mantan pacar tersayang

Zidan berbalik dan menjulurkan tangannya, ku raih dan mencium tangan Zidan dengan takzim seperti biasanya. Setelah itu Zidan juga mengarahkan tangannya pada Aska, tidak ada sedikitpun senyum yang Zidan tunjukkan pada Aska, padahal putranya itu begitu merindukan papanya. Ku lirik Aska yang ada di samping ku, pria kecil menggemaskan itu terus menunduk ketakutan, aku juga tidak bisa berbuat banyak, begitulah sikap Zidan pada Aska.

.....

"Kamu bisa berangkat sendiri ke sekolahnya kan? aku ada rapat penting pagi ini" Zidan berbicara tanpa mengangkat kepalanya, aku mengangkat kepala menatapnya. kami sudah sepakat untuk sama-sama kesekolah Aska, kenapa tiba-tiba Zidan bilang tidak bisa.

"pagi banget ya, Zi, rapatnya. Kita kesekolah juga jam delapan pagi ini, mungkin kamu bisa kesekolah sebentar"

"nggak bisa, aku harus temui klien dulu" paling malas kalau sudah seperti ini, padahal sudah janji, bukan aku sih yang akan kecewa, tapi anak kami. Aku sudah katakan sebelumnya kalau papa dan mama nya akan mengantarnya ke sekolah untuk pertama kali. Baiklah aku siap menjadi sasaran kekesalan Aska, sepertinya ini juga salah ku, seharusnya aku bisa katakan kalau kita bertiga sudah berada di mobil menuju sekolah.

"Papa" suara Aska tiba-tiba terdengar, aku tau Aska menahan takut karena suaranya bergetar.

"kenapa?" ketus sekali cara bicaranya, padahal kan bisa bicara baik-baik.

"Bisa antar Aska kesekolah sama mama sebentar" aku mengigit bibir bawah, karena sekarang aku tau Zidan mulai kesal, sendok dan garpu terdengar beradu nyaring dengan piring.

"Kamu ajari anak mu ini untuk tidak memaksa keinginannya" ucap Zidan sebelum meninggalkan kursinya.

"Zi, mau kemana, sarapan kamu belum habis, sayang" tidak ada lagi sahutan, begitulah karakter Zidan yang berubah setelah kami menikah. Lebih tepatnya setelah hari di mana pertengkaran hebat kami terjadi karena kesalahpahaman, dan semakin parah salama satu bulan terakhir.

"nggak papa ya nak, papa sibuk, mungkin lain kali" untungnya Aska bisa mengerti, walaupun aku tau ia kecewa pastinya.

....

Aku menaiki angkutan umum, aku tidak bisa membawa mobil, bodoh sekali memang. Zidan yang sebenarnya melarang, dulu aku mau belajar sebelum kami menikah, tapi Zidan tidak ijinkan. katanya nanti aku jadi sering keluar rumah kalau bisa bawa mobil sendiri, padahal kan aku juga yang kerepotan seperti sekarang.

"mama, di sana banyak teman Aska?"

"iya sayang, di sana juga ada guru-guru yang baik hati"

"mama, kalau Aska mau pipis, terus nggak bisa buka celananya gimana?" aku menyunggingkan senyum, lucu sekali pertanyaan Anak ku ini, sejak kami masuk ke dalam taksi, Aska terus saja mengoceh dan menanyakan hal-hal random.

"Nanti minta tolong sama ibu guru ya nak" Aska menganggukkan kepalanya. Kepalanya juga terus seja celengak celenguk tidak sabar ingin segera tiba di sekolah.

Di sepanjang jalan Aska bernyanyi lagu anak-anak yang sudah ia hapalkan, aku ikut memeriahkan dengan bertepuk tangan, supir taksi yang usianya sama dengan papah ku pun sesekali menimpali nyanyian Aska.

"makasih ya pak" Aska itu bukan tipe anak pendiam, ia anak yang super aktif dan mudah sekali bergaul. Lihat aja kelakukan nya dengan supir taksi yang baru saja ia temui, sudah seperti sahabat lama yang baru berjumpa. Aska juga melambai pada supir taksi yang mulai menjauh, tapi beda cerita jika sudah dengan Papanya, Aska lebih banyak diam karena takut, Zidan sih terlalu dingin dengan anak sendiri.

Wajah Aska sumringah menatap gerbang sekolah yang menjulang tinggi. Pintu pagar di buka oleh satpam, tuh tuh lihat saja kelakukan Aska yang menyalami punggung tangan satpam, anak ku ini emang kelewat sopan.

"Mama, Aska nggak sabar mau sekolah" Aska meloncat-loncat sambil berjalan, lucu sekali anak ku ini.

