjelaskan semuanya kepadamu kan ?”
Aku diam tak menjawab,terus mendengar setiap kata-katanya sebelum aku di perbolehkan bertanya.
“Ini saatnya kamu untuk tahu kebenaran nya. Karena ternyata kamu sudah besar,kamu sudah bukan Aca kecil yang Papa kenal. Papa kehilangan moment besar bersamamu selama ini,Papa minta maaf” ucap Papa dengan wajah yang sendu.
“Nak. Papa ini sebenarnya adalah intel yang sedang bertugas untuk menyelidiki mafia narkoba terbesar di negara kita”
Mataku membulat,aku memelototi Papa seolah aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
“Papa dan Papa Denis adalah rekan kerja nak,kami adalah pasangan yang di minta turun lapangan sekitar 18 tahun yang lalu,dan selama ini kami menjadi mafia hanya demi penyamaran kami”
“Mama tau ?” Tanyaku dengan perasaan masih saja tak percaya.
“Tentu Mama tau,Mama Shani juga tau. Hanya saja anak-anak kami akan di beritahu yang sebenarnya ketika kalian sudah cukup dewasa untuk memahaminya seperti sekarang”
Aku memalingkan wajahku untuk mencerna apa yang di katakan Papa,dan menyangkut pautkan dengan apa yang sudah aku alami selama ini.
“Papa memisahkan kamu dulu dengan keluarga Papa Denis,karena keberadaan keluarga Papa Denis sudah di curigai orang lain. Mereka harus mengira Papa dan Papa Denis sudah tidak lagi bekerja sama. Tapi di balik itu semua,kami tetap bersatu untuk menyelidiki mafia besar itu”
“Maafkan Papa,karena kepergian Mama sebelum nya adalah kesalahan Papa nak. Papa sudah tidak sengaja membunuh anak dari bos mafia itu. Bos mafia itu awalnya bekerja sama dengan kami,namun karena kesalahan Papa,Papa tidak sengaja membunuh nya karena Papa kira dia bukan anak bos mafia itu. Mereka ingin balas dendam kepada keluarga Papa,dia ingin Papa merasakan apa yang dia rasakan. Awalnya dia mengincarmu,tapi yang dia dapatkan adalah Mamah mu saat itu, Papa menyesali semuanya nak,semua ini karena Papa. Papa minta maaf” ucap Papa sambil menangis.
Aku memeluk Papa dengan lembut.
“Jadi itu alasan kita selama ini berpindah-pindah tempat,dan bersembunyi?”
Papa melepaskan pelukan nya,sambil mengusap ingus dan tangis nya.
“Iya nak. Papa hanya khawatir dia masih tidak puas dengan apa yang sudah dia lakukan. Anak bos mafia itu adalah anak satu satu nya yang susah payah dia dapatkan. Kami sempat bernegosiasi,kami sempat menawarkan untuk banyak membeli barang-barang nya namun itu tetaplah tidak membuat dia tenang dan merasa puas. Dia masih selalu mencari keberadaan kita”
“Kenapa Papa tidak melaporkan ke atasan Papa agar kita dapat perlindungan?”
“Tidak mudah nak,ini semua tidak seperti apa yang kamu fikirkan. Pekerjaan Papa itu berat,Papa harus menuntaskan ini semua,dan andai saja Denis masih hidup,kita pasti akan cepat lagi menyelesaikan semuanya”
Aku diam dan berusaha untuk mengerti semuanya sekarang.
“Kamu sudah paham kan kenapa kamu tidak boleh keluar sembarangan selama ini?”
“Iya Pah”
“Wajah kamu sekarang sudah pasti tidak akan di kenali oleh orang-orang dari mafia itu, mereka sudah pasti akan sulit mengenali kamu sebagai anak Papah,karena mereka hanya tahu nama mu dan wajah kamu ketika kamu kecil. Dan Papa ada satu pertanyaan untuk kamu”
Aku menatap Papa,siap dengan pertanyaan apa saja yang Papa ajukan.
“Kamu mau sekolah di luar seperti impian kamu selama ini?”
Jantung ku seperti nya berhenti sekejap,halisku terangkat saat Papa bertanya seperti itu. Aku memikirkan jawaban ku.
“Ngga Pah,Aca sudah tidak berminat lagi”
“Kenapa?” Tanya nya seolah kecewa.
“Aca mau sama Papah,Aca mau nemenin Papa”
“Aca,dengar Papa. Dengan Aca sekolah di luar,Aca bisa selamat, Aca bisa berbaur dengan orang seolah Aca adalah orang biasa”
Aku menggeleng sekuat tenaga.
“Ngga Pa, Aca ga mau di pisahin sama Papa. Aca udah kehilangan segalanya,kehilangan Mama,kehilangan teman Aca satu satu nya dan sekarang Aca ga mau pisah sama Papa”
“Aca bukan pisah sama Papa nak,Aca cuma harus bantu Papa menyamar untuk jadi orang lain. Aca harus bantu Papa,agar Aca tidak di kenalin orang-orang jahat itu”
“Tapi bagiamna dengan Papa?”
“Papa akan banyak berpindah pindah tempat nak sambil terus bekerja. Anak buah Papa tidak ada yang tahu selain Om Bimo,dia orang kepercayaan Papa. Om Bimo tau segalanya,jadi nanti Aca akan di temani Om Bimo untuk mulai mendaftar sekolah”
Aku diam tak menjawab. Ini impian ku,aku memang ingin merasakan dunia luar seperti apa,tapi itu dulu. Sekarang aku hanya ingin menghabiskan hidupku bersama Papa,jika aku tidak di samping nya,aku takut akan kehilangan dia.
“Kamu mau ya,kamu bantu Papa nak”
Akhirnya dengan terpaksa aku mengangguk.
“Aca akan lakukan apa yang Papa mau,kalau itu bisa bantu Papa”
Papa kembali menangis,dan aku pun ikut menangis. Entah karena kita akan berpisah,atau aku karena terharu akhirnya bisa mewujudkan impian terbesarku selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments