Sebagai seorang suami bisa saja mengatakan pada Bella tentang keadaan putri mereka yang memiliki bagian dari permata merah milik Lucifer. Akan tetapi trauma yang masih seringkali ditunjukkan oleh Bella membuatnya memutuskan untuk menyembunyikan kebenaran tentang Najwa.
Ia sendiri tidak paham kenapa takdir memberi ujian yang tetap berkaitan pada masa lalu. Padahal segala usaha sudah dilakukannya hingga titik darah penghabisan. Jika ditanya bagaimana Najwa bisa memiliki bagian permata merah milik Lucifer. Dirinya pun tidak punya jawaban.
Selama masa kehamilan putri pertama, Bella mengalami masa sulit hanya selama trimester seperti normalnya ibu hamil yang lain. Hanya saja di malam kelahiran Najwa bertepatan dengan gerhana bulan setengah. Tidak ada firasat buruk, walau persalinan begitu mencekam.
Para dokter berjuang untuk menyelamatkan ibu dan anak. Di tengah lamunan memikirkan proses kelahiran Najwa, tiba-tiba ia ingat ucapan salah satu suster yang berkata melihat sinar merah melesat masuk ke dalam dada si bayi. Apakah itu yang disebut petunjuk?
"Nak, Apa kamu bisa temui ustadzah Wulan? Minta padanya untuk memeriksa setiap syaraf di tubuh dan katakan untuk melapor pada Abi secepat mungkin." pinta Abi tak ingin memaksakan kehendak karena ia tahu sang putri sudah cukup tertekan dengan keadaan yang ada.
"Tentu Abi, tapi nanti ya. Tubuh Wawa masih lemas." balas mengiyakan permintaan sang Abi dengan kesadaran akan kondisinya yang belum stabil.
Azzam paham, lalu berjalan mendekati putrinya yang masih berbaring. Sebagai seorang ayah tak tega melihat batin Najwa yang semakin terkoyak dari berbagai arah. Perlahan ia menyalurkan energinya yang positif untuk menghangatkan tubuh remaja yang seharusnya memiliki banyak semangat untuk menjelajahi dunia.
Kebersamaan ayah dan anak yang memberikan harapan serta kasih sayang untuk satu sama lainnya, sedangkan di ruang tamu ada Bella yang sibuk menyuapi Emir sembari mendengar cerita dunia hari ini. Putra kedua yang lebih terbuka dari putri pertamanya.
Emir bahkan menceritakan kejadian yang baru dialaminya bersama sang kakak di taman sekolah. Cerita itu mengingatkan ibunya pada persahabatan yang masih ada di dalam hidupnya hingga saat ini. Tiba-tiba ia rindu dengan Diana. Gadis yang memilih pindah kota demi pekerjaan dan ikut suami.
"Apa Ka Wawa masih menolak pindah sekolah?" Bella beranjak dari tempat duduknya, makanan diatas piring sudah tandas tak tersisa. Langkah kaki menuju dapur, tetapi diikuti Emir yang suka menjadi buntut. "Nak, minuman di atas meja. Tunggu saja, Bunda cuma mau cuci tangan."
Dua menit menunggu di ruang tamu dengan segelas jus jeruk dingin yang menyegarkan. Sebenarnya tidak ada perbedaan antara Najwa dan Emir karena kedua anak itu mendapatkan hak dan kewajiban yang sama. Akan tetapi, satu fakta menjadi tidak bisa dipisahkan. Dimana setiap anak memiliki tempat curhat berbeda.
Emir lebih nyaman berkeluh kesah di hadapan Bunda nya, sedangkan Najwa terbiasa berdiskusi dengan sang Abi. Kedua anak itu kompak untuk saling mendukung tanpa syarat meski memiliki perbedaan pendapat. Apakah tidak pernah bertengkar? Sekali atau dua kali ketika keras kepala saling berpelukan.
Bunda Bella kembali duduk di sebelah putranya, "Sekarang katakan, apa keputusan Kakakmu?"
"Ka Wawa keras kepala banget, Bunda. Emir udah coba, tapi tahu sendiri gimana kekehnya kakak kalau mode serius." jawab remaja itu dengan tatapan mata malas karena heran atas sikap yang begitu teguh dari saudaranya.
