Bimo, seorang bocah laki laki bercelana pendek dan berkaos merah yang sudah hampir kuyup dengan keringatnya menghampiri Lusi yang tengah sibuk menyemprotkan air ke bunga-bunga yang tergeletak di lantai, sebelum dia
memasukan bunga-bunga cantik itu ke bucket.
“Kak Lusi...cepat pulang Kak,” seru bocah itu setengah berteriak. Nafas nya tersengal-sengal tak beraturan. Lusi cepat menghampirinya.
“Kenapa Bim? Ada apa ?” tanya Lusi penuh ikutan panik
“Om Hamzah...om...itu...” gugup suara Bimo sambil mengatur nafasnya.
“Kenapa ayahku ? “ Lusi makin panik ketika disebut nama ayahnya.
“Om Hamzah jatuh di kamar mandi, sekarang kritis, buruan pulang Kak”
Tanpa banyak tanya lagi Lusi dan Bimo berlari kencang menyusuri pinggiran jalan raya menuju rumah nya yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kios bunga Bu Dahlia tempat nya bekerja. Sekitar 500 meteran saja.
Tampak di kejauahan tetangga sudah berkerumun di depan rumah nya. Kepanikan dan ketakutan makin bergelayut di otaknya, memikirkan sesuatu yang tidak-tidak.
Lusi menerobos masuk rumah nya dengan nafas yang masih tersengal-sengal, diikuti Bimo di belakangnya. Langkahnya terhenti mendapati sesosok tubuh lemah Pak Hamzah yang tergeletak di sofa panjang. Di samping nya
seorang dokter tengah memasang alat bantu pernafasan kepada Pak Hamzah. Lusi langsung berlutut di samping tubuh ayahnya.
“Ayah...” panggilnya lirih di telinga ayahnya.
Yang dipanggil berusaha menggerakkan kepalanya menghadap Lusi, ditatapnya wajah putri cantiknya yang sudah berurai air mata itu. Jemarinya bergerak seprti minta di genggam. Lusi langsung meraih jemari ayahnya dan mengecupnya pelan.
“Nak ku, maaf kan ayah, Nak. Ampuni ayah karena tak kuasa melindungi mu selama ini. “ ucap Pak Hamzah lemah dan terbata-bata. Matanya kosong menatap putrinya. sebulir air mata jatuh di pipi keriput nya.
“Bertahan, Ayah...demi aku,tolong, ayah harus bertahan” pecah tangisan Lusi. Menggenggam erat telapak tangan ayahnya
Pak hamzah seperti menahan sesuatu di dadanya, nafasnya mulai terasa sangat berat dan mencekik.
“Lusi, Nak ku, ayah tak kuat lagi... ayah ingin menyusul ibumu. Jaga dirimu,Nak. Ayah sayang kamu.”
Makin pelan suara Pak Hamzah nyaris tak kedengaran. Makin berat nafas Pak Hamzah, seperti ada tindihan batu besar di dadanya, beberapa kali dadanya turun naik menahan sakit.
“Ayaaaahhh....Jangan tinggalin Lusi, Yah...Lusi gak punya siapa-siapa lagi. Lusi janji akan rawat ayah sampe sembuh” Lusi menggoncang tangan ayahnya yang sudah lemah.
“Laaa Illaha Illallah Muhammadarrosullullah...hhhhh” lepas lah hembusan terakhir nafas Pak Hamzah Setelah mengucapkan kalimat suci itu.
“Ayaaaaahh.....Ayaaaahh....Jangan tinggalin Lusi, Yah...” Lusi mengguncang-guncang tubuh ayah nya. Dokter di samping nya menunduk menempelkan stetoskop ke dada Pak Hamzah. Memeriksa denyut nadi di leher dan pergelangan tangannya. Kedua kelopak mata Pak Hamzah pun dibuka pelan. Lalu menatap Lusi yang memandang dokter itu penuh harap.
