Guardian Of The Last Bastion
2235
Markas Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 3.536.756
Angin dingin menusuk tulang dan menyebabkan tembok baja yang menjulang tinggi bergetar dengan deru suara gemuruh yang menakutkan. Markas Pusat Benteng Selatan menjadi saksi bisu dari ketegangan yang menguasai udara di dalamnya.
Para komandan dan prajurit berkumpul di ruang rapat, wajah-wajah mereka mencerminkan kekhawatiran pada diri mereka. Rapat sebesar ini jarang sekali diadakan, menjadikannya momen yang penuh arti dan serius.
Dalam kegelapan ruangan yang dipenuhi oleh ratusan orang, suasana tegang terasa kental, cahaya lampu berjuang untuk menerangi wajah-wajah tegang para prajurit dalam ruangan. Udara terasa terengah-engah, dan mereka menahan napas dengan harapan dan kekhawatiran yang bercampur aduk, menanti kata-kata pemimpin mereka.
Kapten Rachel berdiri dengan gagah di tengah-tengah mereka, wajahnya dipenuhi dengan ketegasan yang memancar dari setiap pori. Dia menatap dengan tajam ke mata para prajurit yang hadir, menunjukkan betapa seriusnya situasi ini.
"Kita berada di titik yang kritis, berita buruk telah datang dari seberang" ucapnya dengan suara yang tegas, namun getar kekhawatiran terdengar dalam nada bicaranya.
"Kita semua menyadari keganasan musuh kita, Benteng Timur telah jatuh. Saat ini, para pengungsi tengah berjuang untuk mencapai Benteng Utara dan Selatan, berharap menemukan perlindungan."
Perkataan Kapten Rachel menggantung di udara, menciptakan sebuah keheningan yang tegang. Para prajurit yang berada di ruangan tidak percaya akan hal itu.
"Bagaimana mungkin benteng yang kokoh itu bisa runtuh?!" tanya seorang prajurit dengan suara gemetar, memecah keheningan yang mencekam. Pertanyaan itu seolah mewakili keraguan yang ada di benak setiap prajurit di ruangan itu.
Kapten Rachel melihat ke sekeliling, menangkap pandangan cemas yang ada di wajah mereka. Dia merasakan kebutuhan untuk memberikan penjelasan yang lebih memadai. Dengan ekspresi serius, dia memberikan senyuman pahit sebelum menjawab, "Saya paham bahwa kalian semua merasa terkejut dan bingung dengan kejadian ini. Namun, saat ini kita harus fokus pada menghadapi ancaman serius yang ada di depan kita. Informasi lebih lanjut tentang penyebab keruntuhan benteng sedang kami selidiki, dan saya akan memberitahu kalian begitu ada perkembangan."
Satu lagi prajurit berani mengajukan pertanyaan, kali ini dengan suara penuh ketidakpercayaan, "Lantas bagaimana anda mengetahui dengan yakin bahwa benteng timur telah runtuh?"
Kapten Rachel merapatkan bibirnya, menjelaskan dengan sabar "Pertanyaan yang bagus, prajurit. Saya mengerti keraguan yang ada di pikiran kalian. Bukti tentang keruntuhan Benteng Timur datang dalam bentuk sinyal radio yang dikirimkan dari kapal-kapal pengungsi yang mendekat ke sini."
Seorang prajurit yang duduk di belakang memotong dengan suara gemetar, "Apakah ada yang tersisa dari Benteng Timur, Kapten?"
Rachel menghela napas dalam-dalam sejenak sebelum menjawab, "Sayangnya, tidak banyak yang tersisa. Beberapa prajurit dan warga sipil yang bertahan telah melarikan diri dan sedang berusaha mencapai Benteng Utara dan Selatan."
Prajurit itu tampak terpukul oleh kabar tersebut. Benteng Timur adalah sekutu dekat mereka, dan kehilangannya merupakan pukulan besar bagi pertahanan manusia melawan ancaman Morsus. Suasana di dalam ruangan menjadi tegang, namun Kapten Rachel dengan bijaksana mencoba mengangkat semangat mereka.
"Kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, namun tidak boleh kehilangan harapan. Perjuangan kita melawan Morsus belum berakhir, dan kita akan menggunakan setiap sumber daya yang kita miliki untuk melindungi dan mempertahankan Benteng Selatan ini," kata Kapten Rachel.
Terdengar suara kursi yang digeser saat seorang prajurit memanggil Kapten Rachel. "Kapten, apa langkah selanjutnya? Apakah kita akan membuka pintu benteng dan memberikan perlindungan kepada para pengungsi?"
Kapten Rachel menatap prajurit tersebut dengan serius. "Pertanyaan mu mencerminkan keprihatinan kita semua," ucapnya tegas. "Kita tidak bisa mengabaikan mereka yang berjuang untuk mencapai Benteng Selatan. Namun, kita juga tidak boleh mengorbankan keselamatan kita sendiri dalam prosesnya."
Ruang rapat dipenuhi dengan keheningan tegang saat para prajurit menunggu keputusan sang kapten. Wajah-wajah mereka mencerminkan kegelisahan dan dilema yang kompleks.
Kapten Rachel mengarahkan pandangannya ke Profesor Aster, seorang ahli rekayasa pertahanan dan juga Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan (R&D) Benteng Selatan. Dia adalah sosok yang sangat diandalkan dalam memimpin proyek-proyek inovatif dan strategis untuk memperkuat pertahanan benteng.
"Profesor Aster," panggil Kapten Rachel dengan hormat, "Anda memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas dalam pengembangan teknologi pertahanan. Dapatkah Anda memberikan penilaian tentang kemampuan Benteng Selatan untuk menampung para pengungsi dalam situasi seperti ini?"