"nanti Aska sekolahnya yang pintar ya sayang, nurut apa kata ibu guru, jangan berantem sama teman, kalau ada yang minta tolong di bantu ya sayang "

"iya mah, pasti " Aska mengangkat kedua jempolnya yang begitu mungil.

....

Selesai sudah mengantar Aska ke sekolahnya, hari ini Aska hanya berkenalan saja, belum mengikuti pelajaran dengan yang lain, besok lusa baru Aska sekolah dan belajar. Bukan sekolah belajar seperti anak usia dini pada umunya juga sih, karena ini bukan sekolah, tapi tempat penitipan anak. Di sini, anak-anak akan belajar banyak hal juga, jadi aku terus menyebutnya sekolah.

Aku tidak langsung pulang ke rumah, aku mampir sebentar ke supermarket membeli susu untuk Aska. Hanya membeli susu, karena persediaan bahan makanan masih banyak, aku lupa waktu belanja bulanan menyetok susu untuk anakku.

"mama boleh beli ini, nggak" Aska menenteng mainan robot kecil, aku tidak sadar saat Aska pergi menuju rak dimana banyak di sediakan mainan seperti yang ia pegang.

"iya boleh" aku memang tidak bisa menolak keinginan Aska, andai Zidan tau aku membeli lagi mainan untuk anak kami padahal baru saja kemarin aku juga membelikan mainan untuknya, pasti Zidan akan menegur.

"makasih mama"

"iya sayang" Aska sudah lebih dulu berlari dengan mainan robot miliknya menuju kasir, sudah tidak ada lagi juga yang ingin di beli. Kami pulang setelah membeli susu dan mainan saja.

Sampailah kami di rumah, rumah berlantai dua yang tidak terlalu luas tidak juga kecil, cukup dan sedang lah untuk kami tempati bertiga.

Aska sudah berlari masuk lebih dulu, tas kecil yang ada di punggungnya bergerak tidak beraturan, tas kosong yang ingin ia bawa tadi, padahal sudah ku katakan Kalau hari ini belum belajar, tapi tetap saja pria kecil ku itu merengek dan aku pun luluh lagi.

Aku segera menyusul Aska masuk kedalam rumah, biasanya anak ku itu tidur siang di jam seperti ini. Karena tadi habis keluar, pasti Aska berkeringat dan harus mandi dulu , jadwal Aska bakalan banyak berubah nantinya, dan aku harus siap mengatur ulang semuanya.

"Aska keringkan badan dulu nak, baru mandi"

"iya mah"

"Aska mandi habis itu ya, mama mau masak, terus Kita makan, setelah itu baru Aska tidur"

"iya mah" aku kembali ke lantai dasar setelah merapikan pakaian untuk Aska. Aska itu mandiri, ia sudah bisa mandi sendiri, jadi aku tidak perlu terlalu kawatir Aska akan kesulitan bersosialisasi dengan lingkungan juga teman-teman barunya di sekolah.

Aku langsung membuat sup untuk makan siang kali ini, biasanya untuk makan siang aku Hanya membuat porsi sedikit, karena Zidan tidak pulang kerumah untuk makan, jadi hanya ada aku dan Aska saja. Sebenarnya tadi ingin makan di luar sekalian, tapi tidak jadi karena cuaca mendung, takut turun hujan waktu pulang, apalagi Aska ku sangat sensitif dengan cuaca, ia mudah sekali demam.

Buru-buru aku mengangkat ponsel yang berdering di dalam tas, aku tau itu panggilan dari siapa, siapa lagi kalau bukan mantan pacar ku yang tersayang

"waalaikumsallam, kenapa Zi?"

"gimana tadi di sekolah?" Suara Zidan terdengar berat, pasti suamiku kelelahan.

"Alhamdulillah lancar, Aska mudah sekali bersosialisasi dengan lingkungan barunya, aku sudah catatkan nama kita di daftar jemput Aska, jadi selain aku atau kamu, nggak ada yang bisa jemput Aska, aku suka juga sama daerah situ"

ku dengar hanyalah gumaman dari Zidan.

"sayang" ku panggil dia, karena hanya diam

"eum"

"banyak kerjaan lagi ya, pasti kamu capek Banget"

"ini lah kerja, Inayah. Capek nggak capek harus di jalani demi kamu sama anak kita " aduh, hanya dengan satu kalimat itu membuat ku meleleh. Kenapa tidak, Zidan jarang sekali mengatakan kalimat romantis padaku, jadi kalau sudah terucap, aku yang akan salting hebat.

"semangat kerjanya ya sayang, aku dan Aska selalu mendoakan kamu"

"nanti malam nggak usah menunggu ku pulang " ku matikan kompor sebentar, takut airnya kering di dalam panci karena aku terlalu asik mengobrol

"kenapa nggak pulang Zi?"