“Maaf, ayah anda sudah pergi” lirih suara dokter itu memberitahu Lusi sambil kepalanya menggeleng lemah.
Pecah tangisan Lusi di dada ayahnya. Tetangga-tetangga yang sedari tadi menyaksikan berhambur menghampiri gadis itu. Mereka berusaha menenangkan Lusi.
“Ayah, sekarang aku tinggal sendirian, tak ada lagi tempat aku mengadu, Aku sayang ayah, sayang Bunda. Semoga ayah bunda tenang di surga. Doakan aku supaya tetap kuat menjalani hidupku, Ayah Bunda” lirih hati Lusi
Tangisnya pilu, masih memeluk jasad Ayahnya.
“Nak Lusi, biarkan kami urus jenazah Almarhum ya, supaya besok pagi bisa dikubur. Yang sabar ya Nak, ayah nak Lusi sudah tenang di alam sana. “ Pak RT Nurdin mendekati Lusi yang masih memeluk jasad ayahnya, Lusi
mengangguk pelan dan menyeka air mata nya. Lalu bangkit mundur bberapa langkah memberi ruang untuk bapak-bapak tetangganya mengangkat jasad ayahnya untuk di urus dengan baik. Lusi sangat bersyukur
memilik tetangga-tetangga yang baik dan rukun, Pak Hamzah pun dikenal di lingkungan itu sebagai pengusaha yang sangat dermawan dan sering membantu jika ada tetangga nya yang kesulitan hidup.
Pulang dari pemakaman
Gontai langkah Lusi memasuki ruang tamu rumah nya yang masih beraroma duka. Air mata masih menggenangi pelupuk matanya. Sulit sekali dia membendungnya. Sesak hatinya melepas kepergian ayah terkasih nya. Rasanya masih sama sesaknya seperti 5 tahun yang lalu, ketika usia nya baru 16 tahun, Ibu nya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Kini dirinya yatim piatu. Tak ada lagi orang -orang terkasih dalam hidupnya, tak ada lagi yang membela dirinya, tak ada lagi yang melindunginya. Keluarga kandung kedua orang tua nya pun hampir semua nya telah meninggal dunia. Cuma ada seorang pamannya yang tinggal di Kanada, dan sudah menjadi warga negara dinegeri
itu. Pamannya Cuma bisa mengucapkan bela sungkawa lewat telepon. Cuma itu.
Bu Merry dan Priska masuk dan menangkap sosok Lusi yang masih terpaku di depan pintu kamar ayahnya. Membelakangi mereka. Senyum sinis tergambar dari ibu anak itu.
“Akhirnya si tua bangka itu mati juga...Ahhh senangnya aku.” Ujar Bu Merry seenaknya sambil merentangkan kedua tangannya seperti dirinya terbebas dari beban berat yang dihadapinya selama ini. Sontak Lusi berbalik. Tatapannya marah sambil mendekati kedua nya.
“Tua bangka yang ibu maksud itu lah yang menafkahi kalian selama ini. Yang memungut kalian dari lingkungan kumuh dan mengangkat derajat kalian menjadi Nyonya besar dan Permaisuri “ Lusi berucap gemas, tangannya mengepal di samping pahanya.
*Flashback on*
“Lusi sayang, kenalin nih ibu baru kamu. Namanya Ibu Merry. Dan ini anak nya Priska.” Sambut Pak Hamzah ketika memperkenalkan Bu Merry dan Priska dihadapannya.
“Ibu ?” gumam Lusi dalam hati keheranan.
