Para makhluk tak kasat mata yang datang dan terbang mengelilingi mereka berdua. Para makhluk itu membentuk benteng pertahanan karena tidak mengijinkan keduanya untuk pergi meninggalkan taman. Najwa masih melanjutkan bacaan ayat suci Al-Quran dari dalam hati seraya meraih tasbih yang selalu tersimpan di saku jaketnya.
Remaja itu memulai proses pengusiran para makhluk gaib yang ingin memprovokasi emosi hatinya agar menurut terhadap bangsa lelembut. Semua karena darah yang mengalir di tubuhnya bercampur menjadi satu dengan sisa energi batu merah delima milik Pangeran Lucifer.
Ia hanya mengingat pesan dari Abi untuk selalu mendekatkan diri pada Allah SWT dan meminta perlindungan hanya pada Sang Pencipta. Maka dari itu, Abi Azzam secara khusus mengajarkan teknik untuk memberantas para makhluk gaib agar tidak mengganggu manusia.
Begitu juga dengan alasannya tetap melanjutkan sekolah di kota kelahirannya. Setiap tindakan selalu memiliki penjelasan dan alasan, meski hanya ia yang tahu. Bunda, Abi, Kakek, apalagi Emir. Mereka masih tidak memahami tujuan di balik keras kepalanya.
Butiran tasbih memancarkan cahaya kuning keemasan. Dimana cahaya itu hanya bisa dilihat pada makhluk gaib yang langsung membubarkan diri seperti anak kecil takut mendapatkan hukuman lebih dari sekedar percikan sinar penghancuran jiwa.
Dilepaskannya tangan sang adik, lalu memeriksa denyut nadi anak lelaki itu dengan seksama. "Alhamdulillah kamu aman, De. Sebaiknya kita pulang sekarang. Ayo!"
"Ka Wawa!" Emir menahan pergerakan kakaknya yang terkesan terburu-buru akan sesuatu, ia sadar semakin hari justru bertambah keanehan yang menjauhkan ikatan persaudaraan mereka. "Apa kakak tidak sayang Emir lagi? Kenapa masih menganggap aku sebagai anak kecil? Lihatlah, tinggi badan kita saja tidak jauh berbeda."
Penyampaian dengan sindiran halus yang dilakukan Emir seperti cubitan di tangan yang menyentak kesadarannya. Jujur saja, jika bisa memilih pasti ingin bisa bermain bersama teman-teman, berbincang ini itu sepanjang waktu yang bisa dihabiskan. Hanya saja takdir berkata lain. Dirinya bukan gadis dengan kehidupan normal.
Sejak kecil selalu mendapatkan bisikan-bisikan aneh. Terkadang untuk memejamkan mata saja harus membaca suratan pendek sampai sepuluh surat, bahkan bisa lebih. Apalagi ketika dimalam hari lahirnya, gangguan mistis semakin tidak bisa dikendalikan.
Hidupnya karena raga yang memiliki jiwa. Cobaan yang selama ini menjadi takdir mulai teralihkan ketika Emir hadir diantara keluarga mereka. Adiknya yang terlahir di malam bulan purnama, tepat saat puasa ramadhan sudah memasuki hari kelima belas. Sejak saat itu, bisikan gaib mulai berkurang bahkan jarang.
"Kita pulang dulu. Malam ini, kakak akan bicarakan masalah penting bersama Abi dan Bunda." Najwa bersikeras tak ingin membahas apa yang ia alami, membuat Emir sang adik harus mengontrol hati untuk tetap tenang.
Manusia terkadang melupakan masa lalu, tapi bagi mereka yang tertinggal tetap mengingat setiap kenangan yang mulai menguap. Selembar kertas usang menjadi teman perjuangannya. Entah sudah berapa lama menetap di dalam rumah tanpa melihat dunia luar. Hatinya tak lagi bisa disembuhkan.
"Aku merindukanmu," Dipeluknya kertas usang yang merupakan selembar foto lama, "Setelah sekian lama akhirnya aku menemukan cara untuk membuka pintu rahasia, tapi darah suci yang murni masih blum terdeteksi. Dimanakah dia yang di dalam tubuhnya tercampur tiga aliran energi dari dua alam berbeda."
Kali ini bukan hanya tentang cinta karena hati terlanjur patah hati. Maka yang tersisa hanya tekad bulat untuk mendapatkan keinginan terakhir dari hidup sebagai manusia yang begitu singkat. Akan lebih mudah jika menyebutnya sebagai obsesi dan hasrat.
Hasrat itu, tidak melulu tentang adegan panas di ranjang karena kata lainnya adalah nafsu. Amarah pun juga bagian dari napsu, begitu juga dengan keinginan manusia yang terlampau mengedepankan kata harus. Ketika manusia bersemangat, tentu itu sangat baik hanya saja tidak dengan hasrat tanpa batasan.
Ditengah rasa rindu yang berusaha dia curahkan ke dalam pelukan, tiba-tiba semilir angin menerjang menghempaskan jendela dan pintu tanpa aturan. Suara gesekan bersambut hentakan keras mengganggu ketenangannya. Sontak ia mengedipkan mata mengaktifkan kekuatan energi hingga menjerat para makhluk tak tahu sopan santun.