Jika sekali atau dua kali mendapatkan penghinaan, mungkin bisa ditoleransi. Akan tetapi penghinaan disetiap waktu di setiap ada kesempatan. Bukankah itu melanggar hak asasi manusia? Memang benar semua orang berhak untuk bicara sesuka hati, tapi harusnya pake akal juga.
Siapa yang tahan, jika selalu dipanggil putri iblis? Padahal tidak ada yang tahu perjuangan dibalik kewarasan yang masih tersisa. Secara tidak langsung orang lain merendahkan keluarga dengan hinaan yang ditujukan pada Najwa. Saudara mana yang tidak terluka mendengar ejekan serta cacian dari para mulut tidak bertanggung jawab.
Jika bukan karena ajaran agama yang ditetapkan Abi beserta seluruh guru di pondok pesantren. Bisa jadi tangannya menyegel semua mulut berbisa yang tidak tahu aturan. Hati berkata panas, pikiran merajuk ingin memberontak, tetapi akal berakhir kesabaran. Rasanya seperti dipaksa puasa untuk tetap tenang.
Diusapnya kepala sang putra yang tumbuh dewasa terlalu cepat. Sungguh ia tak ingin nasib membawa kedua anaknya pada masa yang dulu pernah dirinya lewati. Bertarung demi kehidupan keluarga. Menyerah di tengah perjuangan agar keselamatan bisa dipertahankan.
Sudah cukup dengan satu kisah kelam yang merenggut nyawa orang-orang disekitarnya. Pengorbanan seorang ibu, seorang kakak dan seorang sahabat. Pertempuran yang selalu menjadi tolak ukur untuk memperbaiki diri. Sadar akan masa itu sudah berlalu, tetapi masih berputar menjadi bayangan hitam.
"Bunda akan bicara dengan Abi. Sebaiknya Emir bersiap untuk berangkat ke pondok. Bukankah hari ini jadwal mengajar rutin bela diri? Ingat ini hari kamis, Nak." ucap Bella mengingatkan rutinitas sang putra yang mungkin lupa hari.
Emir langsung menepuk jidatnya sendiri, "Hehehe lupa, Bund. Emir mandi dulu, ya. Assalamu'alaikum BuCan."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," Bella membiarkan putranya berlari meninggalkan ruang tamu, pemuda itu kembali ke kamar untuk bersiap. Begitu punggung sang putra tidak tampak, direbahkannya kepala ke belakang bersandar di sofa.
*Apakah semua masih belum cukup untukmu? Bukankah disana kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, lalu kenapa mengusik keluarga ku? Apa harus menyatukan dua alam kembali hanya untuk menuntaskan kisah kita yang sudah usai? Tetaplah di duniamu, Lucifer.~batin Bella seraya memejamkan matanya perlahan-lahan*.
Aroma melati bercampur amis anyir darah menyeruak, walau hanya hitungan detik. Wanita itu tahu akan kehadiran esensi partikel dengan aura absurd yang sudah melekat dalam kehidupannya. Kali ini dia siap, meski tersisa rasa takut akan keselamatan keluarga. Apa yang ada di depan takdir nanti maka perjuangan sebagai seorang ibu menjadi miliknya tanpa syarat.
"Assalamu'alaikum, Istriku. Jangan bawa beban hatimu ke dalam pikiran. Apa kamu lupa disini ada aku sebagai suamimu?" Azzam mengusap kepala Bella lembut, tetapi wanitanya enggan membuka mata melihat dia.
Sepertinya ada yang tidak beres, "Bella, apa kamu baik-baik saja?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Apa lagi yang lahir itu bukan sepenuhnya dari hasil antar manusia, namun percampuran antara manusia dan ras Iblis. Mungkin saja ada sedikit perbedaan
2023-04-20
1
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Asrita Sirnia
Kadang ada juga yang mendapatkannya sendiri tanpa perlu perjuangan, menjelaskan setiap pertanyaan insan tentulah sesuatu yang membingungkan.
2023-04-20
1
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Acrika Gifasya
Sayang sekali Bella, ia sampai memiliki Trauma. Pantas saja ayahnya tidak mau angkat bicara terlebih dahulu pada putrinya itu.
2023-04-20
1