Lusi yang terbengong tak mengerti ucapan ayahnya itu berdiri dari duduk nya dan mendekati kedua tamu yang di bawa ayah nya. Menatap nya lama dan memperhatikan penampilan kedua ibu anak itu mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Baju mereka kumuh sekali, dan penampilan mereka jelas tampak bukan dari kalangan orang berada dan berpendidikan. Ibu Merry hanya memakai kemeja lusuh berwarna coklat dan rok panjang kuning dengan warnanya yang sedikit pudar lunturan warna hijau dibeberapa sisinya. Terlebih lagi gadis yang disebut bernama Priska itu. Selalu mengernyitkan dahi setiap menatap dirinya. Tangan dan kaki nya banyak bekas-bekas koreng yang sudah mengering. Dan aroma rambut nya, fiiyuuuhhh... sangat tengik. Entah sudah berapa lama anak itu tak pernah mandi dan bersampo.
“Hay Lusi, kamu cantik ya, sudah kelas berapa sekarang? “ sapa Bu Merry basa basi mengulurkan tangan nya ke hadapan Lusi. Sadar tangan kerempeng itu terjulur di hadapannya, dia menyambut nya. Dan membalas jabatan tangan Bu Merry.
“Kelas 1 SMA , tante. “ jawabnya singkat
“Ooo, sama dong dengan Priska, nanti Priska bersekolah di sekolah yang sama dengan kamu ya, biar bisa pulang dan pergi sama-sama.” Ujar Bu Merry melirik Priska yang masih mematung di belakangnya. Lusi hanya menggeleng, masih diliputi kebingungan.
“Hmmm, Yah, minta waktu aku mau ngomong sama Ayah,” permisi Lusi sambil menarik tangan Pak Hamzah ke dapur. Pak Hamzah mengikuti langkahnya, meninggalkan kedua ibu anak yang tengah menatap kepergian pak
Hamzah dan Lusi dengan tatapan curiga.
“Dia Ibu baru aku, Yah ? Bener? Ayah becanda kah?“ tanya Lusi minta penjelasan.
Pak Hamzah mengangguk mantap sambil tersenyum menatap kedua bola mata putri nya.
“Kapan Ayah nikah? Kok aku gak di kasih tau? “
“Kemarin, sayang. Nikah secara Agama. Maaf ayah gak kasih tau kamu sebelum nya karena ayah ingin kasih surprise untuk kamu. Ayah tau kamu butuh seorang sosok ibu sejak kepergian Bunda mu.”
“Tapi siapa tante itu, Yah? Kok aku punya perasaan kurang enak ya liat tampangnya dan anaknya itu” sahut Lusi curiga.
Ayah nya tersenyum lembut. Dan mengelus punggung tangan putri kesayangannya itu.
“Bu Merry itu pelayan di kantin samping kantor kita, sayang, Dia janda yang ditinggal mati suaminya. Hidupnya sangat miskin, tinggal di kontrakan yang kumuh. Ayah kasian sama mereka. Mereka juga baik sama Ayah,
sangat perhatian ke Ayah, sering membawakan makanan untuk Ayah tanpa Ayahminta. Dan ini juga Ayah sudah konsultasi dengan Pak Haji Umam pemilik kantin tempat bu Merry bekerja. Kata Pak Haji Umam bu Merry hidup nya menderita, selalu kekurangan. Dia sering pindah-pindah kontrakan karena gak sanggup bayar kontrakan bulanan, Sayang.” Cerita Pak Hamzah.
“Ayah boleh kasian , tapi bukan berarti harus menikahi nya khan , Yah. Kok bisa-bisanya ayah menikahi orang tanpa tau latar belakangnya seperti apa?” Lusi protes, dia tidak percaya apa yang sudah ayahnya lakukan.
Menikah tanpa memberitahunya dulu.
“Ayah yakin Bu Merry dan Priska orang baik-baik, mereka tidak punya kerabat di Jakarta ini. Ayah harap kamu bisa menerima Bu Merry dan anaknya. Anggap bu Merry ibumu dan Priska sebagai adikmu. Dari kemarin dia antusias sekali ingin ketemu anak Ayah, kamu. “
“Tapi Yah....”
