Malam harinya, Alan datang ke rumah sakit dengan raut tegang. Sejujurnya ia saat ini memiliki banyak hutang tanpa sepengetahuan sang istri karena menuruti keinginan Ibunya.
Ibarat kata, hidup segan matipun tak mau. Alan berada di titik kebimbangan sebab ia berharap anaknya baik-baik saja, namun kurang mau berupaya.
Apa mau dikata, ia bisa dihajar hingga mati jika berhutang kembali. Lebih lagi namanya sudah masuk daftar hitam di dunia perbankan lantaran kerap menunggak angsuran. Gaya hidup yang salah dan buta akan permintaan sang ibu, kini menjadikan hidup Alan babak belur.
" Gimana mas?" tanya Ayu yang tak bisa lagi menahan kebisuan diantara keduanya.
" Gimana apanya Yu, sebaiknya kita bawa pulang saja Doni!"
" Apa kamu bilang? Dibawa pulang mas? Itu sama aja kamu ingin anak kita meninggal mas!"
" Ya terus harus bagaimana lagi!" jawabnya terlihat frustasi. Jujur ia sangat tertekan saat ini.
" Jual mobil kamu!"
" Gak bisa Yu. Mobil aku udah jadikan jaminan di Rudi!" kata Alan kali ini dengan membuang muka. Ia menyesal sebab Ayu harus mengetahui hal itu di saat seperti ini.
" Apa kamu bilang mas, jaminan?"
" Ibu pingin beli tanah di kampung. Aku pinjam uang ke Rudi buat nyenengin ibuk!"
Ayu memejamkan mata dengan dada yang sesak karena terhimpit kenyataan. Kali ini suaminya benar-benar keterlaluan. Dia melakukan hal sepenting itu bahkan tanpa melibatkan dirinya. Memangnya apa definisikan rumah tangga bagi Alan?
Dan saat mereka sedang bersitegang, Doni tiba-tiba kejang dan terlihat kesulitan bernapas. Membuat Ayu langsung menekan tombol untuk memanggang dokter.
" Doni, sayang!" Ayu terlihat kebingungan saat melihat anaknya yang keadaannya sangat memprihatikan. Jika boleh di tukar, ia ingin berada di posisi Doni.
Beberapa saat kemudian, datang dua orang perawat serta satu orang dokter dan langsung memeriksa kondisi Doni.
" Bapak Ibu, tindakan harus segera di ambil. Jika tidak, maka jangan menyesal jika tejadi sesuatu dengan Doni!"
Di titik itu, Ayu benar-benar bingung. Haruskah ia menerima tawaran Nuris yang tentu saja sangat tidak ia inginkan. Tapi melihat Doni yang seperti itu, ibu mana yang tega.
" Jika ini yang harus aku lakukan, jangankan harga diri. Nyawa pun akan aku korbankan untukmu nak!" jerit Ayu pilu dalam batin yang terguncang hebat.
Malam harinya saat Doni sudah lelap usai ditangani sementara, Ayu pergi tanpa pamit kepada Alan. Pikirannya sudah di penuhi dengan kekecewaan terhadap suaminya itu. Ia terlihat menelpon Nuris secara sembunyi-sembunyi.
" Halo Yu?" jawab Nuris dengan suara parau. Sepertinya wanita itu baru bangun tidur.
" Sory RIS, apa penawaran mu kemarin masih ada?"
.
.
Nuris senang sekaligus sedih. Ia senang sebab artinya malam ini satu pelanggan VIP nya tak akan kecewa. Tapi ia juga sedikit merasa bersedih karena harus turut menjerumuskan temannya ke hal kotor macam ini.
Tapi begitulah kehidupan. Kadang desakan dan himpitan ekonomi, menjadikan beberapa orang tak memiliki pilihan.
" Apakah dia orang tua?" tanya Ayu bimbang saat mereka bertemu di kantin rumahsakit malam itu.
" Aku tidak tahu Yu. Bosku ini seperti sebuah makelar bos-bos besar. Yang memesan ini random. Tapi mereka sudah jelas berada dari kalangan pejabat juga pengusaha besar Jangan pikirkan itu, tapi aku sudah memberikan syarat yang besar. Tapi mereka minta kau harus melayani full service!"
" Maksudnya?" tanya Ayu tak mengerti.
" Maksudnya kamu jangan menunggu, kau yang harus memuaskan mereka. Mereka cuek, kau yang harus membangkitkan. Ingat Yu, aku sampai harus berdebat dengan bosku untuk urusan ini!"
Ayu tertegun. Bagaimana jika yang menyewa nya adalah orang tua dengan perut buncit dan kepala yang botak? Tapi kilasan ingatan Doni yang kesulitan bernapas langsung menari di otaknya. Membuat segenap tekadnya membludak.
" Oke, aku mau!"
Sekembalinya Ayu dari bertemu Nuris, ia tak henti-hentinya menatap wajah anaknya dengan dada sesak. Ia ingin anaknya sembuh. Seterjal dan segelap apapun jalannya, akan ia tempuh.
Sebulir air mata meluncur begitu saja manakala ia teringat dengan perkataan suaminya mengenai hutang yang menumpuk karena Ibu mertuanya.
Ia sudah lelah di perlakukan seperti ini. Mungkin ia bisa menerima kehidupan toxid selama bertahun-tahun tinggal bersama mertuanya. Tapi ia benar-benar tak terima jika Alan lepas tanggung jawab, hanya karena hutang piutang yang bahkan ia sendiri tak mencicipinya barang secuil pun.
" Bertahanlah nak. Ibu akan melakukan apapun untukmu!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
ῆმlυlმ𓍢ִ໋🌷͙֒
/ cry/
2023-12-17
3
Ta..h
ini memang bukan cerita bohong ya mertua model begini ada di sekeliling kita bahkan tetangga kita. rumah tangga anak hancur hanya karna perkataan orang tua nya.
terlalu picik memang entah lah mungkin merasa si anak itu miliknya jadi tidak boleh ada siapapun yg mengendalikan nya selain ibunya dan atas dasar ungkapan anak laki2 milik ibu nya pemahaman seperti ini suka di salah artikan bagi sebagian orang awam.
entah lah sangat sulit memang untuk meluruskan hal se sensitiv ini.
alan juga laki2 yang tidak punya pendirian tidak bijak dan tidak tegas.
2023-11-30
2
Riana
/Cry/
2023-11-27
1