"ada kerjaan, aku bakalan nginap di kantor "

"pulang aja ya sayang, nanti di rumah aku pijatin biar capeknya hilang " aku masih mencoba membujuknya untuk pulang, yang sepertinya ia tidak suka, ku dengar decakan kesal dari sebrang sana.

"aku tutup telponnya, dan ingat, jangan menunggu ku pulang, tidurlah setelah menidurkan Aska, jangan begadang, kamu akan sulit tidur" baiklah aku pasrah, belum sempat aku mengucap salam, Zidan sudah menutup panggilannya secara sepihak.

Dengan perasaan sedih aku lanjutkan membuat sup

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

Paling males dan ngeselin kalau ternyata si Lakinya ada main dibelakang 😡

2023-07-03

0

lihat semua
Episodes
1 prolog cinta yang memudar
2 Suami dingin
3 mantan pacar tersayang
4 istri lain
5 hari pertama sekolah
6 cinta yang sama
7 tantrum
8 pesan yang di hapus
9 Ibu mertua dan ipar
10 bukan anak sial
11 di gendong papah
12 sakit
13 kemarahan Karina
14 keraguan
15 semakin asing
16 darah segar
17 liburan
18 sahabat lama
19 kehangatan yang berbeda
20 di usir
21 Sakit parah
22 Papah tidak sayang Aska
23 Pulang kampung
24 kenangan berharga
25 akhirnya pulang
26 permintaan cerai
27 bersenang-senang
28 Siapa yang salah
29 Nggak mau pulang
30 cemas
31 Tidak mengenali dia
32 Maaf aya
33 Kapal pecah
34 Lebam
35 Om Zidan
36 Suami atau anak
37 Bukan papah Aska
38 Pisang coklat
39 Masa lalu
40 Libur kerja
41 Pacaran
42 waktu luang
43 perlen bayi
44 Rumit
45 Kedatangan tamu
46 Huru hara
47 Tau
48 Seharusnya tidak pernah menikah
49 Suami Karina
50 Hancur tak tersisa
51 Cerai
52 Amukan Inayah
53 Pilihan
54 Rapuh
55 nyawa yang menjadi taruhannya
56 Awal mula masalah
57 Ancaman
58 Pangadilan agama
59 kejutan tidak terduga
60 Memulai
61 Mimpi buruk
62 Keguguran
63 Datang
64 melahirkan
65 Tama rindu anak-anak
66 papah
67 Siapa Karina?
68 menikah
69 Satu hari bersama Om Tama
70 Mencari papah.
71 Lamaran
72 menjenguk mbak Naila
73 Sah
74 Serangan jantung
75 Mual
76 Maaf dari Inayah
77 Bermain
78 Ketemu
79 pelukan berdarah
80 Rumah sakit
81 ada apa sebenarnya
82 Pria gila
83 Boneka
84 hemm baca aja kali aja perlu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
prolog cinta yang memudar
2
Suami dingin
3
mantan pacar tersayang
4
istri lain
5
hari pertama sekolah
6
cinta yang sama
7
tantrum
8
pesan yang di hapus
9
Ibu mertua dan ipar
10
bukan anak sial
11
di gendong papah
12
sakit
13
kemarahan Karina
14
keraguan
15
semakin asing
16
darah segar
17
liburan
18
sahabat lama
19
kehangatan yang berbeda
20
di usir
21
Sakit parah
22
Papah tidak sayang Aska
23
Pulang kampung
24
kenangan berharga
25
akhirnya pulang
26
permintaan cerai
27
bersenang-senang
28
Siapa yang salah
29
Nggak mau pulang
30
cemas
31
Tidak mengenali dia
32
Maaf aya
33
Kapal pecah
34
Lebam
35
Om Zidan
36
Suami atau anak
37
Bukan papah Aska
38
Pisang coklat
39
Masa lalu
40
Libur kerja
41
Pacaran
42
waktu luang
43
perlen bayi
44
Rumit
45
Kedatangan tamu
46
Huru hara
47
Tau
48
Seharusnya tidak pernah menikah
49
Suami Karina
50
Hancur tak tersisa
51
Cerai
52
Amukan Inayah
53
Pilihan
54
Rapuh
55
nyawa yang menjadi taruhannya
56
Awal mula masalah
57
Ancaman
58
Pangadilan agama
59
kejutan tidak terduga
60
Memulai
61
Mimpi buruk
62
Keguguran
63
Datang
64
melahirkan
65
Tama rindu anak-anak
66
papah
67
Siapa Karina?
68
menikah
69
Satu hari bersama Om Tama
70
Mencari papah.
71
Lamaran
72
menjenguk mbak Naila
73
Sah
74
Serangan jantung
75
Mual
76
Maaf dari Inayah
77
Bermain
78
Ketemu
79
pelukan berdarah
80
Rumah sakit
81
ada apa sebenarnya
82
Pria gila
83
Boneka
84
hemm baca aja kali aja perlu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!