“Sudahlah, ayah gak mau berdebat sama kamu, ayah yakin kita akan hidup bahagia bersama-sama mereka” potong Pak Hamzah cepat.
Lusi hanya menghela nafas nya berat. Dia merasa terpaksa untuk menerima keputusan sepihak dari Ayahnya. Dan berdoa dalam hatinya semoga apa yang dikatakan Ayahnya itu benar bahwa kita akan menjadi keluarga yang
bahagia.
*Flashback Off*
Bu Merry tertawa keras mendengar ucapan Lusi. Diikuti dengan Priska yang masih sinis menatapnya.
“Heyyy, anak gak tau diri...Ayah mu itu yang tergila-gila sama aku, tau.” Ketus Bu Merry seraya mentoyor jidat Lusi dengan kasar. Badan Lusi terdorong ke belakang.
“Waktu ayah bawa kalian ke rumah ini aku udah curiga kalian bukan orang baik. Dan memang terbukti. Asal ibu tau ya, Ayah menyesal menikah dengan Ibu. Kalian Cuma memanfaatkan kesedihan ayah yang ditinggal Bunda ku,
Dan asal ibu Tau ya, Ibu ini sama sekali gak sebanding dengan bundaku, bagai bumi dan langit, bu. Makanya aku heran kenapa Ayah mau aja nikah sama perempuan gak jelas asal usul nya“ Lusi tak kalah ketus menantang tatapan Bu Merry.
Plaaakkk ...! sebuah gamparan keras mendarat di pipinya. Spontan Lusi memegang pipinya yang terasa panas.
Telapak tangan Merry masih menggelantung di udara, siap menamparnya sekali lagi ke pipi Lusi yang satu lagi. Lusi mengelak dan menangkis tangan Ibu Merry di atas kepalanya, mencengkram tangan Bu Merry kuat-kuat.
Priska yang melihat ibunya terdesak begitu langsung berhambur mendorong tubuh Lusi ke lantai. Lusi terjatuh, keningnya pun menabrak sudut meja telpon. Dia merasakan pusing yang sangat. Tangannya menyentuh keningnya, ada bercak darah di jarinya. Dia bangkit dan terhuyung. Membuat Priska dan Bu Merry makin menggila. Kedua orang itu menarik tangan kiri kanan Lusi. Membawa nya ke kamar nya yang terletak di samping dapur, lalu mendorong tubuh masuk ke dalam kamar nya. Lusi jatuh tersungkur di samping tempat tidurnya.
“Rasain Lu, anak jelek...! Jangan macam-macam sama kami” serapah Priska berkacak pinggang di hadapannya.
“Heh, sekarang aku yang berkuasa di rumah ini. Tau. Jadi kalo kamu masih mau hidup di rumah ini kamu harus nurut perintah aku. “ Bu Merry berjongkok menengadahkan wajah Lusi ke depan wajahnya, lalu menempelengnya kasar. Disertai Priska yang tergelak meledek.
Kedua orang bengis itu berlalu dari hadapan Lusi yang masih tertelungkup di lantai. Kepalanya masih pening akibat tertubruk meja tadi. Di pipi kirinya berasa panas dan memerah. Gadis itu meringis kesakitan. Lalu perlahan bangkit bersandar pada tepi ranjang nya. Air mata nya merebak tak tertahan. Ya Allah kuatkan Aku, bathin nya. Dia mulai membayangkan hari-hari kedepannya yang akan di lalui nya di rumah itu akan sangat menyakitkan. Tapi
dia tidak akan meninggalkan rumah itu karena rumah itu adalah satu-satu nya harta yang kedua orang tuanya titipkan untuk dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Ridwan Sutarso
klise, seperti biasa, jualan kesedihan ... bikin yang agak beda
2023-01-24
0
Pipit Sopiah
dasar Mak Lampir dan ulat bulu
2022-12-30
1
Kadek Eni
awal yng bagus
2022-01-21
0