"Tidak manusia, tidak lelembut. Kelakuan kalian sama saja," Jemarinya berayun memainkan para tawanan yang kini menjerit meminta pengampunan, "Apa kalian tidak bisa ketuk pintu? Aku tahu kalian itu setan, tapi belajar sopan sedikit bisa 'kan?"
Aneh sih permintaan orang itu. Para makhluk gaib terbiasa datang dan pergi sesuka hati. Tidak memerlukan jendela, apalagi pintu, lah mereka semua bisa menembus batas ruang dan waktu. Jadi gimana caranya belajar sopan santun? Jika manusia baru masuk akal.
Para makhluk terus meronta, tetapi jerat ilusi dengan tali hitam bersinar keunguan semakin terikat kencang. Suara rintihan yang melengking terdengar semakin menyeramkan. Anehnya orang itu justru tersenyum, "Seharusnya dia datang untuk membebaskan kalian, hmm. Apa kalian bukan warga para lelembut ya?"
Pertanyaan sekaligus penyataan yang ambigu. Siapa dia yang dimaksud? Mungkin saja sosok itu enggan bersua kembali. Walaupun begitu, ia tak akan menyerah sampai bisa memenuhi keinginan hati terdalamnya. Tidak peduli jika harus menyatukan dua dunia kembali dengan segala resikonya. Semua harus dilakukan.
Namun, keras kepala itu hanya setitik dari keputusan dia yang bersangkutan. Takdir telah memutuskan kedua dunia terpisah sejak beberapa tahun silam dan kini semua baik tanpa ada permasalahan yang rumit hingga menyeret banyak nyawa untuk melakukan perjuangan hidup dan mati.
Disetiap jalan pasti akan ada persimpangan. Tugas manusia menentukan pilihannya sendiri, berusaha mencapai tujuan yang telah digariskan Tuhan. Akan tetapi, manusia menyukai kerumitan. Ketika mempertanyakan hidup yang mereka miliki, lalu tanpa sebab menyalahkan Sang Pencipta.
Bukan hanya itu saja, manusia lebih sering mendominasi pemikirannya sendiri hingga lupa dengan sudut pandang orang lain. Terkadang kenyataan A, tetapi menjadi rumit karena tidak ingin memahami dan mengambil kesimpulan setelah menyelidiki. Terbiasa menilai dulu, baru mencari tahu.
Kembali lagi pada para lelembut yang menikmati siksaan jerat tali pengikat jiwa. Setiap detik yang berlalu terus mengeratkan jeratan hingga secara perlahan menghisap energi negatif dari para jiwa yang tersesat. Jeritan rasa sakit melepaskan entitas terakhir tanda keberadaan terakhir mereka hingga berubah menjadi butiran debu tak berarti.
"Rinduku hanya milikku sendiri. Menyedihkan, tapi mau sampai kapan kamu bersembunyi dariku? Haruskah aku basmi rakyatmu tanpa aturan? Jika waktu tidak mengubah keras kepala di antara kita, maka bersiaplah untuk perang hati yang membawa guncangan di kedua alam berbeda." ucapnya seraya menghilangkan energi kuat yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia gunakan.
Meninggalkan kesedihan hati akan kasih yang tak sampai. Najwa dan Emir baru saja sampai di depan rumah utama keluarga mereka, tetapi kedatangan yang langsung di sambut anak-anak santri berlari memberondong mereka dengan permintaan kecil agar bermain bersama-sama. Seperti biasa Emir akan langsung menyanggupi, sedangkan Najwa memilih masuk untuk berganti pakaian.
Suara tawa anak terdengar riuh memenuhi halaman rumah, membuat Najwa bergegas masuk ke dalam rumah. Waktu menunjukkan pukul satu siang, itu berarti Abi masih di pondok mengajarkan ilmu tafsir, Bunda sibuk di dapur menyiapkan makan siang untuk keluarga kecil mereka.
Langkah kakinya terhenti ketika mencapai pintu kamar yang berhias boneka panda, "Bismillahirrahmanirrahim," Di putarnya knop, lalu di dorong ke depan bersambut semilir angin menghantarkan aroma bunga melati yang begitu kuat.
Hatinya sudah tetap dengan keyakinan tanpa keraguan, meski detak jantung berpacu begitu cepat hingga terdengar tanpa menggunakan alat pendeteksi denyut jantung. Langkah demi langkah memasuki kamar seraya melepaskan knop pintu dan tak lupa menutupnya sebagaimana yang diajarkan Abi karena ia seorang perempuan yang harus menjaga aurat.
Apa kabarmu, Humaira? Sampai kapan kamu mengabaikan keberadaan ku? Apakah semua yang terjadi masih belum cukup? Percayalah padaku.~suara gema yang terdengar memenuhi seluruh kamar, lebih tepatnya hanya Najwa yang bisa mendengar setiap ucapannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Benar dengan mengingat Allah tentu akan membuat makhluk tersebut jadi segan, dan tidak akan terlalu berbuat yang macam - macam.
2023-04-20
1
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Asrita Sirnia
Semoga saja bisa, karena memang cukup rumit jika harus berhadapan dengan makhluk tak kasar mata. Mereka tidak akan pergi sebelum apa yang mereka inginkan tercapai meski sampai terluka.
2023-04-20
1
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Acrika Gifasya
Ya ampun mengerikan sekali, harusnya jika mereka tidak menggangu makhluk tersebut di izinkan untuk pergi saja, tapi sekarang malah di halangi.
2023-04-20
1