Profesor Aster mengenakan kacamata tebalnya dan berdiri dari tempat dudukanya di hadapan rapat tersebut. Dia memikirkan pertanyaan Kapten Rachel sejenak, melihat ke wajah-wajah yang penuh harap dan ketegangan.
Sebagai ahli rekayasa pertahanan yang berpengalaman, dia merasa tanggung jawab besar untuk memberikan penilaian yang akurat dan solusi yang efektif. Setelah sejenak berpikir, Profesor Aster mengambil napas dalam. Suaranya memenuhi ruangan dan menarik perhatian semua yang hadir.
"Kapten Rachel, sebagai Ketua R&D Benteng Selatan, kami telah melakukan penilaian terperinci terhadap kapasitas dan kekuatan benteng. Meskipun kami telah mengantisipasi situasi darurat seperti ini, keberadaan monster Morsus dan jumlah pengungsi yang diperkirakan dapat menimbulkan tantangan yang belum pernah kami hadapi sebelumnya."
Wajah Kapten Rachel menunjukkan kekhawatiran yang jelas saat dia mendengarkan kata-kata Profesor Aster. Dia tahu bahwa keputusan ini akan sangat mempengaruhi nasib banyak orang yang mencari perlindungan.
"Apakah tim R&D telah mengidentifikasi langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas dan kekuatan benteng dengan cepat?" tanya Kapten Rachel dengan harapan.
Profesor Aster mengangguk tegas. "Ya, Kapten. Tim R&D telah merancang rencana darurat yang melibatkan peningkatan struktural, pengoptimalan sistem pertahanan, dan pengadaan sumber daya tambahan. Rencana ini mencakup langkah-langkah untuk meningkatkan kapasitas tempat penampungan, penyediaan sumber daya air dan makanan, serta perluasan fasilitas medis."
Kapten Rachel merasa lega mendengar hal itu. Dia percaya pada kepemimpinan Profesor Aster dan timnya dalam menghadapi situasi darurat seperti ini.
"Terima kasih, Profesor. Saya meminta agar rencana darurat tersebut segera dilaksanakan. Tolong pastikan bahwa semua persiapan telah diselesaikan sebelum kita membuka pintu benteng."
Profesor Aster mengangguk dengan tekad. "Saya akan memimpin tim R&D dalam melaksanakan rencana tersebut dengan segera. Kami akan berkoordinasi dengan semua departemen terkait untuk memastikan persiapan yang matang sebelum pintu benteng dibuka."
Kapten Rachel merasa lega mengetahui bahwa langkah yang diperlukan telah diambil oleh tim R&D. Dia menyadari bahwa keputusan ini harus diambil dengan kehati-hatian dan persiapan yang matang untuk memastikan keberhasilan dan keselamatan semua orang yang mencari perlindungan di Benteng Selatan.
Setelah mendegar jawaban dari Profesor Aster, Kapten Rachel akhirnya bisa menentukan keputusan kedepannya.
"Kita akan membuka pintu benteng," ucapnya dengan tegas. "Namun, tidak tanpa persiapan yang matang. Kita harus mengevaluasi kemampuan benteng untuk menampung jumlah pengungsi yang akan tiba. Pertahanan kita harus diperkuat dan perlengkapan medis harus disiapkan dengan baik. Setiap prajurit akan ditugaskan untuk membantu dalam operasi pengungsian dan menjaga keamanan benteng."
Para prajurit mengangguk serentak, menerima keputusan tersebut. Mereka sadar akan tanggung jawab dan risiko yang terlibat, tetapi mereka juga merasa kewajiban moral untuk membantu sesama manusia yang berjuang di luar sana.
Kapten Rachel mengambil napas dalam-dalam. "Persiapan akan dimulai segera. Saya tahu tugas ini tidak akan mudah, tetapi kita harus bertahan dan melawan ancaman ini bersama-sama. Semoga keberanian dan tekad kita menjadi cahaya di tengah kegelapan yang mengerikan ini."
Kapten Rachel melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, tetapi penuh dengan penekanan di setiap katanya.
"Kita adalah penjaga terakhir umat manusia," katanya, suaranya terdengar menjulang ke langit-langit ruangan.
"Kita adalah harapan terakhir mereka untuk bertahan hidup dan melawan kegelapan yang mengancam. Meskipun kita merasa lelah dan terluka, kita tidak boleh menyerah. Kita harus bertahan dan memperjuangkan masa depan kita. Setiap langkah yang kita ambil saat ini akan menentukan nasib manusia."
Prajurit-prajurit itu menatap Kapten Rachel dengan campuran antara kengerian dan keberanian. Mereka merasakan tekad dan semangat yang terpancar dari sosok pemimpin mereka, yang dengan berani menghadapi kengerian dan tidak gentar di hadapan ancaman yang mengerikan.
"Kita akan mempertahankan Benteng Selatan," kata Kapten Rachel dengan suara yang meneguhkan. "Kita akan melindungi pengungsi yang datang, dan kita akan bertarung dengan setiap hela nafas yang kita miliki. Musuh mungkin datang dengan kegelapan, tetapi kita akan menyinari jalan mereka dengan tekad dan semangat kita. Bersiaplah, prajurit, karena pertempuran yang akan kita hadapi akan menjadi yang terberat. Tapi bersama, kita dapat menghadapinya dan memenangkannya."
Para prajurit mengangguk, memperlihatkan keberanian dan tekad mereka. Meskipun ada kekhawatiran yang melingkupi mereka, mereka siap menghadapi masa depan yang tak pasti dengan kebersamaan dan ketangguhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Abid Rajendra
gk tau
2024-03-31
0
Muhamad Saefulloh
"Helai" atau 'hela'?
2023-09-03
0
vall_ceunah
mampir kk
2023-08-18
0